Minggu, pukul 20.58.
Usai makan malam, Sheeran langsung duduk di depan laptop biru miliknya. Ritual, mungkin bisa disebut begitu karena ia sudah terbiasa membuka aplikasi pesan dua menit sebelum jam sembilan. Setiap malam, selama hampir empat bulan ini. Tak pernah berjeda, karena itu akan membuatnya seperti kehilangan kesempatan.
Ia tak pernah menyepakatinya dengan seseorang, hanya saja semua terjadi seperti musik yang akan berbunyi setiap kali tombol di otaknya disentuh oleh perintah dari hatinya.
Dua menit kemudian, layar ponselnya seperti biasanya menyala.
"Lagi ngapain?"
Lalu percakapan mereka akan mengalir begitu saja. Tentang apa saja tak peduli sekedar remeh temeh atau sesuatu yang penting dan genting atau kritis. Dosen yang menyebalkan, tugas kuliah yang bertumpuk. Tentang hujan yang tak kunjung reda dan membuatnya selalu kebasahan, bahkan juga tentang panas yang kadang-kadang dirindunya saat hujan.
Tentang cita-cita yang terlalu besar, pileknya yang tak kunjung reda. Tapi, entah mengapa terasa penting ketika dibicarakan dengan orang yang tepat.
Orang itu bernama Rayan.
Namun malam ini berbeda, layar ponselnya tetap gelap bukan karena sinyal buruk atau lowbat, karena ia bersedia mengecas baterainya agar yapping-nya tak terputus.
Tapi karena tiga hari yang lalu Sheeran akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan.
"Ray... aku suka sama kamu."
Balasan Rayan datang cukup cepat tanpa diduganya, seolah ia sudah bersiap menjawabnya jika pertanyaan itu akan datang dari Sheeran.
"Maaf, Sheeran. Aku benar-benar menghargai perasaanmu. Tapi aku nggak bisa membalasnya."
Memang jawabannya itu lembut, tapi semuanya berubah justru setelahnya.
Obrolan yang biasanya panjang menjadi singkat, lalu menjadi tidak ada sama sekali. Seolah-olah pengakuan itu adalah pintu yang begitu dibuka, langsung tertutup untuk selamanya.
Hari pertama, Sheeran terus melihat ponselnya. Hari kedua, ia mulai membuka kembali percakapan lama. Ia tertawa sendiri membaca candaan-candaan mereka, lalu menangis karena sadar semua itu sudah menjadi masa lalu.
Hari ketiga lebih buruk, ia tidak lagi menunggu pesan, lalu berharap sesuatu sambil menunggu keajaiban. Barangkali Rayan akan menghubunginya lagi, atau semua ini hanya canggung sementara.
Tapi ternyata tak ada satu pun "barangkali" yang datang, hanya sepi dan kemudian disadarinya jika sepi ternyata memiliki suara.
Suara notifikasi yang tidak berbunyi, jam dinding yang biasanya tidak pernah terdengar, hingga suara nafasnya sendiri di kamar yang mendadak terasa begitu jelas.
Sheeran baru menyadari bahwa ia bukan hanya kehilangan seseorang yang disukai, tapi kehilangan seseorang yang mengisi malam-malamnya.
***
"Aku kayak sakau."
Kalimat itu keluar begitu saja ketika Sheeran bertemu sahabatnya di kamar kostnya. Sahabatnya tidak tertawa, ia tau sesuatu yang buruk sedang terjadi dari raut wajah Sheeran, jadi ia hanya mengangguk, mengiyakan.
"Memang."
"Maksudmu?"
"Kamu kehilangan rutinitas."
Sheeran mengernyit mencoba memahami ucapan sahabatnya itu.
"Bukan cuma kehilangan orang. Otakmu juga kehilangan kebiasaan yang selama ini bikin kamu nyaman."
Sheeran mengiyakan dalam diam.
"Tiap malam jam sembilan kamu ngobrol sama Rayan. Itu jadi semacam hadiah kecil buat otakmu. Nah, sekarang hadiahnya hilang, wajar kalau rasanya kosong."
"Jadi aku memang selemah ini?"
"Bukan lemah."
"Lalu?"
"Namanya juga manusia, setidaknya kamu butuh waktu bertransisi."
***
Malam berikutnya, jam menunjukkan pukul 20.55. Tangan Sheeran kembali ingin membuka ruang obrolan dengan Rayan. Ia menatap foto profil itu lama sekali, hingga beberapa menit seperti menunggu.
Lalu perlahan ia mengarsipkan percakapan mereka, bukan karena membenci atau karena ingin melupakan, tetapi karena ia sadar, setiap kali membuka chat itu, ia seperti menggaruk luka yang sedang mencoba menutup. Ia putuskan mematikan notifikasi.
Mengembuskan napas panjang, lalu mengambil sepatu olahraga. Malam itu ia berjalan kaki mengelilingi kompleks. Awalnya terasa menyiksa karena di setiap langkah, pikirannya tetap dipenuhi Rayan.
Di tikungan pertama, di depan minimarket, dekat taman kecil hingga di jalan yang diterangi lampu kuning temaram yang membuatnya mengigil karena semua mengingatkannya pada seseorang.
Tetapi ketika keringat mulai membasahi pelipisnya, pikirannya perlahan berpindah, ia mulai menghitung langkah, mulai bisa mengatur napas, dan merasakan angin malam.
Setelah beberapa hari, kepalanya tak lagi berisik. Besoknya ia membeli sebuah novel, lusa ia mulai mendengarkan podcast sambil membereskan kamar. Hingga Minggu berikutnya ia bergabung dengan komunitas lari malam.
Jam sembilan yang dulu terasa seperti milik Rayan, sedikit demi sedikit berubah menjadi milik dirinya sendiri, tentu bukan karena ia sudah sembuh, tetapi karena ia mulai belajar hidup tanpa menunggu.
Sebulan berlalu tiba-tiba ponselnya bergetar, dan nama Rayan muncul.
"Apa kabar?"
Sheeran tersenyum, tapi kali ini ia tak berharap kisah lamanya kembali, ia sadar bahwa hidupnya tidak akan berhenti ketika seseorang memilih pergi.
Jadi ia putuskan membalas singkat.
"Baik. Semoga kamu juga."
Tidak lebih, tidak kurang, lalu ia menaruh kembali ponselnya, tak lagi merasa bersalah atau berharap sesuatu yang lebih besar akan terjadi. Hatinya sudah mencoba kuat bertahan.
Novel di pangkuannya masih menyisakan dua bab, sepatu larinya sudah menunggu di depan pintu, dan jam sembilan, yang dulu terasa seperti lubang besar di dalam dada, kini hanyalah satu jam di antara dua puluh empat jam yang ia miliki. Waktunya mulai ia habiskan melanjutkan menulis novel-novelnya yang lama terbengkalai.
Sheeran akhirnya memahami, bahwa yang paling menyakitkan dari penolakan bukan selalu karena cinta yang tidak terbalas, sering kali yang membuat kita merasa hancur adalah hilangnya tempat pulang yang diam-diam sudah kita bangun dalam rutinitas yang selama ini menghangatkan hati kita.
Namun hidup selalu punya cara untuk mengajarkan satu hal, agar kita jangan pernah membangun seluruh duniamu hanya pada satu orang.
Karena jika suatu hari orang itu pergi, bukan duniamu yang harus ikut runtuh, melainkan duniamu yang harus kembali kauperluas, sampai akhirnya kamu menyadari bahwa ternyata masih ada begitu banyak ruang yang menunggumu untuk diisi.
"Aku bisa melakukannya," batin Sheeran sambil berdiri memulai pemanasan untuk gym-nya, tepat pukul sembilan mulai malam ini.