Menentang Takdir Mimpi

Hanin terkesiap saat mobil yang dikendarainya terjebak dalam kemacetan. Bukan karena mobilnya menyenggol mobil tangki BBM, melainkan ia baru menyadari kalau mobil yang berada tepat di sebelahnya itu pernah hadir dalam mimpinya. Keyakinannya didasarkan plang nomor mobil BBM itu, sama persis dengan yang menampak dalam mimpinya. Ia belum lupa sama sekali.

Dua minggu lalu Hanin sempat bermimpi buruk. Ia menyaksikan aksi teror pagi hari di jalanan yang tengah macet. Seorang teroris sengaja meledakkan bom ransel di dekat mobil tanki BBM. Fatal akibatnya, ledakan bom ransel memancing ledakan selanjutnya dari mobil tangki BBM. Bola api besar yang tercipta selanjutnya membakar mobil-mobil yang tengah terjebak macet. Ratusan pengendara mobil langsung tewas terpanggang api.

Orang boleh berkata, mimpi hanyalah bunga-bunga tidur. Lain dengan Hanin. Gadis itu punya pandangan lain tentang mimpi, sebuah pertanda. Dari kecil hingga tumbuh dewasa puluhan kali ia mengalami mimpi berganti kenyataan. Namun, baru dua minggu lalu itulah mimpinya teramat mengerikan. Ia sampai syok sendiri begitu terjaga dari alam mimpinya.

Sekarang indikator mimpinya buruknya akan terjadi di pagi hari ini, bahkan dirinya hadir di lokasi kejadian semakin menampak. Tentu saja Hanin harus mencegah malapetaka dalam mimpinya terjadi. Namun, bagaimana caranya?

“Pagi hari, jalanan macet, mobil BBM, tinggal laki-laki botak membawa tas ransel di punggung,” gumamnya. Dalam mimpinya pelaku teror ternyata seorang pria botak yang membawa bom ransel.

“Ya, aku harus cari laki-laki botak di sekitaran sini!” tekad Hanin, memutuskan keluar saja dari dalam mobilnya. Ia masih berharap, tiada ditemukan lelaki botak dengan tas ransel di punggung. Sejujurnya ia tak tahu harus berbuat apa andai benar pagi ini akan terjadi aksi terorisme.

Menepi ke trotoar Hanin baru tahu kalau mobilnya terjebak macet di atas jembatan. Menengok ke sebelah kirinya ia mendapatkan sungai yang airnya nyaris meluap. Semalam hujan memang turun tiada henti. Kendati demikian Hanin lekas mengembalikan atensinya, melihat lingkungan di sekitarnya.

Benaknya langsung menggerutu. Pria botak yang dikhawatirkannya malah terlihat olehnya, hanya belasan meter di depannya. Parahnya lagi pria botak yang tengah berjalan ke arahnya memang membawa tas ransel di punggung. Bahkan bola matanya sempat melihat juluran kabel keluar dari dalam tas ransel.

Sadar malapetaka semakin mendekati kenyataaan, ia malah melepas sepasang sepatunya. Kakinya lalu sigap menaiki pagar jembatan. Berdiri di atas pagar jembatan Hanin bersikap seolah-olah hendak menceburkan diri ke dalam sungai. Padahal arusnya tengah deras.

“Jangan bunuh diri! Neraka jahanam ganjaran orang bunuh diri!”

Seseorang tiba-tiba mengingatkannya. Tak hanya mengingatkan, orang itu juga memegang bahu kanannya. Saat Hanin menoleh, ia mendapatkan kalau pria botak yang dikhawatirkannya mencoba mencegahnya menceburkan diri ke dalam sungai.

“Neraka jahanam itu ganjaran pelaku bom bunuh diri macam kamu, Botak!”

Tak hanya mengumpat, kedua tangannya pun cepat memegang erat pergelangan tangan kanan si pria botak. Mumpung si pria botak masih terkaget-kaget, lekas Hanin menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Karuan pria botak itu terkesiap hebat.

Pria botak itu akhirnya tertarik Hanin. Apesnya lagi, pagar jembatan terlalu pendek menahan tubuh jangkungnya. Padahal pria botak itu mengerti betul, saat terjebur ke dalam sungai di bawah sana, sirkuit elektronik bom ranselnya bakalan korsleting.

 

****

 

 

2.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction