Tepat pukul 06.00 pagi, suara alarm berdering nyaring, membangunkan Sita dari tidurnya. Bunyi itu sebenarnya sudah terdengar sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun, Sita memilih mengabaikannya. Ia malah menarik bantal untuk menutupi kepalanya seraya menggeliat malas, seolah enggan menghadapi hari. Dengan tubuh yang masih terasa lelah, ia menyibakkan selimut, lalu menggesek-gesekkan kakinya di atas kasur demi mencari posisi nyaman—sampai akhirnya ia kembali terlelap dan tak sadar satu jam telah berlalu.
Suara nada dering ponsel memecah keheningan.
Sita mulai mengerang terganggu. Tangannya meraba-raba area di bawah bantal, tempat terakhir kali ia meletakkan ponselnya, tetapi benda itu tak kunjung ketemu. Dering telepon yang terus berisik mulai membuat perasaannya tidak tenang; jangan-jangan ada urusan yang sangat mendesak. Ia pun terpaksa membuka mata dan bergegas bangun.
"Ergghhh….."
"Mana sih ponselnya? Semalam aku taruh di sini, kok enggak ada?" gumam Sita ketus pada diri sendiri. Ia terus mengacak-acak tumpukan bantal dan selimut. Meski matanya masih setengah terpejam, ia berusaha fokus mencari.
Sita mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tidur, memastikan tidak ada sudut yang terlewat.
"Oh, di sini rupanya," desis Sita lega saat melihat ponselnya tergeletak di atas karpet, persis di bawah tempat tidur.
"Mungkin semalam enggak sengaja jatuh," batinnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser layar untuk mengangkat panggilan masuk dari partner bisnisnya, Demian.
"Halooo…," jawab Sita dengan suara serak, masih setengah sadar.
"Iya, kenapa, Dem? Pagi amat teleponnya?" dengus Sita, berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Sit, lihat ini jam berapa!" Suara Demian langsung meninggi di seberang sana. Pria yang biasanya kemayu itu kini tampak benar-benar naik pitam, menunjukkan sisi maskulin yang jarang ia perlihatkan.
"Katanya lo janji mau ke store jam tujuh? Gue udah chat lo dari sejam yang lalu dan enggak ada respons sama sekali!" Sontak, Demian terdengar sudah sangat emosi. "Udah feeling nih gue, lo pasti kesiangan!"
"Lagian ngapain juga lo semalam begadang kalau tahu punya janji pagi, Neng!" omel Demian kesal, karena sudah hafal mati dengan kebiasaan temannya yang suka bablas tidur.
Sita seketika terenyak. Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya saat mengingat bahwa pagi ini ia ada janji penting untuk mengambil cincin pernikahan. Ia melirik jam di layar ponsel—sudah menunjukkan pukul 07.15!
Tanpa basa-basi lagi, Sita langsung melompat dari kasur.
"Duh, sorry, Dem. Panjang ceritanya!" ucap Sita panik sambil berlari menuju kamar mandi, sambil melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur.
"Oke, pokoknya kita ketemuan lima belas menit lagi!" potong Demian ketus.
Belum sempat Sita menawar waktu, Demian sudah memutus panggilan tersebut secara sepihak.
"Tunggu aku, Dem!" teriak Sita pasrah dari balik pintu kamar mandi yang langsung ditutupnya rapat-rapat.
***
Pukul 07.35
Sita terpaksa menuruni tangga darurat apartemennya karena lift bangunan itu masih dalam perbaikan. Ia berlari tergesa-gesa bagai orang yang hampir ketinggalan kereta. Langkahnya dipacu buru-buru; ia tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi mengingat dirinya sudah terlambat memenuhi janji dengan Demian.
Sesampainya di basement, Sita langsung menuju mobil merah miliknya yang terparkir tepat di dekat pintu keluar-masuk. Tanpa menunda sedetik pun, ia segera menyalakan mesin dan langsung menancap gas.
Sebenarnya, hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Sita. Widya, sahabat baiknya, akan segera menikah. Istimewanya lagi, Sita sendiri yang mengurus seluruh persiapan pesta pernikahan tersebut. Kebetulan Sita memang memiliki usaha Wedding Organizer, dan kali ini ia turun tangan langsung demi membantu hari bahagia sahabat masa kecilnya itu.
Sayangnya, perjalanan pagi ini di luar dugaan. Jalanan terbilang macet parah padahal ini adalah akhir pekan. Sita memang sudah hafal betul kalau Jalan Sudirman Kota Bandung yang biasa ia lalui setiap hari selalu padat oleh para pekerja yang mengendarai motor. Namun, hari Sabtu ini ia benar-benar apes. Di luar perkiraan, Sita justru terjebak di tengah-tengah rombongan pendemo bermotor yang sedang bergerak bersama menuju Kantor Wali Kota Bandung.
"Gila! Kenapa aku bisa masuk rombongan ini sih?!" gerutu Sita kesal.
Ia berulang kali menekan klakson, mencoba mendesak mobil di depannya, tetapi hasilnya tentu saja nihil. Jalanan benar-benar terkunci.
"Mati aku. Demian bakal mengamuk kalau caranya begini," gumamnya panik. Sita segera meraih kembali ponselnya, berniat menghubungi Sunya untuk mengabarkan situasinya.
Namun, sebelum sempat menekan tombol telepon, ketukan di kaca jendela membuyarkan fokusnya. Seorang wanita paruh baya yang sedang membonceng ojek motor—sambil mendekap bayi dalam gendongannya—memberi isyarat tangan agar Sita menghentikan suara bising klaksonnya.
Sita seketika tertegun. Ia langsung tersadar betapa tidak pekanya dirinya saat itu. Di tengah kemacetan total begini, bukan hanya dia yang merasa tidak nyaman; semua orang di jalanan ini pasti merasakan hal yang sama dan memiliki urusan mendesak masing-masing. Seharusnya ia bisa lebih menahan diri.
Dengan rasa bersalah yang telanjur menjalar, Sita menurunkan kaca mobilnya sedikit, lalu mengatupkan kedua tangan ke arah wanita itu.
"Maaf ya, Bu…," ucap Sita tulus, memasang raut wajah penuh penyesalan karena telah membuat kegaduhan.
Melihat ketulusan Sita, wanita paruh baya itu tersenyum kecil dan mengangguk pelan, seolah sangat memahami rasa frustrasi yang sedang melanda gadis itu.
"Enggak apa-apa, Neng. Kata abang ojol di depan, ada yang kecelakaan, makanya macetnya lama," ucap ibu itu sambil menunjuk ke arah kerumunan di depan.
"Neng yang sabar ya kalau di jalan, jangan buru-buru. Apa pun yang dikejar, teh, enggak sebanding sama keselamatan kita dan orang lain," tutur si Ibu, menasihati Sita.
Sita terkekeh pelan, merasa seperti anak kecil yang sedang diceramahi orang tuanya. Meski gurat wajahnya sempat menunjukkan rasa kesal karena keadaan, ia sadar kalau ucapan ibu itu sepenuhnya benar.
"Ibu, sok sini bareng saya aja di mobil, kasihan adek bayinya. Mana lagi macet parah, panas juga," tawar Sita tulus.
Namun, wanita paruh baya itu menolak dengan halus sambil tersenyum.
"Makasih, Neng. Ibu turun di depan kok. Kalau naik mobil malah makin lama nanti, kalau naik motor sama mamangnya kan bisa nyelip-nyelip."
"Oh begitu, Bu. Kalau begitu saya duluan ya, Bu," sahut Sita menyudahi pembicaraan mereka begitu menyadari kendaraan di depannya mulai bergerak maju.
Mereka pun berpisah dan mengambil jalur yang berbeda.
Tidak berapa lama setelahnya, layar ponsel Sita kembali menyala. Sebuah panggilan telepon masuk—tentu saja ini dari Demian.
Jantung Sita seketika berdegup kencang. Ia sudah bersiap mental untuk menerima amukan badai dari spesies unik itu. Benar saja, begitu tombol geser ditekan, langsung terdengar nada sinis dari seberang telepon.
"Halo Sit, udah sampai mana lo?"
Sita berdehem kecil, menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Baru sampai Paskal nih, bentar lagi juga sampai kok," ujar Sita sambil mengatur napas, bersiap-siap meredam kekesalan Demian.
"Eh, lo enggak usah buru-buru, meeting-nya udah gue reschedule," sahut Demian santai di seberang sana.
"Lah, kok?" Sita seketika menegang. Rasa khawatir mulai menyergapnya.
"Kebetulan Bu Anne hari ini ada client complain. Katanya barang yang diterima beda sama hasil fitting kemarin," lanjut Demian menjelaskan.
Sita masih ragu mendengar penjelasan itu. Ia takut ini cuma prank alias akal-akalan Demian, mengingat sahabatnya itu memang suka sekali menjahilinya.
"Lah, kok bisa gitu sih? Serius nih, Dem, enggak usah bohong deh kalau soal ginian… Iya, gue tahu gue salah," rajuk Sita, berusaha memelas.
"Idih, ngapain juga gue bohong!" tanggap Demian ketus. "Bikin untung kagak, bikin nambah emosi iya!"
"Eh, tapi untung juga buat lo kali, biar Bu Anne enggak tahu kelakuan lo yang hobi bikin orang senewen karena telat," cibir Demian lagi.
Sita hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hati, ia merasa apes sekaligus lega. Pagi ini ia harus pasrah menerima berondongan omelan Demian, yang kalau sudah sewot, cerewetnya melebihi ibu RT yang sedang mandorin warganya kerja bakti.
***
Delapan jam sebelumnya
"Sit, bisa ketemu di tempat biasa? Aku pengen ngobrol bentar."
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Sita. Ternyata Widya yang mengirimnya, mengajak untuk bertemu.
Kebetulan hari ini ada klien yang membatalkan janji, jadi Sita bisa menyanggupi permintaan tersebut—lagi pula, Widya juga merupakan salah satu kliennya. Sebelum beranjak, Sita masih sibuk merapikan lembaran dokumen perencanaan di meja kerjanya. Akhir-akhir ini ia memang mengambil pekerjaan jauh lebih banyak dari biasanya, demi mengejar target financial freedom sebelum 30 tahun yang dicita-citakannya.
Pertemuan mereka diadakan di sebuah kafe bertema perpustakaan, tempat favorit mereka menghabiskan waktu semasa sekolah dulu untuk sekadar jajan atau belajar bersama. Dari balik jendela kafe, Sita bisa melihat Widya sudah duduk menunggu, tetapi dengan tatapan mata yang tampak gusar.
Sita menghampirinya dengan rasa khawatir yang jelas terpancar di wajahnya. "Ada apa, Wid? Apakah ada masalah?"
Widya menarik napas panjang, lalu mempersilakan Sita untuk duduk terlebih dahulu. "Aku pengen ngomong jujur sama lo, Sit."
Sita seketika kaget. Ia bingung mendengarkan nada bicara sahabatnya itu yang tidak biasa. "Jujur? Kok gitu? Apa ada masalah dalam persiapan pernikahannya? Apa calon suamimu enggak suka sama hasil kerjaan gue?"
"Enggak, enggak gitu. Semuanya bagus banget, malah di luar ekspektasiku," potong Widya cepat.
"Terus?" tanya Sita penasaran, mulai tidak sabar dengan pembicaraan Widya yang terasa berputar-putar.
"Ada beberapa hal yang belum gue ceritain sama lo," lanjut Widya dengan suara melandai.
"Tentang apa?" Sita mulai waswas, mendadak memperkirakan hal buruk bakal terjadi.
"Pasangan gue," ucap Widya pelan, nyaris berbisik.
"Hah? Kenapa? Lo dicampakin sama dia? Beneran?!" Sita sontak menggoyang-goyangkan bahu Widya, menuntut kepastian. "Awas ya, berani-beraninya dia nyakitin sahabat gue. Bakal gue kasih pelajaran itu orang!"
Namun, alih-alih menjawab, air mata Widya tiba-tiba tumpah. Ia menangis sesenggukan, membuat Sita kebingungan melihat sahabatnya begitu kepayahan menahan kesedihan yang mendalam. Sita mendadak kaku, tidak tahu harus mulai menghibur dari mana.
"Lo... baik banget sama gue, Sit," lirih Widya di sela tangisnya.
"Ya iyalah, kan lo sahabat gue. Kenapa sih, Wid?"
Widya menatap Sita dengan mata sembap dan pancaran ketakutan yang nyata. "Gue takut... kalau gue jujur sama lo, lo enggak bakal mau anggap gue sebagai sahabat lagi."
"Enggak, lo bakal tetap jadi sahabat gue sampai kapan pun. Gue janji," pungkas Sita sambil merengkuh dan memeluk erat sahabat kecilnya itu.
Widya melepaskan pelukan, lalu menunduk. "Gue sebenarnya tahu lo masih kepikiran sama Bima. Sampai sekarang pun lo belum punya pasangan."
Sita sempat kebingungan mengapa obrolan mereka tiba-tiba berbelok arah ke nama Bima. "Bima? Bima itu cuma cinta monyet dulu, Wid. Itu udah bertahun-tahun yang lalu juga."
Sebenarnya, Sita agak tersinggung dengan ucapan Widya yang seolah-olah mengesankan dirinya tidak laku. Meski di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Sita memang belum bisa sepenuhnya melupakan Bima—pria yang sudah disukainya secara diam-diam selama lima belas tahun. Namun, ego itu ia tepis jauh-jauh agar Widya tidak merasa terbebani. Toh, itu cuma masa lalu, dan mereka pun tidak pernah memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman.
"Emang kenapa dengan Bima? Gue turut senang kalau kabar dia baik-baik aja, dia kan teman kita juga," sambung Sita. Ia terkekeh pelan, merasa lucu karena Widya sampai se-melankolis ini hanya karena urusan Bima.
"Sebenarnya... Bima selama ini sama gue, Sit."
"Maksudnya?" Kening Sita berkerut, tidak mengerti.
"Jadi... calon suami gue itu Bima."
Uhuk! Sita tersentak kaget bukan main hingga tersedak kopi yang baru saja ia minum.