Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
3
Penjaga Prasasti Bukit Kendaga
Sejarah
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kabut pagi masih menggantung di lereng Bukit Kendaga ketika Bayu mengangkat pahatnya untuk memulai pekerjaan.

Usianya baru dua puluh tahun. Sejak kecil ia belajar memahat batu dari ayahnya, seorang pengrajin yang dipercaya mengerjakan prasasti-prasasti kerajaan. Baginya, setiap guratan pada batu bukan sekadar tulisan, melainkan cara agar masa depan tetap mengingat masa lalu.

Kerajaan Waringin sedang berada pada masa yang sulit. Raja tua jatuh sakit, sementara para bangsawan mulai saling berebut pengaruh. Di perbatasan timur, pasukan dari kerajaan tetangga terus bergerak mendekat.

Namun ancaman terbesar bukanlah perang.

Melainkan hilangnya kebenaran.

Suatu sore, Mahapatih Suranata datang ke tempat kerja Bayu membawa sebuah batu andesit besar.

"Prasasti ini harus selesai dalam tiga hari," katanya.

Bayu mengangguk hormat.

"Apa yang harus saya tuliskan, Paduka?"

Mahapatih menyerahkan selembar daun lontar.

Isinya adalah catatan mengenai perjanjian damai antara Kerajaan Waringin dan beberapa desa pegunungan puluhan tahun sebelumnya. Perjanjian itu menjamin bahwa tanah adat tidak boleh dirampas oleh siapa pun, bahkan oleh raja sekalipun.

"Ini sangat penting," ujar Mahapatih. "Jika prasasti ini hilang, banyak orang akan kehilangan hak atas tanah mereka."

Bayu memahami beratnya tugas itu.

Ia mulai memahat setiap huruf dengan penuh kehati-hatian.

Malam berikutnya, seorang lelaki berjubah hitam datang diam-diam ke bengkelnya.

"Aku membawa pesan."

"Dari siapa?"

"Dari orang yang ingin masa depan lebih mudah diatur."

Bayu mengernyit.

Orang itu mengeluarkan sekantung kecil berisi kepingan emas.

"Ubah isi prasasti."

Bayu memandang tajam.

"Mengubah bagaimana?"

"Ganti kalimat tentang tanah adat. Tulis bahwa semua tanah adalah milik raja."

Bayu menarik napas panjang.

"Itu kebohongan."

"Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menang."

"Tidak semua orang bersedia menjual pahatnya."

Lelaki itu tersenyum tipis.

"Kalau begitu, bersiaplah kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan."

Ia pergi meninggalkan ancaman yang menggantung di udara.

Keesokan paginya Bayu melaporkan kejadian itu kepada Mahapatih.

Wajah sang Mahapatih berubah muram.

"Mereka bergerak lebih cepat daripada yang kuduga."

"Siapa mereka?"

"Sekelompok bangsawan yang berharap raja baru dapat menguasai seluruh wilayah tanpa perlawanan."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Mahapatih terdiam sejenak.

"Selesaikan prasasti itu. Setelah itu kita sembunyikan."

Bayu kembali bekerja tanpa mengenal lelah.

Pahatnya berdenting sejak matahari terbit hingga larut malam.

Tangannya penuh luka.

Namun setiap huruf selesai dipahat dengan sempurna.

Malam ketiga, sebelum prasasti dipindahkan, suara kuda terdengar dari arah jalan utama.

Puluhan prajurit bersenjata mengepung bengkel.

Pemimpinnya turun dari kudanya.

"Serahkan prasasti."

Mahapatih berdiri di depan pintu.

"Prasasti itu milik kerajaan."

"Tepat sekali. Dan kami datang atas nama kerajaan."

Bayu tahu mereka berbohong.

Lambang pada perisai mereka bukan lambang pasukan istana.

Mereka adalah prajurit bayaran.

Pertempuran kecil pun pecah.

Mahapatih berhasil menahan sebagian penyerang, sementara Bayu membawa prasasti melalui jalan belakang menuju Bukit Kendaga.

Batu itu sangat berat.

Ia hampir tidak sanggup mendorongnya seorang diri.

Namun ia terus berjalan.

Baginya, batu itu bukan sekadar batu.

Melainkan suara ribuan rakyat yang tidak mampu membela hak mereka sendiri.

Hujan turun deras.

Tanah menjadi licin.

Di puncak bukit terdapat sebuah gua kecil yang dahulu digunakan para pertapa.

Bayu menyembunyikan prasasti di dalamnya, lalu menutup pintu gua menggunakan longsoran batu kecil.

Saat hendak pergi, tiga prajurit berhasil menemukannya.

"Minggir!"

Bayu menggeleng.

"Aku tidak akan memberi tahu tempatnya."

Salah seorang prajurit menghunus pedang.

"Kau rela mati demi batu?"

Bayu menatap mereka tanpa gentar.

"Bukan demi batu."

"Lalu?"

"Demi kebenaran yang dipahat di atasnya."

Perkelahian tidak dapat dihindari.

Bayu hanya membawa palu dan pahat.

Ia berhasil melumpuhkan satu orang dengan memukul gagang pedangnya.

Yang kedua terpeleset di tanah berlumpur.

Namun prajurit ketiga berhasil melukai bahunya.

Untunglah beberapa prajurit setia kerajaan datang tepat waktu setelah mengikuti jejak para penyerang.

Kelompok penyerang melarikan diri ke dalam hutan.

Prasasti berhasil diselamatkan.

Beberapa minggu kemudian, Raja Waringin wafat.

Putra mahkota naik takhta.

Salah satu keputusan pertamanya adalah membuka kembali gua di Bukit Kendaga.

Prasasti itu dipasang di alun-alun kerajaan agar dapat dibaca oleh seluruh rakyat.

Isi prasasti menjadi dasar hukum yang melindungi desa-desa pegunungan selama bertahun-tahun.

Nama Bayu tidak pernah dituliskan pada batu itu.

Ia tidak mempersoalkannya.

Baginya, yang penting bukan siapa yang dikenang.

Melainkan agar isi prasasti tetap dipercaya.

Ratusan tahun berlalu.

Kerajaan Waringin telah lama hilang.

Istana berubah menjadi puing.

Alun-alun tertutup rerumputan.

Namun prasasti itu masih berdiri, meski sebagian huruf mulai aus dimakan hujan dan panas.

Suatu hari, seorang arkeolog muda bernama Ratih memimpin penggalian di kawasan tersebut.

Saat membersihkan permukaan batu, ia menemukan ukiran kecil di sisi belakang prasasti.

Bukan tulisan resmi kerajaan.

Melainkan sebuah tanda sederhana berbentuk pahat yang menyilang.

"Ini pasti tanda pembuatnya," kata salah satu anggota tim.

Ratih mengangguk.

"Mungkin."

Mereka lalu menemukan naskah tua di sebuah biara yang menyebut nama seorang pemahat muda yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi menjaga isi prasasti dari tangan orang-orang yang ingin mengubah sejarah.

Namanya Bayu.

Ratih tersenyum sambil mengusap permukaan batu yang dingin.

"Kadang pahlawan terbesar bukan mereka yang memimpin peperangan."

"Melainkan mereka yang menjaga agar kebenaran tidak dipahat ulang oleh kepentingan."

Matahari sore menyinari prasasti itu.

Huruf-huruf kuno yang nyaris hilang kembali tampak jelas diterpa cahaya.

Seolah waktu sendiri sedang mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang.

Sejarah juga hidup melalui orang-orang sederhana yang memilih jujur ketika kebohongan menawarkan jalan yang lebih mudah.

Dan selama masih ada yang bersedia menjaga kebenaran, masa lalu akan terus memiliki suara untuk berbicara kepada generasi yang datang kemudian.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi