Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
13
TANGISAN PENA
Drama

Rintik gerimis menguarkan aroma hujan yang menenangkan. Namun tidak bagi Ruby. Ia kini berdiri di depan pintu gerbang rumah sahabatnya, menatap papan tanda bertuliskan 'Tanah dan Bangunan Ini Telah Disita' dengan perasaan yang tak karuan.

"Inikah alasannya, Gin?" gumam Ruby yang kini merasakan sesak di dada.

Beberapa hari terakhir, Gina selalu menanyakan apakah Ruby ada waktu. Bahkan jika Ruby menolaknya dengan halus karena adanya kursus tambahan yang harus ia hadiri, Gina selalu bertanya kapan waktu yang tepat untuk bertemu. Tak jarang Ruby terpaksa mengabaikan pesan sahabatnya itu karena jadwalnya yang terlalu padat.

Setelah kepergian Gina, Ruby benar-benar merasakan kehampaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Berkali-kali ia mengirim pesan, berharap Gina akan membalasnya. Namun yang ada hanyalah sepi. Sekarang, Gina yang mengabaikan pesannya.

Di suatu sore, tepatnya beberapa menit setelah bel pulang sekolah berbunyi, tanpa sadar Ruby berjalan melewati ruang kelas Gina. Ia melangkah masuk dan duduk di bangku yang telah kosong hampir satu minggu lamanya. Kedua tangan yang ia selipkan ke bawah meja, tak sengaja menyentuh sebuah benda yang terasa berdebu. Diambilnya dengan hati-hati dan dilihatnya sebuah buku berwarna biru tua yang sudah tak asing lagi baginya.

Awalnya, Ruby ragu untuk membaca buku itu. Namun, kerinduannya pada sang sahabat memunculkan keinginan kuat untuk membukanya. Tangannya gemetar hebat saat lembar pertama terbuka.

"Sebenarnya, mengapa aku harus dilahirkan jika Ibu saja tak sudi melihatku. Ayah pun seakan tak rela ia harus bekerja untuk kehidupanku. Bohong jika aku mengatakan aku kuat. Bohong jika aku tak punya keinginan untuk pergi meninggalkan dunia ini. Namun aku tahu Tuhan tidak akan membiarkan aku menyerah dan kesepian. Mungkin itulah kenapa Tuhan mengirim seorang sahabat untukku. Ruby."

Ruby menutup buku itu dengan napas tercekat. Ia menangis begitu mengetahui bahwa selama ini Gina menyimpan semua rasa sakitnya sendiri. Tangisnya semakin menjadi ketika ia ingat bagaimana ia mengabaikan Gina beberapa hari sebelum kepergiannya.

Sejak sepulang sekolah sore tadi hingga tengah malam, air mata Ruby terus mengalir. Ia merasa ia bukanlah sahabat yang baik. Bagaimana mungkin ia tidak pernah menyadari penderitaan Gina? Bagaimana mungkin Gina yang selama ini ceria, sering melontarkan lelucon, selalu membuat Ruby tertawa, ternyata menyimpan rapat-rapat luka di hatinya.

Tangan Ruby gemetar, namun ia tetap bersikeras menghubungi Gina. Pesannya terkirim, namun tak ada balasan. Teleponnya pun tak diangkat. Ruby mulai panik. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya.

Setelah percobaan yang entah sudah berapa kali, akhirnya Ruby memutuskan untuk meninggalkan pesan suara untuk Gina.

"Gina, aku tidak pernah tahu kalau kau menyimpan luka yang sesakit ini sendiri. Maaf, aku tidak pernah cukup peka. Kau selalu mendengar keluh kesahku, namun kau tak pernah membiarkanku mendengar masalahmu. Kupikir selama ini kita selalu tertawa bersama, tapi nyatanya aku tidak sadar kalau senyummu hanya untuk menyembunyikan kesedihan. Gina, aku ingin kau tahu. Kau tak sendiri. Kau sangatlah berharga. Dan yang pasti, kau tak harus menghadapi semua ini sendirian. Maaf aku sempat mengabaikanmu. Sungguh, tak ada penyesalan yang lebih besar selain hal itu."

Hampir satu minggu berlalu tanpa kabar. Apakah pesan suara itu tak pernah sampai pada Gina? Apakah Gina mengabaikannya? Ataukah sesuatu telah terjadi padanya?

Perasaan yang campur aduk itu terus berkecamuk dalam dada. Hingga pada suatu pagi, Ruby menjerit histeris ketika memeriksa pesan masuk di ponselnya. Akhirnya, Gina membalas pesannya.

"Ruby, terima kasih. Kukira aku sendirian. Kukira tak akan ada yang peduli jika aku menyerah. Kukira kau ingin menjauh dariku. Tapi kini aku tahu. Kau akan selalu ada untukku. Terima kasih, sahabatku. Jika aku tetap bertahan hingga detik ini, itu berarti karena kehadiranmu. Aku berjanji padamu dan pada diriku sendiri, aku akan mencoba untuk menjadi Gina yang lebih kuat."

Air mata Ruby bergulir tanpa bisa ditahan. Didekapnya ponsel dalam genggamannya, seakan ia tengah memeluk Gina yang juga tengah menangis. Meski kini mereka terpisah, Ruby yakin persahabatan mereka tak akan hilang. Dalam hati keduanya, ada rumah yang menjanjikan ketenangan bagi satu sama lain.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi