Disukai
3
Dilihat
623
Tujuh Puncak & Dua Priaku
Drama

Aku masih belum puas menatap sebuah foto dalam bingkai laminating. Ada kerinduan merebak. Jarak dan waktu telah memisahkan kami. Ego sebuah janji pada diri sendiri telah memaksa tubuhku berada pada ketinggian yang membekukan tulang belulang.

Hhh, beberapa kali aku mendesah. Apa yang sedang kulakukan di sini? Bukankah lebih enak jika malam ini kau bersanding dengan anak dan suami? Tentu jika aku tidak menuntut cerai dari seorang suami yang baik seperti dia. Menikmati hidangan tawa canda yang nyaris dua tahun ini tak pernah kurasa. Mendongengkan kisah-kisah sarat makna pada buah cinta yang tampan itu.

Evrest, bocah tiga tahun yang tentu masih rindu belai kasih seorang ibu kubiarkan menggigil di sana. Apa sekarang dia sudah tidur? Apa dia akan memimpikan aku?

Ah, kucium foto itu berulang kali lalu kedekapkan ke dada.

“Doakan Bunda ya, Nak.” bisikku.

Walau aku sadar aku tak pantas mendapat doa dari bocah tanpa dosa itu. Aku telah menelantarkannya begitu saja.

Tidak! Bukankah sebelum aku berada di sini aku selalu menyempatkan untuk menjenguk dan bermain dengannya. Bukankah saat hari keberangkatan aku telah berpesan agar dia selalu mengingatku dan mendoakan aku sebelum tidurnya. Dia pasti mengingat. Walau aku tahu nalarnya mungkin belum mengerti tentang maksud dari kata-kataku itu.

Angin masih menggila di luar. Meski kami berada dalam pondok di Refugio Independenzia, pondok yang kami tempati seakan ingin ia cerabut dan hempaskan jauh ke dasar jurang.

Maya kulihat masih sibuk membuat minuman untuk menghangatkan tubuh. Fitroh, ketua perjalanan kami terus memelototi peta jalur pendakian kami esok. Wanti yang berjilbab sebagaimana aku, tampak khusyuk dalam zikir-zikirnya, beberapa jam lalu dia mengeluh pusing. Sementara Rea, dia asyik berbincang-bincang dengan pendaki lain yang berasal dari Inggris.

“Kamu merindukan mereka?” tanya Fitroh yang melihat ulahku tadi.

Aku tersenyum, “Sangat, terlebih pada Evrest.”

“Untung aku belum menikah.” ucap Fitroh menyeringai.

“Yang hangat, yang hangat!” Maya menawari kami kopi panas. “Aku juga merindukan mereka.” Maya menerawang teringat juga pada anak dan suaminya.

“Jadi hangat!” kata Wanti setelah menyeruput kopi panas itu.

“Makanya jangan menikah dulu, sebelum Seven Summit dapat.” celetuk Fitroh. “Jadi homesickness gitu, kan?”

Saat ini kami sedang berada di sebuah gunung yang terkenal sebagai Gunung Iblis. Gunung Aconcagua. Salah satu puncak dari pegunungan Andes di Amerika Selatan. Tepatnya di antara Negara Chile dan Argentina.

Sebuah obsesi penaklukkan Sevent Summit dalam wadah tim putri. Dua gunung telah berhasil kami berlima taklukkan. Puncak Cartenz Pyramid dan El Brush. Itu terjadi kurang lebih enam dan delapan tahun yang lalu. Saat kami masih jadi mahasiswa.

Setelah lulus kuliah impian untuk menggapai tujuh puncak ternyata tidak padam. Bahkan ketika akhirnya Maya memutuskan menikah pasca pendakian El Brush, lalu disusul dengan pernikahanku dua tahun kemudian, bara sekam itu masih memanas hingga hari ini tiba. Hari di mana aku dan teman satu tim putri kembali menantang ego kami mendaki si Puncak Iblis.

Jalur pendakian yang kami gunakan rute normal, Puente del Inca, Chile. Jalur yang kata orang relatif mudah. Biasanya pada musim pendakian jalur ini bisa bersih dari salju.

Gunung Aconcagua merupakan gunung tertinggi di antara dua benua Amerika. Jika Menara Dunia Asia adalah Pegunungan Himalaya, maka Pegunungan Andes dengan mahkota Aconcaguanya adalah Menara Dunia Barat.

“Besok pagi-pagi sekali kalau cuaca bagus kita langsung bergerak.” kata Fitroh. “Kira-kira lima ratus meteran lagi puncak.”

“Lima ratus meteran yang tidak mudah.” ucap Wanti. “Salju semakin tebal, bahaya longsoran salju, belum lagi rekahan dalam salju. Hii… kadang serem juga membayangkan itu.”

“Payah, mana semangat Seven Summit-nya!” cibir Fitroh. “Ngomong-ngomong gimana sakit kepalamu?”

“Agak mendingan sih,”

“Yakin tidak apa-apa?” tanyaku ke Wanti yang sepertinya kena sindrom penyakit ketinggian.

“Tenang, masih bisa di atasi,”

“Di ketinggian seperti ini jangan terlalu memaksakan diri.” kata Maya menambahi.

“Kau ini, yang tahu kondisi Wanti jelas Wanti sendiri. Udah, yuk briefing untuk perjalanan besok.” ajak Fitroh lalu menyiapkan RO (Rencana Operasional) kami.

“Rea panggil tuh!” ucap Maya. “Ngeceng melulu,”

“Re, briefing!” panggilku.

Rea menoleh ke arah kami yang berada pada salah satu sudut pondok. Setelah mengatakan sesuatu pada bule itu dia segera bergerak ke arah kami.

“Ganggu aja!” keluh Rea.

“Sukses?” tanyaku menggoda.

“Udah menikah,” sahut Rea yang punya obsesi ingin menikah dengan pria bule. Rea bilang sih, untuk perbaikan keturunan.

So?” tanggap Fitroh.

Just friend,”

“Bukan itu! Apa kita bisa membicarakan tentang rencana muncak besok?”

“Mereka akan berangkat jam sembilan. David bilang puncak tinggal dua jam lagi.”

“Itu kan untuk mereka, kita?” tanggap Wanti.

“Pokoknya besok kita berangkat lebih awal. Siapa tahu cuaca pagi cerah.”

“Kalau ternyata masih badai?”

“Gimana kalau kita menguntit mereka aja?” usul Rea. “Biar ada yang mengawasi kita. Kalau ada apa-apa, tubuh mereka kan kuat.”

“Ada maksudnya tuh!” kataku.

“Dulu waktu di El Brush kita nggak bisa jalan sendiri kan? Kita butuh guide juga akhirnya?”

“Iya, tapi….”

“Oke, yang terpenting sekarang adalah, siapa yang akan ke puncak.” kata Maya membuat kami diam dan menatap ke arahnya.

“Kenapa tidak semua saja?” kata Rea.

“Maksudku karena kita mendaki dengan metode Alpine style, aku rasa nggak perlu semua muncak. Harus ada yang jagain barang di pondok.”

“Wah, nggak adil dong!” sergahku. “Kita semua ingin lihat puncak, ya kan?”

“Kalau memang tidak memungkinkan kenapa harus memaksakan diri?” kata Maya yang terdengar cukup bijak. “Wanti yang pusing apa mungkin ke puncak?”

“Aku nggak pa-pa kok.” ucap Wanti.

“Semakin ke atas cuaca akan semakin ekstrim. Kondisi tubuh yang tidak fit, sebaiknya jangan dipaksakan.”

Aku menatap Wanti. Tadi aku memang sempat mengkhawatirkan dia. Tapi, aku juga tahu kalau Wanti sangat ingin mencicip aroma puncak. Sekarang jadi bimbang. Aku rasa kata-kata Maya ada benarnya juga.

“Lalu?” komentarku.

“Berangkat satu berangkat semua.” lontar Rea.

Fitroh memandang ke arah kami.

“Wanti?” tanya Maya.

“Hei, tenang Mom! I’m okey.” tanggap Wanti menyeringai.

“Yah, kalau mayoritas menginginkan berangkat semua, mau gimana lagi. Sekarang keputusan final ada di tanganmu, Fit.” ucap Maya.

“Kalau Wanti tidak ada masalah, we get the peak together?

“Nah, gitu dong!” kata Rea sambil menepuk lengan Wanti. “Bravo tim putri!”

Cayo!” sahut Wanti bersemangat.

Briefing berakhir pada pukul sembilan lewat sepuluh menit. Setelah salat Isa kami langsung membungkus tubuh dengan kantung tidur untuk menjemput mimpi.

Pukul empat pagi kami bangun. Badai masih menari di luar. Hawa semakin dingin. Enggan rasanya beranjak dari kehangatan kantung tidur yang sempat melelapkan semalam.

Tanpa banyak bicara kami mulai aktivitas memasak. Pokoknya sama seperti aktivitas ibu-ibu biasa di pagi hari. Memasak untuk suami dan anak. Bedanya, kami tidak memasak di dapur yang nyaman dan kami memasak untuk suplai energi sebagai bekal ke puncak.

Badai akhirnya berlalu tanpa meninggalkan jejak pelangi. Cuaca di luar masih sendu. Tim memutuskan segera bergerak sebelum amukan badai kembali menyergap. Tim Inggris masih terlelap ketika kami mulai melangkahkan kaki menuju puncak

Kami bergerak berurut-urutan saling mengaitkan tubuh kami dengan menggunakan tali agar bisa saling menjaga tubuh kawan. Kemungkinan tergelincir atau masuk jebakan es sangat besar. Dalam keadaan saling terkait, jika satu anggota jatuh, yang lain akan menahan laju tubuh yang jatuh itu.

Salju yang kami lalui hingga selutut. Pergerakan kami sangat lambat. Satu kali langkah membutuhkan energi untuk lima langkah mendaki biasa. Di sekeliling kami hanya ada hamparan putih, putih yang dingin.

Wanti beberapa kali terjatuh, dia juga sering menghentikan langkahnya sambil memegangi perutnya. Kami mulai mengkhawatirkan dia. Akhirnya setelah tercapai kesepakatan, Wanti diturunkan. Awalnya dia menolak. Tapi, setelah dia muntah, Wanti bersedia turun ditemani oleh Maya.

Beban puncak kini ada di pundakku, Fitroh dan Rea. Napas kami semakin tersengal. Kandungan oksigen yang semakin menipis menyebabkan proses respirasi terasa berat.

Dua jam berlalu. Kami masih belum menemukan akhir dari tanjakan bersalju yang menggigilkan.

Aku merasa sangat kelelahan. Pergerakan kami semakin melambat. Di sisa-sisa tenaga, Rea yang menjadi leader tiba-tiba berteriak, menggugah rasa lelah dan bosan yang mencekik kerongkongan.

“Puncak!” serunya sedikit mempercepat langkahnya.

Cuaca masih saja tidak cerah ketika kami memijak tanah tinggi di benua Amerika ini. Kami tidak ingin berlama di puncak, setelah mengambil foto sebagai bukti keberhasilan dan kenang-kenangan tim putri, kami segera turun. Kami tidak ingin bertemu dengan angin iblis yang menurut kabar hanya dalam hitungan detik sanggup menarik napas kami.

Langit dengan cepat berubah menghitam. Hujan salju mulai turun, angin yang semula menghembus ramah kini menjadi garang.

Kami terus memacu langkah secepat kami bisa. Terseok-seok, berusaha menghindar dari terjangan badai. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan tim Inggris yang kemudian memutuskan untuk turun bersama.

Akhirnya kami sampai lagi di pondok Refugio Independenzia. Kami langsung menghangatkan tubuh yang menggigil. Wanti tampak berbaring tidak berdaya. Hari itu juga setelah cuaca kembali bersahabat kami memutuskan turun.

Keadaan Wanti terlihat semakin parah, dengan sisa-sisa kekuatannya dia berusaha berjalan dengan panduan dan papahan dariku dan Maya. Target kami Pondok Antartika.

Salju turun lagi. Kami berjalan sangat hati-hati agar tidak tergelincir merosot ke bawah dan masuk jurang. Langkah Wanti semakin sempoyongan. Kini giliran aku dan Rea yang merintis jalur turun, mencari jalur termudah agar bisa dilewati Wanti.

Tiba-tiba sebuah jeritan menarik tubuhku hingga aku jatuh terduduk dan terseret beberapa meter dari pijakan semula. Rea menghilang.

“Kami tahan!” teriak Fitroh yang berjalan beberapa meter di belakangku.

Aku tersentak, sebuah sentuhan lembut menyentuh pipiku.

“Bunda kok nangis?”

Aku tersenyum dan segera mengelap air mata yang menetes dipipiku. Seorang pria kecil menggelayut di pangkuanku.

“Ada apa, sayang?”

“Dicari Ayah,” Evrest menunjuk sosok pria lain yang tengah menghampiriku. Yah, dia itu suamiku. Suami yang dulu kugugat cerai karena tidak menyetujui rentetan mimpi perjalanan Seven Summit-ku. Dia kini kembali menerimaku yang pulang tidak utuh lagi.

“Alhamdulillah, Bunda akan bisa jalan dengan kaki lagi,” ucapnya tersenyum senang.

“Benarkah? Alhamdulillah.” tanggapku riang, meski jika aku teringat dua kakiku telah hilang karena digigit dingin Gunung Iblis, dan mengingat bahwa aku harus kehilangan dua teman terbaikku. Hatiku rasanya tercabik dan membeku.

Rea telah benar-benar hilang ditelan crevasse, sebuah jurang yang sangat dalam. Wanti yang terkena mountain sickness akut, nyawanya tidak bisa terselamatkan. Dia meninggal di rumah sakit Trabajador, Santiago Chile.

“Bunda nangis lagi?” ucap Evrest.

“Bunda nangis karena senang, Sayang. Setelah dapat kaki palsu, Bunda tidak perlu pakai kursi roda atau tongkat penyangga lagi.”

“Tapi Bunda tidak akan pergi lagi, kan?” ucapnya polos.

Aku menggeleng lalu menatap duplikat lain dari Evrest.

“Ayah tidak akan mengijinkan Bunda pergi-pergi lagi,”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ada seuntai perasaan terlindungi.

Entahlah, apa yang kupikirkan saat itu? Mencari kepuasan sendiri yang akhirnya justru membawa duka yang berkepanjangan. Menorehkan satu kisah tragedi kehilangan yang besar.

Tim putri dengan mimpi Seven Summit harus berakhir di Gunung Iblis. Aku, Maya dan Fitroh benar-benar dipaksa menghentikan petualangan kami. Tentu saja, karena keluarga ternyata lebih membutuhkan dan mengerti kami dibanding ego tentang puncak-puncak tinggi.

Aku menoleh ke Gunung Semeru nan menjulang. Kuhirup udara sedalam-dalamnya lalu aku berseru kepadanya untuk mewakili seluruh gunung yang ada di dunia;

“Hai, Semeru yang angkuh! Kau tahu, bahagiaku kini ada pada dua pria yang kini ada di sampingku.”



Cerpen ini pernah termuat di Majalah Kartika tahun 2006

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@lumbalumba14 : Terima kasih apresiasinya
Mencari satu kenikmatan namun mengorbankan kenikmatan lain. Pada akhirnya diri kita sendiri yang harus menilainya. Mantap nih cerpen.