Disukai
1
Dilihat
2,751
SI FLEXING DAN SI SOMBONG
Drama


Ketika kita berbicara tentang tetangga, tentunya banyak yang berharap bahwa kita akan berbicara tentang kebaikan mereka. Apalagi dalam ajaran agama yang kuanut, yaitu Islam, bahwa memuliakan tetangga merupakan suatu keutamaan.

Tapi kalau tetangga kita adalah orang brengsek, gimana ya?

Apakah masih perlu kita muliakan?

Ketika saya menuliskan judul cerita ini, yaitu “SI FLEXING DAN SI SOMBONG”, saya memang akan bercerita tentang dua tetangga. Satu tetangga adalah tukang flexing, dan satu lagi adalah orang yang sangat sombong.

Ini adalah kisah tentang mereka, dua tetangga yang selalu membuat masalah dalam hidupku. Kisah ini terjadi semasa aku masih bujangan. Bahkan ini dimulai sejak aku masih kecil. Jadi, ini adalah kisah ketika aku masih tinggal di rumah orangtuaku. Mereka adalah tetangga menyebalkan yang bersifat turun temurun.

Kenapa kusebut turun temurun?

Karena perilaku mereka yang menyebalkan dan merugikan tetangganya itu diturunkan sampai ke anak-anaknya. Anak-anaknya adalah orang yang segenerasi denganku. Jadi, orangtuanya sebaya dengan orangtuaku, dan mereka telah memulai ulahnya sehingga membuat kami terganggu secara turun temurun.

Baiklah, akan kumulai dengan Si Flexing.

Si Flexing ini adalah tetangga sebelah kanan rumahku. Ipik, si kepala keluarga, adalah pegawai di sebuah perusahaan pemerintah. Nina, istrinya, adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka punya dua orang anak yang namanya Angga dan Dea. Mereka juga punya Asisten Rumah Tangga (ART) yang berganti-ganti, tapi setiap ART mereka selalu memiliki sifat menyusahkan. Mungkin ketularan dari majikannya.

Ipik sebenarnya tidak banyak nerurusan denganku. Sepertinya ia adalah pegawai yang fokus kepada pekerjaannya. Yang selalu membuat masalah adalah Si Nina. Ia adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yang gemar sekali flexing. Entah sepertinya Nina selalu ingin membuat keluarganya Nampak lebih berada dari keluargaku.

Kelak setelah aku dewasa, aku baru mengetahui bahwa pangkat kedua orangtuaku di kantor (Ayah dan Ibuku bekerja di perusahaan yang sama dengan Ipik) ternyata jauh lebih tinggi dari Ipik. Karena itulah mungkin Nina selalu ingin lebih (atau terlihat lebih) dibandingkan keluarga kami.

Ulah mereka dimulai dari kegiatan mereka mengganti mobil dan membangun rumah ketika rumah kami masih ala kadarnya. Belakangan aku mengetahui bahwa mereka mendapatkan semua itu dari hasil hutang. Aku tidak pernah bermasalah dengan itu. Tapi Nina selalu mengundangku ke rumahnya untuk bermain dengan Angga. Lalu aku mengetahui bahwa niat sebenarnya Nina mengundangku bermain ke rumahnya bukanlah agar aku bertemu Angga, melainkan untuk memperlihatkan rumahnya yang telah direnovasi.

Nina juga sering mengendarai mobilnya lalu memarkirnya di depan rumah kami, tujuannya apa lagi kalau bukan agar kami melihat bahwa ia memiliki mobil baru. Herannya, Nina juga seorang kleptomania. Tidak sedikit barang orang yang tertinggal di rumahnya, ia akui sebagai miliknya. Bahkan beberapa barang hilang di rumah tetangga juga ternyata ditemukan di rumahnya.

Bagaimana bisa ia berada di rumah tetangga?

Nah, ini yang mencengangkan. Entah bagaimana Nina sering sekali masuk ke rumah orang. Bahkan pernah suatu hari ketika aku baru saja pulang sekolah. Aku masuk ke rumahku dan melihat Nina berada di ruang tengah. Ia sedang menonton televisi seolah sedang berada di rumahnya!

Aku kaget melihatnya. Begitu pun ART di rumahku yang baru menyadari keberadaan Nina di ruang tengah setelah aku pulang.

Dan ternyata bukan kami saja yang mengalaminya. Tetanggaku yang lain pun banyak yang mengalami itu. Salah seorang ibu tetangga malah pernah kaget karena ketika ia pulang dan baru mencapai teras rumah, justru mendapati bahwa yang membukakan pintu rumahnya adalah ART Nina. Ya, kelakuan Nina memang telah menular kepada ART-nya.

Tentang ART Nina ini, ada kisah tersendiri.

Si ART ini di malam hari sering keluar rumah. Di kompleks rumah kami, adalah biasa ketika terdapat sebuah rumah yang dikontrakkan lalu rumah itu disewa oleh pengusaha dan menjadikannya tempat operasional usaha konveksi. Di rumah yang dijadikan tempat usaha konveksi itu, para pekerjanya ikut tinggal di sana. Si Lom, nama ART Nina, beberapa kali kusaksikan menyambangi rumah konveksi itu.

Bahkan pernah kudapati ia sedang dipeluk dari belakang oleh salah satu pemuda yang bekerja di rumah konveksi. Kudengar ucapan si pemuda, “Malam ini dingin ya.”

Setelah itu Si Lom dibawa masuk ke rumah konveksi. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, aku tidak tahu dan tidak mau tahu.

Pada kesempatan berikutnya ketika aku melewati rumah konveksi itu lagi, kudapati Si Lom sedang dipeluk-peluk oleh seorang pemuda di rumah konveksi. Hebatnya lagi, pemuda itu adalah orang yang berbeda dengan yang mengatakan malam dingin tadi. Sampai di sini bisa dilihat bahwa kelakuan majikan dan ART-nya memang berbanding lurus.

Kemudian, anaknya pun berperilaku tidak kalah mengganggunya. Angga adalah anak yang pencemburu. Ia selalu iri atas apa yang dimiliki anak lain. Tidak jarang ia berusaha merebut mainan yang kumiliki. Bahkan ia pernah sengaja datang ke rumahku hanya untuk merusak mainanku. Itu dilakukannya berkali-kali.

Yang paling parah, Angga pernah menuduhku mencuri mainannya. Ia melakukannya sambil menangis-nangis hingga orang-orang memandangku sebagai seorang pencuri. Padahal mainan yang ia tuduhkan kepadaku sebagai pencurinya itu adalah mainan yang ternyata ada di kamarnya. Saat itu aku memutuskan bahwa aku tidak akan pernah memaafkannya. Anak itu berusia satu tahun lebih muda dariku, dan ketika itu usiaku baru sebelas tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di usia sepuluh tahun sekalipun, Angga sudah menjadi seorang tukang fitnah.

Selain itu, yang tidak kalah parahnya, ia pernah melakukan klaim atas mainan yang kumiliki. Saat itu sedang ngetren mobil “KITT” dari serial Knight Rider. Aku memiliki sebuah mobil mainan yang menyerupai mobil itu. Angga yang melihat mobil mainanku itu langsung kambuh rasa irinya. Ia mengamuk dan mengatakan kepada orang-orang bahwa mobil mainanku adalah miliknya yang kucuri.

Angga juga selalu iri akan banyaknya teman yang kumiliki. Tidak heran, karena ia sendiri tidak punya teman.

Siapa yang mau berteman dengan orang sepertinya?

Tapi justru teman-temanku yang menjadi sasarannya. Setiap kali ada temanku yang bermain di rumahku, Angga selalu muncul di balik pagar rumahku. Ia membujuk agar temanku bermain di rumahnya saja. Memang teman-temanku selalu menolak ajakan Angga. Mereka juga tahu bagaimana perilaku Angga sehingga memilih untuk tidak dekat-dekat dengannya. Tapi tetap saja hal itu menggangguku. Keasyikan kami bermain menjadi terganggu dengan adanya Angga yang selalu muncul di balik pagar rumahku dan mengajak siapa pun yang menjadi tamuku untuk berpindah saja ke rumahnya.

Angga pernah melempari rumah salah satu tetangga dengan bola-bola yang dibuatnya dari tanah. Bahkan ia memecahkan jendela rumah tetangga lain menggunakan batu. Orang-orang tahu bahwa Anggalah pelakunya. Tapi ia selalu menyeret namaku, seolah aku ikut terlibat dalam perbuatannya. Padahal yang kulakukan ketika Angga sedang mengerjakan perbuatan bejatnya itu adalah duduk-duduk di teras rumahku.

Para tetangga yang rumahnya menjadi korban perbuatan Angga mendatangi rumahku. Karena fitnah Angga yang mengatakan bahwa akulah pelaku pelemparan rumah-rumah itu, orang-orang sempat mengira bahwa aku memang melakukannya. Ayah dan Ibuku bahkan harus mengonfirmasi kepada tetangga-tetangga bahwa aku tidak terlibat. Itu adalah hari yang cukup kelam dalam hidupku. Walaupun pada akhirnya semua permasalahan itu menjadi jelas dan Angga diketahui sebagai pelakunya, tapi kenyataan bahwa orang-orang sempat menuduhku adalah hal yang sangat menyakitkan.

Keadaan tidak berubah ketika kami beranjak remaja. Walaupun kami telah menjadi anak SMP maupun SMA, kenakalan Angga tidaklah berkurang. Hanya saja kenakalannya terkonversi sesuai dengan usia. Pernah suatu kali ia bermain bola di depan rumah kami. Saat itu rumahku telah direnovasi menjadi dua tingkat. Bola milik Angga mendarat di balkon lantai atas rumahku.

Angga pun mengetuk pintu rumahku untuk mengambil bolanya. Saat itu aku sedang mandi, sementara Ayah dan Ibu masih berada di kantor sementara adikku masih di sekolah. Keluarga kami sudah tidak lagi menggunakan ART ketika itu karena aku dan adikku sudah cukup besar untuk mengurus diri kami sendiri.

Karena aku sedang mandi, tentu saja aku tidak bisa menjawab Angga yang mengetuk pintu dengan keras. Lama kelamaan, ketukan pintu itu berubah menjadi gedoran. Ya, ia menggedor pintuku dengan keras, berkali-kali. Padahal dalam ajaran agama Islam, jika kita mengetuk pintu sebanyak tiga kali lalu tidak ada jawaban dari pemilik rumah, maka si pengetuk harus tahu diri dan pergi untuk kembali di lain waktu. Itulah etika dalam agama Islam. Entah Angga sebagai seorang Muslim pernah diajari mengenai hal itu atau tidak. Atau dia memang pernah diajari tapi memilih untuk tidak melakukannya, aku tidak tahu.

Setelah aku selesai mandi, kudapati bahwa Angga tidak lagi menggedor pintuku. Kupikir saat itu mungkin ia telah pulang.

Ternyata tidak.

Angga memanjat pohon untuk naik ke balkon lantai atasku. Ya, ia naik dan mengambil bolanya di sana. Aku sama sekali tidak menyangka kenekatan Angga itu. Karena bagaimana pun, aku bukannya tidak mau membukakan pintu atau mengambilkan bolanya. Hanya saja, ketika itu situasinya sedang tidak memungkinkan. Bahkan pada usia yang cukup dewasa sekalipun, Angga masih memasuki rumah orang lain tanpa izin.

Sejujurnya aku pernah berpikir bahwa ia telah berubah. Setelah remaja dan bertambah usia, kukira kami semua telah menjadi dewasa. Kami menjadi para pemuda yang sudah mengerti tentang etika dan bagaimana berlaku kepada orang lain.

Ternyata tidak.

Angga tetaplah Angga yang dulu, ia hanya berubah secara fisik, tapi tidak dengan perilakunya.

Lalu aku teringat dengan Nina. Dari situ aku menyadari bahwa Nina dengan perilakunya adalah orang yang telah dewasa dan memiliki anak. Jika orang berusia dewasa seperti Nina saja masih bisa berperilaku seperti yang telah kuceritakan di atas, maka mengapa tidak mungkin bagi remaja seumur Angga untuk tetap berlaku seperti anak nakal sebagaimana yang telah dilakukannya selama ini?

Penderitaanku dengan keberadaan Angga dan keluarga pun akhirnya usai ketika mereka pindah dari komplek rumah kami. Itu adalah suatu momen dalam hidupku yang sangat kusyukuri.

Ipik harus menerima kenyataan bahwa dirinya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Setelah menerima PHK, sepertinya mereka sekeluarga harus menjual rumahnya dan pindah ke rumah yang lebih kecil. Aku turut berduka atas musibah yang menimpa mereka, meskipun di sisi lain aku bergembira karena perginya tetangga yang menyebalkan.

Bahkan saat kepergiannya pun, keluarga itu masih menimbulkan masalah. Mereka sama sekali tidak pamit kepada tetangganya. Lebih parah lagi, mereka tidak melapor kepada ketua Rukun Tetangga (RT) di daerah kami. Pak RT sampai kebingungan melihat rumah keluarga Ipik yang tiba-tiba telah menjadi kosong. Hal itu sampai ramai dibahas dalam acara arisan warga RT kami.

Baru beberapa bulan kemudian, Nina mengirimkan pesan SMS kepada ketua RT bahwa keluarganya mengundang selamatan rumah baru. Dan itu dilakukannya hanya melalui pesan SMS tersebut. Nina tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di komplek rumah kami, begitupun dengan Angga. Yang pernah kulihat hanya Ipik. Ia pernah muncul, satu kali, untuk salat Jumat di masjid komplek kami. Aku mengingat hari itu karena bertepatan dengan hari bahagia untukku. Itu adalah hari ketika aku menerima kabar kelulusanku di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang menyatakan bahwa aku diterima di perguruan tinggi idamanku sejak masa sekolah menengah.

Itulah kisah tentang Si Flexing.

Seperti yang telah kusebutkan di awal cerita tadi, bahwa aku akan membahas dua orang tetangga. Setelah Si Flexing usai, izinkan aku menceritakan tetangga satunya lagi, yaitu Si Sombong.

Si Sombong adalah tetangga depan rumahku. Ia adalah seorang Bapak-bapak yang banyak menghabiskan waktunya di rumah, bahkan di hari kerja. Istrinya setiap pagi pergi bekerja di kantornya, sebuah klinik di tengah kota, dan baru pulang di sore hari bahkan tidak jarang malam hari.

Ketika Si Sombong dan keluarganya pindah ke komplek perumahan kami, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami profesi atau pekerjaan orang dewasa. Karena itu aku tidak terlalu ambil pusing melihat Si Sombong yang hampir selalu berada di rumah, berbeda dengan Ayah dan Ibu yang selalu pergi ke kantor setiap hari kerja. Memang sesekali ia pergi ke luar menggunakan mobil. Mobil yang dikendarainya selalu berbeda, karena aku tahu bahwa itu bukanlah mobil miliknya. Tapi ketika itu aku belum mengetahui bagaimana Si Sombong bisa mengendarai mobil berbeda setiap kali pergi ke luar. Saat aku dewasa baru aku mengetahui bahwa itu adalah mobil proyek.

Ketika terjadi musim maling di komplek perumahan kami, Ayah berpesan untuk segera menghubungi dua Bapak-bapak yang berada di rumah pada siang hari apabila terjadi apa-apa. Bapak pertama adalah seorang pensiunan, dan yang kedua adalah Si Sombong. Saat itu Ayah menyebut Si Sombong sebagai “orang yang pekerjaannya tidak mengharuskan mereka pergi ke kantor”. Saat itu aku melihat bahwa betapa enaknya hidup Si Sombong, bisa bekerja tanpa harus pergi ke luar rumah.

Oh ya, mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa aku menyebutnya sebagai “Si Sombong”.

Apakah ia menyombongkan kekayaannya, atau bersifat seperti Si Flexing?

Tidak.

Ia bahkan terlihat seperti orang yang kekurangan. Dalam belasan tahun kami menjadi tetangga, Si Sombong tidak pernah bisa merenovasi rumahnya. Bahkan keluarganya tidak pernah memiliki kendaraan. Istrinya setiap hari pergi dan berangkat kerja menggunakan angkutan umum.

Lalu kenapa ia kunamai “Si Sombong”?

Ya karena ia memang sombong. Bedanya, yang disombongkan olehnya bukanlah dirinya sendiri, melainkan anaknya. Anak Si Sombong memang pintar. Ia selalu menjadi juara kelas, bahkan juara sekolah. Si Sombong selalu membanggakan anaknya. Bahkan tanpa diminta, ia memperlihatkan buku rapot anaknya kepada anak-anak yang sedang bermain di sekitar rumahnya. Padahal tidak ada seorang pun yang menanyakannya. Tapi itulah Si Sombong, selalu memamerkan dan memberitahu orang lain mengenai hal yang belum tentu orang lain menginginkan untuk mengetahuinya.

Herannya, Si Sombong sering sekali mengamuk. Ia suka memarahi anak-anak di sekitar rumahnya. Bahkan ART di rumah Si Sombong pun jarang ada yang betah bertahan lama bekerja di sana. Kebanyakan kabur setelah beberapa bulan.

“Bapak suka marah, saya nggak tahan.” Cerita seorang ART yang bertamu ke rumahku saat Si Sombong sedang pergi ke luar (sepertinya untuk bekerja).

Ketika masa orde baru masih menaungi Indonesia, Si Sombong cukup sering pergi ke luar dengan mobil proyek. Mungkin permintaan pekerjaan kepadanya masih sering datang. Bisa jadi proyek Si Sombong sangat didukung oleh kebijakan pemerintah ketika itu. Tapi setelah orde baru berganti dengan orde reformasi, Si Sombong semakin sering berada di rumah. Bahkan tidak jarang ia terlihat berada di rumah selama berbulan-bulan.

Kegiatan yang dilakukannya pada awal orde reformasi adalah menjadi petugas partai. Ia memasang bendera partai ukuran jumbo di garasinya. Si Sombong juga menempeli dinding rumahnya dengan stiker partai itu. Si Sombong juga sering mengampanyekan pesan-pesan yang dibawa partainya. Padahal orang-orang juga tahu bahwa tidak ada yang akan memilih partai usungan Si Sombong. Itu hanyalah partai bentukan seorang demonstran. Tentu kalah dengan partai-partai elit.

Kenyataannya memang demikian. Partai Si Sombong hanya menjadi partai gurem di pemilihan umum 1999. Hanya 4 orang di seluruh komplek kami yang memilih partai itu. Siapa lagi kalau bukan Si Sombong, istrinya, serta kedua mertuanya. Usai penghitungan suara, Si Sombong terlihat kecewa. Sepertinya ia bukan hanya sebatas simpatisan. Dugaanku, Si Sombong berharap mendapatkan pekerjaan serius di partainya jika partai itu berhasil melenggang ke Senayan. Apa boleh buat, partai Si Sombong bubar setelah pemilihan umum 1999.

Setelah pemilihan umum usai, Si Sombong memiliki hobi baru. Ia memelihara burung. Pekarangan depan rumahnya dipenuhi kendang burung yang suaranya cukup berisik. Jika hanya satu atau dua ekor mungkin normal. Tapi Si Sombong memelihara hingga sepuluh ekor burung. Mungkin ia menjadikan burung-burung itu sebagai hiburan karena tidak kunjung mendapat proyek. 

Si Sombong semakin sering terlihat marah-marah. Bahkan terkadang ia marah karena hal yang menjadi halusinasinya. Pernah ia menuduh keluarga kami merusak tiang listrik. Tuduhan yang aneh. Mungkin karena terlalu lama berada di rumah, pikirannya menjadi terganggu.

Terkadang Si Sombong duduk di teras rumahnya pada pagi hari dengan mengenakan kemeja dan celana untuk pergi ke kantor. Ia juga mengenakan kacamata sambil membaca koran dan merokok, seolah itu ia lakukan sambil menunggu saatnya pergi ke kantor. Yang membuatnya terlihat aneh, kegiatan itu dilakukannya pada pukul sepuluh pagi.

Kantor apa yang pekerjanya masih berada di rumah pada pukul sepuluh pagi?

Bahkan setelah itu, Si Sombong kembali masuk ke rumahnya. Ia baru terlihat duduk di teras lagi pada sore hari, mengenakan kaus obolong, sambil merokok. Mungkin yang ia lakukan di pagi hari tadi hanya sebuah pencitraan. Ia perlu memperlihatkan kepada tetangga-tetangganya bahwa dirinya hendak pergi ke suatu tempat untuk bekerja. Setelah para tetangga melihatnya berpakaian rapi seolah hendak bekerja, ia pun masuk kembali dan menghilang sepanjang hari, untuk kemudian tampil kembali dengan kaus oblong di sore harinya agar tetangga melihatnya sebagai seseorang yang sedang melepas Lelah setelah bekerja seharian.

Keadaan seperti itu tidak membuat kesombongan dari Si Sombong berkurang. Si Sombong tetap selalu memamerkan kepintaran anaknya. Setiap kali anaknya berhasil masuk ke sekolah favorit, Si Sombong selalu berkoar kepada tetangganya. Para tetangga berpikir sebaliknya. Mereka justru kasihan kepada si anak. Melihat bapaknya berperilaku demikian, para tetangga berasumsi bahwa si anak hidup dalam ketakutan. Si anak berjuang keras untuk menjadi yang terpintar dan terbaik untuk menghindari amukan Si Sombong. Masuk akal, aku juga jadi berpikir demikian dan merasa kasihan kepada anak Si Sombong.

Ketika anak Si Sombong berhasil masuk perguruan tinggi terbaik, tentu saja Si Sombong kembali berkoar. Tapi kesombongan Si Sombong kali ini tidak bertahan lama. Sebabnya adalah, aku juga berhasil masuk ke perguruan tinggi yang dimasuki anak Si Sombong. Sejak itu, Si Sombong sedikit berkurang kesombongannya. Ia tidak lagi berkoar atas kepintaran anaknya. Mungkin karena kini ia melihat bahwa keberadaanku bukan lagi sebagai sasaran pamernya, melainkan sebagai seseorang yang sepadan dengan anaknya.

Si Sombong menjadi semakin jarang terlihat setelah aku menjadi mahasiswa. Biasanya, di malam hari ia sering berada di teras rumahnya. Tidak jarang ia duduk-duduk di sana sambil bermain gitar. Entah itu gitar siapa, karena setahuku di antara anak-anak Si Sombong, tidak ada satu pun yang bisa bermain gitar.

Ketika aku memasuki tingkat tiga, Si Sombong sudah tidak pernah terlihat. Spekulasi di antara para tetangga pun berkembang. Ada yang mengatakan bahwa Si Sombong sedang mengerjakan proyek di Papua. Ada juga yang mengatakan bahwa Si Sombong sedang mengerjakan proyek pemerintah. Dan banyak lagi asumsi bertebaran di komplek perumahan kami.

Tapi jawaban atas spekulasi itu ternyata berbeda dari asumsi yang beredar. Suatu hari, di sebuah acara arisan, istri Si Sombong menceritakan semuanya. Itu bermula dari pertanyaan seorang ibu peserta arisan yang menanyakan tentang Si Sombong yang jarang terlihat. Pertanyaan itu memicu istri Si Sombong untuk menceritakan semuanya.

Ternyata mereka telah bercerai.

Kenyataan yang terjadi adalah, selama ini Si Sombong tidak memiliki pekerjaan. Ia hanya seorang pekerja panggilan yang meminjam mobil kantor setiap kali dipanggil. Rumah yang ditempati Si Sombong adalah hasil jerih payah istrinya. Hampir dua puluh tahun mereka menikah dan sang istrilah yang menjadi pejuang nafkah utama keluarga mereka.

Ibu-ibu di arisan itu segera memberi ucapan penguat bagi istri (atau mantan istri) Si Sombong. Mereka kagum akan kesabaran si mantan istri.

Tidak lama kemudian, sang mantan istri menikah lagi dan diboyong ke kota lain oleh suami barunya. Rumah miliknya ditinggalkan untuk diurus oleh sang anak.

Dan ternyata sang anak juga tidak kalah merepotkannya dari Si Sombong, walaupun kali ini dalam bentuk lain.

Dia ternyata hanya pintar secara akademis, tapi tidak dalam kehidupan maupun bermasyarakat. Tidak jarang ia lupa mengisi token listrik rumahnya sehingga panel listriknya berbunyi sepanjang malam dan mengganggu tetangga. Ia juga pernah menebang pohon-pohon di pekarangan rumahnya dan menunggu tukang sampah dengan sukarela mengangkut hasil tebangan tersebut. Sudah tentu sampah pohon rumahnya berserakan di pinggir jalan komplek selama berminggu-minggu. Tidak akan ada orang yang dengan sukarela mengangkutnya.

Yang lebih parah lagi, ia merenovasi rumahnya dan membuat sebagian jalan dipenuhi brangkal. Ia juga memarkir mobilnya di pinggir jalan, bukan di garasi. Mobilnya itu menghalangiku setiap kali hendak memasuki garasi rumah ketika pulang kerja.

Memang benar bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Setelah era Si Sombong, lalu dilanjutkan oleh anaknya yang perilakunya mengganggu tetangga.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi