Disukai
0
Dilihat
375
Rencana
Horor

Sisil terlonjak kaget ketika dukun tua itu mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap dan menutup pintu ruangan itu dengan keras. Sisil memgerjapkan matanya berulang kali agar bisa beradaptasi dengan cahaya lilin yang redup di kamar itu.

"Buk?"

Sekali lagi Sisil terlonjak kaget. Seketika dia merinding ketika mendengar suara yang memanggilnya. Sisil mengenali suara itu, kalau tidak salah itu adalah suara Mita, anak bungsunya.

"Buk, jangan bawa Mita ke sini, ya, Buk? Nanti Mita bisa sakit."

Sisil semakin merinding dan gemetaran ketika melihat Mita sedang bermain boneka di ujung tempat tidur Mita, seperti yang biasa dilakukan Mita menjelang tidur. Mita tersenyum pada Sisil.

"Ayo, sini, main sama Mita," kata Mita sambil mengulurkan sebuah boneka pada Sisil.

Sisil terpaku di tempatnya berdiri. Dia tahu yang di depannya bukanlah Mita, anaknya. Sisil tahu, dia sedang diuji untuk menentukan apakah dia serius atau tidak mengambil pesugihan Bajul Putih itu.

"Ayo, Buk!" seru Mita setengah memaksa. Sisil memandang Mita dengan pandangan iba dan merana. Sisil menangis.

"Mit ... kenapa kamu tidak mau bermain di sini?" tanya Sisil perlahan. Mita mendongak dan memandang Sisil dengan penuh kebencian.

"Kalau Mita main di sini sakit, Buk. Nanti Mita digigit buaya," kata Mita sambil menunjukkan kakinya yang sudah terpotong separuh karena digigit oleh buaya yang berenang-renang di bawah Mita.

"Oh!" seru Sisil sambil mundur. Ranjang tempat Mita bermain sudah berubah menjadi kolam yang airnya berwarna kehijauan. Sisil melihat seekor buaya putih berenang resah di bawah permukaan air kolam itu dan tiba-tiba saja buaya itu menggigit kaki Mita yang lain.

"Aahhh! Sakit, Buk! Sakit!" teriak Mita.

Tubuh Mita perlahan tenggelam ke dalam kolam misterius itu. Tangan Mita menggapai-gapai Sisil, dia meminta pertolongan Sisil, tetapi Sisil hanya membeku di tempatnya berdiri.

Perlahan kolam itu menghilang dari pandangan Sisil. Kemudian Sisil melihat seorang anak lelaki yang sepertinya sedang belajar dengan tekun di meja belajarnya. Sisil terkesiap ketika menyadari bahwa anak lelaki itu adalah anak keduanya. Arif.

Arif menoleh ke arah Sisil. Dia tersenyum samar. Ah, senyum itu membuat Sisil merinding ketakutan.

"Jangan, Buk! Jangan biarkan Arif belajar di sini," kata Arif dengan suara yang lemah. Sisil nyaris meraih Arif yang nampak tak berdaya.

"Mas ...." Sisil memanggil Arif dengan penuh kesedihan. Tetapi tubuh Arif melorot ke bawah. Sisil melihat seekor buaya putih melahap tubuh Arif bulat-bulat.

Arif berteriak minta tolong. Dia menggapai-gapai tangan Sisil dengan pandangan yang sangat menyesakkan dada. Sisil tersungkur sedih. Dia menangis lagi, sambil sesekali memanggil-manggil Arif, anak kesayangannya, tetapi hanya kesunyian yang menjawab panggilan Sisil.

"Mau berhenti?" Terdengar pria tua di belakang Sisil. Sisil menoleh dan melihat dukun tua tadi berdiri di belakangnya. Wajah dukun itu tampak mengejek Sisil.

"Mau lanjut atau tidak?" tanya dukun itu lagi, "semua anakmu akan dimakan oleh Bajul Putih dan kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan. Bagaimana? Mau lanjut atau tidak?"

Sisil tepekur. Dia memandang ke arah dukun tua itu dengan pasrah.

"Kalau kubatalkan apa yang akan terjadi, Mbah?" tanya Sisil sangsi. Dukun itu mencibir.

"Ya, kamu tetap kehilangan kedua anakmu yang sudah dimakan buaya tadi. Mereka tidak akan bisa kembali lagi dan kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu tidak akan bisa kaya sampai kapanpun," kata dukun itu. Wajah Sang Dukun terlihat merengut. Sepertinya dia marah dengan keputusan Sisil.

Sisil memandang ruangan remang itu dengan hampa. Dia mengembuskan napas panjang.

"Aku mau lanjut, Mbah," bisik Sisil.

Hening. Tidak ada jawaban dari Mbah Dukun. Sisil menoleh dan melihat anak sulungnya yang memakai toga berjalan dengan bangga ke arahnya.

"Buk, aku sudah lulus!" seru Liani bangga. Dia memeluk Sisil dengan penuh kebahagiaan. Sisil mematung dan menunggu kengerian apa yang akan terjadi.

"Ibuk? Kenapa, Buk?" tanya Liani. Sisil tersenyum lemah.

"Kamu harus mau tinggal di sini, ya, Ni?" bisik Sisil dengan suara gemetar menahan air mata. Dia tidak tega membuat Liani yang baru saja lulus SMA dan harus menjadi tumbalnya. Sisil menangis sejadi-jadinya. Liani memandang Sisil dengan heran dan sedikit kesal.

"Ibuk egois!" desis Liani, "aku tidak mau tinggal di sini sendirian. Aku akan mengajak Ibuk untuk menemaniku di sini!"

Liani melingkarkan tangannya di pinggang Sisil. Sisil menjerit kaget, tetapi dia terlambat. Mereka berdua --Liani dan Sisil-- tenggelam dengan cepat ke sebuah kolam yang airnya begitu dingin. Sisil sangat panik. Dia mulai memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Liani, tetapi tidak bisa. Entah kenapa Liani menjadi begitu kuat dan sangat bertenaga, bahkan membuat Sisil kehabisan napas. Sisil mulai terbatuk karena air mulai memasuki hidung, telinga dan mulutnya.

Sisil gelegapan, tetapi anehnya Liani tidak. Liani menyelam di samping Sisil dengan santai, dan bahkan mentertawakan Sisil yang sudah mendekati ajalnya itu. Sisil melirik Liani dengan keheranan, tetapi dia tidak sempat bertanya pada Liani, karena semakin lama tekanan di dadanya semakin berat, Sisil semakin sulit bernapas dan akhirnya dia menyerah pada kegelapan yang menariknya untuk terus turun ke dasar kolam yang gelap itu ....

 

****

 

Sisil terbangun dan terbatuk-batuk tanpa henti. Mimpinya tadi benar-benar terasa begitu nyata. Sisil terengah dan mengalami sesak napas. Dadanya sakit sekali, seperti mimpinya tadi.

"Oh!" Sisil berteriak panik ketika menyadari bahwa asap tebal-lah yang membuatnya batuk dan sesak napas.

Asap itu mengelilingi Sisil, membuat Sisil tidak bisa bernapas dan melihat. Dia benar-benar panik. Tetapi walaupun demikian, Sisil berusaha bangun dan mencari anak-anaknya.

"Liani! Arif! Mita?" Sisil berteriak memanggil ketiga anaknya, tetapi suaranya tertelan oleh deru keras dari atas Sisil. Sisil mendongak dengan panik mendengar deru mengerikan itu dan berteriak histeris ketika melihat api yang begitu besar membakar rumahnya.

Sisil menjerit minta tolong, tetapi suaranya kalah dengan deru api yang mulai merambat ke seluruh bagian rumah Sisil. Sisil terdiam dan mulai menangis. Dia takut anak-anaknya akan terluka atau bahkan meninggal dunia karena api yang membakar rumahnya ini.

"Bukankah ini yang kamu inginkan, Sil? Kekayaan berlimpah ruah yang diganti oleh ketiga anakmu. Bukankah ini yang telah kamu sepakati dengan dukunmu?"

Darah Sisil bagai berhenti mengalir mendengar suara itu. Dia menoleh dan melihat seorang wanita cantik tak terkira berdiri di belakang Sisil. Wanita itu memakai kebaya dan kain jarik serba putih, dia juga memakai mahkota putih yang berkilauan di tengah amukan api di rumah Sisil. Wanita itu tersenyum pada Sisil.

"Aku adalah Dewi Bajul Putih yang sebenarnya. Aku yang seharusnya kamu sembah agar kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dan kamu minta dariku. Tetapi perkataanmu kemarin membuatku sakit hati, Sil," kata wanita cantik yang mengaku bernama Bajul Putih itu.

"Perkataanku yang mana?" tanya Sisil penasaran. Bajul Putih mencibir dengan marah.

"Perkataanmu yang menyebutkan bahwa kamu berniat membatalkan perjanjian kita, Sil." Wanita cantik itu mendengkus. Dia memandang Sisil dengan penuh kemarahan.

"Oleh karena itulah aku marah dan ... dan aku juga akan mengambilmu sebagai tumbal pesugihanmu sendiri!" teriak wanita itu.

Sisil gemetar ketakutan mendengar suara teriakan wanita itu, karena suaranya menyerupai deru api di sekeliling Sisil. Wanita itu menghilang, meninggalkan Sisil yang kebingungan, ketakutan dan gemetar tak habis-habisnya.

"Sisil! Sisil! Ayo, ikut denganku!" terdengar teriakan dari atas Sisil. Secara refleks Sisil mendongak dan melihat api yang menyala-menyala di atap rumahnya dan kemudian atap rumah Sisil yang sudah hancur menjatuhi Sisil dengan suara yang memekakkan telinga ....

 

****

 

Darus melihat keramaian di gang masuk rumahnya. Dia mendengar orang-orang berteriak bahwa ada kebakaran. Darus bergidik. Dia segera mengamankan motornya di depan warung tetangganya, karena gang masuk rumahnya sudah penuh orang.

"Pak Darus! Pak Darus? Masya Allah, Pak Darus, rumahnya kebakaran!" teriak salah seorang warga pada Darus.

Darus membeliak tak percaya, tangannya gemetaran ketika melepas helm.

"Pak Darus, sabar, ya, Pak?"

"Istighfar, ya, Pak?"

Orang-orang mulai mengelilingi Darus dengan gumaman bersahut-sahutan yang membuat kepala Darus pusing. Dia mencoba untuk menata hati dan tidak menangis mendengar ungkapan berbela sungkawa dari para tetangganya.

"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Darus dengan suara gemetar. Air mata mulai menetes di pipinya satu per satu. Tetangga Darus terdiam dan berpandangan satu sama lain, membuat Darus semakin gugup dan tak menentu.

"Sabar, ya, Pak Darus," kata salah seorang tetangganya memberanikan diri menjawab pertanyaan Darus tadi, "para pemadam kebakaran baru saja menemukan empat jenazah dari dalam rumah Pak Darus ...."

Darus menjerit frustasi tanpa menunggu kalimat tetangganya itu selesai. Dia langsung berlari ke rumahnya sambil terus berteriak memanggil Sisil, Liani, Arif dan Mita di sepanjang jalan. Darus memberontak liar, ketika orang-orang melarang Darus masuk ke dalam rumahnya yang sudah hampir hancur itu.

"Keluarga saya harus diselamatkan, Pak! Sisil mana, Pak? Mana anak-anak saya?"

Teriakan Darus membuat para orang-orang ikut menangis haru. Mereka membiarkan Darus berteriak-teriak histeris dan menangis tersedu tanpa henti di depan rumahnya yang sekarang sudah menjadi puing itu. Hingga akhirnya Darus berhenti sendiri karena kelelahan.

"Bolehkah saya melihat keempat jenazah keluarga saya, Pak?" tanya Darus kepada salah seorang pemadam kebakaran yang berdiri di dekat Darus, "siapa tahu mereka bukan keluarga saya. Siapa tahu mereka tamu yang sedang berkunjung ke rumah saya," lanjut Darus dengan wajah penuh harap. Pemadam kebakaran itu memandang Darus dengan iba. Dia mengangguk dan segera mengantarkan Darus ke dua buah mobil ambulan yang berada di lapangan.

Darus menoleh dan tersenyum kepada petugas pemadam kebakaran yang mengantarnya melihat empat kantung jenazah warna kuning yang memang berisi keluarga Darus yang sudah meninggal.

"Apa boleh saya menemani keluarga saya sendirian, Pak?" tanya Darus memelas. Petugas pemadam kebakaran itu menjengit kaget, tetapi kemudian mengangguk dan segera meninggalkan Darus sendirian.

Sepeninggalan petugas pemadam kebakaran tadi, Darus menghapus air matanya dan mengembuskan napas lega.

"Hampir saja aku tertawa lega tadi," gumam Darus, "untung aku masih bisa menahan diri dan masih bisa pura-pura menangis."

Darus tersenyum penuh kemenangan melihat keempat kantung jenazah itu lagi. Dia menyentuh wajah Sisil yang sebagian masih utuh, walaupun tubuhnya sudah hangus dan hancur.

"Maaf, ya, Sil. Aku tahu kamu hendak menumbalkan anak-anak kita. Tetapi sebenarnya aku sudah punya rencana lain jauh sebelum rencanamu. Aku sudah lebih dulu mengunjungi Dewi Bajul Putih dan berniat menumbalkan kalian semua demi pangkatku. Maaf, ya, Sil. Aku bersaksi kamu adalah istri yang solehah dan baik," bisik Darus. Dia tersenyum lagi dan segera menutup kantung jenazah Sisil.

Telepon Darus berdering. Bos Darus --yang telah mendengar kabar duka itu-- mengucapkan belasungkawa sekaligus membawa kabar baik, bahwa Darus diangkat sebagai kepala cabang di ibu kota. Darus nyaris tertawa dan bersorak gembira mendengar kabar itu. Dia sudah membayangkan besarnya gaji sebagai kepala cabang di ibu kota.

Darus mengembuskan napas panjang. Dia harus menahan diri dan bersabar sebentar lagi, karena sandiwara dukanya masih cukup panjang ....

 

****

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi