Ombak

Setiap kali aku melihat ke arah jendela, aku teringat akan sebuah kenangan. Bukan kenangan manis. Tapi, mengingat aku hanya punya sedikit kenangan menyenangkan dalam hidupku, aku rasa yang satu ini lumayan menyenangkan untuk aku kenang dan putar di dalam kepalaku.

Kalau tidak salah, saat itu aku masih berumur lima tahun. Itu adalah perjalanan jauh pertama yang aku tempuh bersama ibu dan kakak perempuanku.

Aku ingat betul setiap hal yang aku dan kakak perempuanku lakukan sementara ibuku menyetir sambil menangis. Sesekali ibu juga menyesap cairan cokelat mirip teh dan baunya sangat menyengat dari gelas kertas. Dan baru-baru ini aku baru sadar kalau cairan cokelat itu adalah bourbon.

Bagaimanapun, aku sedang menceritakan apa yang aku dan kakakku lakukan hingga membuat perjalanan ini menyenangkan. Bukan ibuku yang melarikan diri dari suaminya yang suka main tangan menggunakan mobil tua milik kakekku.

Kemudian, kakakku mulai meliuk-liukkan lengannya di udara. Seperti meniru gerakan ular. Tapi itu bukan gerakan ular. Kakakku bilang itu adalah ombak besar. Kita semua sedang menerjang ombak besar yang timbul akibat badai angin selatan. Dan, satu-satunya cara agar kita bisa mengarungi ombak dengan selamat adalah dengan menari bersama ombak.

Aku tahu semua itu hanya omong kosong. Tapi tidak saat aku masih kecil dan benar-benar ketakutan.

Dan, benar saja. Dalam sekejap ibuku menepikan mobilnya, menabrak pagar pembatas jalan hingga terjun ke dasar jurang yang terjal. Lalu semuanya gelap.

Bukankah itu aneh?

Bukan. Bukan di bagian menari bersama ombak agar badai angin selatan berhenti marah. Tapi aku. Aku yang bisa mengingat hal yang terjadi lima belas tahun silam dengan jelas sementara aku sangat kesulitan untuk mengingat nama perawat yang bertemu denganku setiap hari. Bagaimana bisa aku kesulitan mengingat namanya?

Apa aku sudah membaik seperti yang mereka katakan? Atau hanya karena aku berhenti meminum obat yang mereka berikan padaku sepanjang waktu?

1.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction