Delima

Abah menyuruhku meminum air yang sudah dibacakan ayat quran. Kata orang pintar, ada yang sengaja menutup jalan jodohku karena pernah kutolak cintanya. Aku terkejut. Bahkan, Abah memaksaku mengaku, siapa yang berani menyatakan cintanya.

Aku ingin tertawa waktu itu, tetapi kutahan. Aku tidak suka Abah menceramahiku.

Memangnya siapa juga yang kutolak cintanya?

Aku bisa pastikan itu bohong karena sejak Abah menjelaskan tentang hal-hal yang sifatnya mudarat, dan berpacaran termasuk di dalamnya, aku berniat akan menikah dengan seseorang yang berani melamarku di depan Abah. Berani memboyongku untuk membentuk keluarga kecil bahagia. Mengabdi, tanpa diminta. 

Soal menolak cinta sampai seseorang dendam, bisa-bisanya Abah yang bertitel haji berpikiran seperti itu. Apalagi, Abah percaya dengan air yang dibacakan ayat quran sifatnya mujarab.

Sialnya, aku pernah melakukan hal yang sama.

Dikarenakan lupa belajar, beberapa tahun yang lalu ketika ujian sekolah, aku menerima saran dari temanku untuk membakar buku catatan, memasukkan bakarannya ke dalam segelas air, mengaduk, menyaring, lalu meminumnya.

Kepalaku terasa ringan. Mataku jernih menatap soal ujian, sebelum akhirnya tersadar karena terlalu ringannya sampai terasa kosong. Kupukul-pukul batok kepalaku, tetap saja kosong.

Bagaimana dengan hasil ujianku? Buruk! Hari itu, aku langsung insaf.

Makanya, karena pernah di posisi Abah, aku takut hal tersebut dihitung sesat. Hukumannya berat. Dibakar di dalam api neraka. Namun, aku mati kutu saat Abah berkilah, ayat-ayat yang kubaca berasal dari quran dan tidak mungkin digunakan sembarangan. Aku menyerah.

Dan sifat penurutku ternyata membuahkan hasil.

Dalam beberapa minggu, orang-orang mulai berdatangan. Kami berlaku seperti dewan juri dalam perlombaan ketika bermacam orang dengan berbagai latar datang. Polisi, pegawai rumah sakit, bahkan pengangguran berani datang dengan alasan rezeki datangnya dari Allah.

Betul, rezeki memang datangnya dari Allah. Namun, aku butuh makan. Aku dan kamu butuh penghidupan. Niat saja tidak cukup, Kakanda.

Hingga kabar tidak mengenakkan datang dari tetangga depan rumah, saat aku bermain ke sana.

Abah keterlaluan karena tidak mengabari akan ada tamu sore ini. Kucari Abah ke beberapa tempat, sampai kutemukan Abah duduk di ruang tamu, dan memandang keluar.

“Bah, mau ngomong sebentar,” kataku, berniat menyampaikan protes. “Maksud Abah mengenalkanku dengan Mas Rafi, apa?”

“Usiamu sudah dua lima, Delima. Abah juga sudah tua. Abah cuma ingin kamu menikah dengan orang yang tepat.”

“Terus, Abah mau menikahkanku dengan sembarang orang?”

Abah menatapku tajam. “Nak Rafi bukan sembarang orang. Kamu kenal dia.”

“I-itu…”

“Kamu ndak bisa jawab, toh?”

Karena sejak kecil kenal baik dengan Rafi, aku menjadi sungkan. Kami berteman karena Abah dan Abahnya Rafi teman satu SD.

Saat kami masih pilek dan aku suka merasai cairan meleleh di bawah lubang hidung, aku ingat betapa memalukannya hal itu. Apalagi, Rafi tahu betapa buluknya diriku dahulu. Rasa sungkanku bertambah saat ingat Rafi lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir.

“Assalamualaikum.”

“Alaikum salam,” jawabku cepat, disusul Abah saat kami sama-sama melirik.

“Rafi datang. Abah langsung terima pinangannya, ya?”

“Abah!”

Saat beranjak dari kursi ruang tamu, Abah tertawa. Aku tidak segera menyusul. Ada detak jantung yang coba kutenangkan. Apalagi, saat melihat Rafi dari tempatku berdiri. Dia bersongkok, berbaju koko dan terlihat lebih tampan dari memori yang ada di kepalaku.

Astagfirullah.

Zina mata, Delima!

5 disukai 2 komentar 430 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Begitulah Abah, jadi kangen juga. Alfatihah
Ff yang membawa nostalgia, jadi ingat abah saya heheh.
Saran Flash Fiction