Istana Jerami dan Senja yang Hilang
Lembayung oranye masih membekas dengan sangat jelas dalam ingatan masa kecilku. Setiap kali aroma tanah basah sehabis hujan menyapa hidung, atau saat angin sore menghembuskan aroma padi yang baru dipanen, ingatan itu selalu pulang. Ia kembali ke sebuah desa kecil di pinggir bukit, tempat di mana waktu seolah berjalan jauh lebih lambat, dan kebahagiaan terasa begitu sederhana.
Kala itu, musim panen raya selalu menjadi waktu yang paling ditunggu oleh aku dan tiga kawan karibku: Rian, Galih, dan Bayu. Bagi para petani, panen adalah saat memetik buah dari kerja keras berbulan-bulan. Namun bagi kami yang masih berusia sembilan tahun, panen adalah awal dari petualangan terbesar di sepanjang musim kemarau.
Sore itu, sekitar jam empat, matahari mulai condong ke barat. Cahayanya yang keemas-emasan menyiram hamparan sawah yang baru saja selesai disabit. Batang-batang padi yang tersisa meninggalkan hamparan warna kuning kecokelatan yang luas, bertumpuk-tumpuk dengan gunungan jerami kering yang ditinggalkan para petani.
"Reno! Galih! Bayu! Ayo cepat, sebelum harinya keburu malam!" teriak Rian dari ujung gang desa sambil berlari kecil. Kakinya yang telanjang tak memedulikan sisa-sisa jerami tajam yang menancap di tanah.
Kami bertiga menyusul dari belakang. Tanpa alas kaki, tanpa beban, hanya membawa antusiasme meluap-luap. Udara sore itu terasa sejuk, bertiup perlahan merontokkan dedaunan pohon jati di tepi sawah. Bau khas jerami terbakar samar-samar tercium dari kejauhan, bercampur dengan tawa anak-anak desa lain yang juga sedang bermain laying-layang.
Tujuan utama kami sore itu adalah tumpukan jerami paling besar di tengah sawah milik Pak Karto. Pematang sawah yang sempit menjadi lintasan balap kami. Beberapa kali kami terpeleset ke dalam lumpur sisa irigasi, namun alih-alih menangis, kami justru tertawa terbahak-bahak melihat celana monyet kami yang makin kotor.
"Hari ini kita bikin istana yang lebih besar dari kemarin!" seru Galih penuh semangat begitu kami sampai di tumpukan jerami utama. Tangannya yang mungil langsung menyambar seikat jerami kering.
"Setuju! Aku yang jadi arsiteknya, kalian yang cari bahan!" perintah Rian dengan gaya sok dewasa yang selalu membuat kami menurut.
Rencana besar pun dimulai. Kami tidak memiliki cetakan blueprint atau alat-alat canggih. Senjata kami hanyalah imajinasi yang tanpa batas dan delapan tangan kecil yang tak kenal lelah.
Kami mengumpulkan tumpukan jerami yang tersebar di sekitar area panen. Bayu, yang bertubuh paling gemuk di antara kami, bertugas menumpuk batang-batang bambu bekas tiang saung yang tergeletak tak terpakai untuk dijadikan fondasi utama. Aku dan Galih bertugas mengangkut segenggam demi segenggam jerami empuk untuk dijadikan dinding dan atap.
Jerami-jerami itu kami susun sedemikian rupa. Kami menancapkan beberapa pelepah daun pisang di bagian atas sebagai peneduh tambahan. Di bagian dalam, kami meratakan tanah dan melapisinya dengan jerami paling halus agar nyaman saat diduduki. Rian dengan teliti membuat lubang kecil di sisi barat dinding jerami.
"Ini buat apa, Yan?" tanyaku heran.
"Ini jendela, No. Biar kita bisa melihat matahari terbenam dari dalam rumah," jawab Rian bangga sambil mengacungkan jempolnya yang penuh debu tanah.
Proses pembuatan rumah rumahan dari jerami itu diwarnai dengan canda tawa yang riuh. Ada kalanya tumpukan dinding jerami kami ambruk karena disundul oleh Bayu yang kehilang keseimbangan, membuat kami guling-gulingan di atas jerami sambil memegang perut karena terlalu banyak tertawa. Rasa gatal yang ditimbulkan oleh bulu-bulu halus jerami yang menempel di kulit leher dan lengan sama sekali tak kami hiraukan. Rasa gatal itu kalah oleh sensasi kegembiraan yang membakar dada.
Saat rumah rumahan itu akhirnya selesai, bentuknya mungkin tak lebih dari sekadar tumpukan acak bertumpuk tinggi dengan lubang di tengahnya. Bagi orang dewasa yang melintas, itu hanyalah tumpukan limbah pertanian. Namun bagi kami berempat, bangunan rumit itu adalah sebuah istana megah, benteng pertahanan yang tak tertembus, tempat segala mimpi anak-anak dirajut.
Kami berempat merangkak masuk ke dalamnya. Ruang di dalam terasa hangat dan beraroma khas kotoran tanah kering bercampur harum manis jerami segar. Kami duduk bersila melingkar di atas alas jerami yang empuk. Dari lubang "jendela" buatan Rian, kami memandangi langit sore yang mulai berganti warna. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah jerami, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menembus keheningan di dalam rumah rumahan kami.
"Kalau sudah besar nanti, kalian mau jadi apa?" tanya Galih tiba-tiba, memecah keheningan sambil mengorek-orek tanah dengan ranting kayu.
"Aku mau jadi pilot! Nanti aku terbang naik pesawat di atas sawah ini, terus aku lambaikan tangan ke kalian," jawab Bayu mantap tanpa ragu.
"Kalau aku mau jadi tentara, biar bisa menjaga istana jerami kita ini dari serangan musuh," timpal Rian sambil memperagakan gerakan memegang senapan kayu.
Aku tersenyum mendengarnya. "Kalau aku, aku cuma ingin kita bisa terus main di sini setiap sore."
Mereka berdua tertawa mendengar jawabanku. Di usia sembilan tahun, kami percaya bahwa waktu akan berhenti di sore itu. Kami percaya bahwa kami akan selamanya menjadi anak-anak yang berlarian di atas pematang sawah, membangun rumah dari jerami, dan menyambut senja bersama-sama.
Dari dalam rumah rumahan, kami mulai membagikan "harta karun" yang kami bawa di dalam saku. Galih mengeluarkan beberapa butir buah kersen manis yang ia petik di jalan. Bayu membawa dua buah ubi bakar sisa sarapan ibunya yang sudah dingin. Kami membaginya rata, memakannya dengan lalap jari-jari yang kotor berdebu. Nikmatnya ubi dingin dan buah kersen sore itu terasa jauh lebih lezat daripada hidangan restoran mana pun yang pernah kukecap di kemudian hari.
Garis-garis cahaya matahari di dinding jerami perlahan memudar. Warna langit bertransisi dari oranye keemasan menjadi keunguan yang syahdu. Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan dari balik semak-semak, menggantikan kicau burung pipit yang terbang berbondong-bondong kembali ke sarangnya.
Dari kejauhan, terdengar suara sayup-sayup panggilan dari ibu-ibu kami di kampung.
"Reno! Pulang! Sudah mau magrib, ayo mandi!"
"Bayu! Galih! Rian!"
Panggilan itu adalah pertanda bahwa sihir sore hari telah berakhir. Dengan enggan, kami merangkak keluar dari rumah jerami kami. Kami berdiri di samping istana buatan kami, memandangi matahari yang kini tinggal separuh terbenam di ufuk barat. Angin malam yang dingin mulai berhembus, menerpa wajah kami yang penuh dengan goresan tanah dan peluh yang mengering.
"Besok kita main ke sini lagi, kan?" tanya Galih sambil menepuk-nepuk celananya yang penuh serat jerami.
"Pasti! Besok kita tambah menara di sebelah kiri!" jawab Rian penuh keyakinan.
Kami pun berlari pulang menyusuri pematang sawah yang makin gelap, meninggalkan rumah jerami kami yang berdiri kokoh ditelan bayang-bayang malam. Kami pulang dengan kaki kotor, baju penuh debu, dan hati yang dipenuhi kepuasan tiada tara.
Kini, puluhan tahun telah berlalu.
Aku berdiri di tepi jalan beraspal yang kini membelah area yang dulu menjadi sawah tempat kami bermain. Tak ada lagi hamparan warna kuning keemasan bekas panen. Tak ada lagi tumpukan jerami yang menggunung. Semuanya telah berganti menjadi deretan perumahan beton dan bising lalu lalang kendaraan.
Rian kini bekerja di kota lain, Galih telah berkeluarga di seberang pulau, dan Bayu sibuk dengan dunianya sendiri. Kami telah tumbuh menjadi orang dewasa dengan beban dan jalan hidup masing-masing, persis seperti masa depan yang dulu tidak pernah kami bayangkan di dalam rumah jerami itu.
Namun, setiap kali sore menjelang dan angin berhembus perlahan membawa aroma tanah basah, aku selalu memejamkan mata. Seketika itu juga, aku kembali menjadi anak kecil berumur sembilan tahun. Aku bisa merasakan empuknya alas jerami, hangatnya garis cahaya matahari sore yang menerobos celah dinding, dan gelak tawa polos tiga kawan terbaikku.
Rumah jerami itu mungkin telah lama hancur membusuk menyatu dengan tanah, namun istana yang kami bangun di sore itu akan tetap berdiri kokoh, terpatri abadi di dalam ingatan masa kecilku yang hangat.