Semasa sekolah dulu, aku punya seorang teman yang berbakat cenayang. Konon, dia mampu meramal masa depan. Anak-anak di kelasku kerap memintanya membacakan masa depan dengan menafsirkan garis-garis halus yang ada di telapak tangan mereka. Mulai dari masalah karier, jodoh, hingga keberuntungan, semua anak berebutan untuk diraba garis tangannya. Namun, ada satu anak yang tidak pernah kelihatan tertarik dengan kemampuan temanku yang satu ini.
Ia adalah gadis paling ceria yang pernah kukenal. Dengan rambut panjang berkilau, wajah mungil yang selalu berhias senyum, serta perangai yang menyenangkan, tak ada seorang pun yang tak menyukainya. Ia tipe orang yang selalu melontarkan lelucon konyol yang bisa membuat semua orang tertawa. Benar-benar sosok yang mudah dicintai.
Suatu kali, kami pernah bertanya apakah dia mau diramal masa depannya. Dia menolak.
“Jangan lihat masa depanku sebab kalian tidak akan menemukan apa pun di sana,” katanya, nyaris datar. Seolah-olah bukan dirinya yang bicara.
Jujur saja, kami agak terkejut dengan jawaban itu. Rasanya seperti dia tahu sesuatu tentang masa depannya sendiri. Entah bercanda atau bukan, tidak ada yang bisa memastikan. Sulit menebak maksud perkataan gadis itu jika sebentar kemudian ia justru tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah kami—gelagat khas yang kerap dilakukannya ketika puas membuat kami tertipu oleh leluconnya.
Kami tidak pernah terlalu memikirkan peristiwa itu, melupakannya seperti lelucon-leluconnya yang lalu. Hal itu tidak terasa aneh hingga beberapa hari kemudian sesuatu terjadi pada gadis itu. Sesuatu yang mengenaskan, lebih tepatnya.
Dia tidak muncul di sekolah hari itu. Namanya justru muncul di berita lokal sebagai korban tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Semua orang yang mengenalnya lantas merasa ngeri, terutama kami yang sempat mendengar jawaban anehnya kali itu.
Inikah tafsir sesungguhnya dari perkataannya yang janggal itu?