Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
"Baris ke lima halaman tiga puluh. Manusia itu seharusnya menulis setiap langkahnya agar tak lupa apa yg dia sudah ia lewati. Apa kamu melewatkan tulisan itu Ton?" Mas Lazuardi mengingatkanku kembali tentang tulisan di bukunya yg berjudul 'SUATU HARI' dengan suara yang agak terputus-putus dalam telfon. "Anu mas suaramu agak ndat-ndet putus-putus, kamu di mana to mas? ini aku udah di tempat yang biasanya sinyalnya bagus tapu kog masih ndat ndet,,, halo mas,,, mas lazuardi halooooo" tut tut tut tut "lo kampreeeetttt malah putus telpune" klotak klotak "Leeeeee ngapain kamu diatas genteng?" Dengan nada melengkin ibuku keluar dari rumah dan menatapku dari bawah sambil mengarahkan sapu lidi kearahku. "Anu buk sinyalnya susah, Tono lagi telfon mas Lazuardi urusan penting" aku merenges agar ibuk tak melempar sapu lidinya atau melemparkan genteng yang aku tak sengaja jatuhkan. "Bocah edaaaannn... Dari pada kamu setiap kali mau telfon naik genteng, mending km temui saja itu si Lazuardi ke kota" ntah dari mana pakdeku datang dia ikut nimbrung sambil melempariku kerikil. "Pakde mau kasih biaya aku ke kota?" Aku sudah biasa bergurau dengan pakdeku ini, sambil kulempar balik kerikil yang dia lempar ke arahku tadi "wooo bocah gendheng,,,,," sudah kuduga pasti itu jawabanya, sudah pasti dia tidak akan memberiku sepeserpun. "Asal kamu nanti bisa jadi penulis hebat, pakde jualkan kambing!" Aku pun berdiri dan melotot tak percaya apa yg di katakan pakdeku yang biasanya super duper pelit tiba-tiba ngomong seperti itu. KLOTUUAAK BROOOK. Genteng pijakanku tiba-tiba ambrol, di saat aku terjatuh seperti adegan slow motion di film-film. Aku melihat keatas kupandang langit dan ku katakan mantap dalam hatiku, "aku akan menjadi penulis yang terhebat di dunia ini", sambil tersenyum aku membuat jariku seperti tembak kuarahkan ke langit. BRUUUUKKK aku merasakan tubuhku menimpa mungkin kursi teras aku tak yakin agak empuk tapi pandanganku mulai samar-samar, kemudian menjadi gelap. Terdengar suara ibuku berteriak-teriak meminta tolong warga. "Sial masak aku mati sebelum menjadi penulis?". Mau tau apakah Tono bisa menjadi Penulis seperti yang dia inginkan. Terus dukung cerita ini agar bisa membantu mas Tono menuliskan cerita petualangannya untuk anda semua.
Tokoh Utama
Tono
Lazuardi
Ibu Tono
Pakde Kosijan
Kirana
Bayu
Agung
Pak Doel
Pak Slamet
Dewi
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
503
Tentang Penulis
Ganang Winaryadi
Hanya seorang manusia diatas normal, yang ingin membuat perubahan walaupun kecil untuk dunia yang luas ini.
Bergabung sejak 2020-01-01
Telah diikuti oleh 53 pengguna
Sudah memublikasikan 1 karya
Menulis lebih dari 1,109 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
"Suatu Hari" Buku Dari Seorang Sahabat
Ganang Winaryadi
Cerpen
Wanitaku
Refy
Novel
PTSD
diana rahmatika
Novel
PSIKOSIS
Indah Nur Aini
Novel
PEONY
Lilly Amundsen
Novel
Bulan Bersedih Di Jakarta
Herman Siem
Skrip Film
DAFTAR HITAM
Wulan Witriyanti
Flash
KARAM
Rolly Roudell
Skrip Film
SEBAIKNYA AKU PERGI
edi suprayitno
Flash
PARIYEM HAMIL
Embart nugroho
Flash
Sengaja Mengaku
Anisah Ani06
Flash
Kisah Si Anjing Kuning
anjel
Novel
POV: First Daughter
Rachel Grifith Charisa Wijaya
Cerpen
Cermin Yang Terluka
Noveria
Novel
Mad
UQ.Rivai
Rekomendasi