Siang itu, matahari seolah turun satu langkah lebih dekat ke bumi. Panas menyesak, merayap dari aspal, menembus udara, dan membuat napas terasa berat. Aku dan teman-temanku bersembunyi di sebuah kafe berpendingin ruangan, lagu Sza-Nobody Gets Me mengalun lirih dari pengeras suara di sudut ruangan, sembari duduk di sofa panjang, menyeruput minuman dingin sambil berpura-pura dunia baik-baik saja.
Padahal, aku tidak.
“Aku merindukannya.”
Kalimat itu lolos begitu saja, tanpa izin dari logika. Ana yang duduk di sampingku menoleh cepat. Matanya menyipit, antara kaget dan kesal. Aku tahu wajahku pasti terlihat menyedihkan—mata sembap, bibir gemetar, dan hati yang entah kenapa selalu kalah oleh kenangan.
“Tolol,” katanya pelan tapi tajam. “Apa yang kau rindukan dari pria seperti itu?”
Aku menatapnya, masih dengan wajah memelas, seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
“Aku bisa mati karena merindukannya,” kataku setengah merengek, setengah pasrah.
Randy tertawa pendek, getir. “Perempuan bodoh. Kau itu cantik, pintar, dan hidupmu luas. Tapi kau masih saja duduk di sini, menangisi seseorang yang bahkan tak pantas untuk ditangisi.”
Aku tidak membalas. Kata-kata mereka sudah terlalu sering kudengar, sampai rasanya seperti lagu lama yang diputar berulang-ulang—menyakitkan, tapi akrab. Mereka memang kasar dalam cara bicara, tak pernah membungkus kejujuran dengan pita-pita manis. Namun aku tahu, di balik suara keras itu, ada kepedulian yang tak pandai menjelma pelukan.
Aku menatap es di gelasku yang perlahan mencair. Seperti hatiku—perlahan luruh, tanpa suara, tanpa ada yang benar-benar bisa menghentikannya.