Theo awalnya yakin dirinya hanya terpisah beberapa langkah dari yang lain saat lampu tangga darurat mati mendadak. Suara langkah kaki Vio yang sejak tadi ribut sendiri masih sempat terdengar beberapa detik sebelumnya, begitu juga suara Theo sendiri yang tadi sempat menyuruh semuanya tetap fokus dan jangan panik. Namun setelah ia berlari melewati satu belokan tangga dalam gelap, semuanya perlahan menghilang seperti suara yang ditelan kabut.
Awalnya Theo mengira dirinya hanya salah arah.
Ia sempat berhenti sambil mencoba mengatur napas dan memanggil nama Selvara beberapa kali, namun tidak ada jawaban selain gema suaranya sendiri yang terdengar aneh di sekitar tangga darurat tersebut.
“Sel?”
Sunyi.
“Vio?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara air yang terdengar menetes pelan entah dari mana.
Theo akhirnya mengeluarkan ponselnya lagi dan mencoba menyalakan senter meski sejak tadi layarnya terus berkedip tidak stabil. Cahaya putih redup akhirnya muncul beberapa detik kemudian dan langsung menyapu area sekitar tangga.
Namun dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Karena tempat itu sudah berubah.
Tangga darurat yang tadi sempit sekarang terasa jauh lebih luas dan lorong di depannya tidak lagi terlihat seperti akses antar lantai sekolah. Dinding beton kusam berubah menjadi koridor panjang dengan papan pengumuman olahraga di sisi kiri, sementara lantainya dipenuhi bekas jejak sepatu yang samar seperti baru saja digunakan banyak orang.
Theo perlahan mengernyit kecil.
“…serius?”
Ia langsung mengenali tempat itu.
Gym sekolah lama.
Atau lebih tepatnya, lorong menuju lapangan basket indoor yang sudah lama jarang dipakai sejak gedung baru selesai dibangun.
Namun itu tidak masuk akal.
Beberapa detik lalu ia masih berada di tangga darurat bersama yang lain.
Perasaan dingin perlahan mulai muncul di tengkuknya, namun Theo tetap memaksa dirinya berjalan pelan ke depan sambil terus memperhatikan sekitar.
Suasana di lorong itu terlalu sunyi. Tidak ada suara hujan, suara listrik ataupun tidak ada angin.
Namun justru karena terlalu sunyi, suara kecil yang muncul beberapa detik kemudian langsung terdengar sangat jelas.
Duk.
Theo langsung berhenti.
Suara bola basket. Duk..Duk..Duk.. suara itu pelan dan teratur.
Seperti seseorang sedang melakukan dribble santai di dalam gym.
Theo refleks menoleh ke arah pintu besar lapangan basket yang berdiri beberapa meter di ujung lorong. Lampu di atas pintu berkedip samar dan bayangan tipis terlihat bergerak di balik kaca kecilnya.
Untuk beberapa detik Theo hanya diam sambil mencoba berpikir logis.
Mungkin ada siswa lain.
Mungkin ada orang yang terjebak juga.
Atau mungkin…
Ia langsung memotong pikirannya sendiri sebelum makin jauh.
Karena setelah semua yang baru saja mereka alami, Theo sadar tempat ini sudah tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Namun tetap saja, rasa penasaran perlahan mulai muncul di kepalanya.
Dan itu jauh lebih berbahaya dibanding rasa takut.
Duk..Duk..
Suara bola basket kembali terdengar.
Kali ini sedikit lebih cepat.
Theo akhirnya berjalan mendekat ke pintu gym sambil menggenggam ponselnya lebih erat. Cahaya senter kecil di tangannya terus bergerak menyapu lorong yang terasa semakin dingin setiap langkah.
Dan tepat saat ia sampai di depan pintu gym, suara dribble itu mendadak berhenti.
Sunyi.
Theo perlahan menelan napas kecil sebelum akhirnya mendorong pintu tersebut pelan.
Krieet.
Suara engsel tua langsung menggema panjang di seluruh ruangan gym.
Dan pemandangan di depannya langsung membuat langkah Theo berhenti.
Lapangan basket indoor itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Lampu di atas lapangan hanya menyala sebagian sehingga seluruh ruangan terlihat redup dengan bayangan panjang di berbagai sisi tribun. Pantulan cahaya samar dari luar membuat lantai kayu lapangan terlihat sedikit basah seperti habis terkena hujan.
Namun yang paling membuat Theo tidak nyaman—
ada bola basket yang terus memantul sendiri di tengah lapangan.
Duk..Duk..Duk..
Tidak cepat dan juga tidak lambat.
Hanya memantul pelan sendiri tanpa ada siapa pun di dekatnya.
Theo langsung berdiri diam beberapa detik sambil menatap bola tersebut.
“…oke. Aku resmi males.”
Biasanya dalam situasi aneh apa pun Theo masih bisa bercanda kecil ke dirinya sendiri untuk menenangkan kepala. Namun kali ini bahkan suaranya sendiri terdengar asing di dalam gym yang terlalu sunyi itu.
Ia akhirnya melangkah masuk perlahan ke dalam lapangan.
Dan tepat saat itu, suara peluit pertandingan terdengar nyaring dari sisi tribun.
Piiiiit!
Theo langsung menoleh cepat.
Kosong dan Tidak ada siapa-siapa.
Namun beberapa detik kemudian, suara langkah sepatu basket mulai terdengar samar mengelilingi lapangan.
Tak..Tak..Tak. suara itu terdengar sangat cepat
Seperti ada banyak pemain sedang berlari di sekitarnya.
Theo langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.
Karena suara itu terdengar sangat nyata.
Namun lapangan di depannya tetap kosong.
Tidak ada pemain, tidak ada penonton dan juga tidak ada siapa-siapa. Hanya suara pertandingan yang terus terdengar di dalam gym gelap tersebut.
Dan di tengah semua suara itu, Theo perlahan sadar ada seseorang duduk di tribun paling atas.
Terdengar samar-samar. Dan hanya ada siluet hitam yang hampir menyatu dengan gelap.
Namun cukup jelas untuk membuat tubuh Theo langsung menegang.
Karena sosok itu…terlihat seperti dirinya sendiri.