Mengumpulkan Kenangan

Mengumpulkan Kenangan

 

Aku mengikat rambut sebahuku takala lagu Iindesuka menyapa telingaku. Aku berjalan ke tempat tidur, melihat layar ponsel, lalu tersenyum kecil melihat nama penelepon.

Agni tidak memberiku kesempatan mengatakan, “Halo. Ag.” Dia langsung mengintimidasi dengan, “Na, kamu sudah siap kan? Kalau belum, kamu punya dua puluh menit untuk bersiap-siap.  Yani, Wulan dan aku sudah siap meluncur ke rumahmu sekarang juga.”

“Ag, kemarin kan aku sudah bilang kalau aku tidak ikut.”

Aku mendengar helaan napas panjang Agni. “Na, bikin kue kering lebaran kan bisa nanti-nanti. Tidak harus hari ini. Kalau perlu, beli saja. Lebih praktis. Tidak ribet. Dan kamu tidak capek.”

Aku tahu itu. Tapi, “Maaf, Ag, hari ini, aku akan membuat kue kering bersama ibu dan nenek. Maaf.”

Kembali aku mendengar helaan napas panjang Agni. “Yah, baiklah. Kami akan pergi tanpamu.”

Setelah menyudahi pembicaraan dengan Agni, aku melempar ponsel ke tempat tidur, kemudian melangkah menuju pintu kamar.

Hatiku dipenuhi berbagai macam emosi takala melihat nenek berdiri di depan pintu kamar. Wajah daan matanya berbinar oleh semangat dan kebahagiaan, sementara kedua tangannya mencengkeram erat alat bantu jalannya.

“Nek, kenapa nenek disini?”

“Menunggumu.” Senyum mengembang di bibir nenek. “Ibumu sudah di dapur. Menakar bahan-bahan untuk membuat kue.”

“Kalau begitu, ayo kita lekas ke dapur.”

Senyum bahagia mencerahkan wajah nenek.

Senyum itu, ekspresi bahagia itu, terus melekat di wajah nenek.

“Tambahkan dua sendok tepung beras, Fi. Bapakmu suka kue semprit yang agak keras.”

Seketika aku menatap ibu, yang juga menatapku. Mata kami memancarkan hal yang sama, ketakutan yang sama.

“Kalau kue sempritnya terlalu renyah, bapakmu malah tidak mau makan.”

Tanpa mengatakan apa-apa, ibu menambahkan dua sendok tepung beras ke atas gundukan tepung terigu.

“Jangan lupa beli marning[1]. Tapi beli yang keras dan rasanya asin. Bapakmu suka yang seperti itu.”

Aku melirik ibu yang menarik satu napas dalam, menghelanya dengan perlahan, lalu mengatakan, “Iya, bu.”

“Untuk lebaran nanti, kita masak soto ayam saja, Fi. Dengan koya, kerupuk udang dan emping melinjo.”

Kata-kata nenek, membuatku mengalihkan mata kepadanya. Aku menatap nenek yang mengoleskan mentega ke loyang-loyang untuk memanggang kue.

“Itu, kesukaan bapak.”

Nenek mengangkat kepala, memperlihatkan senyum dan wajah bahagianya. “Iya. Bapakku pasti senang sekali saat datang nanti dan melihat makanan serta kue-kue kesukaannya.”

Aku melirik ibu, melihat ibu mengerjapkan matanya berulang kali.

“Iya, bu, lebaran nanti, kita akan masaka soto ayam kesukaan bapak.”

Setelah mengatakannya ibu berjalan cepat menuju kamar, meninggalkan nenek yang kembali mengoleskan mentega ke loyang, serta aku yang berperang dengan emosi dan airmataku sendiri.

Beberapa hari terakhir ini, nenek terus saja bercerita tentang kakek, segala hal yang disukai kakek. Nenek juga berulangkali memberitahu kamu kalau kakek akan datang di lebaran nanti.

Semua itu membuat ibu dan aku merasakan firasat tidak enak. Bahwa kakek yang sudah meninggal lima tahun lalu, tak lama lagi akan menjemput nenek. Mungkin di lebaran nanti.

Karena itulah kami berdua menghabiskan sebanyak mungkin waktu bersama nenek, untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kenangan bersamanya.

***

  [1] Camilan khas jawa yang dibuat dari jagung yang digoreng

904 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction