Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Permintaan Pak Sumardi
Horor

Gerimis turun perlahan disertai petir bergemuruh. Malam ini Adit bersama orang tuanya; Mira dan Endang menemui kakeknya yang tidak sadarkan diri sejak tadi sore.

"Dit, sudah malam. Cepat cuci kaki, terus tidur," pinta Sri yang berjalan menuju dapur dengan lilin di tangannya. Mata perempuan itu tertuju pada pintu dapur tanpa memedulikan keponakannya yang sedang mencoret-coret sesuatu.

"Hmmm.... "

Seketika langkah Sri terhenti tepat di hadapan Adit. Bulu kuduknya berdiri mendengar jawaban Adit. Suaranya terdengar berat dan parau. Perlahan ekor mata Sri melirik Adit yang duduk sambil mencoret-coretkan spidol. Adit percis di sampingnya. Sri hanya bisa melihat rambut Adit yang terkena cahaya lilin di sebelahnya. Sri berusaha mengacuhkannya kembali melangkah kaki dengan jantung bedegup-degup.

Beberapa meter di hadapan Adit, Mira dan Endang duduk dengan tatapan kosong. Di hadapan mereka terbujur lemah sosok Pak Sumardi yang seperti antara hidup dan mati, dengan mata tertutup serta mulut terbuka.

"Maafin Mira, Pak. Tidak bisa mengurus Bapak dengan baik." Mira terisak sembari mengelus-elus kaki mertuanya. Pak Sumardi yang sakit-sakitan memang diurus Sri, adik Endang.

"Tehnya." Sri menyodorkan cangkir pada Mira.

"Adit mana?"

"Lagi coret-coret buku, tuh," Sri menunjuk dengan sedikit menaikkan wajahnya ke arah Adit. Adit sedikit tertunduk, memainkan spidol di sudut kerja Pak Sumardi. Dari kejauhan rambutnya berkilauan tertimpa sinar lilin.

Petir menggelar, dada Pak Sumardi sesak. Mulutnya terbuka. Napasnya parau. Tubuhnya kejang-kejang. Keadaan menjadi kacau. Sri sangat panik, menggoyang-goyangkan tubuh bapaknya.

"Ikhlas, Pak! Ikhlas!" sambil berkaca-kaca Endang berusaha menenangkan. Namun Pak Sumardi terus kejang-kejang. Dadanya kembang-kempis. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Beberapa hari sebelum seperti sekarang Pak Sumardi memang meminta sesuatu pada Endang. Namun permintaan itu sulit dan mustahil Endang penuhi.

Pak Sumardi semakin kacau. Air mengalir dari sisi mata dan mulutnya. Sri dan Mira tak kuasa membendung tangis.

Pintu diketuk seseorang. pandangan Sri, Mira dan Endang terjutu pada pintu. Mira lantas membukanya. Angin berembus kencang, memadamkan semua lilin. Gelap. Mira langsung menyalahkan korek. Sosok dokter Bambang hadapannya.

"Maaf, Dok dari sore listrik mati. Silakan masuk."

Dokter Bambang menurunkan leher kaos Pak Sumardi.

"Sri, Adit mana?"

"Adit!" teriak Sri. Ia bangkit. Perlahan cahaya lilin menerangi meja, lalu kursi yang Adit duduki. Kosong!

"Adit enggak ada!"

Petir menggelegar. Mira dan Endang langsung berdiri dan memanggil-manggil Adit.

"Maksud kalian anak yang memakai kaos merah?"

"Iya, Dok."

"Aku bertemu di depan. Dia digendong seorang suster. Dia memberikan ini."

Endang tercekat melihat foto usang yang disodorkan Dokter Bambang. Wajah Pak Sumardi dan Adit saat bayi penuh coretan, namun tidak dengan wajah Maryam, perawat Pak Sumardi dan istrinya sebelum meninggal.

"Pah, ada apa? Adit sama siapa?"

Air mengalir dari kelopak mata Endang. Ia meremas kedua matanya. "Maafkan aku, Pak!" Endang lunglai dan bersimpuh sembari sesenggukan. Ingatan Endang terlempar pada peristiwa beberapa tahun silam, saat ia dan Sri pulang dari pasar dan memergoki Bapaknya bermesraan dengan Maryam. Sementara Ibu mereka terbaring di kamar. Endang yang gelap mata membuntuti Maryam, menabraknya dari belakang dan melindas tubuh Maryam beberapa kali. Beberapa hari lalu Pak Sumardi meminta bertemu dengan Maryam. Ia ingin meminta maaf. Jelas permintaan itu ditolak Endang.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi