Belum juga selesai urusanku sama Laras, sekarang sudah nambah satu saingan lagi.
Serius. Ini bikin aku bete.
Aku Dinda. Dinda Ayunda, masih ingat kan?
Aku bahkan masih dalam tahap menerima kenyataan kalau Laras memang diciptakan untuk menguji kesabaran manusia. Bayangin aja, aku sudah capek-capek jadi “teman baik” Davian, mendengarkan curhatnya, nemenin dia nongkrong, jadi tempat dia ngomel soal tugas kuliah, bahkan rela pura-pura suka kopi pahit cuma karena dia bilang kopi manis itu norak, eh ujung-ujungnya Laras tetap jadi pusat orbit hidupnya.
Dan yang lebih menyebalkan?
Laras juga kayaknya sadar, kalau semua cowok di sekitar dia perlahan berubah jadi manusia bodoh.
Termasuk Davian.
Anehnya, termasuk aku, padahal aku kan cewek.
Makanya waktu itu aku pernah ngomong setengah becanda ke Laras.
“Kalau nanti bosen sama Davian, bilang ke aku ya." Untung bilangnya sambil bercanda.
Laras malah ketawa sambil nyuapin kentang goreng ke mulutnya sendiri, cuek banget dia.
“Aku kasih nomor antrean aja ya?”
Kurang ajar memang.
Tapi ya cantik sih.
Itu masalahnya.
Dan sekarang,
SEMESTA MENAMBAH MASALAH BARU.
Namanya Kanna Hashimoto.
Iya, serius namanya itu.
Pertama kali dengar, aku kira cuma nickname halu anak-anak kampus. Tapi ternyata itu nama asli. Perempuan pindahan dari Jepang-Indonesia program pertukaran mahasiswa. Kalian tau, sialnya lagi, visualnya memang gila banget.
Cantik yang bikin cowok mendadak rajin kuliah, sampai bisa bikin dosen salah fokus. Pokoknya cantik yang bikin perempuan lain diam-diam buka kamera depan buat memastikan diri mereka masih layak hidup.
Hari pertama dia masuk kelas, suasananya literally kayak slow motion film Jepang.
Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di bahu, matanya bulat bening, kulitnya terang banget sampai aku curiga dia tidak pernah tersentuh matahari Indonesia. Bahkan cara dia membungkuk sambil memperkenalkan diri aja bikin satu kelas langsung mendadak sopan.
“Hajimemashite, aku Kanna Hashimoto. Yoroshiku onegaishimasu.”
Hening.
Lalu,
“ANJIR CANTIK BANGET.”
Itu suara Jovi.
Satu kelas langsung pecah ketawa.
Aku nutup muka pakai buku.
Malu punya teman kayak dia.
Rio teman yang duduk di sebelahku langsung nyolek lenganku keras.
“Eh serius, ini levelnya anime hidup.”
“Aku tahu.”
“Ini bukan manusia.”
“Aku juga tahu.”
“Kalau dia jadi selebgram Indonesia habis kita semua.”
Aku nengok ke arah Davian.
Sialnya cowok itu lagi memperhatikan Kanna.
Bukan tatapan biasa, tapi tatapan penasaran, tatapan cowok yang mulai tertarik.
OH TIDAK.
JANGAN MULAI.
Aku langsung nyender ke kursinya.
“Bro.”
“Hm?”
“Lu jangan aneh-aneh.”
Davian mengernyit.
“Aneh apaan?”
“Itu cewek visualnya bahaya.”
“Terus?”
“Laras.”
Davian langsung menoleh ke arah Laras yang duduk di dekat jendela sambil ngobrol sama Jovi Gavin.
Kalian tau kan, seperti biasa, dengan santainya Laras bahkan tidak sadar dirinya sedang jadi sumber perang batin banyak manusia.
Perempuan itu ketawa manis sambil memainkan sedotan minumannya, lalu sesekali memukul lengan Jovi karena selebgram “Roti Gabin” itu entah ngomong apa.
Jovi Gavin memang menyebalkan.
Follower jutaan, muka ganteng, punya selera humor receh.
Tapi sebenarnya yang lebih menyebalkannya lagi, dia dekat banget sama Laras.
Aku masih ingat bagaimana dulu Davian sampai cemburu setengah mati lihat Laras sering diajak collab konten sama Jovi.
Sementara aku?
Aku cuma kebagian jadi penonton penderitaan.
Eh sekarang, muncul Kanna.
Cantik.
Elegan.
Tenang.
Kalian bisa duga enggak, targetnya?
Davian.
Aku tahu itu, bahkan sudah feeling sejak acara penyambutan mahasiswa baru internasional minggu berikutnya.
Kami semua lagi duduk di tribun aula kampus waktu Kanna tiba-tiba datang membawa dua kaleng kopi dingin.
Dia berhenti tepat di depan Davian.
“Davian, kan?”
Davian mendongak sedikit bingung.
“Iya?”
Kanna tersenyum manis.
“Aku lihat kamu suka kopi pahit.”
Aku hampir tersedak.
LAH?
SEJAK KAPAN DIA MERHATIKAN?
Davian menerima kopinya pelan.
“Oh makasih.”
“Boleh duduk di sini?”
Dan sebelum Davian jawab,
Rio tiba-tiba muncul entah dari mana.
“BOLEH BANGET.”
“Rio, ini bukan kursi bapak lu.”
“Tapi aku mendukung cinta internasional.”
Aku menendang kaki Rio sampai dia meringis.
Sementara itu, Aku melirik Laras.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu memperhatikan Kanna cukup lama. Tatapannya ngga biasa, tenang, tapi aku kenal Laras.
Dia mulai merasa terusik.
Rio langsung nyenggol bahuku pelan.
“Waduh.”
“Apa?”
“Laras cemburu kayaknya.”
Aku spontan duduk tegak.
“Hah? Serius?”
“Cewek kalau mulai diam itu bahaya.”
Benar aja, biasanya Laras paling ribut kalau ada Jovi.
Sekarang?
Dia malah sibuk mengaduk minuman tanpa diminum.
Jovi Gavin sampai bingung sendiri.
“Lar? Kamu kenapa?”
“Nggak.”
“Kok jutek?”
“Nggak jutek.”
“Itu sedotannya mau kamu bunuh?”
Aku hampir ketawa.
Tapi suasana mulai menarik.
Davian sendiri tampak biasa aja. Dia ngobrol sopan dengan Kanna, sesekali tersenyum kecil, sementara Kanna benar-benar fokus mendengarkannya.
Tapi jujur, mereka cocok dilihat sebagai couple.
ITU MASALAHNYA.
Aku bahkan merasa jadi pengkhianat karena dalam hati mikir,
“Anjir visual mereka bagus banget.”
Malamnya grup circle kami langsung chaos.
Rio: GILA GILA GILA
Aku: Apaan sih?
Rio: Kanna follow Davian di IG
Aku: Terus?
Rio: DAVIAN FOLLOW BALIK
Aku langsung duduk tegak di kasur.
“ANJIR.”
Beberapa detik kemudian
Jovi Gavin masuk grup.
Jovi: Laras ngambek.
Aku: HAHAHAHAHA
Jovi: Aku serius.
Aku: Karena Kanna?
Jovi: Kayaknya.
Aku senyum sendiri membaca chat itu.
Ngga tau kenapa, karena sejak lama, menurutku baru kali ini Laras merasakan punya saingan.
Aneh sih karena jujur aja, Aku agak menikmati.
***
Besoknya suasana kampus makin panas.
Entah siapa yang mulai, tapi rumor tentang “Kanna suka Davian” sudah menyebar ke mana-mana.
Bahkan anak fakultas sebelah ikut kepo.
Kalian pasti tau kan yang paling parah tentu media sosial.
Karena sialnya, Jovi Gavin malah upload konten.
Thumbnail videonya:
“DAVIAN PILIH LARAS ATAU KANNA?!”
AKU MAU MATI.
Komentarnya ribuan.
Lebih parah lagi, videonya langsung viral.
Aku langsung nelpon Jovi.
“LU GILA YA?”
Jovi ngakak di telepon.
“Konten, bro.”
“Ini bukan konten ini perang dunia.”
“Tenang aja, lucu kok.”
“LU YANG LUCU. NANTI DAVIAN DIBUNUH LARAS.”
Dramanya dimulai, benar saja.
Siang itu Davian datang ke kantin dengan muka capek.
“Aku pengen hidup tenang,” katanya sambil menjatuhkan kepala di meja.
Aku langsung ketawa.
“Makanya jangan ganteng.”
“Ini salah Jovi.”
Aku datang membawa es teh.
“Laras marah.”
Davian langsung menegakkan badan.
“Hah? Beneran?”
“Dia bilang males ngomong sama cowok yang suka bikin cewek satu kampus ribut.”
Davian memijat pelipis.
Sementara aku?
Aku bahagia.
SEDIKIT.
Karena akhirnya bukan aku doang yang sengsara.
***
Tapi semuanya berubah ketika sore itu hujan turun deras dan kampus mulai sepi.
Aku sedang berteduh dekat lobby ketika melihat sesuatu yang bikin aku diam.
Kanna berdiri di depan Davian.
Hanya mereka berdua.
Perempuan itu memegang payung bening transparan, sementara Davian memasukkan tangan ke saku hoodie abu-abunya.
“Aku boleh jujur?” tanya Kanna pelan.
Davian diam.
Kanna tersenyum kecil.
“Aku suka kamu.”
JANTUNGKU IKUT BERDEBAR.
INI GILA.
Davian terlihat kaget.
“Kanna.”
“Aku tahu kamu suka Laras.”
Aku membeku.
“Dan aku tahu mungkin aku terlambat.”
Hujan makin deras.
Suasananya bahkan terasa seperti drama Jepang.
“Tapi aku tetap ingin mencoba.”
Davian terdiam lama.
Aku bahkan lupa caranya bernapas.
Lalu. “Aku nggak mau kasih harapan palsu.”
Jawaban Davian tenang.
“Tapi aku juga nggak mau nyakitin kamu.”
Kanna tertawa kecil.
“Kamu baik ya.”
“Nggak juga.”
“Aku tetap akan berusaha.”
Sialnya, perempuan itu mengatakannya sambil tersenyum.
Bukan senyum memaksa, tapi senyum seseorang yang benar-benar serius mengejar orang yang dia suka.
Aku langsung mundur perlahan sebelum ketahuan nguping.
Tapi saat berbalik.
BRUK.
Aku nabrak seseorang.
“Aw!”
Aku panik.
“Eh maaf,” ternyata Laras.
Perempuan itu memegang map sambil menatapku bingung.
“Kamu ngapain ngendap-ngendap?”
Aku gugup.
“Nggak ngapa-ngapain.”
Laras menyipitkan mata.
Lalu, tatapannya bergeser ke arah Davian dan Kanna yang masih berdiri di bawah hujan.
Ini baru pertama kalinya Aku melihat ekspresi Laras berubah.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tapi takut kehilangan.
Dia diam cukup lama.
Aku bahkan tidak berani bercanda.
Sampai akhirnya Laras bicara pelan.
“Menurut kamu.”
“Hm?”
“Davian bisa suka sama dia?”
Aku menatap Laras beberapa detik.
Dan anehnya, aku tiba-tiba tidak ingin bercanda merebut Davian darinya.
Karena di depan mataku sekarang, Laras terlihat benar-benar menyukai cowok itu.
Aku menghela napas kecil.
“Kalau Davian sampai suka sama orang lain,”
“…”
“Berarti dia memang bodoh.”
Laras menoleh cepat.
Aku nyengir.
“Karena menurutku, belum tentu ada orang lain yang bisa bikin dia sebahagia waktu sama kamu.”
Apa aku salah bicara ya, karena sialnya Laras malah tersenyum, lembut banget.
“Tumben kamu baik.”
“Aku capek jadi antagonis.”
Laras tertawa pelan.
Hujan masih turun di luar.
Sementara di bawah payung transparan itu, Kanna masih berdiri bersama Davian.
Aku tahu ini baru awal.
Karena perang cinta di circle kami belum benar-benar dimulai.