Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Boneka Kesayangan
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Karin berkeriau ketika tiba-tiba listrik di rumahnya mati. Gelap. Ibu dan ayah Karin langsung bergegas ke kamar Karin. Berbekal cahaya dari flash handphone, mereka mendapati anak semata wayangnya itu sedang duduk melindungi wajahnya dengan siku di sudut tembok. Keringat sebesar biji kacang hijau memenuhi dahinya, beberapa menetes ke pipi hingga leher Karin.

"Enggak apa-apa, Nak. Ada ibu dan ayah di sini," ucap ibu sambil memeluk dan mengelus-elus punggung Karin yang sudah lembap oleh keringat.

"Tenang, Nak. Atur napas. Tenang!" Ayah mencoba ikut menenangkan.

Perlahan ibu mengajak berdiri dan memapah Karin yang sesenggukan naik ke atas kasur lalu membaringkannya. Ayah ikut rebah di samping Karin dan mengusap-usap dahi anak gadisnya itu.

Dada Karin terasa penuh. Sesak. Napasnya tersengal-sengal. Sudah sedari sekolah dasar Karin begitu. Tiap kali berada di tempat yang gelap Karin merasa tumpat. Hal-hal mengerikan langsung berkelebatan dalam kepalanya.

"Sudah, ya. Kamu tenang," pinta ayah.

Listrik kembali menyala. Kamar menjadi terang-benderang. Ayah segera meraih tumbler di meja belajar dan memberikannya kepada Karin. Siswi sekolah menengah atas itu langsung meneguknya. Keadaannya menjadi lebih baik. Lebih tenang.

"Ibu mau cuci piring dan beres-beres dapur dulu, ya. Kamu tenang!" Ibu bangkit dan menutupi kaki Karin dengan selimut, lalu bergegas pergi ke dapur.

"Piring kotor bekas acara tadi sore belum dibersihkan ibu. Kalau dicuci pagi nanti dapur jadi bau dan bisa banyak kecoak," tambah ayah.

Selepas asar hingga tadi isya keluarga besar dari ayah berkumpul untuk acara arisan bulanan.

"Ayah juga ada pekerjaan yang harus diurus. Kamu sudah tenang, kan?"

Karin mengangguk pelan. Ayah kembali mengusap kepala Karin sambil tersenyum, lalu meninggalkan Karin. Gadis itu lalu mendekap Wily. Karin memang terbiasa tidur dengan Wily. Jika Wily tidak ada di sampingnya, ia susah sekali terpejam. Boneka ikan paus sebesar bantal itu sudah ia ajak tidur sejak Karin duduk di sekolah dasar. Di mana pun Karin menginap boneka kesayangannya itu harus selalu ikut.

Wily menjadi boneka kesayangan Karin satu-satunya. Cerita mengerikan melatarbelakangi kebersamaan mereka hingga saat ini. Boneka itu menjadi teman saat Karin menyaksikan tubuh asisten rumah tangganya kaku, tergantung di dapur dengan lidah terjulur. Saat itu Karin masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Hujan turun lebat di malam hari. Listrik mati dan petir tak henti-hentinya menggelegar. Karin yang haus berjalan menyeret Wily ke dapur yang gelap. Karin menjerit saat melihat tubuh tergantung tatkala cahaya petir berkilat-kilat. Semenjak itu Karin tidak suka tempat gelap, dan sejak itu pula Wily menjadi boneka kesayangannya.

Karin masih terbaring belum bisa memejamkan matanya. Cuping hidung Karin kembang-kempis. Ia menajamkan penciumannya. Hidungnya menangkap bau yang tidak sedap. Ia mendekatkan Wily ke hidungnya, lalu selimut dan bantal. Ia mencoba mencari sumber bau anyir yang memenuhi hidungnya.

Tak lama Karin mendengar pintu samping rumahnya terbuka. Karin turun dari kasur menuju jendela dengan menenteng Wily, lalu membuka slot kunci jendela. Karin mendapati ibu di bawah jemuran.

"Ibu lagi apa?" Karin penasaran.

"Ibu lupa angkat si Wily. Tadi sore terkena tumpahan jus."

Mata Karin terbuka lebar. Listrik kembali mati. Gelap. Karin merasakan jari-jemarinya sedang menggenggam rambut. Bau anyir semakin menusuk hidungnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)