Aku mulai menyukai kristik pada 2018, saat menjalani hubungan jarak jauh. Jarum, benang, dan pola menjadi cara paling tenang untuk menghabiskan malam yang sepi.
Suatu hari aku membeli pola bekas dari toko online luar negeri. Namanya aneh:
The Smiling Guest.
Tidak ada merek. Tidak ada ulasan. Hanya gambar seorang perempuan duduk di kursi kayu dengan senyum kecil dan mata yang terasa terlalu gelap. Di dalam paket terdapat kain, benang, dan secarik kertas lusuh bertuliskan:
"Jangan menusuk bagian mata setelah jam 12 malam."
Aku menganggapnya lelucon murahan.
Malam pertama, semuanya berjalan normal sampai aku menyentuh benang hitam. Benang itu terasa dingin, berbeda dari warna lain. Saat kusulam ke kain, aku sempat merasa seperti ada yang menariknya dari sisi sebaliknya. Aku mengabaikannya.
Namun beberapa hari kemudian, ada sesuatu yang aneh. Setiap pagi, hasil sulaman tampak bertambah sendiri. Terutama bagian senyumnya.
Aku tidak pernah ingat menyulam garis bibir itu, tetapi senyumnya selalu terlihat sedikit lebih lebar. Sejak saat itu aku mulai sulit tidur.
Tepat pukul 00.14, hampir setiap malam terdengar suara dari ruang kerja.Suara jarum menembus kain. Padahal aku tinggal sendirian.
Suatu malam aku memberanikan diri memeriksa. Lampu ruang kerja mati, tetapi suara itu masih terdengar. Saat lampu dinyalakan, aku membeku.
Ring kristik yang sebelumnya berada di meja kini tergeletak di lantai. Benang hitam menjuntai ke segala arah dan jarumnya bergerak sendiri. Naik. Turun.
Seolah ada tangan tak terlihat yang sedang menyulam. Lalu aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Bagian mata perempuan itu telah selesai. Padahal aku belum pernah mengerjakannya. Mata itu tampak hidup. Basah. Mengilap. Menatap lurus ke arahku.
Dalam panik, aku membuang seluruh perlengkapan itu ke tong sampah di luar rumah.
Keesokan paginya, kristik itu kembali berada di meja kerjaku. Lebih rapi dari sebelumnya. Di bawah gambar muncul tulisan baru dari benang merah:
"Aku hampir selesai."
Aku mulai mencari tahu asal pola itu. Nama The Smiling Guest hampir tidak meninggalkan jejak apa pun di internet. Hanya ada satu forum lama yang masih bisa diakses. Postingan terakhir dibuat lebih dari sepuluh tahun lalu.
Isinya hanya foto hasil kristik yang sama. Perempuan di kursi kayu. Senyum kecil. Mata gelap. Di bawah foto itu terdapat puluhan komentar yang sudah dihapus. Yang tersisa hanya beberapa kalimat pendek.
"Jangan selesaikan bagian wajahnya."
"Dia akan mengenalimu."
"Kalau sudah mulai berubah, sudah terlambat."
Aku menghubungi pemilik akun yang mengunggah foto itu. Tidak ada balasan. Profilnya kosong. Tetapi sebelum menutup halaman, aku menemukan satu gambar lain yang hampir tidak terlihat. Sebuah foto ruang tamu. Di dindingnya tergantung kristik yang sama. Bedanya, wajah perempuan di dalam gambar itu bukan wajah asing. Melainkan wajah pemilik akun tersebut.
Aku menutup laptop saat itu juga. Malamnya aku bermimpi. Aku berada di sebuah ruangan yang sangat besar. Gelap, dingin, dan penuh ring kristik yang tergantung dari langit-langit seperti puluhan bingkai mayat. Di setiap kain terdapat wajah seseorang. Pria, perempuan, dan anak-anak.
Semuanya dijahit dengan benang merah. Semuanya memiliki senyum yang sama. Di ujung ruangan duduk seorang perempuan di kursi kayu. Persis seperti yang ada dalam pola. Kepalanya tertunduk. Tangannya bergerak pelan. Menyulam.
Saat aku mendekat, aku menyadari bahwa benang yang digunakannya bukan benang biasa. Melainkan rambut manusia. Panjang, hitam, dan masih meneteskan sesuatu yang menyerupai darah.
Perempuan itu tidak pernah mengangkat wajahnya. Tetapi aku mendengar suaranya. Pelan. Seolah berasal dari dalam kepalaku sendiri.
"Semua yang merindukan seseorang akan datang ke sini."
Aku ingin bertanya apa maksudnya. Namun tubuhku tidak bisa bergerak. Perempuan itu terus menyulam. Jarumnya bergerak naik turun dengan ritme yang sama seperti suara yang sering kudengar setiap pukul 00.14. Ceklek... ceklek... ceklek...
Lalu ia berkata lagi.
"Kesepian membuat orang membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup."
Saat itu juga perempuan tersebut mengangkat hasil sulamannya. Aku melihat wajah di atas kain. Wajah itu adalah wajahku.
Aku terbangun sambil berteriak. Jam di ponsel menunjukkan pukul 00.14. Dari ruang kerja terdengar suara yang sama. Namun kali ini ada suara lain yang menyertainya. Suara seseorang sedang tertawa pelan. Tepat seperti orang yang akhirnya berhasil menyelesaikan sesuatu yang sudah lama dikerjakan.
Sejak malam itu aku mulai mendengar bisikan perempuan. Kadang dari lorong. Kadang dari belakang telinga. Kadang tepat sebelum tertidur.
"Satu tusukan lagi..."
Aku berhenti menyulam total. Tetapi gambar itu tetap berubah setiap malam. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya aku sadar bahwa perempuan dalam kristik itu bukan lagi orang asing. Wajahnya perlahan berubah menjadi wajahku. Mata, hidung, dan bibir. Semuanya sama. Yang belum selesai tinggal satu bagian... mulutnya.
Aku mencoba membakar kain itu. Api hanya menyala beberapa detik sebelum padam sendiri. Lalu dari kain yang hangus terdengar suara pelan:
"Jarum tidak dibuat untuk membakar."
Malam berikutnya, listrik rumah mati tepat pukul 00.14. Dari ruang kerja terdengar suara kursi kayu digeser. Lalu langkah kaki perlahan mendekati kamar.
Ceklek... ceklek... ceklek...
Seperti jarum yang menusuk sesuatu yang basah. Aku memejamkan mata dan pura-pura tidur. Langkah itu berhenti tepat di samping ranjang. Aku bisa merasakan seseorang berdiri di sana. Diam. Mengawasiku. Kemudian sebuah bisikan terdengar sangat dekat.
"Mulutmu paling sulit disulam..."
Hening beberapa detik. Lalu suara itu melanjutkan:
"...karena terlalu sering menolak."
Pagi ini aku terbangun dengan ujung jari penuh luka tusuk kecil dan kristik itu kini tergantung di dinding kamar. Sudah selesai. Sempurna. Terlalu sempurna. Karena perempuan di dalamnya bukan lagi tersenyum kecil. Dia tersenyum lebar. Mulutnya dijahit rapat dengan benang merah.
Aku ingin membuangnya. Aku ingin menghancurkannya. Tapi setiap kali mendekat, ada sesuatu yang membuatku berhenti. Seolah gambar itu sedang menungguku. Menungguku melakukan satu tusukan terakhir.
Baru saja aku menulis kalimat ini ketika suara yang sangat kukenal terdengar dari ruang kerja.
Masalahnya, semua jarum kristikku sudah kubuang sejak minggu lalu dan suara itu sekarang terdengar semakin dekat. Seolah seseorang sedang menyulam dari balik pintu kamar. Kali ini aku tidak yakin yang sedang disulam adalah kain melainkan tubuhku.
Tangan kiriku tiba-tiba terasa nyeri. Saat kulihat di bawah cahaya layar ponsel, ada satu jahitan merah baru melintang di telapak tanganku. Jahitan itu belum ada beberapa menit yang lalu. Masih basah dana segar.
Setiap kali suara jarum itu terdengar, benang merah di kulitku tampak bertambah satu tusukan. Perlahan. Sangat perlahan. Seolah seseorang sedang menyelesaikanku.
-End-
29-05-2026
Adeline Nordica