Sebuah ruangan dengan lampu-lampu sorot yang dimatikan sebagian, yang diisi penuh dengan kursi-kursi berkain penutup merah, terdengar berisik saat Arum memasukinya. Orang-orang tampak berbincang, beberapa bermain ponsel, hingga suaranya tumpang-tindih.
Arum, perempuan berpasmina plisket hitam itu, segera berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang kebetulan tersorot lampu di bagian tengah, melewati orang-orang yang sudah lebih dulu sampai dan menduduki kursi-kursi lainnya. Tak lama setelah dia duduk, lampu-lampu pun mati. Suara semua orang melirih, lalu aula pun berangsur-angsur hening.
Beberapa detik berlalu tanpa apa-apa, hingga akhirnya, di dalam gelap itu, terdengar suara lantang tanpa pengeras suara yang membuka pertunjukan ini. Suara itu terdengar matang dan serak, dengan nada khas para pelaku seni.
“Selamat datang di Janggala-Kadiri, tempat kisah Raden Panji dan cintanya Dewi Sekartaji. Cinta tak selalu bersama, tapi rindu, akan selalu mencari cara untuk bertemu. Teater Raden Panji! Selamat menyaksikan!”
Teriakan itu disahut oleh harmoni musik gamelan yang riuh, lalu lighting-lighting di atas panggung mulai menyala, perlahan, dari redup ke terang, dan menampakkan panggung yang kosong. Pertunjukan pun dimulai.
Raden Panji adalah tokoh sastra yang terkenal di Jawa Timur, tepatnya di Sidoarjo dan Ke...