Disukai
0
Dilihat
24
Delapan Lewat Sepuluh
Drama

“Sialan, aku telat!”

Umpatan itu meluncur begitu saja saat layar ponselku menampilkan pukul 08.10. Aku bangkit setengah melompat dari kasur, begitu layar ponselku memantulkan angka 08.10 dengan kejam, seolah sengaja mengejek kepanikan yang baru saja bangkit bersamaku.

Kamarku berantakan dalam cara yang khas: tumpukan buku di sudut meja, pakaian setengah dilipat di kursi, dan selembar kertas berisi daftar perusahaan yang sudah kukirimi lamaran, ditempel seadanya di dinding. Hari ini, salah satu nama dalam daftar itu menungguku—sebuah perusahaan swasta dengan kantor cabang di pusat kota. Wawancara terakhir. Kesempatan yang, entah kenapa, kurasa seperti gerbang terakhir sebelum aku kembali jatuh ke siklus kirim CV, menunggu, ditolak, lalu berpura-pura kuat.

Aku kelabakan. Handuk yang biasanya setia menggantung di balik pintu entah bersembunyi di mana pagi ini. Aku berlari ke kamar mandi, dan—brak—ujung jariku menghantam kusen pintu. Aku meringis, menahan umpatan lanjutan yang nyaris lolos. Dari sudut ruangan, kucingku menatap dengan mata setengah terpejam, seolah berkata, Apa yang merasuki perempuan ini pagi-pagi begini?” Biasanya aku bangun lambat, tenang, hampir malas—hari ini aku seperti badai kecil yang kehilangan arah.

Aku menyalakan keran, membasahi tubuh secepat mungkin. Air dingin menyergap kulit, membuatku sedikit lebih sadar. Aku menyikat gigi sambil menatap pantulan wajah sendiri di cermin—pucat, kusut, dengan mata yang memuat lebih banyak kecemasan daripada keyakinan. Aku memakai sedikit riasan dan menyemprot parfum berharap penampilanku setidaknya cukup pantas untuk seseorang yang hendak dinilai masa depannya.

Hari ini aku punya janji wawancara tepat pukul delapan di sebuah perusahaan swasta. Jaraknya memang tak terlalu jauh, tapi keterlambatan selalu terasa seperti dosa kecil yang bisa berujung pada mimpi besar yang kandas. Ini wawancara terakhir—gerbang penentuan, apakah aku akan diterima atau kembali mengirim lamaran ke entah berapa banyak perusahaan lagi.

Motorku melaju membelah pagi yang sudah mulai terik. Matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepalaku, menguji kesabaranku. Jalanan tak terlalu padat, hanya beberapa lampu merah yang terasa seperti jeda-jeda menyebalkan di tengah kepanikan yang belum reda.

“Selamat pagi,” kataku kepada satpam saat ia membukakan pintu sambil tersenyum terengah saat tiba di gedung kantor itu.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” jawabnya ramah, senyumannya hangat dan profesional.

“Saya sudah dihubungi Pak Rio untuk interview bersama Kepala Cabang hari ini, Pak,” ucapku, mencoba terdengar tenang meski jantung masih berlari.

“Silakan duduk dulu ya, Mbak. Saya konfirmasi dulu,” katanya sambil menunjuk kursi ruang tunggu.

Ruang tunggu itu hampir penuh. Wajah-wajah asing duduk dengan ekspresi yang sama: tegang, berharap, dan pura-pura tenang. Aku memilih satu kursi di sudut, memeluk tas di pangkuan seolah itu jangkar terakhir agar pikiranku tak hanyut. Kepalaku masih kacau—antara menyesali alarm yang tak kudengar dan membayangkan segala kemungkinan terburuk.

Tak lama, ponselku bergetar.

Pak Rio:

Mbak, mohon maaf ya. Kepala Cabang tiba-tiba ada keperluan mendadak. Bisa tunggu sebentar? Atau kalau mau, Mbak bisa cari sarapan dulu. Nanti saya kabari kalau beliau sudah ada di ruangan.

Aku melangkah keluar gedung. Ada satu tempat favorit yang selalu kutuju saat sarapan—jaraknya tak begitu jauh dari kantor itu. Di sana, suara orang-orang bercakap terdengar riuh tapi akrab, seperti gelombang kecil yang tak pernah benar-benar diam. Aroma roti bakar dan kopi hitam menyambutku lebih dulu, hangat dan sederhana, seperti pagi-pagi di rumah yang tak sempat kunikmati hari ini.

Aku memesan nasi kuning ikan tuna dan seporsi bakwan seperti biasa. Duduk sendiri di tengah keramaian tak membuatku merasa sepi; justru ada semacam ketenangan aneh ketika menjadi satu-satunya yang diam di antara banyak suara. Aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku—sepasang ibu-ibu yang tertawa terlalu keras, seorang bapak yang sibuk membaca pesan di ponselnya, dan pelayan yang mondar-mandir dengan langkah cepat—sementara pikiranku melayang ke ruang wawancara di lantai dua gedung tadi.

Suapan pertama terasa hangat, menenangkan, seperti pelukan kecil yang datang tanpa diminta. Nasi kuning yang gurih, ikan tuna yang pedas-manis, dan bakwan yang renyah di luar tapi lembut di dalam—semuanya terasa sederhana, tapi cukup untuk membuat dadaku sedikit lebih lapang. Untuk sesaat, aku lupa pada jam, lupa pada gugup, lupa pada segala kemungkinan yang menunggu di balik pintu wawancara. Aku hanya perempuan biasa yang sedang sarapan di pagi hari, mencoba berdamai dengan degup jantungnya sendiri.

Namun ponselku di atas meja tetap seperti alarm yang siap berbunyi kapan saja, mengingatkanku bahwa jeda ini hanya sementara—bahwa setelah nasi kuning habis dan bakwan tinggal remah, aku harus kembali menghadapi sesuatu yang mungkin akan mengubah arah hidupku.

Pikiranku berkelana ke ruang wawancara yang belum kulihat tapi sudah terasa nyata: meja panjang, kursi-kursi rapi, wajah-wajah serius yang akan menatapku seolah ingin membaca lebih dari sekadar jawaban-jawabanku. Aku membayangkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mereka ajukan—tentang pengalaman, tentang kelemahan, tentang rencana lima tahun ke depan yang selalu terdengar seperti pertanyaan jebakan. Aku mencoba mengulang jawaban-jawaban yang sudah kusiapkan, tapi alih-alih terasa lebih siap, aku justru merasa seperti sedang menghafal skrip untuk pertunjukan yang belum tentu sesuai dengan panggungnya.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kuingatkan diri sendiri bahwa aku sudah sejauh ini bukan karena kebetulan. Ada malam-malam panjang yang kulewati dengan mengetik lamaran satu per satu, ada pagi-pagi yang kulewati dengan mengecek email sambil menahan harap agar tak terlalu tinggi. Dan hari ini—entah bagaimana—aku berada di sini. Duduk di warung kecil, menunggu pesan yang mungkin akan mengubah hari-hariku ke depan.

Ponselku kembali bergetar.

Pak Rio:

Mbak, Kepala Cabang sudah di ruangan. Bisa langsung ke lantai dua sekarang ya.

Aku membaca pesan itu sekali, lalu sekali lagi, memastikan aku tak salah baca. Jantungku kembali berlari, tapi kali ini dengan ritme yang berbeda—bukan hanya panik, melainkan juga sesuatu yang mendekati keberanian. Aku berdiri, meraih tas, dan membayar sarapan. Ibu penjual tersenyum sambil berkata, “Semoga harinya lancar ya, Dek.”

“Terima kasih,” balasku, dan untuk pertama kalinya pagi ini, senyumku terasa sungguh-sungguh.

Langkahku menuju gedung kantor itu terasa lebih mantap, meski telapak tanganku masih sedikit berkeringat. Matahari semakin terik, tapi angin pagi yang tersisa masih cukup sejuk untuk membuatku tak sepenuhnya tenggelam dalam gugup. Aku berhenti sejenak di depan pintu kaca, mengusap napas, lalu masuk.

“Pak Rio sudah menunggu di lantai dua, Mbak,” kata satpam yang tadi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih akrab.

Aku mengangguk, lalu melangkah menuju tangga. Di depan tangga itu, sebuah cermin berdiri memantulkan bayanganku. Sekali lagi kulihat diriku sendiri—merapikan kerah kemeja, mengusap rok yang sedikit kusut, lalu berhenti sejenak pada senyum di wajahku. Bukan senyum percaya diri sepenuhnya, tapi senyum seseorang yang akhirnya berani berdiri di hadapan kemungkinan, apa pun hasilnya nanti. Setiap anak tangga terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang belum bisa kutebak hasilnya. Di lantai dua, ruangan itu terasa sunyi oleh suara, meski beberapa karyawan tampak sibuk duduk di balik meja masing-masing, menatap layar komputer dengan wajah serius. Ketukan keyboard terdengar samar, berpadu dengan dengung pendingin ruangan yang konstan. Aku melangkah pelan, merasa seperti orang asing di tengah ritme kerja yang sudah mapan.

Aku mendekati salah satu karyawan dan bertanya pelan, “Permisi, Kak, saya ingin bertemu Pak Rio.”

Seketika, beberapa pasang mata terangkat ke arahku. Ruangan yang tadi terasa tenang mendadak seperti membeku. Aku terkejut, jantungku berdegup lebih cepat, dan senyum kecil refleks muncul di wajahku—senyum kikuk seseorang yang tak sengaja menjadi pusat perhatian.

Karyawan itu lalu menunjuk ke arah depan ruangan. “Pak Rio di sana, Mbak,” katanya.

Aku mengikuti arah telunjuknya dan melihat Pak Rio duduk di mejanya, tepat di depan ruangan Kepala Cabang, sedang menatap layar komputer sebelum akhirnya mendongak dan tersenyum ke arahku. Saat melihatku, ia tersenyum kecil, senyum yang entah kenapa langsung membuat dadaku sedikit lebih ringan.

“Silakan masuk, Mbak,” katanya pelan. “Beliau sudah menunggu.”

Aku mengangguk, melangkah mendekati pintu kayu berwarna cokelat tua itu. Pegangan pintunya terasa dingin di telapak tanganku, seperti ingin mengingatkanku bahwa di baliknya ada sesuatu yang bisa mengubah banyak hal. Pintu itu sebenarnya sudah sedikit terbuka—cukup untuk melihat pantulan cahaya dari dalam ruangan—namun aku tetap mengetuknya pelan. Bukan karena perlu, melainkan karena aku ingin memberi diriku sendiri satu detik tambahan untuk bernapas, untuk menenangkan jantung yang kembali berlari, dan untuk mengingatkan diri bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, aku sudah sampai sejauh ini.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu itu sepenuhnya.

“Selamat pagi Pak” kataku, kali ini dengan suara yang lebih stabil dari yang kuduga.

“Selamat pagi. Silakan duduk,” kata Pak Indra dengan suara tenang namun tegas. Beliau adalah Kepala Cabang perusahaan itu di kotaku—sosok yang namanya sering disebut-sebut dalam email dan pengumuman internal, kini berdiri tepat di hadapanku, dengan senyum tipis yang membuat ruangan terasa sedikit lebih ramah dari yang kubayangkan.

Aku duduk, meletakkan tas di samping kursi, dan merapikan sedikit kemejaku. Di kepalaku, ada seribu kemungkinan tentang bagaimana percakapan ini akan berjalan. Tapi anehnya, di antara semua itu, ada satu hal yang terasa jelas: apa pun hasilnya nanti, aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan hari ini.

Wawancara pun dimulai—Pertanyaan demi pertanyaan mengalir darinya, sementara Pak Indra sesekali mengusap layar tablet yang tergeletak di atas meja, seolah di sanalah tersimpan daftar pertanyaan yang telah ia siapkan—atau mungkin ringkasan singkat tentang diriku dan CV-ku yang tak seberapa itu. Ia bertanya tentang latar belakang pendidikanku, pengalaman kerjaku sebelumnya, alasan melamar di perusahaan ini, dan bagaimana aku menghadapi tantangan di tempat kerja. Ada saat-saat di mana aku ragu, mencari kata yang tepat, lalu memutuskan untuk jujur saja. Ada saat-saat di mana aku merasa jawabanku mengalir lebih lancar dari yang kuduga, seolah tubuhku tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika pikiranku masih berlari.

Di sela-sela pertanyaan, aku sesekali teringat pada pagi tadi—pada alarm yang tak berbunyi, pada pintu yang menabrak jariku, pada nasi kuning yang hangat di warung kecil. Semua kejadian itu, yang awalnya terasa seperti rangkaian kesialan kecil, kini justru terasa seperti bagian dari perjalanan menuju momen ini. Seolah hidup ingin mengingatkanku bahwa tak semua hal harus berjalan sempurna agar tetap berarti.

Setelah beberapa waktu, wawancara itu pun selesai. Pak Indra menutup Tab di depannya dan berkata, “Terima kasih sudah datang hari ini. Kami akan menghubungi Mbak paling lambat minggu depan.”

Aku mengangguk, tersenyum, dan berdiri. “Terima kasih atas waktunya.”

Keluar dari ruangan itu, langkahku terasa lebih ringan, meski belum ada kepastian apa pun. Aku menuruni tangga dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. Di depan pintu, satpam berdiri sigap lalu membukakannya untukku. Aku tersenyum kecil dan mengucap terima kasih, merasa seperti baru saja meninggalkan satu bab kecil yang, entah bagaimana, sudah mengubah cara jantungku berdetak hari ini. Matahari siang menyambutku dengan cahaya yang terang dan tanpa kompromi, tapi kali ini aku tak merasa diuji olehnya. Aku justru merasa—entah kenapa—sedikit lebih kuat.

Aku mengeluarkan ponsel, melirik jam. 11.23. Pukul delapan lewat sepuluh terasa seperti seabad yang lalu, tapi juga seperti titik kecil yang memulai segalanya hari ini. Aku tersenyum kecil—bukan karena yakin akan hasilnya, tapi karena akhirnya aku siap menghadapi apa pun yang menunggu di depan.

Mungkin aku akan diterima. Mungkin tidak. Tapi pagi ini, di antara panik dan nasi kuning hangat, di antara ruang tunggu dan ruang wawancara, aku belajar satu hal kecil: bahwa hidup tak selalu memberi kita awal yang rapi, tapi sering kali memberi kita keberanian untuk tetap melangkah—meski terlambat, meski gugup, meski tanpa kepastian.

Dan kadang, itu sudah cukup.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi