Aku datang lebih awal dari jadwal kedatanganmu di Bandara Soekarno-Hatta. Bukan karena takut macet di jalan atau takut kau menungguku, tetapi karena aku tidak sabar bertemu denganmu. Sudah dua tahun yang lalu sejak kita berpisah di bandara JFK. Saat itu aku tidak dapat membendung air mataku yang tumpah tanpa malu-malu. Ya, karena aku memang tidak ingin berpisah darimu, tetapi apa daya aku harus pulang ke Jakarta.
Kulihat jam sekali lagi. Aku rasa pesawatmu terlambat. Harusnya sekarang sudah mendarat. Kuseruput kopi pahit yang sudah dingin. Sudah seperti apakah dirimu, Raka? Sudah setahun lebih kau tidak memberi kabar, tiba-tiba seminggu yang lalu kau bilang lewat email akan pulang ke Jakarta untuk beberapa minggu. Tentu saja aku gembira. Kita adalah sahabat. Memang tidak lebih dari itu. Tapi yang kau tidak tahu, aku menyimpan rasa padamu.
Beberapa waktu yang lalu, aku bermimpi. Kita berjalan di sebuah taman yang indah. Kemudian sampailah kita di jalan bercabang. Kau memandangku sambil tersenyum. Setelah itu, kau mengambil jalan ke kanan. Kita berpisah di persimpangan jalan yang berdebu. Dan taukah kamu, setelah itu aku terbangun dan menitikkan air mata. Kenapa dalam mimpipun aku tidak bisa bersama dengan dirimu.
Aku berdiri di antara para penjemput. Tak lama, pandanganku tertuju pada seorang lelaki berjalan tegap diantara lautan manusia. Tas ranselnya tampak berat. Memakai kaos dan kemeja kotak-kotak, jeans belelnya membuatnya tampak lebih muda dari umurnya. Hatiku berdesir. Ya, dialah pria yang sedang kutunggu. Raka Kusumadirja. Ia melihat ke arahku. Tersenyum dan mempercepat langkahnya.
“Maira?” tanyanya terlihat ragu.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Ada beberapa detik ia memandangku seperti tidak percaya.
“Kamu sekarang berkerudung?” tanyanya.
“Iya.”
Aku tahu sebenarnya ia ingin memelukku. Itu sudah menjadi kebiasaan jika kita berpisah untuk beberapa waktu dan bertemu kembali. Akhirnya ia hanya menyalamiku.
“Apakabar?” tanyanya.
“Baik. Yuk..,” kataku mengajaknya pergi dari situ.
Dan kamipun meluncur menuju restoran padang. Biarpun sudah lama kami tak bertemu, hubungan kami tetap saja seperti dulu. Seperti tidak pernah ada perpisahan.
5 tahun yang lalu
Subway dari Queens menuju Manhattan masih saja penuh padahal malam hampir menjelang. Aku memandang Rosa yang begitu cantik dengan gaun hitamnya. Sedangkan aku hanya berpakaian seadanya. Kami akan menghadiri pesta ulang tahun Hanin, teman Rosa, anak seorang pengusaha kaya dari Jakarta. Sebenarnya aku malas datang ke pesta ini, karena memang aku tidak terlalu dekat dengan Hanin. Tetapi Rosa memaksaku. Dengan terpaksa aku menurutinya.
Firasatku memang tepat. Aku seperti berada di suatu tempat yang asing. Hampir semua yang ada disana adalah orang-orang kaya raya. Bisa dilihat dari pakaian, sepatu dan tas mereka yang ber-merk. Dan yang mengesalkan, Rosa meninggalkanku duduk sendiri di pojokan, sedangkan dia menghilang entah kemana bersama Hanin.
Mataku tertuju pada seorang lelaki berambut ikal yang sedang mengobrol dengan dua orang temannya. Yang menarik perhatianku adalah lelaki itu hanya memakai jeans belel dan kemeja korduroi. Biarpun terlihat cuek, tetapi ia tampak keren. Tiba-tiba ia melihat ke arahku. Sadar diperhatikan, ia tersenyum ramah. Aku tidak membalas senyumnya dan memalingkan wajahku ke arah lain. Karena salah tingkah, aku berjalan keluar ruangan untuk mencari udara segar. Kebetulan saat itu adalah musim panas.
Tak lama kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan di sampingku.
“Hai,” ujarnya.
Aku hampir saja lari tunggang-langgang karena mengira ada orang asing menyapaku, tetapi ternyata si ikal tadi! Aku pura-pura memandangnya bingung.
“Sori, tadi saya lihat kamu di pesta Hanin. Kok buru-buru pulang?” tanyanya.
“Oh. Engga, cuman cari udara segar aja.”
“Oh, gitu. Oya, saya Raka. Kamu datang sendiri?”
“Saya Maira. Engga, sama teman, Rosa.”
Ia mengangguk-angguk.
“Maira!” teriak Rosa sambil berlari kecil ke arah kami berdiri.
“Kamu mau kemana? Aku cariin di dalam,” tanya Rosa panik.
“Engga ke mana-mana,” jawabku kalem.
Kemudian Rosa memandang Raka.
“Hai Rosa,” sapa Raka ramah.
“Halo, kalian udah kenal?” tanya Rosa.
Aku dan Raka saling pandang dan tersenyum. Ya, itulah awal pertemuanku dengan Raka.
Mungkin aku akan lupa dengannya kalau saja kami tidak bertemu lagi secara tidak sengaja di Iko Sushi, restoran Jepang tempatku bekerja sebagai waiter. Raka datang bersama dengan tiga orang temannya yang berpakaian necis. Ketika ia melihatku sedang melayani pengunjung, ia langsung menghampiri.
“Maira?” sapanya.
“Raka?”
“Kamu kerja di sini?” tanyanya ramah.
“Iya. Eh, sebentar ya,” jawabku seolah-olah sedang sibuk, padahal waktu itu hanya ada dua meja terisi.
Aku bergegas menuju kamar kecil. Merapikan rambutku dan memastikan bahwa aku tidak terlihat berantakan. Aku menyesal kenapa harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini. Tetapi, itulah awal dari pertemanan kami.
Kami sering mengobrol berjam-jam di telpon. Kadang ia muncul tiba-tiba di depan apartemenku dan mengajak jalan-jalan. Dan sering juga harus kutolak. Aku tidak bisa selalu ikut pergi bersenang-senang dengan teman-teman yang lain karena memang aku tidak punya banyak uang. Aku datang ke Amerika karena mendapat beasiswa.
xxx
Aku memandang wajah Raka yang terlihat letih. Sudah sejam kita mengobrol. Ada yang berbeda dari diri Raka. Ia tidak seceria dulu. Seperti ada beban dalam benaknya. Bukan, bukan karena ia lelah.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanyaku.
“Baik. Memangnya kenapa?” tanyanya curiga.
Biarpun Raka seorang yang supel dan senang mengobrol, tetapi entah kenapa, sejak dulu, aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Kamu kemana aja, kayanya menghilang. Punya pacar ga bilang-bilang, ya?” selidikku.
Raka tertawa.
“Tau nih, ga ada yang mau. Cewe jaman sekarang ga tau apa maunya. Kamu bukannya jalan sama siapa tuh? Rio?” tanyanya.
Aku menggeleng. Bagaimana aku mau serius berhubungan dengan lelaki kalau hatiku masih tertambat padanya. Aku sedang berjuang untuk melupakanmu, Raka. Merelakanmu bersama perempuan lain.
Raka memeriksa ponselnya yang berbunyi.
“Maaf, Mai. Sepertinya aku harus pergi.”
“Lho, kok buru-buru?”
“Ibuku sudah menunggu di rumah.”
“Ayo aku antar.”
“Ga usah, Mai. Aku naik taxi aja. Kapan kita bisa ketemu lagi? Yang jelas habis kamu pulang kantor ya?”
“Iya. Ya udah, kabarin aja.”
Kamipun berpisah setelah membayar makanan.
xxx
Sudah seminggu, kami belum sempat bertemu juga. Itu karena Raka sedang banyak urusan katanya. Sebenarnya aku kecewa. Tidak maukah ia berusaha menyempatkan diri untuk bertemu denganku? Mungkin memang aku terlalu banyak berharap. Sudah jelas kita hanya sebatas teman, tidak lebih. Tapi kadang aku berpikir, bagaimana kalau tiba-tiba dia bilang dia suka padaku? Seandainya saja..ah, sudahlah. Kembali fokus saja pada pekerjaan.
Aku mengecek beberapa email yang masuk. Ada email dari Raka. Aneh sekali dia mengirim email. Kenapa tidak wa saja. Kubuka emailnya. Apa ini? Sebuah undangan pernikahan? Jantungku berdegup lebih kencang. Sebelum mataku tertuju pada nama yang tertera, aku memejamkan mataku. Aku benar-benar belum siap membaca nama yang tertera pada undangan itu. Aku berharap bahwa bukan nama Raka yang tertera di sana. Tapi aku tak bisa lari dari kenyataan. Apapun itu harus kuhadapi. Akhirnya aku membaca undangan itu pelan. Dan..duarr. Rasanya seperti mendengar halilintar menyambar-nyambar. Hatiku sakit. Namanya tertulis di sana. Raka akan menikah, dengan entah siapa, aku tidak pernah mendengar namanya. Raka tidak pernah bercerita. Aku beranjak dan bergegas ke kamar kecil. Seluruh persendianku lemas. Tangisku pecah. Ternyata, inilah rasa patah hati yang paling menyakitkan.
Xxx
Belasan wa, misscall dari Raka tidak kugubris. Aku tidak sanggup menghadapinya. Tolong jangan ganggu aku, Raka. Aku tidak tahu, aku marah karena pernikahan itu, atau karena Raka tidak cerita. Sepertinya, karena dua-duanya. Kubaca wa Raka yang terakhir. “Maaf Maira. Apakah kamu marah? Maafkan karena aku tidak cerita. Karena aku memang malas untuk membahasnya. Aku terpaksa menikah karena dijodohkan. Ceritanya panjang. Sekali lagi aku minta maaf. Seharusnya aku cerita, tapi entah kenapa berat untuk melakukannya. Aku harap kau datang.”
Aku sempat ragu, jika aku tidak membalas emailnya, dia akan mengira aku cemburu (padahal memang begitu kenyataannya). Tapi jika aku membalas, aku belum sanggup berhadapan dengannya. Beri aku waktu, Raka.
Hari yang tidak kutunggu akhirnya tiba juga. Aku memutuskan untuk datang. Dan ini akan menjadi akhir dari pertemuan kita, karena aku akan mulai menjauh dan melupakanmu. Akan kubiarkan kau hidup bahagia dengan istrimu.
Bel rumahku berbunyi.
“Mba Maira, ada temennya nih,” ujar Bi Kokom, asisten di rumahku.
“Siapa, Bi? Saya ga janjian sama siapa-siapa.”
“Ga tahu.”
Aku bergegas menuju teras. Dan aku tertegun di ambang pintu. Raka berdiri di hadapanku, dengan wajahnya yang tegang.
“Raka? Kamu…ngapain kamu di sini?” tanyaku kebingungan.
“Maira..boleh aku masuk?”
Belum sempat aku menjawab, Raka sudah nyelonong masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Aku duduk di hadapannya, menunggu penjelasan.
“Mai, ada yang harus aku bicarakan.”
Aku hanya menunggu ia melanjutkan ceritanya.
“Aku.. aku tidak jadi menikah.”
“Hah? Tapi…ada apa?” Kejutan apa lagi ini, Raka?
“Aku menolak untuk menikah, dan aku diusir oleh keluargaku. Mai, aku…”
Aku hanya memandangnya bingung.
“Aku..mencintai orang lain, tapi orang tuaku tidak menerima itu.”
“Tapi..itu tidak adil, Raka. Kenapa tidak dari awal kamu menolak perjodohan ini? Apa kamu ga mikirin perasaan calon yang kamu tinggalkan itu?” kataku mulai emosi.
“Karena aku bingung, Mai. Dan aku, tidak tahu apakah orang yang kucintai itu punya perasaan yang sama denganku.”
Aku menghela nafas.
“Tetap saja yang kamu lakukan itu salah.”
“Orang itu kamu, Mai!”
Aku tersentak.
“Ya, aku cinta sama kamu, Maira.”
Dadaku berdegub kencang, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ini terlalu mendadak.
“Mai, katakan sesuatu, jangan diam saja, please.”
Aku masih terpaku.
“Maira, aku..ingin menikah denganmu. Bukan orang lain.”
Pikiranku langsung melayang. Kenapa tidak dari dulu dia katakan ini? Kenapa baru sekarang? Apa dia jujur?
“Aku..kenapa baru sekarang? Bukan begini caranya, Raka. Sebaiknya kamu pulang,” tegasku beranjak dari tempat duduk.
“Maira, tapi aku..”
Aku bergerak menuju pintu, mempersilahkannya keluar.
“Mai, maafkan aku, tapi beri kesempatan aku untuk ngobrol lebih lama.”
Aku menggeleng. Akhirnya Raka mengalah. Sebelum pergi, ia menatapku.
“Lusa aku harus kembali ke New york. Aku berharap kita bisa bertemu sebelumnya.”
Aku berlari ke kamarku dengan perasaan campur aduk, aku tidak tahu apakah harus senang atau justru marah dengan semua ini.
xxx
Hari ini Raka akan kembali ke New york. Semua wa dan telponnya tidak kubalas. Sebenarnya aku rindu, tetapi aku masih menyimpan rasa kesal. Tiba-tiba perasaan takut menghantuiku. Bagaimana kalau nanti benar-benar tidak akan bertemu lagi? Apakah itu yang kau mau, Maira? Sejak dulu kau ingin bersamanya, tetapi giliran sekarang dia menyatakan cintanya, engkau malah menghindar. Kuhela nafas dalam-dalam. Kulihat jam di dinding. Pesawatnya masih 3 jam lagi. Aku masih ada waktu untuk menyusulnya ke airport.
Aku berusaha menelponnya. Mati. Kuputuskan untuk segera ke airport.
Aku berlari di antara kerumunan, berharap Raka masih di sana. Sesampainya di gate keberangkatan, aku melihatnya. Raka berdiri di sana. Aku menghentikan langkahku, memandangnya dari kejauhan.
“Raka!”
“Maira?”
Raka berlari ke arahku.
“Maira, kamu datang..”
Aku mengangguk, sambil mengatur nafasku yang tak beraturan. Ia tersenyum.
“Aku mau mengucapkan selamat tinggal,” ucapku.
Seketika wajahnya berubah muram.
“Maksudnya, selamat jalan. Dan..aku akan menunggumu kembali,” ujarku.
Raka tersenyum. Wajahnya yang tampan berseri-seri.
“Benarkah?”
Aku mengangguk. Raka mendekat. Dia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah cincin. Disodorkannya cincin itu padaku.
“Maukah kau menikah denganku?”
Dengan perasaan berbunga-bunga, aku langsung mengangguk. Karena aku tidak mau kehilangan dia lagi.
“Alhamdulillah. Mai..sebenarnya aku ingin lebih lama di sini. Tapi aku harus segera boarding. Sampai di sana, aku telpon ya.”
“Iya, Raka. Aku tunggu kamu pulang.”
“Kelamaan. Nanti aku kirimin tiket ke New York.”
Kami tertawa. Dan Rakapun bergegas. Have a safe flight, Raka. Kutunggu kau di Bandara Soekarno Hatta. Atau, JFK? Di manapun itu, aku tak sabar untuk hidup bersama denganmu.
TAMAT