Lalu lalang kendaraan di jalan raya adalah kehidupan kota. Mesin-mesin beradu deru raungnya. Udara sejuk Kota Malang dengan segera berganti, tersisih oleh uap sisa pembakaran minyak bumi. Kesejukan berganti panas tanpa mengampuni waktu yang mencoba menyembuhkan.
Hidup di tempat lain mungkin bisa menjadi pilihan tepat, atau setidak-tidaknya, berkunjung ke rumah saudara di luar kota sana. Aku telah begitu penat untuk menikmati kehidupan dengan kebisingan dan kemacetan.
Pagi menjelang siang, kuajak istriku pergi ke Kepanjen. Di sana, ada rumah saudara, sepupu kami. Sudah lama kami tidak ke sana untuk melihat pertumbuhan keponakan perempuan yang lahir dan menjadi kebanggaan keluarga. Sudah lama sekali sepupuku ini menunggu kehadiran buah hatinya.
Kehidupan yang dinanti-nanti, di belahan bumi lain ada kematian yang tak diinginkan. Butuh waktu 9 tahun di usia pernikahan sebelum akhirnya sang buah hati datang menyapa lewat tangisnya yang keras. Tangis yang disambut oleh tangis orang tua juga. Sedangkan kami sendiri, sudah ada tiga buah hati. Anak-anak yang cantik dan ganteng. Semuanya balita yang imut dan aku paling sulit memandikan serta mengganti popok.
Anak kami berusia 1 tahun dan 4,5 tahun. Si kakak, paling awal muncul di dunia ini, adalah ...