Aku tidak tahu punya salah apa kepada matahari tapi kali ini dia benar-benar membenciku. Panas yang diberikan sudah ditahap bisa membakar sebuah kota. Dua jam sudah aku berjalan pulang di siang bolong setelah ditolak kerja. Ya, aku ditolak kerja tepat setelah aku melakukan wawancara dan jika kalian tanya kenapa aku tidak menggunakan kendaraan, itu karena aku tidak punya kendaraan pribadi dan uang untuk naik transportasi umum.
Aku adalah pria rantau dan tepat sekali, hari ini adalah akhir bulan. Uangku hanya cukup untuk makan dua hari kedepan. Saat aku menerima panggilan wawancara, aku sudah meminta agar wawancara dilakukan online karena jarak kantor dari rumahku yang sangat jauh. Namun, HRD itu bersikeras agar wawancara harus dilakukan di kantor. Di bayanganku, aku menyumpahi dan memaki wanita muda itu setelah menolak negosiasi yang kuberikan. Bagaimana bisa di era 4.0 ini seorang yang masih tampak muda umurnya memaksa menggunakan tradisi kuno yang bisa kita tinggalkan.
Oleh sebab itu, sekarang aku harus berjalan dengan keringat yang setiap tetesnya melukai mataku, panas yang bisa memanggang tubuhku dan suara klakson yang memecahkan gendang telingaku, rasa-rasanya aku bisa menelan orang sekarang.
Saat kesengsaraan itu datang bertubi-tubi, dari jauh nampak motor yang naik ke atas trotoar tempat aku sedang berjalan. Motor itu makin lama makin dekat sampai kemudian membunyikan klakson yang suaranya bisa membuat Olympus bangun dari tidur siangnya.
“Minggir woi, gua mau lewat!” Pak tua yang menggunakan jaket berwarna hijau itu memaki sambil terus membunyikan klakson motornya.
“Ini jalan saya pak, bapak yang harus turun ke jalan tuh.” Ucapku sambil menunjuk jalan raya di sebelahku. Tempat seharusnya motor lewat.
Kemudian datang dua tiga motor lagi yang menyusul pak tua tersebut dan mulai mendesak aku untuk minggir dan memberikan jalan pada mereka yang mencuri hak orang lain.
“Cepat minggir! Kami tabrak juga nih.”
Berjalan di tengah terik matahari, ditolak kerja tepat setelah wawancara, uang tidak punya, dan sekarang orang-orang ini berusaha mencuri hak yang aku punya? Sudah cukup kesabaranku dan kalian memaksaku melakukannya.
Aku membuka mulutku lebar-lebar. Sangat lebar sampai-sampai mobil pun muat masuk kedalamnya.
Orang-orang mulai menjerit ketakutan setelah melihat gigiku ikut bertambah besar dan tajam. Beberapa motor di trotoar putar haluan dan beberapa juga turun ke jalan hingga menabrak pengendara lain. Kendaraan di jalan raya yang tadi penuh dengan suara klakson pun jadi hening sejenak.
Aku langsung menelan Pak Tua jaket hijau yang selalu merasa benar masuk ke dalam perutku. Pak tua itu sempat meronta-ronta di dalam perut hingga sedetik kemudian ia diam. Suasana menjadi ricuh seketika dengan orang-orang yang saling bertabrakan dan meninggalkan tempat kejadian. Sudah aku bilang, aku bisa menelan orang.