Aku tidak pernah menatap cermin. Aku baru menyadari hal itu ketika Bandi mencoba mencintaiku.
“Ayu? Kau tipe wanita biasa saja. Menurutku kamu cantik, tapi tidak terlalu cantik. Tak ada yang benar-benar menarik darimu. Namun entah mengapa, aku bisa jatuh cinta.”
Kalimat Bandi berakhir pada kata ‘cinta’, tepat sebelum aku terkesiap dan terjaga dari tidurku.
Aku malu mengakuinya, tetapi aku selalu mual setiap kali seorang pria berusaha mendekatiku. Bukan metafora, melainkan dalam artian harfiah: ingin memuntahkan seluruh isi perut ke lantai. Terkadang aku meratapi nasib ini. Aku ingin sekali merasakan romansa berpacaran, menggandeng tangan seorang pria, atau tersenyum sendiri menatap gombalan picisan ala anak SMA di ponsel. Seperti: Kuda apa yang bikin bahagia? Kudapat pacar sepertimu. Aku pasti akan tersenyum seperti orang senewen, walau kuakui gombalan begitu terlalu kekanak-kanakan untuk umurku yang sudah dua puluh sembilan tahun.
Aku iri pada teman-temanku yang menghabiskan masa remaja dengan romansa. Beberapa bahkan sudah berpacaran sejak SMP. Dari sana, aku melihat sebuah pola dan menjuluki mereka sebagai "perempuan pilihan". Bak konsep yin dan yang, atau penggolongan manusia biasa dan luar biasa dalam buku Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky. Dan aku, jelas bukan perempuan-perempuan pilihan.
Kami bersahabat berlima: Penny, Alya, Raisa, Mely, dan aku. Penny, Alya, dan Raisa adalah primadona sekolah karena kecantikan mereka yang tanpa cela. Tiga dara yang sempurna. Minimal satu atau dua bulan sekali, mereka pasti berganti pacar. Lelaki yang mendekati mereka pun bukan sembarangan—kalau tidak tampan, minimal anak anggota DPR. Setiap kali mereka putus, cowok-cowok langsung berbondong-bondong mengantre, tak peduli meski sering ditolak mentah-mentah hingga dimaki.
Aku tak heran mengapa aku dan Mely bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan itu. Meski kami tidak cantik, orang tua kami menjabat sebagai anggota DPR. Begitulah kriteria perempuan mencari teman. Berbeda dengan lingkaran cowok; semua boleh masuk yang penting masih bernapas. Lamat-lamat kupikirkan, kehidupan lelaki dan perempuan memang timpang.
Hari itu adalah kali pertama aku muntah. Roma sekonyong-konyong masuk ke kelas saat jam istirahat, membawa sebatang cokelat dan seikat mawar merah yang hampir ranum. Seisi kelas bersorak menggoda. Seketika, kurasakan jeroanku berputar bak mesin cuci. Kerongkonganku terasa asam. Aku melesat keluar, meninggalkan ruangan.
Seluruh isi perutku terhambur ke dalam wastafel. Huekk... huekk...
Melly berdiri di belakangku sambil mengelus punggung. “Kenapa, Hey? Kenapa?”
Aku diam, karena aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Setelah kejadian itu, teman-teman sering mencemoohku dengan menirukan suara muntah setiap kali aku lewat. Gosip menyebar cepat dari ruang kelas hingga ke begundal-begundal penunggu koridor. Aku sempat frustrasi. Teman-teman perempuan yang lain berusaha simpati dan memintaku bercerita, tetapi aku tidak mengerti dan memilih tak ambil pusing.
Namun, Roma tidak menyerah. Melalui Melly, ia menitipkan cokelat dan surat permohonan maaf atas peristiwa hari itu. Aku menerimanya dan merasa tersanjung. Di zaman sekarang, jarang ada pria yang beriktikad baik dan tak segan meminta maaf. Sejak itu, ia rutin mengirimiku cokelat lewat Melly karena tak berani menemuiku langsung. Setelah cokelat kelima, hatiku luluh sekaligus penasaran. Apa benar ia menyukaiku, atau hanya merasa bersalah? Bagiku, Roma adalah pria yang agresif, dan pria agresif biasanya playboy. Ah, mana mungkin dia tulus, Kutepis udara di depanku.
Lagipula, ia datang membawa cokelat dan bunga tanpa ada sinyal sama sekali sebelumnya. Tetap saja mencurigakan. Barangkali ia kalah taruhan, atau aku memang sedang dijadikan bahan taruhan oleh anak-anak lelaki lain. Aku berusaha menepis kecurigaan jahat itu.
Meski tidak pernah berpacaran, seluruh lingkaran pertemananku punya kekasih. Mereka kenyang pengalaman menghadapi beragam watak pria. Dari Penny, Alya, dan Raisa, aku belajar banyak. Mereka adalah perempuan yang selalu jadi pilihan, sedangkan aku adalah perempuan yang bukan pilihan—yang mirisnya, mungkin suatu saat hanya akan jadi tempat pelarian. Persetan dengan semua lelaki.
Suatu hari saat istirahat, aku berpapasan dengan Roma. Mata kami bertemu. Ia melempar senyuman tipis lalu menunduk sopan. Setelah papasan itu, makanku tidak tenang. Aku terus memikirkannya. Anehnya, saat bertemu tadi aku tidak mual. Didorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk menemuinya sepulang sekolah.
Saat bel berbunyi, aku bergegas mencarinya di antara kerumunan dan mendapati Roma sedang duduk sendirian di samping musala. Aku mendekat. Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar, makanan di perutku berontak. Huekk... huekk... Untunglah kali ini hanya muntah angin.
Aku segera berlari ke kamar mandi dengan perasaan luar biasa malu. Apalagi sempat kulihat sudut mata dan bibirnya tertarik heran. Aku takut dia mengira aku sedang mengejeknya, tetapi jauh lebih memalukan jika dia tahu bahwa aku benar-benar mual karena kedatangannya. Rasa mualku memang selalu memburuk setiap kali seorang pria mencoba mendekat, terlebih jika pria itu tampan. Muntahku bisa mengucur deras, sederas air mancur Tugu Pancoran.
Terhitung ada lima orang yang mendekatiku selama SMA. Mereka semua adalah para prajurit yang gugur sebelum sempat menaklukkan hati Penny, Alya, atau Raisa. Sementara Mely, tidak ada satu pun orang yang mendekatinya, tetapi dia tampak tidak peduli. Setelah lulus, kami berpisah jalan.
Selama empat tahun kuliah, hanya ada dua orang yang mencoba mendekatiku. Pertama adalah Iswandri, sahabatku sejak berstatus mahasiswa baru. Ia mengungkapkan perasaannya saat kami menginjak semester lima. Akibatnya, aku mual hebat dan muntah kuning tepat di depannya.
Malam itu, ia menyiapkan kejutan makan malam romantis di sebuah kafe. Meja di tepi kolam renang, sepasang kursi berhadapan, dan makanan yang masih tertutup tudung stainless steel mengilat. Sejak awal kedatangan, aku sudah menangkap keanehan. Iswandri merapikan rambutnya, melepas kacamata, dan memakai parfum sewangi semerbak—berubah 180 derajat dari biasanya.
Aku mencoba bersikap biasa saja sampai ia tiba-tiba menggenggam tanganku dan mengucapkan kalimat panjang. Badanku seketika membeku. Suaranya tak terdengar lagi, aku hanya bisa menangkap gerak bibirnya saat rasa jijik perlahan merayap dari ujung kepala hingga ujung kaki.
HUEKKKKK!
Tanpa aba-aba, seluruh sisa makanan, lendir, dan rasa cemas tumpah ke atas meja. Iswandri terpaku, menatap nanar tak percaya melihat orang yang ia sukai mendadak seperti seekor kucing yang hobi muntah sembarangan.
Aku meminta maaf melalui pesan WhatsApp, lalu memblokir semua akses komunikasinya. Aku sangat malu. Aku sadar bahwa aku adalah orang aneh yang tidak bisa jatuh cinta. Sejak hari itu, aku memutuskan untuk tidak akan pernah berpacaran, tidak akan menyukai pria, dan berhenti bermimpi tentang hubungan romantis.
Sampai akhirnya aku bertemu Bandi.
Bandi adalah teman sekelasku, orang yang terasa seperti cermin bagiku. Bukan karena dia punya sindrom muntah yang sama, melainkan karena dia adalah pria yang biasa-biasa saja. Tidak buruk, tapi juga tidak ganteng. Seluruh fitur di wajahnya seolah tidak selaras—matanya bagus tapi tidak cocok dengan hidungnya, dagunya belah tapi tidak serasi dengan pipinya. Dia bukan lelaki pilihan, dan karena itulah dia menjadi cerminanku.
Kami bersahabat dan bercanda layaknya teman masa kecil, bahkan saling mengolok tanpa canggung. Aku sering mencubit perutnya dengan gemas tanpa ada perasaan janggal sebagai seorang wanita. Aku nyaman bersamanya karena merasa setara, bak saudara kandung. Aku bahkan tidak mual kalau dia iseng mengucapkan “I love you,” sebab aku tahu dia hanya bercanda.
Namun, belakangan aku baru sadar bahwa cinta itu abstrak dan multitafsir. Satu-satunya hal mutlak dari konsep cinta adalah: semakin besar rasa cinta, semakin besar pula potensi kebenciannya. Begitulah cara kutemukan cinta dan kebencianku pada Bandi.
Malam itu, aku menangis tersedu-sedu karena kecewa pada ayahku yang mengkhianati ibu. Semalaman Bandi menemaniku di tepi pantai. Ketika mulai lelah, aku merebahkan kepala di bahunya. Ia menyambutku dengan pelukan, mencium lembut kepalaku, dan berbisik bahwa aku akan selalu aman bersamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak mual ketika seorang pria menyentuhku. Ia menyusuri bibirku, dan kurasakan air mataku mengering. Bibir kami basah, lidah kami saling bertautan. Dadaku bergemuruh kencang, namun anehnya aku merasa tenang tanpa ada sedikit pun rasa ingin muntah.
Kemudian, ia menjauhkan wajahnya, menatapku dalam jarak dekat.
“Pertama kali?”
“Ya..”
“Apa rasanya?”
“Seperti balon,” kataku.
Bandi menyunggingkan senyum yang belum pernah kulihat selama mengenalnya. Sekilas, aku menangkap aura kelicikan dan niat terselubung dari senyum itu. Namun, logikaku menolak; Bandi tidak pernah jahat kepadaku.
Sejurus kemudian, rasa mual yang luar biasa hebat menghantamku. Kali ini rasanya bukan hanya makanan, melainkan seluruh organ dalamku—usus, hati, pankreas, lambung—ingin meloncat keluar. Beruntung aku masih bisa menahannya. Aku segera meminta Bandi mengantarku pulang.
Di atas motor, kami berdua membisu. Sesampainya di kos, aku berpamitan secepatnya. Begitu pintu kututup, aku berlari ke kamar mandi, tetapi muntahku sudah telanjur tumpah di depan pintunya.
Bangsat! Apa yang telah kulakukan?
Mulai malam itu, adegan ciuman di pantai selalu berkelindan di kepala setiap kali aku mengingat Bandi. Aku merasa kotor, berdosa, dan didera rasa jijik—baik kepada Bandi maupun kepada diriku sendiri. Aku menghilang dari kehidupannya dan memblokir seluruh media sosialnya. Setiap kali berpapasan, aku selalu menghindar. Meski berulang kali ia meminta maaf, entah mengapa aku yang biasanya pemaaf, kali ini sama sekali tidak bisa mengampuninya.
Aku kehilangan selera makan hingga berat badanku turun tujuh kilo dalam satu minggu. Aku mulai mengurung diri karena sekarang rasa mual itu muncul setiap kali aku melihat pria. Aku tidak bisa bersentuhan dengan kulit pria, bahkan menatap mata mereka lebih dari tiga detik saja sudah bisa membuatku muntah di tempat.
Aku tidak tahan. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Anehnya, meski terus-menerus muntah, aku tidak membenci para pria itu; aku hanya tahu bahwa keberadaan mereka adalah satu-satunya pemicu tubuhku berontak.
Sejak saat ini, aku berhenti merias diri. Aku berhenti makan daging. Aku berhenti bermimpi tentang adegan romantis. Aku tidak ingin lagi melihat pria, dan aku berhenti bercermin. Sebab pada akhirnya, di mataku, semua pria sama saja.