Hai.. Nama aku Lyara.
Kalau dipikir sekarang, semuanya sebenarnya berubah terlalu pelan sampai aku sendiri nggak sadar kapan tepatnya rasa “normal” mulai hilang dari hidupku.
Awalnya biasa saja.
Aku masih sekolah seperti anak lain. Masih latihan vokal hampir setiap sore, masih ribut soal tugas, dan masih punya kebiasaan bikin catatan lirik random di ponsel tiap kepikiran melodi baru. Aku suka musik karena musik selalu terasa jujur. Kadang orang bisa bohong lewat kata-kata, tapi nada nggak pernah benar-benar bisa menyembunyikan perasaan seseorang.
Waktu itu aku pikir hidupku bakal tetap sederhana seperti itu.
Lulus sekolah, jurusan musik.
Lalu pelan-pelan mengejar mimpi yang bahkan belum sepenuhnya jelas bentuknya.
Impian biasa untuk anak seusiaku.
Dan mungkin karena itu… aku nggak pernah siap waktu semuanya mulai berubah.
Sebelum pindah ke Asterveil, aku tinggal di kota yang jauh lebih ramai dari sini. Lampunya terang bahkan tengah malam, jalanan hampir nggak pernah benar-benar sepi, dan hujan selalu datang bersama suara kendaraan yang terus bergerak tanpa henti.
Aku cukup dikenal di sekolah lama.
Bukan populer banget.
Tapi orang-orang tahu aku karena musik.
Kadang tampil di festival sekolah.
Kadang diminta isi acara kecil.
Kadang cuma nyanyi di ruang musik sampai sore sambil ditemani suara hujan di luar jendela.
Dan jujur aja…
aku suka hidupku waktu itu.
Sampai malam itu datang.
Hujan turun cukup deras malam itu. Aku pulang latihan lebih telat dari biasanya dan memutuskan naik kereta karena jalanan macet total. Gerbong malam tidak terlalu penuh, jadi aku duduk dekat jendela sambil memasang earphone dan memutar draft lagu yang belum selesai.
Aku masih ingat suasananya.
Lampu gerbong redup.
Kaca jendela penuh garis air hujan.
Dan orang-orang terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Ada yang tidur, yang main ponsel dan yang cuma melamun sambil melihat keluar.
Semuanya terasa biasa.
Sampai suara hujan tiba-tiba menghilang.
Bukan berhenti.
Hujannya masih ada.
Aku bisa melihat air bergerak di luar kaca.
Tapi suaranya…
hilang.
Aku langsung sadar karena perubahan itu terlalu mendadak. Bahkan musik di earphone-ku terasa jadi aneh karena suasana di sekitarnya mendadak terlalu sunyi.
Aku melepas salah satu earphone pelan.
Tetap tidak ada suara hujan.
Dan anehnya, tidak ada satu pun orang di gerbong yang terlihat sadar.
Mereka tetap diam.
Tetap bergerak seperti biasa.
Seolah cuma aku yang menyadari sesuatu berubah.
Aku mulai merasa nggak nyaman waktu itu.
Bukan takut.
Lebih seperti… perasaan kalau ada sesuatu yang salah tapi aku belum tahu apa.
Lalu aku melihat ke jendela.
Dan di situlah semuanya dimulai.
Pantulanku di kaca bergerak terlambat.
Kecil sekali.
Hampir nggak kelihatan.
Tapi aku lihat.
Aku yakin.
Tubuhku langsung dingin.
Aku bahkan nggak langsung berani bergerak setelah itu.
Karena semakin lama aku melihat—
semakin terasa kalau pantulan itu bukan terlambat.
Ia sedang melihat ke arah lain.
Aku langsung memalingkan wajah dari kaca dan jantungku langsung berdetak keras sampai aku bisa mendengarnya sendiri. Waktu itu aku masih mencoba berpikir rasional. Aku bilang ke diri sendiri mungkin aku cuma capek, kurang tidur, atau terlalu lama latihan sampai halusinasi.
Apa saja selain jawaban yang sebenarnya.
Lalu suara hujan kembali.
Normal lagi.
Suara roda kereta terdengar.
Orang-orang tetap bergerak seperti biasa.
Dan waktu aku memberanikan diri melihat lagi ke kaca…
pantulanku juga normal.
Aku turun lebih cepat malam itu.
Hampir lupa tas sendiri karena buru-buru keluar dari gerbong.
Dan sejak malam itu, semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Awalnya kecil.
Pantulan kaca terasa aneh.
Lorong terlihat terlalu panjang.
Kadang ada orang berdiri terlalu diam di tengah keramaian.
Kadang suara kota mendadak terasa jauh.
Dan semuanya mulai muncul lebih sering setiap hujan turun.
Aku mencoba mengabaikannya selama berminggu-minggu.
Tetap sekolah.
Tetap latihan.
Tetap hidup normal.
Tapi semakin lama, semakin sulit berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Karena ada satu hal yang mulai aku sadari pelan-pelan.
Aku bukan cuma melihat mereka.
Kadang…
mereka mulai melihat balik.
Aku berhenti pulang malam sendirian setelah itu. Berhenti duduk dekat jendela kereta. Bahkan sempat berhenti nyanyi beberapa minggu karena tiap mendengar gema suara sendiri di ruangan kosong, aku jadi kepikiran hal-hal aneh yang nggak bisa aku jelaskan.
Ibuku pikir aku cuma stres karena sekolah.
Teman-temanku pikir aku burnout.
Dan aku membiarkan mereka percaya itu.
Karena aku sendiri juga berharap begitu.
Sampai malam ketika aku melihat kabut itu untuk pertama kalinya.
Lampu stasiun mati beberapa detik karena gangguan listrik. Semua orang langsung panik kecil, beberapa mulai mengeluh, sebagian sibuk menyalakan flashlight ponsel mereka.
Tapi aku tidak melihat ke arah lampu.
Aku melihat ke arah peron.
Karena di sana, kabut tipis mulai bergerak perlahan.
Samar.
Tidak tebal.
Namun cukup jelas untuk terlihat berbeda dari udara biasa.
Dan di tengah kabut itu…
ada seseorang berdiri.
Tidak bergerak.
Rasanya seperti melihat bayangan manusia yang kehilangan bentuknya sendiri.
Aku nggak bisa menjelaskan kenapa, tapi saat itu aku langsung tahu satu hal.
Itu bukan sesuatu yang seharusnya ada di sana.
Lalu perlahan, sosok itu menoleh ke arahku.
Lampu stasiun kembali menyala tepat setelah itu.
Kabut hilang.
Orang-orang kembali bergerak.
Dan tidak ada satu pun yang terlihat sadar kalau sesuatu baru saja berdiri di tengah mereka.
Beberapa bulan setelah malam itu, aku pindah ke Asterveil.
Alasannya banyak.
Sekolah baru. Lingkungan baru. Awal baru.
Setidaknya itu yang orang lain pikir.
Padahal sebenarnya…
aku cuma ingin pergi sejauh mungkin dari tempat di mana semuanya mulai berubah.
Tapi sekarang aku mulai sadar.
Mungkin dari awal… itu nggak pernah benar-benar tentang tempat.