Disukai
2
Dilihat
1,482
Joki Tugas, Me
Aksi

EPILOG

Bunyi denting WhatsApp masuk berkali-kali. Beberapa message "Joki Tugas, Me!" memenuhi tampilan layar ponsel Syena.

Klien 1 : Kak, bisa dong joki tugas PPKN, deadline besok sore deh.

Klien 2 : Kak, ujian realtime untuk hari ini pukul 12.00 WIB apa bisa?

Klien 3 : Halo, Kak! Aku mau joki tugas arsitektur kirim ke nomor rekening biasa ya?

Dan beberapa panggilan tak terjawab membuat Syena terbiasa dengan hal itu. Di kamarnya, Syena sibuk memindahkan lukisan ke kardus kosong. Syena menyeka keringat di dahi, meninggalkan bekas hitam karena debu di tangannya. Wajahnya terlihat cemong, tapi tak mengubah paras cantik yang dimilikinya. Kardus-kardus yang sudah terkumpul ia pindahkan ke lantai bawah. Bio datang dari arah luar dan membantu Syena.

"Mending kamu beresin yang lain, bagian angkat-angkat aku aja." Bio mengambil kardus yang dibawa Syena menuju lantai bawah. Syena duduk di ujung kamar sedang memilih lukisan untuk ia bedakan tiap genre. Bio kembali dan tertarik pada ponsel Syena yang berbunyi di atas meja, ia mengambilnya. Kening Bio berkerut.

"Masih melanjutkan project Joki Tugas, Me?" Syena menoleh pada Bio yang melayangkan ponselnya di udara. Syena terdiam, seakan tak ingin membahas.

"Syenara," ucap Bio lembut dari kejauhan. Syena terlihat berfikir.

"Bisa tidak, kalau ku pikir-pikir dulu project ini mau dikemanakan?" tanyanya lebih lanjut.

Bio menghela napas panjang, tak ingin berdebat. Syena melanjutkan aktivitasnya, memasukkan lukisan dalam kardus. Pada satu lukisan kecil, ia menemukan foto ukuran 4r yang tertempel di atas kanvas. Syena memandang foto itu lekat-lekat, gambar yang diambil setahun lalu saat ia wisuda bersama Bio.

Ingatan itu kembali saat Bio dan Syena memutuskan foto dengan bakcground graduation sambil memasang mimik muka bahagia. Diam-diam Syena mengenang kejadian kala itu. Betapa manisnya moment tersebut. Syena mengesampingkan foto dua orang dengan senyum lebar dan jari membentuk angka dua di sisi kanan. Bukan prosesi wisudawan yang membuatnya bernapas lega, tapi keseharian Syena selepas wisuda merubah dirinya untuk semakin menghargai manusia.

...

Restoran dengan pilihan ramen sebagai hidangan makan siang adalah penyajian terbaik menurut Syena. Ia senang akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan Kevin. Bio menatap Syena dengan wajah curiga. Sumpit yang dipegangnya ia letakkan kembali.

"Kenapa, Syen?" ucap Bio. Syena tidak menjawab pertanyaan Bio.

"Jadi, rencananya bakal dikemanain joki tugas itu?" lanjutnya, Bio masih belum memakan ramen sejak tadi, ia kepikiran project yang didirikan gadisnya.

"Sudah terpikirkan kok rencananya," jawab Syena.

"Gimana, emang?" lanjut Bio penasaran. Syena menghela nafas, meletakkan sumpit dan menatap serius lelaki di hadapannya.

FLASHBACK

...

Pagi memunculkan sinarnya, menjadi saksi bagi seluruh mahasiswa untuk mewujudkan harapan orangtua dan meneruskan apa yang menjadi cita-citanya. Gedung fakultas tempat berpijak para wisudawan, tengah menantikan siapa pioner dan penerus nama baik Universitas kelak.

Kendaraan tertata rapi di halaman aula, begitu juga dengan para wisudawan yang bersiap diri menunggu nama lengkapnya di panggil. Haru, tawa dan tangis bercampur jadi satu, itu yang dirasakan gadis dengan predikat summa-cumlaude yang memiliki prestasi akademis.

"Selanjutnya, Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Program Studi Arsitektur 2022 diraih oleh Ananda Syenara dengan IPK 3,70 cumlaude," ucap Master of Ceremony di hadapan seluruh wisudawan.

Syena menghela napas, berdiri dan membenarkan anak rambut yang menjuntai. Ia berjalan dengan langkah kecil menuju podium. Syena mendapat selempang dengan tulisan "Prestasi Akademis" yang disematkan oleh wakil rektor dan juga pemindahan tali toga dari kiri ke kanan sebagai makna bahwa otak kiri melambangkan materi dan otak kanan untuk praktik. Syena tersenyum dan menjabat tangan rektor, ia turun dari podium dengan hati-hati. Dari arah berlawanan seorang lelaki mulai melangkah maju untuk meresmikan gelar, tak sengaja keduanya bertemu tatap, membuat lelaki itu mengulas senyum.

Sepanjang jalanan menuju universitas, terlihat pedagang menjajakan flowers bucket untuk souvenir, jasa fotografi dengan pilihan background yang bermacam-macam, serta miniatur kecil dengan tema graduation. Syena memutuskan untuk menyewa fotografer dengan background tumpukan buku yang ada di rak kayu dan sofa putih sebagai alas duduknya. Nampak keempat anggota keluarga tersenyum menghadap kamera. Selesai berpuas diri mengambil gambar, ia keluar dan melihat Bio sedang mengantre setelah gilirannya.

Syena mendapat ucapan selamat dari teman-temannya, termasuk hadiah yang ia dapatkan. Syena mengenakan kebaya berwarna peach dengan heels senada, rambutnya terurai tanpa sanggul dan tanpa hairspray, membuat kawan di sekelilingnya berdecak kagum.

"Gila lo cantik banget, Syen!" ucap Rina teman sebangkunya yang belum lulus.

"Lo nanti rencana kerja dimana, Syen? Ke luar kota atau sini-sini aja?" tanya Widya

"Eh, Syen. Bisa minta foto bareng nggak?" celetuk Reno, tangan kanannya bersiap melayangkan ponsel, Syena mengangguk mengiyakan. Bio menyeruak di tengah keramaian, menggagalkan aksi Reno dan mengambil posisi di sebelah Syena.

"Masih belum selesai juga? Pulang sana! Syena capek mau istirahat." Bio menyahut dan memandang Reno lekat-lekat.

"Yeee, lo baru datang nyuruh kita pergi aja!" sungut Rina kesal.

"Ya sudah nih, hadiah dari gue ya, Syen" Rina meletakkan kado kecil ke tangan Syena.

"Ini dari gue ya, jangan lupa dipakai," Widya tersenyum manis sambil meninggalkan Syena.

"Syena....ini kado dari gue ya, spesial buat lo." Reno berucap dengan manis sambil mendekatkan dirinya ke hadapan Syena.

"Eh, apaan nih? Gue buka ya." Sontak Bio mengambil hadiah di tangan Reno. Lelaki itu mendengus kesal dan meninggalkan Bio dan Syena dengan hentakan kaki yang keras.

"RENO! MAKASIH YA!" Bio berteriak sambil tertawa melihat Reno yang justru tersinggung akibat ulahnya. Syena melirik Bio dan menggelengkan kepala memandang sikapnya.

"Lo ganggu aja deh, gue kan masih mau kado yang banyak!" Tangannya membentuk angka nol besar. Bio tertawa. Lelaki itu berjalan dan menggandeng Syena ke arah penjual souvenir dan miniatur.

"Ambil tuh semua, lo tinggal pilih mau yang mana," ucap Bio membuat Syena sedikit salah tingkah. Syena bertekad mencari barang yang ia mau, Bio menatap Syena yang ada disisinya.

"Lo nanti mau cari kesibukan apa, Syen?" tanya Bio yang sedari tadi tak lepas dari pandangan. Syena berfikir, ia mengedikkan bahu.

"Mungkin rencana waktu itu." Syena seakan mengingat sesuatu.

"Yakin? Lo nggak pengin melukis aja? Sayang kalau lukisan di kamar lo cuma buat hiasan pribadi." Bio sesekali membenarkan rambutnya supaya terlihat rapi. Syena tak menjawab, membuat Bio menunggu.

"Pak, saya mau flowers box yang warna cream ya. Pakai inisial S." Syena memberikan bunga pilihannya kepada si penjual, Bapak itu menentukan tarif. Syena menoleh ke arah Bio.

"Buruan, bayar." Bio menghela napas panjang, Syena tak menggubris ucapannya.

...

Syena berlari dari tempat parkir menuju gedung fakultas. Bukan karena telat, tapi untuk menghindari matahari. Ia menutupi kepala dengan totebag kecil sambil memasuki pelataran gedung. Syena mengambil ijazah di ruang prodi lantas memeriksa nilai IPK miliknya. Syena tersenyum dan menutup kembali ijazah. Ia pergi dengan langkah tegap.

Bio keluar dari mobil sambil melepas kacamata, ada yang terlupakan, ia membungkuk mengambil tas dan menutup pintu kembali. Di seberang terlihat seorang perempuan sedang menari bahagia sambil membawa ijazah. Kampus cukup sepi, sehingga tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Bio menyipitkan mata, mendekat pelan-pelan dan menyadari siapa gadis itu.

"Syena!" teriak Bio dari kejauhan. Syena menghentikan aktivitasnya, ia memiringkan kepala.

"Bio!" lanjutnya sambil menunjuk dada. Syena mengangguk, ia berlari ke arah sumber suara.

"Kok lo disini?" tanya Syena santai sambil memasukkan ijazah ke dalam tas.

"Lo ambil ijazah ya?" Bio melihat benda yang dibawa Syena, gadis itu mengangguk cepat.

"Tau gitu gue jemput aja tadi. Oh iya, lo naik apa?" Bio mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung.

"Tuh..." Syena menunjuk motor yang terparkir sendirian di depan perpustakaan.

"Syen, bisa minta tolong nggak? Atau gue nanti ke rumah lo deh." Bio memohon sambil mendekapkan kedua tangan.

"Tolong apa dulu?" tanya Syena.

"Nanti gue kasih tau waktu sampai rumah lo ya." Bio melambaikan tangan hendak meninggalkan Syena.

"Oke deh!" Syena mengacungkan jempol, Bio segera berlari menuju fakultas yang berbeda dengan Syena.

...

Kompleks perumahan Syena cukup ramai, banyak anak kecil bermain sepeda yang kehadirannya sangat mengganggu para pengendara. Beberapa kali Bio membunyikan klakson supaya mereka tidak menabrak mobilnya dengan alibi tidak sengaja.

Bio memarkir mobil tepat di depan gerbang rumah Syena. Nirina, bunda Syena sudah membuka pintu saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Bio tersenyum sambil mencium tangan Nirina.

"Eh, Bio. Ayo masuk dulu," ajak bunda Syena.

"Iya, tante, terima kasih," ucapnya malu-malu.

Lelaki itu duduk di ruang tamu sambil melihat beberapa pigura dan foto keluarga yang tersemat di dinding. Bio tersenyum saat melihat foto Syena kecil tengah menangis di dalam rengkuhan Bunda. Mata Bio berganti pada beberapa lukisan milik Syena, tangannya memegang nama Ananda Syenara yang tertulis di bagian pojok bawah. Syena menuruni anak tangga yang langsung terlihat bahwa Bio tengah berdiri memandangi lukisan di dinding. Syena menyipitkan mata, Bio menoleh mendengar suara langkah kaki menghampirinya. Bio menatap Syena dengan tampilan yang masih sama saat bertemu di kampus. Bio melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya.

"Kenapa lo senyum-senyum?" ketus Syena. Mimik muka Bio yang semula sumringah berubah datar.

"Oh ya, ikut gue ke gramedia yuk?" ucap Bio sambil mengedipkan mata.

"Boleh deh, sekalian beli cat air, stock di kamar gue sudah habis." Syena duduk di sofa sambil mendongak menatap Bio.

"Ya sudah berangkat yuk, gue mau beli buku CPNS." Bio merapikan kemeja yang sedikit kusut.

"Oke sebentar ya, gue ambil tas dulu." Syena berlari menaiki anak tangga, ia nampak tersenyum bahagia.

...

Syena dan Bio berjalan memasuki Gramedia. Keduanya memilih keperluan yang berbeda. Bio memilih buku CPNS di bagian buku pendidikan sedangkan Syena keasyikan melihat cat air di tempat alat tulis. Bio menghampiri Syena, ia sudah puas dengan hasil pilihannya, kini lelaki itu menunggu Syena selesai memilih cat.

"Kenapa lo mau ikut tes CPNS?" tanya Syena saat berjalan menuju kasir.

"Biar ilmu gue berguna," jawabnya tepat. Bio mengambil barang di tangan Syena dan meletakkannya di meja kasir. Bio mengambil dompet dan mengeluarkan selembaran uang, sekaligus membayar kepunyaan Syena.

"Eh, Bi. Gue udah bikin instagram Joki tugas, lho! Mau lihat nggak?" Syena mengambil ponsel di saku rok, memperlihatkan instagram dengan desain yang menarik. Syena menjelaskan pada Bio dengan raut muka antusias.

"Bagus sih, tapi ada hukumnya lho Syen, jangan asal ngerjain tugas orang," ucap Bio yang masih melirik ponsel Syena.

"Ih, nggak papa tau! Bentar doang kok, sambil nunggu interview dari perusahaan." Syena mengembalikan ponselnya ke dalam saku rok.

"Omong-omong, lo ambil formasi apa di CPNS?" Syena mengalihkan pembicaraan. Selesai melakukan pembayaran, mereka berjalan keluar dari Gramedia.

"Ahli Forensik Digital di Kejaksaan RI," jawab Bio sambil membimbing Syena ke arah penjual minuman.

"Lokasi formasinya kan jauh banget, Bio." Syena melongo menatap Bio.

"Ya nggak papa, gue mau coba aja dulu. Kali aja rezeki gue." Bio tersenyum membalas ucapan Syena. Gadis itu memalingkan wajah, ia terlihat sedih.

...

Setelah dari Gramedia, Bio mengantarkan Syena pulang dengan selamat. Lelaki itu tak berpendapat apa-apa tentang project Joki Tugas, Me yang akan didirikan Syena. Namun Bio berjanji, jika Syena kesusahan, ia akan membantunya.

Di kamar, Syena termenung menatap jendela, ia mengambil ponsel dan mengarahkan tangannya pada aplikasi instagram. Syena menatap akun instagram Joki Tugas, Me yang masih memiliki dua pengikut yaitu dirinya dan Bio. Syena lantas memilih beberapa foto yang akan di upload dan memberikan sebuah kalimat berisi:

Untuk mahasiswa yang kesulitan mengerjakan tugas, kuis maupun ujian, kami dari Joki Tugas, Me siap membantu kalian demi nilai yang memuaskan. Jasa Joki Tugas, Me juga mengerjakan seluruh persoalan rumit menjadi mudah. Apabila kalian ingin bertanya seputar soal perkuliahan, jangan ragu untuk hubungi Joki Tugas, Me!

Syena puas menuliskan caption di laman Instagram-nya. Ia juga menambahkan beberapa tagar untuk menjangkau orang banyak. Setelah memastikan diri, Syena menekan tombol send dan berhasil publish. Lima menit kemudian, denting WhatsApp berbunyi. Syena menyambar ponselnya, ia kegirangan karena mendapat pelanggan pertama dari project Joki Tugas, Me!

081234567xxx : Halo Kak, bisa kerjain soal arsitektur nggak? Ujian dadakan sih, setengah jam lagi dimulai.

JOKI TUGAS, ME! : Bisa, Kak. Untuk fee ujian real time Rp 200.000 ya.

081234567xxx : Baik, Kak. Bisa di transfer kemana ya?

JOKI TUGAS, ME! : Ke B*A a.n Ananda Syenara 3349293493. Ini ya, Kak untuk nomor rekeningnya.

081234567xxx : Baik, Kak. (send foto) Ini sudah saya transfer ya uangnya.

Syena mendelik menatap hasil screenshoot foto yang menunjukkan nominal sesuai dengan kesepakatan. Syena mengirimkan pesan pada Bio, ia melompat lompat senang.

Syena mengetik...

Syena: Bio!! Gue dapat pelanggan pertama nih! Kebetulan banget arsitektur kan bidang gue.

Syena mulai mengambil kertas dan pena, ia menggambar sketsa hitam putih sesuai permintaan. Klien pertama Joki Tugas, me ini memiliki tugas yang cukup rumit sehingga Syena harus menggunakan kecermatan penuh untuk berkonsentrasi. Hampir satu jam pengerjaan, Syena menatap ponsel. Ia tak melihat ada balasan pesan dari Bio. Syena tau, Bio keberatan atas keputusannya untuk membuka joki tugas. Tapi apa yang Syena lakukan hanya untuk memanfaatkan peluang menjadi uang. Setuju ataupun tidak pendapat Bio, Syena akan tetap melakukannya.

...

Di kafe Biru, Bio dibantu oleh Syena untuk mengumpulkan berkas CPNS apa saja yang dibutuhkan. Mereka mengambil tempat duduk di area outdoor. Angin menyibak rambut Syena sehingga membuat wajahnya terlihat sempurna. Syena benar-benar menekuni secara detail supaya berkas yang diperlukan Bio tak ada yang tertinggal. Bio terpana menatap Syena.

"Kenapa lo nggak ikut aja sama gue?" celetuk Bio tiba-tiba.

"Ikut kemana emang?" jawabnya tanpa melihat Bio, dadanya berdesir pertanda apa ini.

"Ikut daftar CPNS lah, lo kan pintar," ujar Bio mendekatkan wajahnya ke Syena. Gadis itu menatap sekilas, lalu wajahnya berubah sedih. Gue pikir lo mau ajak gue ke kehidupan lo, batinnya.

"Syen, lo dengerin gue kan?" tanya Bio sekali lagi.

"Iya, dengar kok. Gue nggak mau aja," Syena tetap menjawab sambil memilah-milah berkas Bio.

"Alasannya?" Bio masih penasaran. Syena menghentikan aktivitasnya.

"Nggak semua orang pintar itu mau daftar CPNS, ada yang pengin berkarya ada juga yang pengin bekerja, bukan mengabdi." Syena kembali menautkan pikirannya pada berkas di depannya.

"Kalau lo suka ngerjain sesuatu dan itu dibayar, itu sama aja mengabdi kan? Mengabdi pada hobi." Bio memulai perdebatan.

"Iya, tapi konteksnya tetep beda, Bio. Lo kan daftar CPNS untuk mengabdi pada negara bukan hobi yang lo suka?" Syena memilah-milah berkas yang seharusnya tidak untuk di upload.

"Gue suka kok," ujar Bio singkat. Syena mengedip-ngedipkan mata, kehabisan kalimat untuk membalas lawan bicara.

"Gue juga suka sama perempuan yang lagi ribet sama berkas gue sekarang." Bio membuat pernyataan dengan menatap jalanan yang lenggang. Syena tak menggubris ucapan Bio. Syena bersandar pada kursi dan menyeruput minuman, ia tengah menunggu klien yang akan memberikan tugas ujian real time. Denting WhatsAap berbunyi, Syena segera menatap ponsel yang ada di atas meja.

081234567xxx: Kak, ini tugasnya ya. Waktu pengerjaannya cuma 2 jam, kalau sudah selesai bisa tolong scan PDF ya, thankyou.

Syena segera membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh klien barusan. Bio menatap Syena dengan kening berkerut, lantas memalingkan muka ke jalan setapak yang ada di hadapan mereka. Selesai mengerjakan tugas, Syena menekan tombol send dan memastikan pengerjaan itu diterima oleh klien.

JOKI TUGAS, ME! MENGETIK...

JOKI TUGAS, ME! : Halo Kak, ini untuk tugasnya ya (send hasil PDF)

Syena tersenyum puas sambil meregangkan badan dan menguap. Bio menatap Syena sekilas, ia menaikkan alis. Syena balas menatap Bio, keduanya tersenyum.

...

Di samping meja belajar, Syena melukis apa saja yang ada dibenaknya. Tanpa rencana, tanpa konsep dan tanpa research, ia berhasil melukiskan seorang gadis duduk bersimpuh dengan anyaman benang rustik di tangannya. Syena tersenyum senang, ia mulai mengambil foto dengan handphone. Jeda beberapa detik ponselnya berdering, one missedcall dari kontak berikut:

081939828xxx : Halo Kak, ini kan deadline jam 10 kira-kira sudah dikerjakan belum ya?

Mata Syena mendelik, ia sontak melihat jam dinding. Syena menepuk dahi. "Astaga, bodoh banget. Gue kelupaan." Syena segera mengambil kertas folio dan menuliskan tugas si klien. Ia tak lupa untuk membalas pesan tersebut.

JOKI TUGAS, ME! : Okay, sebentar lagi kami kirim ya. Terima kasih atas reminder-nya.

Send! Selesai juga tugas kali ini, Syena segera merapikan meja dan tidur. Tak lupa ritual sebelum memejamkan mata adalah memainkan ponsel terlebih dahulu. Syena mengambil selimut, menutup badannya sampai leher. Belum ada lima menit, denting WhatsApp berbunyi.

081939828xxx : Kak, ini nomor 5 jawabannya nggak sesuai soal, lho! Gimana sih! Revisi, Kak!

"Haduh, apa lagi sih! Ganggu waktu tidur gue aja!" Syena menendang selimut dan beranjak dari tempat tidur. Gadis itu mau tak mau harus merevisi ulang di kertas folio.

JOKI TUGAS, ME! : Halo, Kak. Berikut untuk pengerjaan revisinya sudah kami selesaikan ya.

Send!

"Gue harap lo nggak minta revisi lagi." Syena mengulas senyum, berencana untuk mematikan ponsel dan berlari ke tempat tidur. Sudah cukup kali ini, jangan ganggu lagi.

...

Terik matahari menyeruak masuk melalui tirai jendela. Syena menggerakkan seluruh badan, ia memijat tangan, merasakan sakit luar biasa. Selepas wisuda, memang tidak ada lagi kegiatan yang mengharuskan Syena bangun lebih awal seperti manusia yang harus berangkat kerja tepat waktu. Syena beranjak dari tempat tidur, ia menyalakan handphone dan membelalak melihat notifikasi instagram muncul dari layar ponsel. Tangan Syena membuka instagram akun Joki Tugas, Me!

retojadi.putri started following you

vanessachandaa started following you

erlanggaputra started follwoing you

99+ started following you

Syena menutup mulut dengan satu tangan, tak menyangka project yang ia buat akan seramai ini. Ia semakin semangat untuk mengerjakan tugas-tugas dari klien selanjutnya. Gadis itu juga mulai merembet pada tugas yang bukan ahlinya. Semakin dia menyanggupi tugas klien, itu berarti selangkah dia melakukan tindakan kriminal lebih jauh. Denting WhatsApp berbunyi.

50++ message muncul secara bersamaan di layar notifikasi.

089484849xxx : Dengan joki tugas, Me! ya kak? Bisa handle mata kuliah Arsitektur nggak?

083499129xxx : Joki Tugas, Me! aku bisa minta tolong kerjain tugas harian Matematika? Sebentar aku kirim soalnya ya.

081666777xxx : Joki tugas, Me! Aku mau dong joki tugas skripsi judulnya Pencahayaan Ilahi.

Dan masih banyak message lain yang membuat Syena pusing seketika. Syena mengetik satu pesan untuk mengabari Bio, ia mondar-mandir tak tentu arah. Syena meminum air putih di nakas samping tempat tidurnya. TIba-tiba pintu kamar Syena di ketuk, ia berlari membuka pintu sambil memunculkan kepala, ingin tau siapa gerangan.

"Oh, Bunda. Iya, Bun?" Syena tersenyum menatap Bunda yang sudah rapi meskipun hanya di rumah saja.

"Tuh, di luar sudah ada Bio." Nirina menatap curiga ke arah Syena, namun putrinya sontak kaget dan berlari menuruni anak tangga untuk menemui Bio. Masih menggunakan piyama dan rambut acak-acakan, ia tiba-tiba berhenti melihat tampilan Bio. Lelaki itu menggunakan kemeja panjang warna putih dengan lengan di gulung setengah dan celana kain hitam tengah menatap Syena yang menghampiri dirinya.

"Hai, Syen!" Bio melambai padanya. Syena menatap Bio dari ujung kaki hingga kepala.

"Kok cepat banget kesini?" tembak Syena tanpa aba-aba. Lelaki itu justru tak mengerti maksud pembicaraannya.

"Cek handphone lo deh!" lanjut Syena. Bio mengambil ponsel di saku celana, ada satu pesan yang belum ia baca dari Syena.

"Oh, gue emang ada rencana ke rumah lo, sih. Bisa minta tolong nggak?" pinta Bio. Alis syena terangkat satu.

...

Syena berada di kafe biru menunggu Bio keluar dari Gedung Graha, tempat diadakannya tes CPNS gelombang pertama. Lokasinya tidak jauh dari kafe biru, sehingga Bio bisa berjalan kaki menemui Syena kembali. Bio kebagian jadwal pukul 15.00-17.00 WIB untuk melakukan seleksi kompetensi dasar. Syena menatap layar ponsel, ia sudah membuat schedule joki tugas supaya lebih tertata dan tak ada kata terlambat untuk pengumpulan deadline. Syena meminum matcha coffe di hadapannya.

"Selamat sore, Kafe Biru siap melayani pesanan anda." Motto kafe biru yang selalu diucapkan para karyawan disana saat pelanggan datang. Seorang lelaki memesan jus orange dan duduk tak jauh dari bangku Syena. Lelaki itu mengeluarkan laptop, membukanya dan memegang kepala dengan satu tangan. Ia terlihat kebingungan, jarinya lihai menari di atas ponsel sampai akhirnya berakhir dengan send.

Denting WhatsAap berbunyi. Syena tersadar dari lamunan, ia memeriksa layar ponsel.

085218299xxx : Halo Joki tugas, Me! Aku mahasiswa semester 6 mau joki tugas arsitektur dong! Kalau nilai bagus, ada extra fee dari saya.

Mata Syena berbinar, dia menutup mulutnya dengan satu tangan, tak habis pikir mengapa mahasiswa zaman sekarang ingin serba instant. Lagi-lagi motto kafe biru terucap saat pelanggan masuk.

"Syena!" Bio berlari ke arahnya sambil memasang raut muka sumringah. Syena yang tengah membaca pesan, mendongak ke sumber suara. Ia melihat Bio sudah duduk didepannya.

"Gimana hasilnya?" tanya Syena senang. Lelaki di hadapannya ini sudah sering menang lomba kejuaraan, dan Syena berharap Bio bisa mendapatkan hasil terbaik.

"Bagus, skor yang gue dapet 530 dari 550, Syen!" Bio memegang kedua pipi Syena, mencubitnya gemas.

"Ha, serius? Lo pintar juga ya ternyata." Syena berdecak kagum, mukanya berubah gusar. Ia tau, semakin berhasil Bio dalam menggapai mimpinya, semakin yakin Bio meninggalkannya perlahan.

"Gue yakin lo lolos kok, tapi nggak ada lagi yang bantuin gue handle project Joki Tugas, Me lagi." Syena melipat kedua tangan di meja, ia menundukkan kepala. Bio menghela napas panjang.

"Kalau gue lolos CPNS tahun ini, boleh nggak gue minta lo berhenti dari project Joki Tugas, Me?" Bio mengikuti gaya Syena, melipat kedua tangannya. Gadis itu menengadah. "Kenapa?" tanya Syena.

"Betapa beruntungnya gue punya seseorang yang selalu support gue." Bio tersenyum menatap Syena. Gadis di hadapannya ini sangat cantik, dengan rambut panjang hitam yang lurus. Syena lagi-lagi menunduk, menyembunyikan senyumnya.

"Sudah tiga bulan lo berkecimpung di project Joki Tugas, Me. Sebenarnya tujuan lo bikin project ini apa?" tanya Bio sekali lagi. Syena duduk dengan tegak dan menatap Bio serius.

"Ya nggak ada sih, gue cuma mau tunggu pengumuman hasil interview aja" Syena memandang Bio, ia melamun.

"Lo ahli melukis kan? Kenapa nggak mulai cari duit dari situ aja?" Bio memajukan kepalanya, menatap Syena lekat-lekat. Gadis itu seakan teringat sesuatu, ia mengambil ponsel dan menunjukkannya pada Bio.

"Eh, Bio. Gue ada klien yang nawarin extra fee lho! Bantuin gue, dong." bisiknya. Syena mengalihkan pembicaraan, Bio menggeleng. Syena bersandar lemas pada kursi.

"Terakhir. Gue bantu lo untuk yang terakhir," jawab Bio sekiranya, membuat Syena manyun.

Syena menatap backpack Bio yang diletakkan di bawah meja. Syena menatap Bio ragu-ragu. "Hm, Bio. Gue boleh pinjam laptop sebentar?" tanya Syena sambil melirik ke bawah.

"Boleh, kok." Bio mengeluarkan laptop dari tas dan meletakkannya di atas meja. Syena tersenyum sambil membuka laptop milik Bio. Syena mengarah pada email dan log in dengan akun dirinya. Syena menatap satu pesan paling atas yang belum ia buka. Subjek email itu menyiratkan sebuah informasi Hasil interview dan psikotest. Mata Syena menyusuri tiap kalimat yang tertulis pada body note.

Subject: Review Interview & Psikotest

Dear Kandidat PT. Merdeka Instant Rajawali

Menindaklanjuti hasil interview dan psikotest yang anda kerjakan

Mohon maaf, kali ini anda tidak sesuai dengan kualifikasi kami

Mohon untuk mencoba kembali di lain kesempatan

Best Regards

Syena masih menatap tulisan itu lekat-lekat, ia tak menyangka surel yang ia dapat berbanding terbalik dengan ekspektasi yang selama ini ia idam-idamkan. Syena memutuskan untuk log out akun email dan menutup laptop. Bio menatap Syena yang tiba-tiba berubah tegang.

"Are you okay, Syen?" Bio memegang pergelangan tangan Syena.

"Okay," jawab Syena singkat.

...

Selesai dari kafe, Bio mengantar Syena pulang seperti biasa. Syena melambaikan tangan pada Bio, ia menunggu mobilnya yang kian menghilang dari pandangan. Syena melamun sejenak, memikirkan apa yang baru saja menimpanya. Syena memasuki pelataran rumah dengan wajah menunduk.

Syena meletakkan tas sembarangan, ia melepas sepatu dan juga kaus kaki. Gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci muka. Syena kembali mencari tas yang baru saja ia buang tak tentu arah sambil merogoh ponsel, teringat tawaran klien terkait tugas extra fee. Syena segera membalasnya.

JOKI TUGAS, ME! : Bisa, Kak. Boleh kirimkan soalnya dulu ya.

Syena menutup tirai jendela dan duduk di kasur, ia menyelimuti separuh badannya. Denting WhatsAap berbunyi dengan cepat.

085218299xxx : (File PDF disematkan) Membuat sketsa kontruksi bangunan bertingkat dengan konsep kafe yang minimalis. Deadline pengumpulan sekitar 3 minggu.

JOKI TUGAS, ME! : Bisa kak, untuk Fee sekitar 2 juta ya. Bisa bayar setengah harga dulu, Kak.

085218299xxx : Oke, saya lunasin aja sekarang. Tolong tepat waktu ya. Untuk identitasnya: Nama: Kevin Sanjaya Kelas: AT2 Universitas Airlangga.

Syena tersentak, klien yang akan di handle-nya berkuliah di universitas yang sama. Syena membelalak, nama Kevin Sanjaya adalah adik tingkat Syena di kampus.

JOKI TUGAS, ME! : Oke, Kak Kevin. Kami usahakan akan dikirim sesuai deadline ya. Terimakasih sudah mempercayakan Joki Tugas, Me! sebagai perantara tugas Kakak :) Kalau boleh tau tentang fee yang kakak tawarkan masih berlaku ya?

085218299xxx : Iya, Kak. Fee 3 juta ya.

Selena menelan ludah, ia masih memandangi layar ponsel. Syena mengetik pesan kepada Kevin, lalu menghapusnya kembali. Syena menyimpan nomor telepon itu dengan Nama Kevin Sanjaya lantas mematikan ponsel, meletakkannya di nakas. Entah kenapa kali ini Syena justru ketakutan. Ia memutuskan untuk tidur dan mematikan lampu kamar.

...

Di kafe biru, dari kejauhan seorang lelaki tengah tersenyum bahagia. Sambil meminum jus orange, ia menutup laptop dan memasukkannya ke dalam laptop sleeve. Setidaknya tugas menggambar sketsa milik Kevin, aman dan tenteram. Joki tugas, Me yang ia temukan di platform instagram membantunya menyelesaikan exam. Kevin keluar dari kafe biru sambil pergi membawa angan-angan tentang nilai yang akan ia dapatkan nanti.

Sementara Bio, kembali lagi memasuki kafe biru setelah mengantar Syena pulang. Lagi-lagi motto dari para karyawan terdengar, Bio memesan chocolate panas, ia butuh udara cukup segar sambil sesekali belajar tes CPNS yang kedua yaitu seleksi kompetensi bidang. Meskipun kafe ini cukup jauh dari tempat tinggalnya, Bio tak keberatan, sebab kafe ini adalah tempat favorit Syena, gadis yang ia sukai sejak pertama masuk kuliah.

Ya, Syenara merupakan teman pertama yang Bio temui saat ospek. Meskipun berbeda fakultas, tapi tak menghalangi Bio untuk bertemu Syena. Siapapun yang menganggunya, Bio selalu maju paling depan. Kecantikan dan kepintaran Syena adalah anugerah dari Tuhan. Saking cerdasnya, Syena salah jalan. Prinsip hidup yang ia miliki adalah bisa membuat peluang menjadi uang. Bio masih ingat, saat Syena pernah berkata, "Bio, gimana kalau gue buka joki tugas aja? Laris banget lho zaman sekarang!" tanya Syena saat mereka keluar dari perpustakaan. Kebiasaan Syena dan Bio saat jam istirahat atau tak ada kelas, keduanya sering menghabiskan waktu untuk mencari buku disana.

"Joki tugas?" jawabnya lirih.

"Iya, semacam kerjain tugas mahasiswa lain dan dibayar! Namanya joki, peluangnya gede lho!" Syena berbicara sambil memegang backpack Bio, seakan meminta persetujuan.

"Lo mau buka joki tugas, gitu?" Bio memastikan. Syena mengangguk.

"Gimana kalau kita bikin project joki tugas aja? Lo mau kan?" tanya Syena dengan semangat.

"Nggak. Gue nggak mau." Bio menghindar dari Syena, gadis itu mendekat lagi ke arah Bio.

"Jangan sampai kepintaran yang lo punya itu merusak reputasi lo!" lanjut Bio sambil menunjuk kening gadis di hadapannya. Syena terdiam, ia cemberut. Keduanya masih berjalan menuju fakultas berbeda yang gedungnya saling berseberangan. Syena tetap tersenyum sambil meminta pendapat.

"Eh, kalau nama project-nya Joki Tugas, Me! gimana?" Syena tak terpengaruh dengan himbauan Bio, lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauannya.

...

Syena duduk di teras sambil menyeruput jus jeruk, ia merentangkan kedua kaki di atas kursi. Syena bersandar lemas menatap laptop yang masih terbuka dan menampilkan tugas matematika yang baru saja ia selesaikan. Matanya sendu, membayangkan saat dimana ia teringat tidak lolos interview. Syena menarik napas kesal sambil megambil ponsel. Ada satu pesan dari Bio yang menyiratkan bahwa ia tengah on the way menuju rumahnya.

Setengah jam berlalu, Bio sudah berada di depan rumah membunyikan klakson untuk menarik perhatian Syena. Gadis itu berlari membuka pintu gerbang dan menyambut Bio dengan raut muka datar. Bio tersenyum sambil menenteng buah semangka kesukaan Syena lantas meletakkannya ke atas meja.

“Gue ambil pisau bentar” Syena bergegas pergi ke dapur dan kembali dengan langkah gontai.

“Lo kenapa, Syen?” tanya Bio lembut. Syena menggeleng, ia menyerahkan pisau kepada Bio. Lelaki itu segera memotong semangka menjadi bagian kecil-kecil.

“Oh ya, hasil interview kerja gimana, Syen? Masih belum ada pengumuman?” lanjut Bio. Syena melamun menatap tangan Bio yang tidak berhenti memotong buah semangka.

“Gagal, Bio. Gue nggak lolos.” Syena mengambil semangka dan memakannya. Bio menatap Syena lekat-lekat. Ia menarik napas panjang, memahami perasaan yang menyelimuti hati Syena.

“Ya sudah, mau coba melamar di tempat lain atau mau ku carikan perusahaan di....”

“Nggak usah, Bio. Gue nggak mau kerja ikut orang.” Syena memotong pembicaraan Bio dengan cepat.

“Terus mau apa?” lanjutnya pelan.

“Nggak tau, kayaknya mau fokus sama joki tugas aja.” Syena menatap pohon mangga yang tertanam di halaman rumah.

“Lusa ada waktu?” Bio mengalihkan pembicaraan, tak ingin memulai debat.

“Mau kemana?” tembak Syena langsung.

“Ikut gue tes CPNS yang kedua ya? Seleksi kompetensi bidang di gedung graha.”

“Ya, gue tunggu di kafe biru lagi kan?” Syena menatap serius lelaki yang duduk di sampingnya. Bio mengangguk.

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing dan tak melanjutkan pembicaraan. Syena masih asyik memakan semangka sedangkan Bio melamun sambil menatap laptop Syena sekilas. Mereka duduk bersisian tak bersuara untuk memecah keheningan.

Hari ini Syena berada di kafe biru tengah menunggu Bio datang menyelesaikan tes kedua CPNS di gedung graha. Sejak duduk di bangku perkuliahan, Bio selalu meminta Syena untuk menemaninya kapan pun dan dimana pun dirinya berada, sementara Syena apa-apa selalu bisa sendiri tanpa bantuan Bio. Seperti hari ini, dengan sukarela menanti kehadiran Bio yang akan menyambutnya dengan senyum mengembang dan membicarakan hasil tes yang sudah ia kerjakan. Syena tidak suka membuang-buang waktu, maka dari itu ia membawa beberapa tugas untuk dikerjakan di kafe biru sambil menyantap spaghetti bolognese menu favorit di kafe tersebut. Hari ini project Joki Tugas, Me sedang ramai-ramainya karena bertepatan dengan ujian akhir semester mahasiswa, sehingga Syena sedikit kelimpungan mengerjakan tugas tanpa bantuan Bio.

Selesai sudah tugas-tugas yang diselesaikan Syena. Ia memasukkan pensil dan kertas ke dalam tas lalu menyandarkan wajahnya di meja. Syena menarik napas panjang, tangannya mengarah pada ponsel di depan dan melihat siapa gerangan yang membuat ponselnya berdenting. Syena membaca pesan Kevin, klien yang seminggu lalu menawarkan extra fee padanya. Tubuh Syena mendadak tegap dan segera mengambil tab di tas, ia lantas menyelesaikan desain Kevin yang jangka waktunya sisa satu Minggu lagi.

Bio meneriaki nama Syena dari kejauhan dan membuatnya tersentak seketika. Syena mendongak lantas berkonsentrasi lagi pada benda di tangan. Bio memesan menu di barista sekaligus membayar pesanan Syena. Bio menghampiri Syena dengan pipi merona akibat sepanjang jalan ia tak berhenti senyum.

“Syena, hari ini gue lancar mengerjakan tes.” Bio mengacak-acak rambut Syena, gadis itu menepis tangannya.

“Gue lagi fokus, Bi” Syena tak memandang Bio yang sudah duduk di depannya.

“Sibuk Joki Tugas, Me?” tebaknya. Syena mengangguk pelan.

“Jadi pengumuman selanjutnya kapan?” tanya Syena sambil meletakkan tab di meja.

“Kayaknya sih seminggu lagi, tapi bisa di cek online.” Bio tersenyum, barista memberikan makanan dan minuman di meja keduanya.

“Ya sudah lo makan dulu, pasti lapar.” Syena menunjuk menu-menu baru yang Bio pesan lantas mengambil tab di meja dan mengerjakan tugas Kevin lagi.

Kevin berada di dalam kelas tengah memperhatikan Pak Ardi berbicara. Kevin merupakan salah satu mahasiswa yang memiliki nilai rendah dalam menunjang akademisnya. Entah bagaimana lagi Pak Ardi menasehati mahasiswa semacam Kevin yang tidak betah mendengarkan petuah-petuahnya saat berada di kelas. Kevin justru menguap dan meregangkan badan menatap Pak Ardi terus mengeluarkan keluh kesah akibat kekesalan yang ia lampiaskan padanya.

Kevin merogoh ponsel di dalam saku dan mengetik satu pesan. Ia tersenyum saat mendapat balasan yang menyatakan bahwa tugasnya akan dikirim sesuai tenggat waktu. Kevin mengalihkan fokus pada Pak Ardi yang masih betah menerangkan materi di papan tulis. Sesekali ia tersenyum menatap Pak Ardi yang melontarkan pertanyaan pada tiap mahasiswa. Tunggu aja, gue bakal dapat skor tinggi kali ini, gumam Kevin sambil menuliskan materi di buku catatan.

...

Bio menatap serius laptop di depannya. Lelaki itu tengah duduk di teras sambil melipat kedua kaki. Hari ini sudah seminggu tepat jangka waktunya mengerjakan tes seleksi CPNS yang kedua. Bio mengucek mata berkali-kali untuk memastikan nama lengkapnya tertulis di pengumuman kelolosan. Bio berteriak tanpa suara, ia memanggil kedua orang tuanya untuk memperlihatkan pada mereka, apakah itu benar nama lengkapnya ataukah hanya imajinasi sesaat.

Papanya tiba-tiba bersujud, Mamanya sontak memeluk Bio sambil menangis haru. Hari ini adalah momen bahagia yang berhasil Bio dapatkan setelah hampir berminggu-minggu ia menyelesaikan tes yang menyiksa fisiknya. Bio juga tak lupa untuk menelepon Syena dan mengabari kelolosannya yang berhasil diterima di Kejaksaan RI. Bio mengangkat ponsel ke telinga lalu melihat lagi layarnya. Bio menekan tombol loudspeaker dan terdengar nada sambung dari speaker-nya.

Lama karena tak kunjung mengangkat panggilannya, Bio bergegas mengambil kunci mobil dan pergi menuju rumah Syena. Lelaki itu tak henti senyum sambil sesekali menyapa beberapa kendaraan yang berhenti di lampu merah, ia tersenyum sambil melayangkan obrolan sedikit-sedikit pada pengendara sepeda motor. Bio berhasil memarkir mobil di halaman rumah Syena, ia berlari dan mengetuk pintu cepat-cepat. Mama Syena menyambut kehadiran Bio yang datang mencari Syena.

“Lho bukannya Syena pergi sama kamu?” tanya Mama Syena khawatir. Bio menatap raut wajah Mama Syena yang sepertinya Syena sudah berbohong supaya bisa diizinkan pergi.

“Oh iya juga sih. Saya lupa, Tante. Sepertinya Syena lagi di kafe biru.” Bio segera mencium tangan Mama Syena dan melenggang pergi. Lelaki itu bolak-balik memeriksa ponsel apakah ada sesuatu yang membuatnya salah sikap terhadap Syena.

“Lo kemana sih, Syen!” Bio memukul setir beberapa kali melampiaskan kekesalannya.

Syena duduk di kafe biru sambil menatap ponsel dan membaca perlahan pesan dari Kevin yang membuatnya bergidik. Tubuhnya merinding mengeja tiap kalimat yang dilontarkan Kevin. Pesan itu masuk berkali-kali dengan beberapa umpatan dan ancaman yang berkeliaran di notifikasi WhatsAap.

KEVIN:

Bangsat lo! Sekarang gue harus ngulang mata kuliah arsitektur selama 6 bulan.

Tanggung jawab lo! Gue nggak mau tau atau gue lacak keberadaan lo.

Kalau sampai gue ketemu lo, gue bunuh lo di tempat.

Syena menatap tiap pengunjung yang datang dan menunduk, ia khawatir apabila ada seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba melayangkan tinju atau bahkan pisau ke arahnya. Syena menggeleng, menepis semua rasa takutnya yang mendadak muncul. Syena meletakkan ponsel, tangannya mengusap wajah berkali-kali sampai membuat wajahnya kemerahan.

“Syena!” Bio memegang pundak Syena dengan lembut, lelaki itu berdiri di belakangnya. Syena sontak berteriak dan menelungkupkan wajah. Bio justru kebingungan dan duduk di sampingnya.

“Syen, ini gue Bio.” Bio mengguncang pundak Syena berkali-kali menyadarkannya. Beberapa orang di sekitar menatap keduanya, Bio meminta maaf sudah membuat kegaduhan yang tak di sengaja. Perlahan Syena membuka mata dan menatap Bio yang menatap raut wajah khawatir. Syena refleks memeluk Bio dan menangis. Bio mengusap pelan rambutnya, “Ada apa, Syen?”

Syena menggeleng, lantas berkata, “Gue nggak mau lanjut di project Joki Tugas, Me” Syena mengendurkan pelukan, tangan Bio mendekap wajah Syena sambil tersenyum. Bio mengangguk setuju, dari awal ide yang dibuat Syena terlalu berisiko.

“Kenapa memangnya? Bukannya lo sendiri yang bersemangat sama projek itu?” Bio memandang wajah Syena yang perlahan menunduk. Ia masih membayangkan pesan-pesan yang masuk di layar ponselnya tadi.

“Nggak papa, kayaknya gue mau belajar hal lain.” Syena melepas tangan Bio yang masih ada di wajahnya.

“Syen, gue mau ngomong sama lo. Gue diterima CPNS di kejaksaan RI.” Bibir Bio tertarik ke atas, senyumnya mengembang perlahan. Syena mengusap sisa air mata dengan tangan.

“Se..rius Bio? Lo lolos CPNS?” tanya Syena memastikan. Bio mengangguk, wajah Syena menunduk. Gadis merasa pertahanannya lemah, jiwanya tidak sekuat biasa. Bio pasti akan pergi dari sisisnya, bahkan semakin kurang waktunya untuk Syena. Bio menatap air mata yang mengucur deras dari rok Syena. Bio mengangkat dagu Syena dan menaikkan alis.

“Syenara…” Bio menenggelamkan wajah Syena di dadanya. Ia lagi-lagi harus menenangkan Syena kembali.

“Lo pasti bakal pergi jauh, Bi. Gue pasti disini sendirian.” Syena berbicara di balik lengan besar Bio. Lelaki itu seketika tertawa mengetahui apa yang membuatnya menangis. Bio melepas pelukannya dan memegang pundak Syena.

“Lihat bibir gue. Sampai kapan pun gue nggak akan pergi dari lo. Asal lo harus berhenti dari project Joki Tugas, Me itu.” Bio meyakinkan Syena di tiap kalimatnya.

“Tapi, tunggu gue selesain tugas klien yang terakhir aja ya. Setelah itu gue janji nggak bakal lanjut lagi.” Syena memohon sambil menatap tulus lelaki di depannya. Bio mengangguk mengiyakan. Keduanya keluar dari kafe biru dan meninggalkan area tersebut.

Malam sehari sebelum Syena bertemu Bio, gadis itu mengerjakan desain Kevin dengan konsentrasi penuh. Ia memiringkan kepala dan merasa tugas milik Kevin sangat mirip dengan tugas dosen yang diberikan Syena setahun lalu. Syena melihat arsip di tugas-tugas yang pernah ia kirim saat masih kuliah. Matanya membelalak karena perintah yang diberikan Pak Ardi sangat persis dengan perintah Kevin saat ini.

Dengan penuh kesadaran, Syena memutuskan untuk mengganti objek kafe dengan gubuk kecil yang di modifikasi sederhana. Syena menggerakkan jari tangan di atas tab dengan lihai. Selesai meralat desain miliknya, Syena mengirimkan desain itu melalui email Kevin dan menekan tombol send. Syena menarik napas lega meskipun ia tau perbuatannya salah. Syena merasa jasa joki buatannya makin hari mendadak ramai sehingga tak bisa membagi waktu tugas mana yang harus ia kerjakan lebih dulu. Tangan Syena menekan menu instagram dan melihat jumlah followers yang semakin bertambah tiap harinya.

Di kamarnya, Kevin tersenyum melihat email masuk dari Syena. Lelaki itu lantas men-download desain tersebut dan langsung mengirimkan tugas ke surel Pak Ardi. Kevin meletakkan ponsel di atas meja sambil tersenyum senang menatap raut muka kagum Pak Ardi yang akan memujinya esok saat di kelas. Kevin memutuskan untuk tidur dan mematikan lampu kamar.

Keesokan harinya, Pak Ardi mencetak seluruh desain milik mahasiswa dan memeriksa apakah desain tersebut aman untuk disebut menjadi sebuah masterpiece. Pak Ardi lantas mengangkat satu kertas sambil geleng-geleng kepala. Pak Ardi berjalan dari ruang prodi menuju kelas yang akan ia ajar. Riuh teriakan dan obrolan mahasiswa terdengar dari telinga Pak Ardi saat akan sampai di ambang pintu. Pak Ardi memutuskan untuk membuka dan sorak riuh itu berubah menjadi keheningan.

Pak Ardi meletakkan tumpukan kertas desain milik semua mahasiswa yang ada di kelas. Mata Kevin bertemu tatap dengan Pak Ardi yang mengamatinya serius. Satu persatu nama lengkap berdiri dan mengambil kertas di tangan Pak Ardi. Tiba giliran Kevin yang maju dan menerima hasil tugasnya, selangkah Kevin maju ia merasakan manik mata Pak Ardi tertajam lurus padanya sedangkan Kevin justru tersenyum puas dan menantikan pujian.

“Kau tidak lolos mata kuliah arsitektur dan harus mengulang di semester depan.” Pak Ardi memberikan sehelai kertas milik Kevin Abdi. Lelaki itu menatap heran dan berganti pada kertas desain yang sudah di cetak, ia sontak membelalakkan mata.

“Kau sudah melakukan hal tercela, Kevin. Kau berani melakukan plagiasi terhadap tugas kakak tingkatmu dan tidak ada alasan apapun untuk membuatmu tetap bertahan di kelas ini. Silakan keluar!” Pak Ardi mempersilakan Kevin dengan satu tangan mengarah pada pintu. Tenggorokan Kevin tercekat, ia akan melayangkan protes tapi tidak jadi, sebab desain miliknya memang tidak sesuai dengan permintaan Pak Ardi. Kevin mengangguk lantas mengambil tas dan keluar dari kelas.

...

Sejak kejadian itu Syena memutuskan menonaktifkan akun instagram Joki Tugas, Me untuk sementara. Tangannya gemetar menatap direct message yang dikirim Kevin. Syena terlalu khawatir sampai memutuskan untuk keluar dari rumah dan berkata pada sang Mama bahwa ia akan pergi menemui Bio. Syena berjalan kaki menuju kafe biru sambil sesekali menatap ke belakang, takut apabila ada seseorang yang mengikutinya. Bayangan itu selalu melekat sejak ia mendapat pesan-pesan umpatan dari Kevin.

Di tempat lain, Kevin masih di depan pintu kelas mengetik sesuatu di ponselnya sambil menahan emosi. Ingin sekali ia berteriak melampiaskan kekesalan, namun ia tak mau ulahnya justru menimbulkan penyesalan. Lelaki itu berjalan menjauhi kelas menuruni anak tangga.

Malamnya, Syena mencoba menelepon Kevin yang sejak tadi panggilan itu tidak digubrisnya karena takut. Syena memberanikan diri untuk menekan tombol call dan meletakkan ponsel ke telinga. Syena memejamkan mata, berharap lelaki itu tidak akan mengumpat untuk kesekian kalinya.

“Ha..halo?” ucap Syena hati-hati.

“Oh, jadi admin dari joki tugas me ini perempuan?” jawab Kevin di seberang dengan nada santai namun menusuk.

“Saya akan tanggung jawab, besok kita ketemu di kafe biru pukul sepuluh pagi bisa? Saya akan tunggu kamu disana.” Syena mengontrol pita suaranya yang sedikit bergetar, ia lantas menjauhkan ponsel, bila saja Kevin mengumpatnya lagi.

“Oke!” ucap Kevin singkat lantas mematikan telepon. Syena menghela napas lega, dadanya naik turun sampai harus meneguk air putih yang ada di nakas. Ponselnya berdering, ia sontak mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat dahulu siapa yang menelepon.

“Halo, Syen?” ucap Bio dengan lembut.

“Iya, Bi.” Syena bersandar di atas tempat tidur, tangannya bergerak mengambil selimut.

“Kamu besok ada waktu kan? Aku sudah pesan tiket kereta ke kebayoran baru. Ikut antar aku ya, Syen?” pintanya memelas.

“Jam berapa, Bi?” tanya Syena.

“Jam 12 siang.”

Syena terdiam, itu berarti dari kafe biru dirinya langsung menemui Bio untuk mengucap kata perpisahan.

“Syena...” Bio memanggil Gadis itu pelan.

“Iya, Bi. Bisa kok.” Syena tersenyum meskipun dirinya sulit menyembunyikan kekhawatiran untuk bertemu Kevin besok.

Keduanya masih melanjutkan telepon hingga larut malam, sampai pada akhirnya Syena tertidur pulas meninggalkan Bio yang memanggil-manggil namanya. Bio mematikan telepon dan melihat jam dinding. Sudah saatnya fisiknya beristirahat untuk menghadapi perjalanan menuju Kejaksaan RI esok.

Kevin turun dari mobil dan menatap seorang perempuan dengan rambut terurai panjang duduk di sebelah kasir barista. Syena tengah menatap ponselnya bila saja ada panggilan dari Kevin. Lelaki itu mengambil ponsel di saku celana dan mencoba menelepon seseorang yang akan bertemu dengannya. Kevin menatap Syena dengan gerakan bibir yang berucap halo. Kevin lantas mematikan panggilan saat matanya bertemu tatap dengan Syena. Gadis itu terlihat rapi menggunakan long dress casual dengan jaket jeans yang menutup lengannya. Syena berdiri sambil mencoba tersenyum menatap Kevin.

“Kamu Kevin?” tanya Syena ragu. Kevin mengangguk lantas menarik kursi dengan keras yang menimbulkan suara berisik. Syena menelan ludah, takut bila saja kursi itu justru menimpa dirinya.

“Oke saya minta maaf atas kesalahan desain yang sudah saya berikan kemarin. Saya akan bantu kamu supaya nggak mengulang mata kuliah arsitektur di semester depan.” Syena meletakkan kedua tangan di atas meja, ia berbicara dengan cepat untuk menutup kegugupannya.

“Caranya?” Kevin menaikkan satu alis.

“Saya akan menemui dosen mu untuk menjelaskan.” Syena tersenyum kecut, sedikit nervous.

“Gila ya lo!” Kevin berdiri dan menunjuk Syena dengan tangannya. Syena sontak melihat beberapa pengunjung yang kini menatap keduanya. Syena menyuruh Kevin duduk kembali dengan gerakan tangan.

“Akan saya jelaskan, Kevin.” Syena menarik napas panjang lantas mengeluarkan statement yang sudah ia siapkan.

“Saya Syena, saya kakak tingkatmu di Universitas Airlangga dan saya kenal Pak Ardi. Kebetulan setahun yang lalu beliau memberikan tugas yang sama seperti tugasmu kemarin. Tapi, dengan liciknya saya mengubah objek kafe yang saya gambar itu dengan gubuk kecil. Kamu mengulang di semester depan karena desainmu terdekteksi plagiasi?” jelas Syena panjang lebar. Kevin terperangah mendengar penuturan Syena, ia menarik kursi dan duduk dengan tenang.

“Tolong dengarkan saya. Ini satu-satunya cara supaya kamu tetap ada di semester ini.” Syena memastikan ucapannya.

“Oke, besok bisa? Saya ada kelas pagi, jadi kita ketemu di fakultas jam dua siang, gimana?” Kevin mengetuk jarinya di meja. Syena menatap Kevin lalu menyetujui ajakannya.

“Sebentar, desain yang waktu itu saya kasih tolong di cetak ya.” Syena menatap Kevin berdiri hendak meninggalkan Syena.

“Oke.” Kevin melenggang pergi dan masuk ke mobilnya yang terparkir rapi di halaman kafe sedangkan Syena bersandar lemas di kursi, ia memijat-mijat pelipisnya. Lelaki itu masih belum pergi dari kafe biru, ia menatap Syena yang kini sedang berkutik dengan ponselnya.

“Syena…” gumam Kevin dari balik kaca.

“Mahasiswi terbaik program studi arsitektur buka jasa joki tugas?” ucapnya pelan tak menyangka. Kevin melihat sebuah mobil datang dari arah berlawanan, lelaki dengan kaca yang hanya dibuka setengah itu melambaikan tangan ke arah Syena. Gadis itu segera beranjak dari kafe biru dan menghampiri mobil. Kevin menyipitkan mata, menatap kendaraan yang mulai meninggalkan area kafe.

Bio sudah berada di stasiun kereta bersama Syena. Mereka hanya terhalang oleh petugas pemeriksa tiket. Bio menatap lekat mata yang dimiliki Syena. Bola mata cokelat itu membuatnya tersenyum. Jarang sekali Bio memiliki momen seperti ini, bisa melihat bulu mata lentik serta bibi mungil di depannya. Syena memalingkan muka, menutupi kegugupan yang kian menjalar. Lelaki itu menahan tawa dan masih menunggu Syena untuk berbicara.

“Kamu hati-hati ya, jaga kesehatan disana, jangan lupa makan tepat waktu.” Syena membalas genggaman tangan Bio.

“Iya sayang, tunggu dua bulan lagi ya aku datang jemput kamu.” Bio memegang wajah Syena lantas memeluknya. Syena mengangguk dan tersenyum dari balik tubuh Bio yang besar. Syena amat bahagia karena Bio berhasil memperjuangkan cita-citanya. Kini, selama Bio pergi Syena akan bertekad untuk menyelesaikan konfliknya bersama Kevin dan menyusun ulang cita-citanya yang terhenti akibat project Joki Tugas, Me.

Seperti janji Syena pada Kevin waktu itu, ia pergi menuju Universitas Airlangga tempatnya berkuliah dulu. Syena berhenti memandang tulisan Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan tepat di atas gedung. Matanya beralih ke arah pintu masuk, disana Kevin sudah berdiri menatap Syena. Gadis itu melambaikan tangan, menyapa Kevin dengan tubuh yang disandarkan pada tembok. Dagu Kevin mengarahkan Syena untuk masuk ke dalam gedung. Kevin menatap Syena yang kini berjalan di sampingnya, mereka melangkah menuju ruang prodi menemui Pak Ardi.

Pak Ardi tengah menandatangani berkas-berkas yang ada di meja. Tangannya tidak berhenti memberikan nilai pada tumpukan kertas. Aktivitasnya terhenti saat suara pintu diketuk dari luar.

“Ya, masuk,” teriak Pak Ardi. Beliau menatap Kevin lantas beralih pada gadis di belakangnya.

“Lho, Syenara? Ada apa, kok kesini?” Pak Ardi mempersilakan keduanya duduk.

“Pak Ardi apa kabar?” tanya Syena basa-basi. Hampir selama lima belas menit Pak Ardi dan Syena bertukar pikiran, keduanya lantas tak ada topik pembicaraan lagi sedangkan Kevin justru melamun memandangi Syena. Gadis itu akan menjelaskan niat apa yang sebenarnya akan diutarakan pada sang dosen.

“Jadi sebenarnya kedatangan saya kesini untuk meluruskan apa yang terjadi dengan Adik saya, Kevin.” Syena meyakinkan diri setelah ucapannya barusan justru mengagetkan Pak Ardi. Kevin terpengarah mendengar penuturan Syena.

“Oh, jadi Kevin ini Adikmu, Syen?” tanya Pak Ardi sambil menatap Syena dan Kevin bergantian.

“Iya, Pak. Dan….” Syena mengeluarkan desain dari dalam tas yang sudah ia cetak lantas meletakkan di atas meja. Desain milik Kevin tergulung di tangannya. Syena mengambil kertas itu lantas memberikan kedua desain yang berbeda di hadapan Pak Ardi.

“Jadi, Pak. Desain yang kanan ini milik saya, sedangkan yang kiri milik Adik saya, Kevin.” Syena menjelaskan panjang lebar sampai membuat Kevin membentuk huruf o di bibir. Laki-laki itu mengerjap beberapa kali.

“Lantas?” ucap Pak Ardi santai.

“Lantas, tolong kasih kesempatan lagi pada Adik saya. Dia menyesal setelah melakukan itu, Pak. Atau kasih desain baru saja buat dikerjakan ulang oleh Adik saya.” Syena tiba-tiba mendapatkan ide yang membuat Pak Ardi mengulas senyum.

“Oke juga.” Pak Ardi mengangguk-angguk menatap Kevin yang bersandar lemas. Syena tersenyum melihat raut wajah sang dosen yang menyiratkan persetujuan.

Kevin meletakkan tas di atas meja belajar, ia lantas duduk sambil menatap ponsel. Ingatannya kembali saat Pak Ardi menyuruhnya untuk mengerjakan desain berbeda dari sebelumnya sebagai salah satu syarat tak mengulang mata kuliah Arsitektur. Syena berjanji untuk membantu Kevin menyelesaikan desain yang di perintah oleh sang dosen untuk menebus kesalahannya.

Laki-laki itu terdiam, merenung akan tanggung jawab Syena terhadap tugasnya. Justru kenapa gadis itu yang harus kerepotan mengurus desain selanjutnya. Ia menelepon Syena dan berkata dengan sigap.

“Halo?” ucap Syena di seberang.

“Halo, gue mau ngomong,” ucap Kevin sambil menarik napas panjang.

“Iya?” tanya Syena ragu-ragu.

“Gue cukup tertarik dengan desain yang lo buat waktu itu. Kalau boleh tau, lo pake software atau aplikasi apa? Rencananya gue mau beli ipad buat belajar desain.” Tangan Kevin memainkan miniatur di atas meja. Gadis di seberang seakan menghela napas lega, mungkin saja takut jika Kevin akan mengumpatnya lagi.

Sekitar lima belas menit mereka bercakap-cakap, Syena memberitahukan Kevin aplikasi apa yang cocok untuk pemula dan beralih menggunakan software desain. Lelaki itu menutup telepon sambil tersenyum sekaligus menjadi percakapan terakhir di antara keduanya. Syena berterus terang jika akun instagram Joki Tugas, Me resmi di tutup dan tidak dilanjutkan lagi. Kevin menjadi customer terakhir yang sudah Syena selesaikan. Awalnya Kevin bertanya kenapa, tapi Syena berkata bahwa keputusannya akan menguntungkan banyak orang termasuk dirinya sendiri. Kevin terdiam sejenak dan meminta maaf atas umpatan-umpatan yang pernah ia lontarkan pada Syena.

Dari project Joki Tugas, Me ini perjalanan Kevin kembali ke arah semula. Mungkin saja kalau dia bertemu dengan akun instagram lain, tugasnya akan terabaikan. Tapi beruntungnya Kevin saat bertemu Syena yang mau meluangkan waktu untuk bertemu Pak Ardi dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Kevin melamun, mendapati apa yang terjadi padanya.

...

Kevin berada di dalam toko memilah-milah ipad yang akan ia beli. Tangannya terulur pada ipad series terbaru. Ia mengeluarkan black card dan memberikan pada kasir. Kevin tersenyum lalu mengambil paperbag berisi barang yang ia mau.

Di rumah, Kevin berusaha untuk mengutak-atik aplikasi yang dimaksud Syena dan berupaya untuk sabar dalam mengerjakan desain. Lambat laun, ia berhasil menggambar objek kecil-kecil. Setelah merasa mampu, Kevin meng-install software desain untuk membuat rancangan konstruksi yang diminta Pak Ardi.

Berhari-hari sudah Kevin berkonsentrasi penuh untuk mengerjakan desain, lelaki itu hampir tidak tidur untuk menyelesaikan tugas. Tengah malam selalu ia maksimalkan untuk membuat gambar sesuai dengan kemauan sang dosen. Setelah di rasa desain milik Kevin cukup matang, lelaki itu memberanikan diri untuk menghadap Pak Ardi untuk memberikan hasil tugasnya.

Pak Ardi mengagguk, ia menatap Kevin lama. Tangannya terulur ke arah Kevin, lelaki itu menjabat tangan sang dosen, “Selamat ya, tugasmu kali ini sangat bagus. Kamu bisa melanjutkan skripsi dan tidak usah mengulang di semester depan.” Bibir Kevin tertarik ke atas, ia menyunggingkan senyum bangga atas pencapaian yang sudah ia lakukan.

Sementara Syena ikut tersenyum mendapati pesan yang dikirim dari Kevin, ia sangat gembira melihat hasil karya Kevin diterima baik oleh Pak Ardi. Syena menghela napas lega dan melanjutkan lukisan yang tengah ia buat dengan kuas di atas kanvas. Melukis merupakan hobi Syena sejak kecil dan sudah saatnya ia harus mempublikasikan sebuah masterpiece di hadapan orang-orang. Syena tiba-tiba tersenyum, ia memiliki ide untuk membuat project lain setelah resmi menutup Joki Tugas, Me.

Siang itu setelah mengemas lukisan, Syena dan Bio memutuskan makan di luar. Mereka menatap satu persatu restoran sambil menunjuk makanan mana yang mereka inginkan. Syena membelalak saat ada restoran Jepang baru saja di buka dan tengah menyajikan promo terbaik. Restoran dengan pilihan ramen sebagai hidangan makan siang adalah penyajian terbaik menurut Syena. Ia senang akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan Kevin. Bio menatap Syena dengan wajah curiga. Sumpit yang dipegangnya ia letakkan kembali.

"Kenapa, Syen?" ucap Bio. Syena tak menjawab pertanyaannya.

"Jadi, rencananya bakal dikemanain joki tugas itu?" lanjutnya, Bio masih belum memakan ramen sejak tadi, ia kepikiran project yang didirikan gadisnya.

"Sudah terpikirkan kok rencananya," jawab Syena.

"Gimana, emang?" lanjut Bio penasaran. Syena menghela nafas, meletakkan sumpit dan menatap serius lelaki di hadapannya.

...

Tiga bulan kemudian.

Syena mencoba membuka akun instagram joki tugas me, ia lupa kata sandi dan harus berulang kali memasukkan kode yang benar. Syena memegang kepala dengan satu tangan merasakan pusing yang tiba-tiba datang menyerang. Syena seolah mengingat apa kata sandi yang pernah ia tulis, jarinya menari perlahan di atas ponsel, matanya terpejam saat ia menekan tombol log in. Yes, akun berhasil masuk.

Syena mengganti username Joki Tugas, Me menjadi Art of Me. Di bagian kolom mengikuti hanya ada akun instagram @syenaraanda dan @bionaratama. Keduanya menjadi owner dan co founder dari pemilik pameran karya seni Art of Me. Pesan-pesan dari klien yang masih menanyakan terkait joki tugas sudah ia hiraukan meskipun acapkali ada balasan dari Syena yang membuatnya terganggu.

Project Art of Me adalah projek yang sudah Syena kerjakan bersama Bio, pagelaran karya seni berupa lukisan dan teater tiga dimensi sudah memenuhi konsep catatannya. Dibantu oleh Bio, ia berhasil mendapat harga sewa gedung yang murah untuk membuka art of exhibition atau pameran seni yang bisa diartikan sebagai tempat atau wadah di mana 'seni' disajikan oleh seorang seniman atau sekelompok seniman untuk dilihat penonton.

Sedangkan Bio, yang berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai PNS di Kejaksaan RI akan terus berupaya membantu Syena menggapai seluruh mimpinya. Bio bertekad, apapun keluh kesah Syena kedepannya harus mampu menjadi tumpuan bagi lelaki itu. Bio tersenyum senang saat Syena berhasil meraih cita-cita mendirikan project Art of Me.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi