Bukan Untukku

Angin berhembus pelan menggoyangkan rambut pirang bergelombang milik wanita muda itu. Rambutnya yang berserakan ia biarkan matanya tetap fokus menatap kosong ke depan. Danau biru sama seperti warna matanya.

Tess...tess...

Rintik hujan membasahi bumi . Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

"Hey nak apa yang kau lakukan di tempat itu, cepat cari tempat berteduh!"

Wanita itu tetap tidak bergeming. Sebuah senyuman terbit. Hujan temannya, tidak mungkin dia meninggalkannya. Tuhan tahu dia butuh teman menyembunyikan kesedihannya. Kakinya ia tekuk, kepalanya disenderkan tetap menghadap danau. Airnya bergerak-gerak berisik.

Orang orang menggelengkan kepala, meninggalkannya sendiri.

Ctarr... petir menyambar

Langit seolah tahu suasana hatinya. Sesak bukan karena pelukan tapi karena tidak ada lagi pelukan. Nyeri tapi tak berdarah. Luka batin lebih sakit dari luka fisik. Dia mengakuinya sekarang. Batinnya terluka, tetapi fisiknya seolah mati rasa.

Hiks..hiks..

Sekuat apapun dia, sehebat apapun dia. Pada dasarnya dia hanya manusia biasa yang bisa merasakan luka.

Seperti apa pun yang orang katakan, dia tetap manusia biasa ciptaan Tuhan sama seperti lainnya. Dia bisa merasakan cinta tapi dia juga bisa merasakan jatuhnya. Sakit. Seperti karma, rasanya.

Melihat orang yang dicintai mencintai orang lain, melihat kemesraannya tepat di depan mata. Meski begitu matanya tetap tak lepas dari dua orang itu. Biarlah dia seperti orang bodoh tapi, dia bahagia melihat senyum itu meski tak lagi untuknya.

"Semoga kamu bahagia,"

2 disukai 415 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction