Silent Night

Malam Natal, 12 tahun yang lalu. Seorang anak sedang menangis dalam gelapnya ruang tunggu sebuah bangsal rumah sakit.

Orang yang berharga dalam hidupnya terbaring di sudut kamar. Hidup, tapi tidak hidup. Bernapas, tapi telah kehilangan binar harapan. Matanya terbuka, tapi tak lagi mengenali sosok di hadapannya. Sosok yang selalu menemaninya setiap hari sepulang bekerja dan tidur beralas kasur tipis di lantai rumah sakit yang dingin. Sosok yang selalu berharap akan kesembuhannya.

Ia tahu dirinya telah dilupakan. Namanya tidak disebut dalam kalimat yang terucap sebelum kondisinya seperti sekarang. Namun, apa yang bisa ia lakukan selain menerimanya? Ia selalu berharap keajaiban Natal akan datang padanya.

Anak perempuan itu memandangi ponselnya. Berharap ada yang menemaninya bicara. Menanyakan kabarnya yang sejak seminggu lalu terkurung di sini. Ataupun sekadar mengucapkan selamat Natal untuknya. Kenyataannya ponsel itu tidak memberikan notifikasi apapun sejak pagi.

Seharian tadi ia berharap beberapa teman dari komunitasnya datang menjenguk seperti yang biasa mereka lakukan dengan nama Christmas Carol. Seperti yang telah ia lakukan jugatahun-tahun sebelumnya bersama mereka, mengunjungi orang-orang dan memberikan semangat Natal.

Nyatanya, tak ada satu pun dari mereka yang datang. Pesan yang terkirim sejak tadi pun tidak terbalas. Mungkin mereka sedang sibuk mengunjungi orang lain yang lebih membutuhkan.

Untuk pertama kalinya gadis itu merasa sendirian. Di mana teman-temannya? Di mana saudara-saudaranya? Tak ada satupun yang memahami bagaimana perasaannya malam itu. Tidak ada yang tahu ia menangis dalam gelap ditemani ganasnya nyamuk yang menghisap darah melalui kulitnya. Pun tidak ada yang tahu peristiwa ini terjadi.

Kepergian sosok yang menjadi pusat kehidupannya, membuat segalanya berubah. Di tahun-tahun berikutnya, ia jadi kehilangan semangat Natal. Kehilangan harapan. Dirinya tidak lagi merasakan sukacita Natal seperti sebelumnya.

Ia tahu, ini salah. Dirinya tidak boleh begini. Memang dari awal tidak seharusnya ia terlalu berharap pada manusia. Seharusnya dirinya tidak bangga dengan apa yang sudah dilakukannya. Seharusnya ia sadar bahwa segala pengharapan hanya pada-Nya.

Hingga saat ini, ia masih berusaha menyembuhkan luka hati akibat ulahnya sendiri. Ia masih berusaha mengembalikan semangat Natal yang sempat tercecer selama perjalanan hidupnya. Ia masih berusaha memenuhi ruang kosong di hatinya. Semoga suatu saat nanti, sukacita Natal akan ia rasakan kembali dan memberinya harapan baru.

9 disukai 2 komentar 2.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@sonyaa hehehe makasih udh mampir 🙏 ini sama kok dengan sebelumnya, cuma dipindah tempat aja 😊
Waaa...akhirnya ada versi ff nya.. Kisah ini..
Saran Flash Fiction