Flash Fiction
Disukai
7
Dilihat
118
Potong Rambut
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Setiap kali butuh keberuntungan dalam hidupnya, Karja akan datang ke tukang cukur terdekat dan memotong rambutnya. Entah kebetulan entah bukan, biasanya apa yang ia inginkan atau sedang ia usahakan secara ajaib akan kesampaian.

Ia baru menyadari hal ini belakangan ketika ia lulus SMA.

Karja tengah bingung, mana yang harus ia pilih antara bekerja atau kuliah. Ia bercerita kepada neneknya dan sang nenek berkata galak, "Potong rambutmu! Biar tidak menghalangi keberuntungan masuk. Begitulah cara keluarga kita mendapat keberuntungan."

Ia pergi memotong rambutnya dan benar, esoknya seorang temannya mengajaknya mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Temannya itu bahkan mengajarinya soal-soal yang biasanya keluar di ujian. Mereka berangkat ujian dan di hari pengumuman Karja dinyatakan lolos.

Sejak hari itu ia mulai rajin potong rambut. Ketika handak ujian semester, ketika mengikuti sebuah perlombaan, ketika mengerjakan skripsi, ketika sidang skripsi, juga ketika ia menyatakan cinta kepada seseorang yang sekarang ingin ia ajak menikah, tapi tidak mendapat restu orangtuanya.

Kekasihnya sudah tahu tentang perkara potong rambut ini. Satu hari ketika mereka berkencan, Karja memberi tahunya. Dan sekarang, meski sudah potong rambut, orangtua sang kekasih tidak memberi restu. Tidak ada keberuntungan lagi.

"Kalau sudah begini, aku harus potong rambut lagi, Sayang," katanya kepada kekasihnya.

"Tapi, kau kan baru potong rambut Minggu lalu."

"Minggu lalu hanya untuk mendapat restu orangtuaku, tidak dengan restu orang tuamu."

Kekasihnya memandang sedih rambut Karja yang sudah pendek, tapi ia pun tidak punya cara.

Karja pergi ke tukang cukur dan memotong rambutnya sekali lagi.

Sayangnya, saat ia kembali meminta restu kepada kedua orangtua kekasihnya dengan potongan rambut cepak seperti tentara, ia mendapat jawaban yang sama.

Kekasihnya yang putus asa kemudian memutuskan untuk ikut memotong rambutnya, berharap restu itu akan mereka dapat. Namun, tetap saja tidak terjadi apa-apa. Karja untuk ketiga kalinya harus menerima penolakan.

Ia berjalan pulang dengan hati yang tidak karuan. Ia bertanya-tanya, kenapa potong rambutnya kali ini tidak bekerja? Apakah karena memang ia tidak ditakdirkan berkeluarga dengan kekasihnya? Atau jangan-jangan sebenarnya bukan potong rambut yang memberinya keberuntungan, tapi karena doa neneknya. Dan karena neneknya sudah meninggal, cara potong rambut ini tidak bekerja.

Karja membuka pintu rumah dengan lemas. Ia melihat ibunya baru selesai menjemur baju dan sedang tidak berhijab. Ia melihat ada yang aneh. Rambut panjang ibunya kenapa jadi pendek. Ia segera menaruh curiga. Jangan-jangan...

"Ibu, kapan ibu potong rambut?" tanyanya.

"Kapan ya, sudah lama. Dua mingguan atau lebih. Pokoknya sebelum kamu datang bareng Laras minta restu. Kenapa memang?"

Karja akhirnya tahu alasan kenapa potong rambutnya tidak bekerja seperti biasanya.

"Katakan yang sejujurnya padaku, Bu, apakah ibu dan bapak benar-benar merestui hubunganku dengan Laras?"

"Maafkan kami ya, Ja. Kamu kan tahu sendiri, keluarga besar kita bermusuhan dengan keluarga..."

Karja segera meninggalkan ibunya dan masuk kamar. Ia tak habis pikir, ternyata diam-diam ibunya tidak merestui hubungannya dengan Laras. Ia kecewa. Benar-benar kecewa.

Di dalam kamarnya setelah mencoba menenangkan hatinya yang penuh amarah, ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan pernah potong rambut lagi sebelum berhasil menikah dengan kekasihnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)