Egoisme Imajiner

Dulu, diriku pernah berpikir

bahwa suatu saat aku hanya akan melakukan 

apa yang kuingin.

Mengkhayalkannya saja... 

sudah terasa sangaatt menyenangkan.

Dulu, diriku pernah bertekad

bahwa suatu saat 

aku akan berhenti memikirkan 

ucapan orang-orang.

Sepertinya..., hal semacam itu

sungguh membuat hidup lebih ringan. 

Namun,

seiring berputarnya bulan mengelilingi bumi

dan seiring bergeraknya bumi mengelilingi matahari

segala hal yang kuinginkan dahulu

sama sekali tidak relevan 

dengan apa yang saat ini menimpaku.

Kalimat 

"hanya akan melakukan apa yang kuingin"

terdengar sangat egois

dan terkesan imajiner.

Karena nyatanya,

"keinginan" selalu kalah dengan "kebutuhan".

Kalimat

"akan berhenti memikirkan ucapan orang-orang"

terdengar sangat mustahil.

Karena nyatanya,

kini,

informasi dan referensi

justru kudapat dari sosok di kanan kiri.

Meskipun kuakui

bahwa sering kali

yang kudengar ialah hal buruk.

Bikin insecure.

Bikin nethink.

Ya sudah, sih....

Aku sadar betul, kok,

bahwa siapapun tak mungkin menemukan

dunia yang di dalamnya

hanya ada putih saja.

Justru, boleh jadi

warna hitam lah yang akan memberi kesempatan kepada seseorang

untuk terlihat putih.

4.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction