Debora, menatak layar smartphone-nya. Pesan tidak dibalas. Kemudian, matanya melotot dan sebuah tangan gemetar, “inikah, cinta?” Profile berwarna biru yang tenang, berubah menjadi typing.
“Wow ... yang aku tunggu,” Debora kaget langsung. Dia meremas ponselnya kuat-kuat.
Hari, bulan, tahun, puas. Dia mengukur, perasaannya setara dengan setiap event pertama, berhadiah 500—juta hingga flash fiction dan setiap fitur baru bermunculan. Pikiran dihantui berbentuk bayangan foto mas Bintang yang sengaja discreenshot, buat kenang-kenangan, katanya.
Gadis itu senyum manja.
“Debora, faktur pajak sudah diinput ke sistem belum?” Tanya rekan kerja, niatnya meledek, lambaian tangan dan kedip mata senantiasa menggugah dari bayangan mas Bintang.
“Iya Bu, ini lebih darurat. Harga diriku jatuh kalau menerima balasan darinya. Yah, tau kan, aku nge-fans banget sama Mas Bintang. Genius dan lembut, ramah pula.”
Dia penasaran dengan serangkaian jadwal festival, dimulai 2 April, membuka beberapa sesi, pikirannya fokus ke satu hal. Dia memantau layar, memastikan, “iya, ada speech, yes, hari libur, jangan sampai ketinggalan!”
Setelah larut dari bayangan, dia telah membuat serangkaian beberapa alasan. Menariknya, dia tidak bisa mengendalikan sesuai maunya, saat akan melakukan beberapa transaksi pembelian novel. Sebelum menghubungi mas Bintang, alangkah baiknya menghubungi sesama member untuk membimbing, Revi, namanya.
“Aku tidak paham, coba tanya di grup atau mas Bintang!” saran mbak Revi.
“Ah, gak jadi, gemetar aku mau chat dia, hehe.”
Debora tidak cakap komunikasi di grup, tapi butuh bantuan. Dengan mental tebal dan akhirnya memberanikan diri, tanpa butuh berlama-lama, dibalas hanya dua menit. Dia girang, meluapkan emosinya di toilet kantor, dengan melompat-lompat dan menangis haru.
“Loro, keroso, nelongso, dadi siji, Rek."
Artinya, “Sakit, terasa, sedih, jadi satu, Bro."
Dua cangkir kopi menjadi saksi atas kebersamaanya bersama Bintang, saling tatap dan melempar senyum. Hobi kuliner, rupanya menyatukan cintanya.
"Kerja Deb! Melamun mulu," rekan kerjanya menoel lengan.
"Hah? Hehe hanya halu."