Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
7
Rindu
Drama

Aku selalu merindukan dirinya. Aku rindu memeluknya. Aku rindu mengusap-usap kepalanya. Aku rindu suaranya ketika memanggilku.

Terkadang, dia datang ke sini. Ke rumahku. Entah untuk minta sesuap makan, atau hanya ingin bermanja denganku. Aku membiarkannya menghambur dalam pelukanku. Kadang bersamanya aku menonton televisi, jika tidak sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Ia selalu menikmatinya—tak pernah bersuara, hanya matanya yang mengikuti setiap pergerakan di layar tersebut.

Namun, sudah lama ini aku tidak menjumpainya. Terakhir kali aku melihatnya sekitar dua minggu lalu. Waktu itu, aku berada di rumah terus, tak pernah sekalipun keluar dari kamar. Keluar pun hanya untuk berangkat sekolah. Itu karena aku sedang menghadapi ujian, dan aku tahu perangai orangtuaku jika ada kegiatan akademik. Aku tidak diperbolehkan menyentuh HP sekalipun, bahkan keluar rumah.

Dua minggu itu telah berlalu. Nyaris setengah bulan aku mencarinya. Setiap pulang sekolah, yang pertama kulakukan bukanlah main game di HP, melainkan duduk di teras, menunggu kedatangannya. Bahkan, aku membawa snack atau makanan lainnya dari kulkas, supaya ia keluar dari persembunyiannya. Namun, ia sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Sampai hari ini.

Aku baru saja pulang sekolah. Aku cepat-cepat berganti pakaian, dan berlari ke teras rumah. Berharap dirinya segera datang. Namun, hanya genangan air dan tanah basah yang kujumpai. Udara dingin menusuk kulitku, menciptakan suasana yang sama sekali tak kusukai.

“Ryan, apa yang sedang kau lakukan?” Ibuku muncul dari arah pagar. Beliau membawa kantong belanja berisi sayur mayur dan beberapa bungkusan.

“Aku sedang menunggunya,” jawabku. Aku sebetulnya tidak ingin berkomunikasi dengan ibuku, karena apa pun ucapan yang aku lontarkan, pasti akan dipelintir olehnya.

“Menunggu dia lagi? Untuk apa, sih? Memangnya itu menguntungkanmu?”

Tuh, kan. Sudah kubilang. Tanggapan itulah yang membuatku malas untuk mengeluarkan pembelaan. Ibuku selalu tahu cara agar aku mundur dari suatu hal. Dia terobsesi pada hal-hal yang menguntungkan dirinya dan keluarganya. Itulah yang paling tidak kusuka.

“Aku tidak tahu apakah dia datang atau tidak. Tapi yang jelas, aku akan terus menunggunya,” balasku, berharap komunikasi dengannya bisa selesai.

“Baiklah. Semua terserah padamu. Tapi aku tidak mau bertanggung jawab bila terjadi sesuatu padamu. Misalnya tiba-tiba tubuhmu demam, atau kau terkena batuk-pilek malam ini. Kau harus mengurus dirimu sendiri.”

Mataku melotot pada ibu yang telah masuk ke dalam rumah. Aku tidak peduli apa kata-katanya. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana cara bertemu dengannya.

Dengan gerakan perlahan, aku menelaah daerah sekitar rumahku. Kuperhatikan setiap sudut yang bisa dijadikan tempat persembunyian bagi dirinya. Aku nyaris saja berteriak ketika melihat sesuatu melambai-lambai dari balik pagar rumahku. Ternyata itu John, temanku.

“Ryan! Mau bermain denganku?” tanyanya.

“Tidak! Aku hendak belajar. Jika kau ingin bermain, pergilah!”

Alasan yang kucari-cari. Sebetulnya aku ingin bermain dengannya. Kelihatannya sangat menyenangkan. Tapi misiku belum selesai. Aku harus menemukannya.

“Kau yakin? Kami akan bertanding bola sebentar lagi. Aku rasa kau tidak ingin melewatkannya,” bujuk John.

“Pergilah, John! Jangan mengganggu waktuku!” seruku.

Dengan senyum pahit, John meninggalkanku. Aku lantas kembali duduk di kursi teras. Melanjutkan kegiatanku, yakni mencarinya.

***

Sudah kira-kira sejam berlalu, dan aku masih belum menemukannya. Mukaku mulai menunjukkan ekspresi putus asa. Aku hampir menangis. Aku menyesal telah meninggalkannya, hanya karena ujian, yang telah berhasil kulampaui dengan nilai memuaskan. Aku menyesal meninggalkannya, sampai bulan berganti.

Langit mulai berubah, dan lampu-lampu di jalan mulai dinyalakan. Dengan berat hati, kuangkat kakiku masuk ke dalam rumah. Air mataku nyaris menetes, namun berusaha kusembunyikan hanya agar tidak dilihat ibuku.

“Bagaimana? Sudahkah kau bertemu ‘temanmu’ itu?” tanya beliau.

Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Bahkan ketika makan malam, aku tetap membisu. Ayahku pun bertanya hal yang sama, dan— sama seperti pada ibuku—tidak kujawab. Aku membiarkan makanan-makanan itu tertelan di kerongkonganku, tanpa mengomentari rasanya.

Keesokan harinya, aku masuk sekolah. Rutinitas berjalan seperti biasa. Hanya saja, aku tidak bersemangat saat memasuki gerbangnya. Aku hanya menunduk dan terus menunduk.

“Ryan! Apa kabar?” John menghampiriku, merangkul bahuku. Senyumnya ramah, seperti biasa.

“Sepertinya kau menyesal tidak datang. Timku menang melawan Willy! Wah, benar-benar pertandingan seru kemarin. Kau tahu, Willy nyaris saja memukul Braun karena tidak terima timnya kalah!”

“Ya, aku menyesal,” jawabku lesu.

“Hei, kenapa kau kelihatan tidak bersemangat? Apa yang terjadi padamu?”

Aku diam. Hanya menatap lurus ke bawah. Ingin rasanya kutumpahkan seluruh air dalam tubuhku. Namun aku tidak ingin dicap tidak jantan. Demi wibawaku, aku harus bisa menahan itu semua.

“Ryan? Kau baik-baik saja?” tanya John lagi.

Aku menggeleng. Dengan langkah cepat kutinggalkan dirinya, menuju kelasku sendiri.

Seperti yang kujelaskan di atas, aku rindu padanya. Rindu untuk mendekapnya, mengusapnya, dan memberinya makan. Meski ia hanya seekor kucing.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi