Disukai
0
Dilihat
10
Fondasi yang Retak
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Rian dikenal sebagai salah satu pekerja terbaik di proyek pembangunan itu. Sejak awal bergabung sebagai tukang besi enam bulan lalu, ia selalu datang paling pagi, memeriksa ulang setiap ikatan tulangan sebelum dicor, dan tidak pernah absen meski hujan deras mengguyur area proyek. Mandor menyukainya, rekan-rekan seangkatan menghormatinya, bahkan beberapa pekerja senior sering bertanya pendapatnya soal teknis pemasangan bekisting, meski usianya baru dua puluh enam tahun.

Ia merantau ke kota demi menopang biaya sekolah adiknya yang masih SMA, dan setiap akhir bulan selalu menyisihkan sebagian besar gajinya untuk dikirim pulang. Di antara barak-barak sementara tempat para pekerja tinggal selama proyek berlangsung, Rian termasuk yang paling jarang keluar malam, lebih memilih tidur cepat agar bisa bangun segar keesokan harinya.

Semua mulai berubah ketika Doni, pekerja baru dari daerah lain, dipindahkan ke tim yang sama dengan Rian. Doni ramah, banyak cerita, dan selalu punya cara membuat suasana kerja yang berat terasa lebih ringan dengan leluconnya. Tapi Doni juga punya kebiasaan yang sudah jadi rahasia umum di antara pekerja lain, ia hampir tidak pernah melewatkan malam tanpa minum.

Awalnya Rian hanya menemani sesekali, sekadar duduk bersama sambil ngobrol setelah lelah bekerja seharian, sementara Doni dan beberapa pekerja lain minum di sudut barak. Rian sendiri tidak ikut minum, hanya menemani, merasa itu cara sederhana untuk menjalin kedekatan dengan rekan-rekan barunya di kota asing ini.

"Coba dikit aja, Yan. Nggak bakal kenapa-napa," kata Doni suatu malam, menyodorkan gelas plastik berisi cairan yang baunya menyengat.

Rian menolak beberapa kali, tapi lama-lama, di antara tawa dan desakan yang terasa seperti candaan biasa, ia mulai luluh. Malam itu ia mencoba seteguk, hanya seteguk, dan merasa tidak ada yang terlalu buruk terjadi.

Seteguk itu kemudian menjadi kebiasaan sesekali, lalu berubah menjadi rutinitas hampir setiap malam. Rian mulai merasa minum bersama teman-temannya adalah cara melepas penat yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Ia menikmati obrolan yang mengalir lebih bebas, tawa yang lebih lepas, rasa lelah yang seakan menghilang sesaat.

Tapi perlahan, kebiasaan itu mulai merambat ke area yang seharusnya tidak pernah tersentuh. Beberapa kali Rian datang kerja dengan mata sembab dan napas yang masih menyisakan bau alkohol semalam. Mandor sempat menegurnya sekali, dua kali, dan Rian selalu berjanji itu tidak akan terulang. Tapi janji itu semakin sering diingkarinya sendiri.

Rekan-rekan yang dulu menghormatinya mulai mengamati perubahan itu dengan cemas. Salah satunya, Pak Herman, pekerja senior yang sudah dua puluh tahun malang melintang di dunia konstruksi, pernah menegur Rian secara langsung.

"Rian, lo dulu yang paling gue banggain di sini. Sekarang lo kayak orang lain. Inget, ini bukan kerjaan kantoran yang salah dikit paling ditegur. Salah dikit di sini, taruhannya nyawa."

Rian hanya mengangguk, mengucapkan kata maaf yang terasa semakin hambar setiap kali diucapkan, karena keesokan malamnya ia kembali duduk di sudut barak yang sama, dengan gelas yang sama, dan lingkaran teman yang sama.

Pagi itu, proyek sedang memasuki tahap kritis, pengecoran pondasi untuk bangunan utama, area yang dipenuhi besi tulangan setinggi pinggang orang dewasa, menjulang tegak dari tanah, ujungnya runcing menunggu dicor beton. Area itu dikenal sebagai salah satu titik paling berbahaya di seluruh proyek, tempat setiap pekerja diwajibkan benar-benar waspada dan fokus penuh.

Malam sebelumnya, Rian minum lebih banyak dari biasanya. Ada semacam perayaan kecil karena salah satu rekan mereka baru saja menikah, dan Doni terus mengisi ulang gelas Rian tanpa henti, sementara Rian, yang biasanya bisa mengontrol diri meski sudah terbiasa minum, malam itu kehilangan hitungan sama sekali.

Ia bangun pagi itu dengan kepala berdenyut hebat, tubuhnya masih terasa limbung, tapi memaksakan diri berangkat kerja karena takut kena tegur lagi. Ia tidak sarapan, hanya menenggak air putih sebanyak mungkin, berharap itu cukup untuk menghilangkan sisa mabuknya.

Mandor membagi tugas seperti biasa, dan Rian ditempatkan di area pondasi, memeriksa ulang ikatan besi sebelum tahap pengecoran dimulai siang itu. Ia berjalan di antara batang-batang besi yang menjulang, langkahnya sedikit goyah, pandangannya masih sedikit kabur, tapi ia terus memaksakan diri bekerja seperti biasa, berharap tidak ada yang menyadari kondisinya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, saat memeriksa ikatan besi di bagian yang lebih tinggi, kepalanya masih berdenyut dan keseimbangannya belum sepenuhnya pulih. Ia melangkah mundur satu langkah untuk memeriksa sudut pengelasan, tanpa menyadari posisi kakinya yang berada tepat di ujung papan bekisting yang licin karena sisa embun pagi.

Kakinya terpeleset.

Dalam sepersekian detik, tubuhnya oleng ke belakang, tangannya mencoba meraih apa pun untuk berpegangan, tapi tidak ada yang bisa diraihnya. Ia jatuh, dan di antara hutan besi tulangan yang menjulang tegak di sekelilingnya, salah satu ujung besi yang runcing berada tepat di jalur jatuhnya.

Teriakan yang terdengar dari area itu membuat seluruh proyek berhenti seketika. Beberapa pekerja yang berada di dekatnya berlari mendekat, tapi yang mereka temukan sudah terlambat untuk ditolong.

Doni, yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kejadian, adalah orang pertama yang sampai di sana. Ia berdiri mematung beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sebelum akhirnya berteriak memanggil bantuan sambil tangannya gemetar hebat, tidak tahu harus berbuat apa.

Proyek dihentikan sementara hari itu. Petugas keselamatan kerja dan pihak berwajib datang untuk melakukan investigasi, memeriksa area kejadian, mewawancarai setiap pekerja yang berada di lokasi. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan indikasi bahwa korban berada dalam kondisi tidak fit untuk bekerja pagi itu, sesuatu yang seharusnya bisa dicegah jika ada pengawasan lebih ketat di jam masuk kerja.

Berita kematian Rian menyebar cepat di antara para pekerja proyek, dan menjadi pengingat pahit yang dibicarakan berbulan-bulan setelahnya. Perusahaan memperketat pemeriksaan kondisi pekerja setiap pagi, memasang aturan lebih tegas soal larangan bekerja dalam kondisi tidak sehat, dan menambah rambu keselamatan di area rawan seperti tempat pondasi.

Doni tidak pernah lagi menyentuh minuman keras sejak kejadian itu. Ia berhenti dari proyek beberapa minggu kemudian, tidak sanggup lagi bekerja di tempat yang setiap sudutnya mengingatkannya pada temannya yang dulu selalu ia ajak minum bersama, tanpa pernah membayangkan ke mana kebiasaan kecil itu akan bermuara.

Ibu Rian, saat menerima kabar kematian anaknya, hanya bisa terduduk lemas, memegangi foto terakhir yang dikirim Rian sebulan sebelumnya, foto dirinya mengenakan helm proyek dengan senyum lebar, berdiri bangga di depan bangunan yang sedang ia bantu dirikan.

Fondasi bangunan itu akhirnya tetap berdiri kokoh, menjulang tinggi seperti rencana awal. Tapi bagi mereka yang mengenal Rian, bangunan itu akan selalu menyimpan cerita tentang seorang pekerja baik yang perlahan kehilangan arah, dan retakan kecil dalam hidupnya yang, sama seperti fondasi yang tidak diperkuat dengan benar, akhirnya runtuh menelan dirinya sendiri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi