Ya, rutinitas harian sebelum ke kantor—untuk menjadi ayah yang tidak terlalu berengsek, aku tiap pagi harus mengantar anakku ke sekolahnya.
Tapi hari itu, aku mengetahui kebenaran memyeramkan tentang dirinya, yang membuatku takut setengah mati.
Begini ceritanya....
.
.
.
Bentar, bentar... Minum dulu aku.
Kluk...
Kluk...
Kluk... (Menyeka Mulut), dan...
Ahhh.... Kenyang.
.
.
.
Ok, begini:
Suatu pagi di dalam mobil bersama dengan anakku satu-satunya ini.
Saat jalanan sedang macat-macatnya, dia nyeletuk dengan mengatakan,
"Ayah, mau ngelihat sihir, gak?"
Berhubung aku sedang fokus ingin menerobos lampu merah, aku mengabaikannya.
"Ayah...?"
Dia bersikeras ingin kujawab.
"Nanti aja sihirnya, kita udah telat".
Aku tetap tidak menerima umpan. Tapi dia...
"Aku bisa baca pikiran ayah, loh!
Spontan aku tertawa mendengarnya. Dalam hatiku "Si anak yang masih bau bibit kencur, ada-ada aja dah, kerjaannya".
Tapi supaya dia nggak ngadu ke mamanya nanti, dan berujung aku yang jadi dirugikan karena nggak dapat "olahraga malam", terpaksa kuladeni dia—lagi pula saat itu jalanan sudah gak macat lagi.
AKU: Oh, ya?! Gimana caranya?
ANAKKU: Pikirkan satu angka, jangan bilang ke aku.
Aku mengangguk, sambil meremehkannya,
"Udah...".
ANAKKU: Lalu, angka ayah itu, kalikan dengan 2.
Waduh! Mau pertunjukan sihir, atau nyerang kemampuan matematikaku ini?
AKU: Hmm, Udah.
ANAKKU: Nah, jumlahnya itu, ditambahkan dengan...
Dia berpikir, seolah-olah ia Albert G. Ade.
"Eeee, berapa ya? Tambah 10, deh."
Aku hanya mengangguk (artinya kalau dia memang penyihir, seharusnya ia tahu gesture itu). Tapi, ternyata dia beneran tahu; Jangan-jangan...
Dia melanjutkan, "Lalu dibagi 2".
AKU: Udah, dong.
Di sini titik di mana aku mulai gugup saat ia mengatakan,
"Dan terakhir, tambahkan dengan angka setan: 666."
Bulu kudukku tiba-tiba handstand, supaya menetralkannya, aku mengambil ponsel (tapi berpura-pura ada pesan masuk),
lalu membuka kalkulator, sambil mengatakn "Bentar, bentar, ya".
ANAKKU: Nanti dulu HP-nya.
Aku selesai menjumlahkannya.
"Oh, iya, tambahkan berapa tadi? 666?"
Aku berpura-pura berpikir,
"Ok, udah. Udah Ayah jumlahkan".
ANAKKU: Coba sebutkan hasilnya berapa?
AKU: 674.
ANAKKU: Oh, OK.
Dia kembali berpikir seperti Albert, sementara mobil bentar lagi tiba di sekolahnya.
Ketika itu, ia seperti kerasukan sambil melihat ke atas dan menyebut...
"TIGA..."
Aku terkejut, seketika rem mendadak...
Dengan gaya layaknya penyanyi repper aku mengatakan
"Kamu tahu dari mana? Jangan main-main, kamu gak tahu apa yang sedang kamu mainkan, nak... Itu bahaya, ada konsekuensinya..."
ANAKKU: Dia cuma berbisik ke aku, Yah... katanya kuncinya ada pada angka setan itu untuk mengetahui pikiran ayah.
Dengan sekali tarikan napas, aku mengatakan,
"JANGAN PERNAH MAIN ITU LAGI."
.
.
.
Gitu ceritanya. Aku takut. Ada yang tahu anakku ini bersekutu dengan setan apa? Karena setelah aku berkelana dari gang ke gang, katanya setan itu bernama "AL...".