Nadia baru saja pulang dari rumah neneknya di kecamatan sebelah, sesuatu yang rutin ia lakukan setiap akhir bulan sejak neneknya mulai sakit-sakitan setahun terakhir. Biasanya ia pulang sebelum magrib, tapi sore itu neneknya bercerita panjang tentang masa muda, tentang almarhum kakek yang dulu sering mengantar neneknya bersepeda motor ke pasar, dan Nadia, yang selalu suka mendengarkan cerita seperti itu, kehilangan hitungan waktu.
Ia baru berpamitan pukul sembilan malam, lebih larut dari biasanya, dengan janji ke ibunya lewat telepon bahwa ia akan langsung pulang dan tidak mampir ke mana pun.
Jalan yang biasa ia lewati sudah familiar, dua puluh menit melewati persawahan yang menghubungkan kecamatan tempat neneknya tinggal dengan rumahnya sendiri. Ia sudah ratusan kali melewati jalan itu, siang maupun malam, dan tidak pernah merasa perlu waspada berlebihan.
Nadia melirik indikator bensin di motornya untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit terakhir, seolah berharap jarum itu akan bergerak naik dengan sendirinya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan jalan di antara dua kecamatan itu sudah sepi sejak setengah jam lalu. Sawah membentang di kedua sisi, gelap total kecuali cahaya bulan yang tipis, dan tidak ada satu pun lampu rumah terlihat sejauh mata memandang.
Motornya tersendat dua kali sebelum akhirnya mati total, meluncur pelan ke bahu jalan sebelum berhenti sama sekali.
"Yah," gumam Nadia, menepuk jok motornya seperti itu bisa membantu. Ia turun, memeriksa tangki, meski sudah tahu apa yang akan ia temukan. Kosong. Ia baru ingat, ia berencana mengisi bensin sebelum berangkat tadi siang, tapi buru-buru berangkat karena takut kesorean sampai di rumah neneknya, dan janji untuk mampir ke pom bensin di perjalanan itu terlupakan begitu saja di tengah obrolan panjang dengan sang nenek.
Ia mengecek ponselnya. Sinyal hanya satu bar, dan aplikasi ojek daring menunjukkan pesan yang sama sejak lima menit lalu, tidak ada driver tersedia di dekat lokasinya. Ia mencoba menelepon adiknya, tapi panggilan itu putus di tengah jalan, entah karena sinyal atau baterai ponselnya yang sudah menipis di angka delapan persen.
Tidak ada pilihan lain selain mendorong motor itu sendiri, berharap menemukan pom bensin atau setidaknya rumah penduduk sebelum baterai ponselnya benar-benar habis.
Ia mendorong motornya sekitar sepuluh menit, keringat mulai membasahi punggungnya meski malam itu cukup dingin, ketika lampu motor lain muncul dari kejauhan, mendekat perlahan, lalu melambat di sampingnya.
"Kenapa, Mbak? Mogok?"
Seorang pria, mungkin usia akhir dua puluhan, mengenakan jaket motor dan helm setengah terbuka, turun dari motornya sendiri. Suaranya ramah, wajahnya biasa saja, jenis wajah yang bisa ditemukan di mana pun tanpa membuat orang curiga.
"Kehabisan bensin," jawab Nadia, lega sekaligus waspada, campuran perasaan yang selalu muncul saat perempuan sendirian bertemu orang asing di malam hari. "Bapak tau pom bensin terdekat di mana, ya?"
"Ada, kok. Nggak jauh. Sini, saya bantu dorong sampai sana. Lumayan jauh kalau sendirian."
Nadia sempat ragu sepersekian detik. Ia teringat pesan ibunya yang selalu mewanti-wanti agar tidak mudah percaya pada orang asing, terutama di malam hari. Tapi rasa lelah, jarak yang masih jauh, dan keramahan pria itu yang terasa wajar, seperti kebanyakan orang yang menawarkan bantuan di jalan, mengalahkan keraguannya. Lagipula, ini masih di jalan umum, pikirnya. Ada motor lain yang mungkin lewat sewaktu-waktu.
Mereka berjalan bersisian, masing-masing mendorong motor mereka sendiri, pria itu mengambil posisi sedikit di depan, seolah menuntun arah. Nadia mengikuti, terlalu lelah untuk benar-benar memperhatikan bahwa jalan yang mereka lalui semakin lama semakin sempit, aspal berganti menjadi tanah berbatu, dan lampu-lampu jauh yang tadi terlihat di kejauhan kini menghilang di balik rimbunan pohon.
"Masih jauh, Pak?" tanya Nadia, suaranya mulai terdengar tidak yakin.
"Sebentar lagi," jawab pria itu, tanpa menoleh.
Sesuatu di nada suaranya berubah. Tidak banyak, hanya sedikit, tapi cukup membuat bulu kuduk Nadia berdiri. Ia melirik ke sekeliling, mencoba mengenali di mana mereka berada, tapi semuanya hanya kegelapan dan siluet pohon yang tidak familiar. Tidak ada satu pun tanda jalan, tidak ada satu pun cahaya dari kejauhan yang biasanya menandakan rumah penduduk.
"Pak, saya rasa ini bukan arah ke pom bensin," katanya, mencoba terdengar tenang, meski jantungnya mulai berdebar lebih cepat dari yang seharusnya.
Pria itu berhenti mendorong motornya. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi ramah di wajahnya lenyap sepenuhnya, digantikan sesuatu yang membuat Nadia mundur satu langkah secara insting.
"Nggak usah takut," katanya, meski nada suaranya justru membuat segalanya terasa jauh lebih menakutkan. "Kita cuma mampir dulu sebentar."
Nadia mencoba lari, meninggalkan motornya begitu saja, tapi jalan tanah itu tidak rata dan gelap, dan langkahnya tidak secepat yang ia harapkan. Ia tidak sampai jauh.
Malam itu, di antara pepohonan yang tidak dikenal siapa pun, jauh dari jalan utama, jauh dari siapa pun yang bisa mendengar, Nadia mengalami sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Teriakannya tenggelam oleh suara angin dan jarak, dan tidak ada satu pun yang datang membantunya.
Ia ditemukan tiga hari kemudian oleh sekelompok warga yang sedang mencari kayu bakar di area yang jarang dilalui itu, jauh dari jalan utama, di tempat yang bahkan penduduk setempat pun jarang tahu keberadaannya.
Motornya ditemukan lebih dulu oleh polisi, sehari setelah keluarganya melapor kehilangan, masih tergeletak di pinggir jalan tempat awalnya ia mogok, dengan tangki kosong dan kunci masih menggantung di kontak, seolah pemiliknya baru saja pergi sebentar dan berniat kembali. Petugas sempat menyisir area sekitar jalan utama pada hari pertama, memeriksa parit dan semak-semak di sepanjang rute, tapi tidak menemukan apa pun selain motor itu sendiri.
Keluarganya sudah melapor kehilangan sejak malam pertama, ketika telepon Nadia tidak bisa dihubungi dan ia tidak pulang seperti biasanya. Ibunya, yang biasanya tidur lebih awal, terjaga semalaman menunggu suara motor Nadia memasuki halaman rumah, suara yang tidak pernah datang. Pencarian dilakukan di sepanjang rute yang biasa ia lewati, dibantu oleh warga sekitar dan beberapa relawan, tapi tidak ada yang berpikir untuk memeriksa area kosong tanpa nama di balik perkebunan, tempat yang bahkan tidak tercantum di peta manapun, apalagi dikenal sebagai jalan yang pernah dilalui siapa pun.
Penyelidikan berjalan lambat. Tidak ada kamera pengawas di sepanjang jalan sepi itu, tidak ada saksi selain kegelapan malam itu sendiri. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan penyidik adalah jejak ban motor lain di dekat lokasi kejadian, motor yang sampai berbulan-bulan kemudian tidak pernah berhasil diidentifikasi pemiliknya, meski kepolisian sempat memeriksa beberapa bengkel di sekitar wilayah itu berdasarkan pola tapak ban yang ditemukan.
Ibu Nadia, dalam wawancara singkat dengan wartawan lokal beberapa minggu setelah kejadian, hanya mengatakan satu hal yang terus terngiang di kepala siapa pun yang mendengarnya.
"Dia cuma butuh bensin. Dia cuma mau pulang."
Kisah Nadia kemudian menyebar di media sosial, menjadi pengingat pahit bagi banyak perempuan yang sering bepergian sendirian di malam hari, tentang betapa tipisnya batas antara pertolongan yang tulus dan niat jahat yang menyamar sebagai kebaikan. Beberapa orang mulai membagikan nomor darurat, tips keselamatan, cara membagikan lokasi secara real-time kepada keluarga, dan berbagai komunitas perempuan mulai menginisiasi kelompok pendamping bagi siapa pun yang harus bepergian sendirian di malam hari melewati jalan-jalan sepi.
Tapi bagi keluarga Nadia, semua itu datang terlambat. Yang tersisa hanyalah motor yang masih tersimpan di rumah mereka, tangki bensinnya sudah diisi penuh oleh sang ayah tanpa alasan yang jelas, seolah tindakan kecil itu bisa menebus sesuatu yang sudah tidak mungkin ditebus, meski motor itu tidak akan pernah lagi digunakan oleh pemiliknya untuk pulang.