Disukai
1
Dilihat
23
Takdir Di Gazebo Tua Sekolag
Drama

Aku masih ingat jelas masa itu, kelas 11 SMA. Hari-hari terasa biasa saja sampai sebuah nomor asing tiba-tiba menghubungiku. Katanya ia mendapat nomorku dari bungkus minuman Ale-Ale. Aku tertawa, mengira itu hanya candaan konyol. Tapi malam itu kami bertelponan hampir satu jam, dan ternyata ia teman seangkatanku. Sejak saat itu, setiap akhir pekan ia selalu menghubungiku. Sampai Dua sampai tiga bulan berlalu, kami dekat hanya lewat suara, bercanda ria tanpa ada perasaan, bahkan aku belum tahu wajahnya di dunia nyata karena ia masih menyembunyikan dirinya.  

Suatu hari saat class meeting, aku dan teman-teman pergi ke kantin. Di sana, tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Teman SMP-ku menunjuk seorang cowok dan berkata, “Itu yang sering hubungi kamu.” Saat itu aku sedang membeli minuman untuk anak kelasku, lalu tanpa sengaja menjatuhkan minuman di depannya. Ia tertawa kecil melihatku yang tampak Tremor, sementara aku menahan malu dan lari sambil menggandeng temanku. Hari itu adalah pertama kalinya aku melihat wajahnya.  

Sejak saat itu, kedekatan kami semakin intens. Ia mulai berani menemuiku langsung, mengajakku foto bersama di kelas dengan seragam batik sekolah dengan tambahan topi khas nya. Foto itu menjadi awal kedekatan kami. Perlahan ia mulai menanyakan dengan siapa aku dekat, bahkan ia bertanya tentang masa laluku meski aku belum bisa membuka hati sepenuhnya. Namun ia tetap hadir, duduk bersama di lingkaran teman-temanku di gazebo tua yang sudah berdiri beberapa tahun itu, ia menatapku dengan hangat, bahkan sudah berani menunjukan kenyamanannya padaku dengan menyenderkan kepalanya di pundakku saat istirahat di gazebo tua. Dari sana aku mulai merasa nyaman.  

Hari-hari remaja kami penuh warna. Kami sering bercanda di kelas, saling ejek tapi berakhir dengan tawa. Kadang ia menunggu di depan kelas hanya untuk menyapaku, mengantar dan menjemput ku sekolah. Ada kalanya aku iseng memetik jambu di depan kelas, lalu ia lewat sambil tertawa melihat tingkahku bersama teman-teman. Semua terasa ringan, sederhana, tapi hangat.  

Malam itu, lewat obrolan ringan di chat, ia akhirnya mengungkapkan perasaan.  

“Aku suka kamu,” katanya.  

Aku sempat ragu, lalu menjawab, “Sama.”  

“Jadian?” tanyanya.  

“Ya, ayo,” jawabku.  

Malam itu menjadi saksi awal hubungan kami. Besoknya sekolah ramai membicarakan kami, tapi aku tidak peduli. Aku bahagia. Hubungan itu berjalan indah selama dua tahun. Di kelas 12, setiap detik terasa berharga. Ia menatapku dengan lembut, mengantarku pulang saat hujan, membuatku merasa seperti tokoh dalam cerita remaja. Kami seperti pasangan dalam film remaja, penuh canda, penuh janji, penuh mimpi.  Makan dan minum di satu tempat yang sama, jalan jalan keliling kelas saat istirahat, bahkan saat ujian akhir sidang pun dia selalu menungguku untuk bertemu. Indah rasanya.

Namun waktu terus berjalan. Setelah aku lulus dan mulai bekerja di luar kota, segalanya berubah. Ia merasa aku berbeda, kurang perhatian. Padahal aku sibuk bekerja, lelah, dan berharap ia mengerti. Namun akhirnya aku lelah menghadapi ego nya yang ingin dimengerti terus hingga hubungan kami hancur hanya karena aku sibuk kerja. Namun, Aku tetap berusaha pulang kampung untuk bertemu dengannya, tapi ia mulai merasa jauh. Hingga akhirnya aku mendengar kabar yang menghancurkan setelah 3 minggu kamu putus : ia melampiaskan sakit hatinya dengan mabuk, obat-obatan, bahkan bersetubuh dengan seorang janda beranak satu. Hatiku hancur, aku kecewa, aku frustasi. Bahkan dengan tangan yang gemetar aku mencari informasi informasi yang membuat aku runtuh seketika. Ini pengalaman pribadi ku diselingkuhi sejauh ini. Bahkan dirinya membeberkan bagaimana awal mula ia melampiaskan pada wanita itu padaku. Namun, aku masih menanggapi ceritanya dengan baik. Hingga akhirnya aku lelah.

Ia memohon untuk kembali, datang ke rumah membawa makanan dan kejutan, tetap rutin ke kampus untuk ujian bersama. Aku mencoba memberi kesempatan, tapi luka itu terlalu dalam. Hatiku mulai hambar. Dan ketika aku tahu ia kembali nongkrong dengan wanita lain, saling berfoto bersama, jalan jalan bareng, terlihat senyum bahagia tanpaku dan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku benar-benar hancur.  

Meski begitu, ia tidak mau melepaskanku. Ia terus menunggu, terus berusaha. Takdir seolah masih mempertemukan kami. Saat ujian tiba, kami tetap bertemu. Bahkan, aku masih mau duduk satu motor dengannya memeluknya erat erat di pagi yang dingin hanya untuk berangkat ujian, dengan keadaan hati yang mulai hilang dan perasaan yang mulai hambar. Tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak perasaan yang sudah hilang, bahkan saat dengannya aku sudah dekat dengan laki laki lain untuk menyembuhkan luka yang cukup dalam bagiku. Namun, ia nampak menunjukan keseriusannya dengan menanyakan ukuran cincinku siap atau tidaknya jika dia melamar ku, bahkan ibunya sudah sangat menyetujui jika aku dengan dia. Setelah kejadian seperti itu dia mulai kembali ingin merebut rasaku yang sudah mulai hilang, namun ia tetap sama tetap lemah lembut selalu paham apa yang aku butuhkan, makanan apa yang aku sukai, tempat apa yang ingin aku kunjungi, dia selalu mengabulkannya. Saat ulang tahun tiba pun dia bersemangat membuatkan kado ulang tahun untukku dengan rakitan tanganya sendiri dan uang hasil kerjanya sendiri Rasanya aneh: di satu sisi hatiku sudah hambar, di sisi lain kenangan masa SMA kembali menyeruak. Saat ujian Aku menatap lembar soal, tapi pikiranku melayang pada masa lalu. Ia duduk di sampingku, sesekali menoleh, seakan ingin berkata bahwa ia masih ada.  

Namun aku tahu hatiku sudah memudar. Hingga akhirnya aku bertemu pria lain yang mampu menyembuhkan luka. Pria itu kini menjadi suamiku. Pria yang berbeda 90 derajat dengan dia. Bahkan berbeda segalanya, aku nyaman dengan dia aku merasa dia pengganti yang cocok untuk hidupku, dia yang asik, dia yang tidak pernah menyerah untuk mengusahakan ku untuk meminangku. Dia yang beraksi tanpa banyak basa basi yang hidupnya hanya bekerja tanpa mencari cinta, Aku memilih melepaskan dia dengan lapang dada, menikah, dan memulai hidup baru.  

Meski saat ujian tiba kami masih bertemu dan bertegur sapa, aku tahu cerita kami sudah selesai. Cinta masa SMA itu pernah indah, pernah hangat, tapi juga pernah melukai. Dan aku belajar, tidak semua janji bisa ditepati, tidak semua cinta berakhir bahagia. Dan aku juga belajar bahwa setiap kesempatan yang di berikan seseorang janganlah untuk di sia siakan, karena kita tidak tahu bagaimana bergelut dengan pikiran untuk sebuah kesempatan untuk adanya perubahan.Jangan pernah bermain main dengan cinta dan perasaan sungguh itu akan membalikan pada diri sendiri. Tentunya kisah mu tidak akan pernah aku lupakan, kisah 3 tahun yang sangat berarti dan kenangan yang sangat melekat untuk di kenang. Berbahagialah dirimu dengan wanita yang memang ditakdirkan untukmu dan begitupun aku sebaliknya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi