Jangan Tanya Jaraknya

"Hey, siapa saja yang ada di bulan?" Tempo hari, kamu meneleponku pada tengah malam yang tanpa bintang tanpa bulan.

"Banyak, sangat banyak. Ada tuan puteri dan kesatria, bangau biru, tokek bertotol, air dingin, telur salju hingga dinosaurus.

"Bagaimana mungkin semua yang pernah ke bulan nggak bisa melihat mereka?"

"Hmmm... sepertinya ketika sampai di bulan, janganlah kamu berpakaian macam antariksawan yang hendak mengambil sampel makhluk asing. Itu mengerikan. Pakailah pakaian macam pelancong: topi pantai, kemeja flamboyan, bawa tikar atau kamera. Bawa alat selam juga bagus, kudengar pantainya sudah dibuka lagi oleh tuan puteri. Oh ya! Bawa plastik atau beg kain besar untuk menangkap bintang ya."

Kamu berdeham di ujung telepon, seolah-olah faham betul. Aku yakin disertai dengan anggukan, walaupun aku tidak bisa melihatmu. Inilah satu perkara yang menggembirakan semasa bercakap denganmu: kamu tidak pernah menertawakan cerita-cerita sintingku (kerana beberapa orang menganggapku sinting).

"Tau darimana sih hal begitu?"

"Kabar burung dari kelinci ungu."

"Ah ya ... Kamu tau jarak ke bulan? Sekiranya ada waktu, mungkin kita boleh piknik di bulan bersama kelinci ungu dan tuan puteri tadi."

Aku terdiam.

Kamu memanggil-manggil namaku, mungkin mengira bahawa aku tertidur.

Tidak aku tidak tidur. Aku tidak pernah tidur saat malam mengungkung. Tetapi mendengarmu berkata begitu aku jadi sedih. Sangat sedih.

"Jangan tanya padaku jarak ke bulan, aku sudah lupa, sudah pergi terlalu lama."

19 disukai 14 komentar 2.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@faridapane : sayangnya gmap blm ada rute ke bulan πŸ˜”πŸ˜’
@affarain : makasii ka affa ✨
Aih, tidak ada gmap untuk kembali, ya
mantap nih
@aeraaa : makasii ka aera πŸ₯ΊπŸŒ·
Wahh keren ceritanya
@imelyo26 : Waa makasii ka (≧▽≦)
Niceee... Ohya, itu 'paham' ...
@suciasdhan : makasii ka suci 😍
@lirinkw : terima kasiih ka lirin πŸ’–πŸ§
Saran Flash Fiction