Flash Fiction
Disukai
3
Dilihat
30
Lagu Terakhir
Romantis

Aku menatap lekat-lekat gadis yang menangis tersedu di hadapanku. Matanya sembap, hidungnya memerah. Tangannya tak henti menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya. Sudah tiga puluh menit kami duduk saling berhadapan seperti ini, tapi isaknya belum juga reda.

Aku menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam. Asapnya kutiupkan ke udara yang sejak tadi terasa begitu hampa. Dia menatapku, dan entah bagaimana, asap rokok itu justru membuat tangisnya sedikit mereda.

Sudah lama dia memprotes kebiasaanku ini. Berkali-kali dia memintaku berhenti. Aku sempat berhasil menahan diri selama beberapa bulan. Tapi setelah Ibu meninggal, aku menyerah. Rokok kembali menjadi pelarian. Dia tetap tak suka, tentu saja. Tapi kali ini dia tak banyak bicara. Mungkin karena iba. Atau mungkin karena tahu, ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan untuk sembuh secepat itu.

"Sudah mulai tenang?" tanyaku, di sela isaknya yang kini tinggal sesekali.

"Maaf, Bang," ucapnya lirih. Hanya itu.

"Tak apa. Tapi jangan diulangi lagi, ya." Suaraku tetap tegas, meski tak lagi bernada tinggi. "Kamu tahu, aku tidak suka saat kamu berkata seperti itu. Seolah-olah meragukan ketulusanku."

Air matanya kembali menggenang. Cepat-cepat kuraih jemarinya, menggenggamnya erat.

"Sudah, jangan menangis lagi. Maafkan aku... mungkin aku terlalu terbawa emosi." Aku berusaha menenangkannya, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

"Maaf." Hanya itu lagi yang keluar dari mulutnya. Pelan, nyaris seperti bisikan.

Aku menghela napas, lalu mematikan rokok yang sejak tadi hanya kuhisap sekali. Kugapai ransel hitam di sampingku, membuka resletingnya perlahan. Dari dalamnya, aku mengeluarkan sebuah kotak kecil.

"Ini kado untukmu. Maaf, sepertinya aku belum bisa hadir di acaramu."

Kudorong kotak kecil yang sudah dibungkus rapi ke arahnya. Ia masih diam, menatap benda itu seolah tak yakin harus bagaimana. Jemarinya menyentuh permukaannya perlahan.

"Jangan dibuka di sini. Nanti saja, di rumah," kataku menambahkan.

Kuteguk habis kopi yang sudah sejak tadi dingin, lalu melirik jam dinding di kafe itu. Sudah pukul dua siang.

"Aku harus pergi sekarang. Keretaku berangkat jam empat sore ini."

Aku mulai merapikan barang-barangku, menyimpan kembali ransel dan menyampirkannya ke bahu.

"Jadi pergi ke Jogja?" Suaranya akhirnya terdengar, pelan tapi jelas. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia memberanikan diri bicara lebih dari satu kata.

"Iya. Aku sudah janji bertemu teman-teman di sana sebelum pulang ke rumah," jawabku sambil duduk diam, memandangnya. Ia membalas tatapanku. Beberapa detik berlalu dalam hening; kami hanya saling menatap.

Kusimpan baik-baik setiap detail wajahnya dalam ingatan. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatnya.

Cukup.

Aku berdiri dari kursi, menyampirkan ransel hitam ke bahu.

"Aku pergi dulu," pamitku pelan.

Ia ikut berdiri. Aku tak mampu menahan diri. Kupeluk dia sebentar—singkat saja. 

Aku tahu, kalau terlalu lama, mungkin aku tak akan sanggup melepaskannya. Bisa-bisa, aku menculiknya ke Jogja.

Aku melangkah meninggalkan kafe itu dengan langkah berat. Ia mengikutiku sampai ke luar, tanpa sepatah kata.

Tanpa menoleh, aku menghentikan angkot yang lewat dan segera masuk ke dalamnya.

Tak ada lambaian tangan. Tak ada ucapan perpisahan.

Begitu duduk, kuambil ponsel dari saku. Kucari sebuah video di YouTube berjudul Pulanglah Padanya – Jikustik, lalu kukirimkan kepada gadis yang masih berdiri di depan kafe, menatap kepergianku.

Di bawahnya, kutuliskan sebuah pesan:

"Lagu terakhirku untukmu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu."

***

Aku masih berdiri di depan kafe itu. Angkot yang ditumpanginya kian menjauh, perlahan menghilang di antara lalu lintas siang yang riuh dan terik.

Tak ada pelukan yang tersisa, tak ada kata pamungkas seperti dalam drama-drama. Hanya perih yang menetap.

Kutarik napas dalam-dalam. Sisa aroma rokok yang sempat membuat mataku perih masih menggantung di udara. Aneh, meskipun aku benci kebiasaan itu, kali ini aku tak berkata apa-apa. Tak menegur. Tak merengut. Mungkin karena aku tahu, ini yang terakhir. Mungkin karena aku sadar, tak akan ada lagi momen seperti tadi.

Ponselku bergetar.

Satu pesan masuk.

Satu tautan YouTube.

Judul lagunya membuat dadaku berdesir: Pulanglah Padanya – Jikustik.

Jari-jariku gemetar saat menekan tombol play. Musik mengalun pelan. Suara penyanyi itu menyusup ke sela-sela hatiku yang retak. Dan di bawah video itu, kulihat satu kalimat darinya:

“Lagu terakhirku untukmu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu.”

Air mataku kembali mengalir. Tanpa suara. Tanpa isak. Hanya rasa kehilangan yang membanjiri seluruh tubuhku.

Aku duduk kembali di kursi yang tadi kami tempati. Kursi yang masih hangat oleh kehadirannya. Kupandangi kotak kecil di atas meja. Kotak kado dengan kertas bunga biru, warnanya seperti langit sore hari sebelum hujan turun.

Tanganku ingin membuka, tapi kata-katanya menggema di telingaku: “Jangan dibuka di sini. Nanti saja, di rumah.”

Aku tak tahu kenapa aku menangis begitu lama tadi. Mungkin karena aku marah, bukan padanya, tapi pada diriku sendiri. Aku berkata sesuatu yang menyakiti hatinya. Aku mempertanyakan ketulusannya. Padahal jika ada yang paling tulus, maka itu adalah dia.

Ia pernah bilang, cinta yang sejati tak selalu harus memiliki. Aku tertawa waktu itu, mengira ia cuma mengutip film atau buku puisi. Kini, kalimat itu jadi nyata. Sakitnya nyata.

Aku menggenggam ponselku erat. Lagu itu terus mengalun, menyayat perasaan yang belum siap kehilangan. Bukan karena ia tak mencintaiku. Justru karena ia terlalu mencintaiku, hingga melepaskan menjadi bentuk terakhir dari pengorbanannya.

Aku tahu, setelah ini tak ada lagi pertemuan. Mungkin kami akan menjadi kenangan yang diam-diam disimpan, dalam kotak hati yang tak bisa dibuka kapan pun. Atau mungkin kami hanya akan menjadi nama-nama dalam daftar kontak yang perlahan tak pernah diklik lagi.

Tapi aku tahu satu hal. Dia mencintaiku. Dan aku mencintainya.

Terlambat? Mungkin.

Tapi beberapa cinta memang lahir bukan untuk dimiliki. Hanya untuk dikenang.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)