Saksi di Sudut Taman

Hujan deras yang mengguyur semalaman tak membuatnya ringkih; pun terik matahari tak membuatnya letih. Ia tetap berdiri kukuh di ujung jalan senyap; menjadi saksi geliat-geliut dua insan yang penuh syukur dan dosa.

Tatkala hari baru berganti petang, ia melihat dia berjalan gontai lalu duduk di dekatnya. Kendati wajahnya kuyu, sorot matanya tidaklah sayu. Dia perempuan yang setiap awal malam selalu berada di sana. Di waktu itulah ia mendengar dia melantunkan pesan cinta Sang Khalik. Suaranya lirih, tetapi tak menyiratkan keputusasaan. Tampaknya dia selalu memelihara asa meskipun hatinya merintih. Ia selalu merindukan kehadirannya setiap malam untuk membawa ketentraman. Sayangnya setelah satu jam, dia meninggalkannya di sudut taman.

Kini tinggal perusak ketenangan yang 'kan hadir di penghujung malam. Beberapa jam kemudian, dia yang lain datang bersama seorang pria. Dia memang jelita dengan perona yang menghiasi wajahnya. Walaupun senyumnya merekah, dia memiliki lengkung mata yang layu. Ia menyaksikan dia bersama pria itu tak henti-hentinya berbuat galat. Hasrat telah memanipulasi fitrah dan harkatnya sebagai perempuan. Bahkan tak secuil pun rasa malu yang tersisa. Untungnya tidak sepanjang malam dia di sana dan berlalu setelah menambah satu noktah hitam dalam hidupnya.

Begitulah yang ia saksikan setiap malam; demikianlah takdir lampu di sudut Taman Hening.

TAMAT

285 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction