Aldi tidak pernah percaya pada takhayul atau mitos apa pun. Pria berusia 25 tahun itu sering mengikuti berbagai uji nyali, semata-mata untuk membuktikan bahwa hantu dan setan tidak benar-benar ada. Semua pengalamannya ia abadikan lalu diunggah ke akun media sosial miliknya.
“Sudah kubilang berkali-kali, Di. Kamu tidak akan pernah mendapatkan izin dari sesepuh di kampung ini.” Rojali menatap sahabatnya dengan nada serius.
Aldi mengembuskan asap rokok sambil tersenyum miring. “Kalau begitu, kita keluar diam-diam saja nanti malam. Selesai urusan.”
“Seenaknya saja kamu. Aku tidak mau ikut-ikutan. Lebih baik aku tidur di kamar buyutku.”
Suara kentongan tiba-tiba memecah keheningan, menginterupsi percakapan mereka. Bunyi itu menandakan hari telah berganti malam. Di kampung itu, aturan turun-temurun berlaku ketat: tidak seorang pun boleh keluar rumah setelah kentongan terakhir berbunyi.
Istri Rojali segera menutup pintu rapat-rapat, lalu menyalakan pelita kecil di sudut ruangan berdinding kayu itu. Cahaya kuning redupnya menari di permukaan dinding, membuat bayangan-bayangan panjang yang terasa ganjil.
“Sarung ada di atas lemari, Di. Kalau mau, pakai saja,” ucap Rojali singkat seraya mengikuti istrinya ke dalam untuk beribadah.
Aldi tidak menjawab. Ia lalu mengambil pelita kecil di sudut ruangan. Dengan hati-hati ia membuka pintu kayu, berusaha agar engselnya tidak berderit.
"Kali ini akan aku buktikan, Rojali pasti malu karena terlalu mempercayai mitos"
Langkah kakinya dipercepat, menyusuri jalan setapak yang hanya diterangi cahaya pelita. Kampung itu sunyi, terlalu sunyi, seolah ditelan gelap gulita.
"Tidak ada apapun di luar sini, sepertinya dugaanku benar," Aldi menyeringai puas, setelah kembali nanti ia berencana mengejek Rojali untuk semua skenario horor yang telah ia buat-buat.
Hingga di ujung jalan, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Orang-orang itu tampak sibuk beraktivitas. Ada yang menimbang hasil panen, ada yang menawar harga, bahkan seorang wanita tampak membalik kue serabi di atas tungku.
"Bukankah ini pasar?"
Seingat dia, saat pertama kali masuk ke desa ini, tidak ada tempat seluas itu untuk berdagang atau melakukan jual beli. Orang-orang kampung biasanya membawa hasil panen mereka ke kota.
Kemudian Aldi menyipitkan mata ketika melihat sepasang suami istri di ujung kerumunan. Seperti wajah Rojali dan istrinya, akan tetapi bukankah mereka tadi masih berada di rumah?.
“Rojali!” seru Aldi sambil bergegas menghampiri mereka.
Pria dan wanita itu menoleh hampir bersamaan. Aldi tertegun dan benar saja, mereka adalah Rojali dan istrinya.
“Ternyata benar, kamu hanya mempermainkanku” ucap Aldi, separuh kesal, separuh lega.
Rojali dan istrinya tidak merespon. Mereka hanya saling pandang sekilas, lalu berbalik dan berjalan menjauh tanpa sepatah kata pun. Aldi mendengus frustrasi melihat sikap aneh keduanya.
"Hei! Rojali! Tunggu!"
Ia hendak berlari menyusul, tapi mereka menghilang cukup cepat di tengah kerumunan.
"Sialan, sepertinya orang itu benar-benar menikmati mempermainkan hidupku. Awas saja jika bertemu kembali di rumah"
Dengan perasaan kesal, Aldi pun memutuskan untuk kembali ke rumah Rojali. Langkahnya cepat, menyusuri kembali jalan setapak yang telah ia kenali.
Sesampainya kembali, ia meletakkan pelita ke tempat semula, lalu menjatuhkan tubuh di kursi kayu.
“Sebenarnya Rojali dan istrinya ingin pergi ke mana?” bisiknya lirih, mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba, sebuah suara mengoyak keheningan. Tangisan. Pelan, namun jelas berasal dari kamar belakang. Aldi sontak terkejut.
“Bukankah mereka tadi pergi?” gumamnya panik.
Dengan langkah ragu, Aldi berdiri dan melangkah ke kamar belakang. Pintu digeser pelan, dan benar saja: Rojali dan istrinya sedang duduk bersimpuh, menangis tersedu-sedu.
“Ada apa? Kalian kenapa?” Aldi bertanya cepat, rasa takutnya bercampur bingung.
Mendadak, istri Rojali menjerit. Dengan kasar ia mendorong Aldi keluar dari rumah, tubuhnya terhuyung hingga hampir jatuh. Wanita itu lalu melempar tas Aldi ke arahnya dengan wajah penuh ketakutan.
“Pergi! Pergi dari sini, cepat!” teriaknya histeris.
Aldi semakin bingung, Rojali meminta maaf tanpa sebab. Lalu istrinya tiba-tiba mengusirnya secara paksa. Sebenarnya apa maksud mereka? Dan apa yang terjadi? Aldi tidak sanggup berkata-kata. Wanita itu melotot ke arahnya dengan mata sembab. Ia meraih tasnya dan pergi dengan langkah kacau.
Dari balik kegelapan, satu per satu warga kampung muncul dengan rupa yang tak lagi manusia. Wajah mereka hancur, kulitnya terkelupas memperlihatkan daging membusuk. Ada yang matanya kosong berlubang, ada pula yang rahangnya terlepas dan menggantung hanya dengan urat. Bau busuk langsung menusuk hidung Aldi.
“Cepat! Aku harus keluar! Harus keluar!” Aldi menjerit dalam hati.
Para mayat hidup itu mengejar Aldi dengan langkah terseret. Kecepatan mereka tidak sebanding dengan langkah Aldi yang cepat saat berlari, tapi jumlah mereka yang terbilang banyak membuat Aldi harus memutar balik ketika mendapati jalan buntu atau mayat-mayat itu memblokir jalan.
"Aku tidak boleh mati sini! Aku harus bisa kabur! "
Jantung Aldi berdegub kencang, kakinya sudah gemetar karena kelelahan. Namun tidak ada harapan lain selain tetap berlari dan terus berlari. Wajahnya ikut pucat karena membayangkan bagaimana jika para mayat hidup itu berhasil menangkapnya.
"Itu dia, sedikit lagi! "
Begitu menembus jalan raya yang sepi, langkah kakinya goyah. Dan saat itu juga sebuah mobil pick-up muncul dari kejauhan, lampu depannya menyilaukan mata. Mobil itu melambat lalu berhenti tepat di samping Aldi yang hampir jatuh tersungkur.
“Nak, kamu ingin pergi ke mana?”
“Mau kembali ke kota, Pak,” jawab Aldi singkat, napasnya terengah.
Sopir itu mengangguk, lalu membuka pintu. “Naiklah.”
Aldi hampir roboh karena lega. Ia segera naik dan bersandar di kursi penumpang. Kakinya sudah mati rasa, tubuhnya serasa remuk.
Beberapa saat mereka melaju dalam diam, hingga sopir itu membuka percakapan. “Memangnya kamu dari mana, Nak?”
Aldi menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. “Dari rumah teman saya, Pak. Di kampung dekat hutan ini.”
Mendengar itu, sopir tiba-tiba menghentikan mobil mendadak. Ban berdecit, Aldi hampir tersungkur ke depan. Ia menoleh kaget.
“Kenapa, Pak?” tanyanya heran.
Sopir menatap Aldi dengan ekspresi sulit dibaca. “Nak… apa kamu tahu sesuatu?”
Aldi menggeleng cepat, jantungnya mulai berdegup tak karuan.
Sopir itu menelan ludah, lalu berkata pelan, seolah takut ada yang mendengar. “Kampung yang kamu maksud itu sudah lama tidak berpenghuni. Semua warganya mati massal, sekitar sepuluh tahun lalu.”
Kata-kata itu menghantam Aldi seperti petir. Matanya membelalak tak percaya. “Apa? Tidak mungkin!.”
Sopir melanjutkan, suaranya semakin berat. “Kematian mereka aneh. Tidak bisa dijelaskan secara medis. Ada yang bilang, seluruh penduduk kampung itu terjerumus dalam aliran sesat.”
Aldi gemetar, mulutnya kaku. “Aliran sesat? Tapi..tapi saya melihat mereka beribadah, Pak! Rojali dan istrinya mereka terlihat seperti orang alim.”
Sopir menoleh dengan tatapan ngeri. “Nak semua orang yang kamu lihat di kampung itu bukan manusia. Mereka semua makhluk gaib.”
Aldi merinding kaku mendengar penjelasan tersebut. Kebenaran menghantamnya keras saat mengetahui bahwa sebenarnya Rojali dan semua warga di kampung itu adalah hantu. Ia tidak berkutik, tidak berkomentar lagi. Setidaknya yang terpenting saat ini adalah ia berhasil kabur dengan selamat.