Perpisahan

Acara perpisahan sekolah SMP Banua sudah usai. Wildan pulang mengendarai sepeda motor membonceng Rian. Di perjalanan mereka berbincang tentang rencana melanjutkan sekolah. Mendengar jawaban Wildan yang masih tidak tahu Rian terdiam, mereka tidak lagi berbincang. Wildan Ahmad, anak tunggal, seorang remaja cerdas, namun pendidikannya terhenti hanya sampai di bangku SMP. Keterbatasan biaya. Setelah lulus SMP ia bekerja di perusahaan pertamina sebagaiĀ asisten sopir pembawa mobil tangki berisi minyak, usianya baru 15 tahun. Hari-hari dijalani dengan penuh rasa sabar dan syukur. Saat remaja seumurannya masih menikmati masa muda, ia sudah berkutat dengan pekerjaan. Bapaknya kerja serabutan, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia tidak malu dengan keterbatasan. Waktu SMP, ia mengendarai sepeda motor yang tak sebagus teman-temannya.

Wildan seorang humoris, waktu SMP ia mampu membuat satu kelas terbahak-bahak. Ia pernah berkata, ingin melanjutkan sekolah ke Pesantren. Tapi, karena orangtua yang tidak punya biaya ia putuskan tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja. Meski lelah, ia senang bisa membantu kedua orangtua. Sebenarnya, ia masih punya mimpi melanjutkan sekolah. Ia menabung, menyisihkan setiap uang gaji untuk impian tersebut, berharap paling tidak hanya setahun ini sekolahnya tertunda. Tahun depan bisa melanjutkan kembali.

Meski giat bekerja. Wildan tetap tidak lupa atas kewajibannya beribadah, di sela waktu istirahat segera ia mendirikan sholat, entah itu sholat wajib ataupun shalat sunnah, ia juga menyempatkan membaca Al-Qur'an. Semakin jarang bertemu orangtua karena tuntutan pekerjaan tidak menghalanginya untuk tetap berbakti, selalu ia berdoa untuk kedua orangtuanya. Robbigfirli wali wali dayya warham huma kama robbayani soghiiro.

Suatu hari, Wildan ditugaskan pergi ketempat yang jauh dari biasanya. Bermalam di tempat tersebut bersama beberapa teman lainnya. Kurang lebih jam satu malam seorang laki-laki datang. Mengetuk pintu, lalu di bukakan oleh teman Wildan.

"Wildannya ada? saya kakak sepupunya."

"Ada, mari silahkan masuk."

"Wildan, Wildan," ucap kakak sepupunya, coba membangunkan wildan yang masih tidur.

Sayup-sayup mendengar ada yang memanggil, Wildan berusaha membuka mata melawan rasa kantuk, mencoba duduk dengan nyawa yang masih belum terkumpul. Mengucek-ucek mata berusaha mengenali orang di depannya.

"Eh, kak Ilham, ada apa?" tanya Wildan, sudah bisa mengenali kalau itu adalah kakak sepupunya.

"Wildan, kakak kesini ingin menyampaikan sesuatu."

"Sesuatu apa kak?"

"Kakak mohon kamu sabar ya."

"Memang ada apa kak?"

"Kita harus pulang sekarang, Bapak kamuĀ  meninggal," ucapnya perlahan, menahan air mata. Betapa terkejutnya Wildan, bulir air mata berderai, tangisnya tak terbendung. "Innalillahi, wainnailaihi, roji'un," ucapnya lirih.

Air mata masih tak hentinya keluar. Wildan langsung beranjak, mengambil jaket yang menggantung di sudut ruangan. Berpamitan dengan teman-teman. Memberi salam lalu pergi bersama Ilham mengendarai sepeda motor. Wildan yang dibonceng masih terisak. Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka sampai. Melihat Bapaknya sudah ditutup kain, tangisnya kembali pecah, ia langsung memeluk jasadnya, ibunya terisak, berusaha tegar, mengelus punggung Wildan coba menguatkan.

Waktu pemakaman tiba. Wildan ikut mengantar. Menguburkan. menguburkan. Sejak hari itu, ia rutin mengirimkan bacaan Al-Qur'an, Al-fatihah untuk almarhum.

Hari berlalu, ia berusaha bangkit dari kesedihan. Kembali bekerja penuh keikhlasan, untuk ibu dan impiannya melanjutkan sekolah. "Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan." Tinggal bagaimana kita memaknai dan menjalaninya, apakah akan terpuruk atau masih bisa bangkit.

1 disukai 408 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction