Disukai
0
Dilihat
18
Is he a Psycho?
Drama

Cinta adalah satu kata yang mempunyai begitu banyak makna. Ada yang mengatakan cinta itu indah, namun ada pula yang mengatakan cinta itu sangat menyakitkan. Bagaimana dengan kamu? Apa arti cinta menurut dirimu sendiri?

Bagiku, cinta adalah sesuatu yang sesuatu yang membuat kita menemukan diri kita yang lain. Ketika jatuh cinta pada umumnya seseorang akan mengubah seluruh kebiasaan hidupnya. Biasanya, kita akan lebih memperhatikan penampilan, gaya berpakaian, serta tutur kata dan sikap kita. Terkadang, kita juga akan tersenyum sendiri saat membaca pesan yang masuk di ponsel, tersenyum sendiri ketika memikirkannya, dan biasanya akan uring-uringan sendiri ketika pesan kita tidak di balas. Ya, seperti itulah cinta, sebuah perasaan yang unik namun juga rumit.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku baru merasakan jatuh cinta itu pada usiaku yang ke dua puluh empat tahun. Cukup terlambat. Tapi selama ini aku memang tidak pernah peduli dengan masalah cinta dan sebagainya. Begitu lulus SMA, aku langsung sibuk bekerja, untuk membiayai kehidupanku sehari-hari dan juga membiayai sekolah adik-adikku yang masih kecil.

Aku bukan berasal dari keluarga berada. Papaku hanyalah seorang sopir bus, sementara mama bekerja sebagai pembantu di salah satu sekolah swasta tempatku bersekolah dulu. Aku mempunyai dua orang adik yang usianya jauh berbeda dariku. Yang paling kecil masih berusia sepuluh tahun dan yang dibawahku itu berusia tiga belas tahun. Karena itulah, demi membantu keringanan biaya di rumah, aku memilih bekerja dan tidak melanjutkan kuliah ke universitas meskipun saat itu aku sempat mendapatkan beasiswa.

Saat ini aku bekerja sebagai waitress di salah satu kafe. Kafe itu cukup terkenal dan honor yang ditawarkan di kafe itu cukup tinggi. Kami juga tidak diharuskan untuk memakai pakaian yang aneh-aneh seperti di beberapa kafe yang tidak jelas. Aku bekerja di kafe ini sudah setahun lebih, setelah sebelumnya aku sempat berganti pekerjaan selama beberapa kali karena tidak cocok.

Namun belakangan ini ada satu hal yang sedikit mengusik perhatianku. Beberapa bulan terakhir ini, ada seorang mahasiswa berusia dua puluhan, yang setiap hari datang ke kafe. Tiap giliran jam shift-ku, aku selalu melihatnya di kafe, dan dia selalu hanya memesan secangkir kopi, lalu setelah itu dia akan tinggal di sana selama berjam-jam, bahkan pernah beberapa kali hingga kami tutup toko.

Ada beberapa kali kami sempat beradu pandang, tapi aku selalu memilih untuk mengalihkan pandanganku. Bukan karena tidak suka, tapi karena aku merasa malu jika terus dilihatin. Beberapa teman kerjaku sering mengatakan kalau lelaki itu tiap harinya terus mengamatiku, tapi aku tidak percaya. Aku ini sejak dulu tidak pernah dekat dengan lawan jenis jadi sama sekali tidak punya pengalaman mengenai hal semacam ini.

Hingga suatu hari, saat aku kebetulan menerima pesanan minumannya, dia tiba-tiba membuka suara. ”Aku... boleh meminta nomor ponselmu?” tanyanya pelan hampir menyerupai bisikan.

”Hah?”

Karena tidak mendengar jelas, aku langsung mendongakkan kepalaku melihatnya untuk mendengar ulang pa yang dia katakan. Tapi saat itu dia malah terdiam, dan langsung mundur.

Saat aku melihatnya lebih dalam, wajahnya sudah langsung memerah hingga ke telinga. Aku tidak mengerti. Ada apa dengannya?

”A... anda tidak apa-apa?” tanyaku bingung melihat wajahnya yang begitu memerah.

Dia menggeleng, setelah itu dia tidak jadi memesan dan langsung berlari keluar. Teman yang lain yang melihat kejadian itu langsung menertawaiku.

”Dia itu malu, masa sih, kau tidak paham saat melihat wajahnya yang memerah?” kata Katty, salah satu rekan kerjaku kepadaku.

”Malu? Kenapa?” Aku jadi semakin bingung mendengar perkataan Katty.

”Aduuh, Celine, kau ini benar-benar polos, ya. Dia itu sepertinya tertarik padamu, makanya saat kau melihatnya, dia langsung malu sendiri. Ya, mungkin dia tipe yang agak pemalu,” jelas Katty lagi.

Benarkah yang Katty katakan? Lelaki tadi menyukaiku? Jika yang dikatakan Katty benar, rasanya ini pertama kalinya dalam hidupku ada seseorang yang tertarik dengaku. Tapi dia saja tidak mengatakan suka padaku, bagaimana bisa aku kege-eran duluan. Aku berusaha mengesampingkan pikiranku itu, meskipun dalam hati aku sendiri masih tetap saja merasa ge-er dan besar kepala.

Esok harinya lelaki itu tidak muncul di kafe. Esoknya lagi juga tidak muncul. Dalam hati aku sedikit merasa kecewa. Aku bertanya-tanya ada apa dengannya, tidak biasanya dia tidak muncul, bahkan sampai seminggu. Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah yang membuatnya tidak mau melihatku lagi?

”...ne... Celine...!” Katty berteriak dengan keras di telingaku, langsung membuyarkan seluruh lamunanku.

”A... apa, sih? Kau hampir membuatku tuli,” gerutuku.

”Cepat keluar! Ayo!” Katty langsung menarik tanganku, sementara aku masih belum menyelesaikan makan malamku. Kebetulan hari itu aku mendapat shift malam.

”Ada apa? Kenapa kau menarikku seperti ini?” tanyaku, masih tetap mengikuti Katty.

”Ada seseorang sudah menunggumu daritadi di luar sana.”

”Apa? Seseorang menungguku? Siapa?” tanyaku heran.

Aku sudah lama tidak pernah berhubungan dengan teman sekolahku, dan aku bukan tipe yang punya banyak teman, memangnya siapa yang bisa mencariku?

Aku tetap mengikuti Katty dari belakang, dan saat aku sampai di depan kafe, semua orang sudah berkumpul, seorang lelaki dengan sebuket mawar besar sudah berlutut di sana. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia menutupi wajahnya dengan buket mawar merah itu.

”A... ada apa ini?” Ucapanku jadi agak terbata-bata. Tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang dan aku merasa sangat gugup.

”Bersediakah kamu menjadi pacarku?” tanya lelaki yang memegang buket mawar merah itu. Suaranya terdengar ringan namun sangat jelas.

Katty mendorongku mendekat ke arah lelaki itu. Aku berusaha melihat wajahnya dan aku merasa aku tidak asing dengan sosok orang ini.

”Aku menyukaimu,” Lelaki itu lalu mengulurkan buket mawar merah yang sedari tadi di pegangnya itu kepadaku. Seketika itu juga aku akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tentu saja aku sangat mengenal wajah dan senyumnya itu!

Aku sama sekali tidak bisa menghentikan seulas senyuman di wajahku saat melihatnya. Sebuah perasaan aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya muncul dalam hatiku. Rasa senang, malu, berdebar-debar, dan kedua tanganku menjadi dingin. Seperti itulah yang kurasakan. Rasanya aku bahkan tidak dapat berkata-kata. Aku menutup wajahku dengan sebelah tanganku. Kaget. Aku seakan tidak percaya hal seromantis ini akan terjadi padaku. Aku pernah melihat pernyataan cinta seperti ini dalam novel dan drama. Tak pernah sekalipun terbayangkan aku akan mengalaminya sendiri. Ya, bagi sebagian orang, mungkin pernyataan cinta seperti ini biasa saja, tapi bagiku yang sama sekali tak pernah pacaran, ini benar-benar merupakan hal yang sangat luar biasa. Aku sama sekali belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki.

”Jawaban kamu mana, Celine?” Pak Chun, manajer kafe kami yang berumur lima puluhan itu tiba-tiba membuka suara. Rupanya dia juga berada di sana daritadi menyaksikan pernyataan cinta ini.

”Betul itu! Kamu mau membiarkan orang berlutut berapa lama menunggu jawabanmu,” kata teman kerja yang lain.

”A... aku... aku tidak tahu harus berkata apa... Ini terlalu tiba-tiba. Aku sama sekali belum tahu perasaanku sendiri...” Aku benar-benar merasa sangat gugup.

Malam itu juga ada beberapa tamu yang datang ke kafe itu dan semuanya berbalik ke arah kami, menyaksikan semua yang terjadi.

”Be... berdirilah, jangan berlutut seperti itu lagi,” kataku mengulurkan tanganku pada lelaki itu. Dia adalah mahasiwa yang selalu datang ke kafe kami setiap hari.

Kupikir dia tidak akan datang lagi dan aku tidak akan bertemu dengannya lagi, tak disangka hari ini dia tiba-tiba datang dengan kejutan seperti ini.

Lelaki itu menyambut uluran tanganku sambil meyodorkan buket mawar itu memaksaku untuk menerimanya. Aku pun menerima mawar merah itu dan membalasnya dengan senyuman.

”Sudah, sudah, bubar, bubar. Kembali kerja semuanya,” kata Pak Chun membubarkan semuanya yang sedari tadi berkumpul menonton, seperti sedang melihat artis saja. Rasanya malu sekali. Dalam sekejap aku langsung terkenal di daerah sekitar sana.

”Celine, malam ini aku memberikanmu izin. Kau sudah boleh pulang.”

”Ah, ta... tapi...”

”Tak ada tapi-tapian. Aku berharap besok sudah bisa mendengarkan kabar bagus darimu, ya,” canda Pak Chun dengan wajah serius.

Aku tersenyum dan langsung membungkukkan badanku yang dalam pada Pak Chun. ”Terima kasih, pak!” seruku.

Pak Chun sejak dulu memang sangat baik. Meskipun dia adalah seorang atasan, tapi dia tidak bersikap seenaknya layaknya atasan yang lain. Dia sangat pengertian dan tidak pernah memarahi kami jika melakukan kesalahan. Dia selalu menegur dengan lembut.

***

 ”Aku tidak mengenalmu, bahkan namamu saja aku tidak tahu. Aku rasa pengakuanmu malam ini, aku tidak bisa menerimanya.”

Kami berjalan di tepi jalan. Ada begitu banyak orang yang juga berlalu lalang di jalan itu. Di luar jalan juga dipenuhi kendaraan hingga macet.

”Nggg, a... aku tahu. Aku hanya tidak tahu bagaimana berkenalan denganmu. Tapi mulai sekarang aku akan memperkenalkan diriku.” Dia menghentikan langkahnya dan langsung berdiri di depanku. Kami saling berhadapan, dan dia lalu berkata, ”Namaku Sean Wilbert, mahasiswa semester tujuh jurusan hukum, saat ini berusia dua puluh dua tahun.”

Aku langsung tersenyum lebar saat melihat ekspresinya yang begitu serius memperkenalkan dirinya. 

”Namaku Celine Zhang, usia dua puluh empat tahun,” kataku membalas perkenalan dirinya.

Itulah awal perkenalan kami. Meskipun saat itu kami tidak langsung menjadi pasangan kekasih, tapi itu merupakan awal perkenalan yang cukup bagus menurutku. Sekitar tiga bulan saling mengenal satu sama lain, kami akhirnya mulai menjalin hubungan. Sean adalah pacar pertama dan cinta pertama bagiku, dan menurut pengakuannya, aku juga adalah pacar pertamanya.  

Sebagai pasangan baru, tentu saja kami berdua sangat mesra. Tiap hari kami pasti bertemu. Setelah berpisah pun, kami pasti akan terus saling berkirim pesan, seakan pembicaraan diantara kami berdua tidak akan ada habisnya. Kupikir kemesraan ini akan terus berlanjut, setidaknya kami bisa seperti pasangan normal lainnya yang bisa bertahan lama, tapi sayangnya aku berharap terlalu banyak.

Memasuki bulan kelima hubungan kami, Sean mulai berubah. Dia menjadi semakin protektif. Tiap bertemu, dia pasti meminta ponselku dan memeriksa semua pesan chatku dan juga panggilan teleponku. Awalnya aku tidak keberatan dengan hal ini tapi makin lama rasanya Sean menjadi semakin aneh. Dia juga sampai pindah ke tempat kost-ku dengan alasan ingin lebih dekat denganku.

Ya, aku memang bekerja di Jakarta, jauh dari keluarga, jadi tiap bulan aku hanya mengirimkan uang pada mereka, sehingga apa yang kulakukan di Jakarta, dengan siapa aku tinggal, kedua orang tuaku tak pernah tahu. Mereka hanya tahu aku hidup sendiri dan mengurusi diriku sendiri selama di Jakarta.

”Sean, aku rasa kita tidak seharusnya tinggal bersama. Apa yang akan dikatakan orang lain kalau melihat dua orang pasangan yang belum menikah tinggal bersama?” kataku.

”Tidak masalah, aku tidak peduli dengan pandangan orang lain. Lagian, kita kan tidak melakukan hal lain yang memalukan.” Sean tetap berkeras dengan keinginannya sendiri.

”Iya, tapi...”

”Sudahlah, jangan dipikirkan. Memangnya kamu tidak ingin lebih dekat lagi denganku?” katanya dengan manja.

Tiap kali Sean sudah berkata manis seperti ini, rasanya aku tak tahu bagaimana membalasnya dan aku pun langsung mengikutinya. Aku seolah sudah terhipnotis dengan dirinya. Entah kenapa aku selalu menuruti tiap perkataannya, termasuk jika dia melarangku untuk terlalu dekat dengan lelaki lain. Apakah jatuh cinta itu seperti ini? Apakah jatuh cinta itu membuat kita mendengarkan semua yang si dia katakan? Kenapa perasaan suka ini terkadang membuatku merasa di kekang? Kenapa perasaan yang diberikan Sean padaku membuatku mulai merasa tidak bebas?

”Siapa yang baru saja meneleponmu tadi?” tanya Sean ketus setelah aku menutup telepon.

”Oh, teman SMA-ku. Mereka bilang kalau beberapa hari lagi akan diadakan reuni, dan mereka pikir aku ada di Medan,” kataku menjelaskan.

”Kemarikan ponselmu,” Sean mengulurkan tangannya padaku, meminta ponsel yang sedang kupegang.

”Kenapa?” tanyaku heran.

Sean langsung merebut ponselku dari tanganku, dan mengutak atiknya. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dengan ponselku. Karena penasaran, aku langsung mendekatinya. Aku melihatnya tengah menghapus daftar kontak-ku.

”Apa yang kau lakukan, Sean!? Kau gila, ya!?” Aku langsung merebut kembali ponselku. ”Kenapa kau menghapus kontak teleponku?”

”Buat apa kau menyimpan nama lelaki lain di dalam ponselmu!?” Ekspresi wajah Sean berubah. Aku belum pernah melihat wajahnya yang masam seperti itu.

”Apa maksudmu? Mereka ini teman-temanku,” kataku lagi.

”Buat apa kau berteman dengan lelaki lain? Memangnya kau mau tebar pesona sama semua lelaki!?”

”Kau ngomong apa, sih, Sean? Aku tidak mengerti dengan maksud ucapanmu. Kenapa kau menuduhku seperti itu?” Aku mulai kesal mendengar ucapannya. Nada suaraku pun jadi meninggi.

”Mulai hari ini, kau tidak boleh bergaul dengan lelaki lain selain aku. Menelpon, berkirim pesan, atau apapun tidak boleh!”

”Sean, kau ini kenapa? Kau cemburu, ya? Tapi cemburu juga ada batasnya, Sean. Kau tidak berhak melarang dan membatasi pertemananku. Kau sendiri tahu, kan, yang aku sukai hanya kau seorang. Aku tidak mungkin melihat lelaki lain.”

Aku berusaha menjelaskan dengan baik agar Sean paham kalau dia jelas-jelas hanya cemburu buta. Tapi Sean sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dia masih bersikeras dengan keyakinannya sendiri.

”Pokoknya kau harus mendengarkanku!” Suara Sean semakin keras. Dia memaksaku harus mendengarkannya. Dia juga memegang tanganku dengan sangat erat. Pandangan matanya sangat berbeda dengan dia yang biasanya. Aku takut melihat dirinya yang seperti itu.

”Le... Lepaskan...” Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeramannya. ”Kau ini kenapa, sih!? Cemburu juga ada batasnya! Kalau seperti ini, rasanya kau terlalu mengekangku!”

PLAKKK!!!

Telapak tangan Sean tiba-tiba mendarat tepat di wajahku. Tentu saja aku sangat kaget dengan perbuatannya itu. Aku sama sekali tak menyangka dia akan langsung main tangan seperti itu. ”Kau... kau memukulku...!?” tanyaku sambi memegang pipiku yang kesakitan.

”Dasar wanita...!! Senangnya mempermainkan laki-laki! Apa kau tak tahu kalau aku ini sangat khawatir!?” Sean langsung menarik rambutku dengan keras.

”A... aduuuh...!!!” Sean menarik rambutku keras sekali, seolah membuat seluruh rambutku seakan mau terlepas. ”Sakit... Sean, sakit...!” Semakin aku melawannya, Sean akan semakin menyiksaku.

Meskipun aku menangis meminta dia melepaskannya, dia tetap tidak melepaskan tangannya dari rambutku. Dia seperti sedang kerasukan. Setelah aku menyerah dan pasrah menghadapi perlakuannya, Sean tiba-tiba berlutut sambil menangis dan meminta maaf padaku, seakan dia hanya lepas kontrol atas dirinya sendiri.

Dengan polosnya kupikir mungkin saat itu dia memang hanya khilaf saja. Mungkin rasa cemburu yang menguasai hatinya membuatnya menjadi seperti itu, sehingga aku mencoba menganggap kejadian di hari itu tak pernah terjadi. Tapi sayangnya aku salah.

Sejak hari itu, perlakuan kasarnya mulai berlanjut dan semakin lama malah semakin kasar. Dan seperti pertama kali dia menjadi gila, setelah melakukan kekerasan padaku kurang lebih setengah jam, Sean akan berhenti. Dia akan duduk di sampingku yang sudah menangis-nangis kesakitan dan meminta maaf padaku berulang kali. Lalu dengan lembut merawatku yang terluka akibat pukulannya.

Hal yang sama berulang kali terjadi. Aku pun lelah dengan kekerasan yang dilakukannya dan aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Namun tiap kali mendengar ucapan maafnya, hatiku langsung luluh dan pada akhirnya aku selalu mengurungkan niatku untuk meninggalkannya. Aku tahu dia sangat protektif, terlalu mengekangku, tapi kupikir semua itu karena dia sangat mencintaiku dan semua yang dilakukannya hanya karena dia diliputi perasaan cemburu yang sangat besar. Sebagai pacar yang baik, seharusnya aku tidak membuatnya kuatir dan mau menerima kekurangannya, bukannya malah berpikir untuk meninggalkannya, begitu pikirku.

Oleh karena itu, meskipun sakit, aku tetap berusaha untuk bertahan. Aku berharap Sean bisa berubah. Seperti apapun dia, aku tetap masih sangat mencintainya. Aku tahu ini bukan cinta yang kuharapkan, tapi aku tidak bisa melepaskan cinta ini. Apa mungkin karena ini adalah cinta pertamaku?

Tapi sejak hari itu, dari dalam diriku sebenarnya sudah ada rasa takut dan trauma yang dalam. Tiap kali melakukan sesuatu, aku selalu merasa takut. Kalau aku gagal, apakah dia akan memukulku? Kalau aku tidak gagal, apakah dia akan tertawa bersamaku? Aku selalu takut dengan hal itu...

Hari demi hari berlalu dan waktu berlalu dengan sangat cepat, tapi perlakuan kasar Sean sama sekali tak pernah berubah. Pengekangannya padaku juga semakin kejam, bahkan belakangan jika aku lembur sedikit saja tanpa memberitahunya, dia pasti akan menghajarku saat aku pulang. Sebenarnya dia juga suka menelepon ke tempat kerjaku, memastikan apakah aku masih kerja atau tidak. Bahkan kalau aku lupa mencuci pun, dia akan memukulku. Tapi anehnya, meski merasakan penyiksaan yang begitu parah, aku benar-benar tetap tak bisa melepaskan Sean. Aku tetap saja bersabar dan tetap menyukainya. Rasanya aku yang saat itu benar-benar sangat bodoh!

Aku tak pernah menceritakan pada orang lain semua yang dilakukan Sean padaku. Aku smenyimpan semuanya sendiri dalam hatiku dan hanya bisa terus berharap suatu hari nanti Sean tidak lagi melakukan kekerasan padaku. Tapi, pada suatu hari, saat sedang ganti baju di kantor, tanpa disengaja, Miyu, salah satu rekan kerjaku melihat badanku yang penuh luka akibat pukulan Sean.

”Celine, luka apa itu di badanmu?" Sambil bertanya, dia mendekatiku perlahan. "Apa... kau mengalami penyiksaan?” tanyanya dengan sangat hati-hati.

”Nggg... ti... tidak, kok. Aku baru saja jatuh dari tangga,” jawabku dengan gugup. Aku cepat-cepat mengganti pakaianku agar dia tidak lagi melihat luka-lukaku.

”Coba aku lihat lagi. Itu bukan seperti luka jatuh dari tangga,” katanya lagi sembari berusaha membuka mataku melihat dengan seksama.

”Tidak apa, sungguh. Waktu itu aku terjatuh dari tangga terus terbentur lagi. Tapi tidak apa, sebentar lagi juga akan sembuh, kok.” Aku berusaha untuk menghindar dan tak membiarkan Miyu menyentuhku.

”Celine, kau benar-benar tidak apa-apa? Belakangan raut wajahmu juga sangat tidak bagus. Apa... apa ini ada hubungannya dengan pacarmu itu?” tanya Miyu pelan.

Aku terdiam sesaat. Aku sempat berpikir apakah aku harus jujur padanya, tapi jika aku jujur, mungkin saja Miyu akan menyuruhku meninggalkan Sean. Akhirnya aku memilih untuk berbohong. ”Mungkin belakangan aku hanya kurang tidur saja. Semua ini tak ada hubungannya dengan Sean.”

”Baiklah kalau kalian memang baik-baik saja, tapi kalau memang ada masalah, kamu bisa menceritakannya padaku.”

Aku tersenyum merespon perkataan Miyu. Aku tahu sebagai sesama wanita, kami pastinya akan lebih saling memperhatikan, ditambah lagi, Miyu ini orangnya dewasa, usianya setahun di bawahku, tapi pikirannya benar-benar sangat dewasa. Dia orang yang bisa diandalkan. Tapi biar bagaimanapun aku tetap tidak bisa jujur padanya. Aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau pacarku sendiri sepertinya adalah seorang psikopat.

”Sean, aku ingin mengenalkanmu pada temanku. Besok kau punya waktu, kan?”

”Siapa?”

”Dia teman SMA-ku dulu, dan kebetulan dia akan berkunjung ke Jakarta besok.”

”Baiklah.”

Sebenarnya aku telah membuat janji dengan seorang psikiater untuk memeriksa masalah kejiwaan Sean. Tapi aku berbohong padanya kalau aku ingin mengajaknya bertemu temanku, karena aku tahu Sean akan marah jika dia tahu aku membawanya bertemu psikiater.

Jika sudah bertemu psikiater, mungkin Sean akan berubah menjadi lebih baik, begitu pikirku. Tapi, belum sempat aku mempertemukan mereka, niatku ini sudah ketahuan olehnya. Pembicaraanku dengan psikiater itu di telepon tidak sengaja didengar oleh Sean. Dia begitu marah saat mengetahui bahwa aku akan membawanya pergi memeriksa kejiwaannya. Dan sekali lagi dia memukulku!

Saat itu seluruh amarahku memuncak. Aku lelah! Aku sudah tidak tahan lagi! Rasanya seluruh kesabaranku sudah habis. Aku merasa seakan telah diperbudak oleh cinta. Aku langsung berlari keluar dari kamar kost-ku, tapi Sean langsung menarik rambutku yang panjang terurai itu. Aku terus berusaha memberontak, berusaha melepaskan diri darinya tapi dia betul-betul sangat kuat. Setelah memberontak cukup lama, aku akhirnya bisa terlepas darinya tapi aku malah terlempar dan kepalaku membentur sudut meja, akibatnya gelas dan piring kaca yang ada di atas meja langsung jatuh dan aku tertusuk pecahan kaca itu.

Kupikir hidupku akan berakhir saat itu juga. Sungguh. Aku benar-benar pikir aku akan meninggalkan dunia ini, meninggalkan kedua orang tuaku dan juga adik-adikku yang masih kecil tanpa mengucapkan perpisahan pada mereka.

***

Tiiit... Tiitt... Tiit...

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat yang asing. Sangat tenang. Yang terdengar hanya suara mesin detektor yang terus berbunyi, yang menandakan penurunan fungsi organku. Aku masih tak bisa berpikir dengan jernih. Mataku melihat ke dinding-dinding atas ruangan itu. Aku tidak bisa terlalu banyak bergerak. Ada banyak selang menusuk masuk ke dalam kulitku dan alat bantu pernapasan menutupi sebagian wajahku.

Badanku rasanya sakit. Aku berusaha menggerakkan tanganku, dan rupanya goyangan tanganku membangunkan seseorang yang menyandarkan kepalanya tidur di atas ranjangku.

”Celine, kau sudah sadar?” seru lelaki dengan suara ringan.

Tanpa melihatnya pun, aku tahu aku sangat mengenal suara ini.

”Apa yang kau rasakan sekarang? Aku akan memanggilkan dokter untukmu,” katanya sedikit tergesa-gesa.

Aku tak menjawabnya dan hanya memalingkan wajahku darinya. Kepalaku terasa pening. Sepertinya aku tahu aku berada dimana dan sesuatu yang buruk telah terjadi padaku.

Tak lama setelah itu dua orang suster dan seorang dokter berjalan mendekatiku. Dokter itu memeriksa denyut nadiku serta memeriksa bola mataku dengan senter. Aku merasa masih sangat lemas. Aku berusaha untuk berbicara tapi tenggorokanku terasa sangat kering dan aku hanya bisa menutup mataku membiarkan dokter memeriksaku.

"Kondisi pasien sudah cukup membaik. Hanya saja, luka karena pecahan kaca ini mungkin akan sedikit membekas di kulitnya, jadi nanti aku akan memberikan salep dan kamu harus rajin mengolesnya,” kata dokter yang memeriksaku pada Sean yang ada di sana.

”Baik, terima kasih, Dok,” jawab Sean.

”Oh ya, aku juga lihat di badan pasien itu ada banyak memar dan luka." Kata dokter pada Sean. "Apa selama ini kamu mengalami kekerasan?” Dokter itu mendekatiku dan bertanya langsung di depan Sean.

Aku terdiam. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya saat itu aku bisa langsung mengungkapkan semua perbuatan kasar Sean, termasuk yang terjadi padaku hingga dirawat di rumah sakit, tapi aku tak bisa melakukannya. Aku hanya bisa berusaha menahan airmataku agar tidak keluar.

"Tidak apa, dok," kataku dengan suara bergetar.

”Baiklah, selama beberapa hari ini beristirahatlah dulu. Tapi jika benar kamu mengalami kekerasan, sebaiknya kamu segera melaporkannya, karena jika seperti itu terus, suatu hari luka itu akan menjadi luka dalam dan tak dapat disembuhkan lagi.”

Setelah si dokter keluar dari kamar, airmata yang sedaritadi kubendung langsung meledak begitu saja. Aku merasa sangat bodoh. Aku menyukai seseorang yang mungkin sama sekali tidak memikirkanku. Sean yang ada di sana juga tak mengatakan apapun. Aku tak tahu apa dia merasa bersalah atau merasa takut aku akan melaporkan perbuatannya itu.

Akibat dari peristiwa itu, tangan dan kakiku penuh dengan bekas luka akibat pecahan kaca dan menurut dokter, tulang tanganku juga retak. Tapi untung saja tak ada masalah apapun pada kepalaku.

”Aku... aku rasa hubungan kita juga sudah tak mungkin dilanjutkan lagi... Aku... aku ingin berpisah denganmu, Sean...” Setelah keluar rumah sakit aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk meminta pisah pada Sean.

”Jangan... Jangan lakukan itu, Celine!” Sean langsung menangis dan berlutut di depanku. ”Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku tak akan mengulangi semua perbuatanku lagi. Aku bersumpah! Maafkan aku... Aku akan intropeksi diri."

"Maaf...? Aku sudah mendengar ucapan maafmu ratusan bahkan ribuan kali! Tapi kamu sama sekali tak pernah berubah! Tulang tanganku juga retak semua karenamu!" Kataku dengan penuh emosi.

"Kali ini aku janji tidak akan membuatmu menderita lagi. Aku akan membahagiakanmu... Kumohon, tetaplah di sisiku, Celine...” Sean menangis sambil berlutut dan memohon padaku.

Tangisan Sean membuat hatiku semakin terasa sakit. Aku juga tidak ingin berpisah dengannya. Tapi saat aku merasa sakit, apakah dia tahu perasaanku? Ya Tuhan, apakah aku memang harus memberikannya kesempatan sekali lagi? Apakah dia akan berubah sesuai janjinya?

Akhirnya aku mencoba mengikuti perasaanku, memberikannya sekali lagi kesempatan. Aku berharap kali ini, setidaknya dengan kejadian yang hampir merengut nyawaku itu, dia benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik.

Dan dimulai sejak janjinya padaku itu, Sean perlahan-lahan mulai berubah. Dia tak pernah lagi marah-marah ataupun memukulku. Dia menjadi sangat lembut dan bahkan jika aku pulang agak malam, Sean yang akan memasakkan makan malam untukku.

Kupikir, aku telah berhasil mengubahnya menjadi lebih baik. Kupikir kebahagiaan ini akan terus berlanjut, namun baru berjalan dua bulan, Sean kembali menjadi seperti dulu. Malam itu, kami berdua masih baik-baik saja, hingga masuknya telepon salah sambung dari seseorang tak dikenal di ponselku dan dia yang mengangkatnya...

”Kau dimana? Aku daritadi sudah menunggumu disini.”, seru penelepon itu.

”Siapa ini?” 

Sean bertanya balik pada penelpon itu, tapi si penelpon tak menjawab dan langsung menutup telepon. Entah karena si penelpon langsung menyadari bahwa dia sudah salah telepon, ataukah karena dia kaget mendengar suara asing yang tak dikenalnya. Yang pasti, setelah menutup telepon itu, Sean langsung salah paham kepadaku dan berpikir kalau aku selingkuh.

”Aku tidak tahu siapa orang itu, Sean. Dia pasti hanya salah sambung. Aku sama sekali tidak sedang janjian dengan orang lain,” kataku menjelaskan pada Sean yang sudah berwajah masam.

”Diam!” bentaknya padaku. ”Aku tahu, kau pasti sudah merencanakannya. Saat aku tidur, kau akan diam-diam keluar dan pergi menemui lelaki itu, iya kan!?” lanjutnya lagi dengan suara keras.

”Tidak, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu, Sean. Percayalah padaku!” Aku menarik lengan bajunya, berusaha keras membuatnya mengerti kalau semua ini hanya salah paham.

Tapi dia sama sekali tidak mau mendengar penjelasanku. Dia langsung menepis tanganku dan mendorongku dengan keras hingga terjatuh.

”Sean, kau betul-betul sudah salah paham...” suaraku bergetar dan airmataku mulai mengalir membasahi pipiku.

Sean langsung berjalan mendekat ke arahku lalu melucuti semua pakaianku, dan hanya memyisakan pakaian dalam. Dia lalu menarikku dengan paksa ke beranda serta mengunciku di luar. 

”Dasar wanita jalang! Tak pernah puas dengan satu laki-laki saja! Sebaiknya kau dinginkan saja kepalamu di luar sana!” serunya lagi sebelum dia kembali ke dalam kamar dan meninggalku sendirian di luar sana.

”Sean, tunggu! Jangan mengunciku di sini! Sean...!” Aku mengejarnya dan memukul-mukul pintu, memohon dia membukakannya untukku. Tapi dia sama sekali tidak peduli.

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Daerah tempat kost-ku di jam segitu sudah sangat sepi, sangat jarang ada yang lewat di sana. Kenapa dia jadi seperti ini lagi? Kenapa Sean kembali seperti dulu? Bukankah dia harusnya sudah berubah? Bukankah dia berjanji tidak akan membuatku terluka lagi? Bukankah dia berjanji tidak akan memukulku lagi?

Aku benar-benar tak tahan lagi! Aku tidak bisa lagi hidup dengannya. Aku sudah tidak sanggup menjalani hidup yang seperti neraka ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun nekad untuk lari darinya dengan memanjati balkon. Untung saja tempat itu tidak terlalu tinggi dan ada pegangan yang bisa kupegang sehingga aku berhasil turun dari balkon tersebut, meskipun dengan sangat pelan dan berhati-hati.

Saat kakiku hampir menginjak tanah, tanpa sengaja aku menabrak tempat sampah yang juga ada di dekat sana. Tempat sampah itu terjaruh dan karena malam itu sudah sangat sepi, sehingga begitu mendengar ada suara ribut dari luar, Sean langsung melihat ke luar dan langsung menyadari kalau aku sudah melarikan diri. 

Dari balkon dia langsung berteriak padaku, ”Jangan pergi, Celine! Kalau kau pergi, aku akan bunuh diri!”

Sean sengaja mengancamku seperti itu agar tidak melarikan diri, agar aku kasihan padanya dan tidak meninggalkannya. Dia berlari masuk ke dalam rumah, lalu kembali lagi hanya dalam waktu beberapa detik. Kali ini tangannya memegang pisau yang siap dia tancapkan ke lehernya jika aku masih juga melarikan diri. 

Aku tidak ingin dia melakukan tindakan bodoh itu, tapi aku juga tidak bisa lagi kembali. Aku sudah tak tahan lagi mendapat perlakuan kasar seperti itu. Apapun yang terjadi, kali ini aku tetap memilih untuk pergi jauh darinya.

”Celine...!!!” teriak Sean lagi.

Aku tak mau lagi mempedulikan teriakan Sean. Aku terus saja berlari, tapi sebuah mobil tiba-tiba muncul di depanku.

CKIIIT!!! Terdengar bunyi rem yang diinjak dengan kuat. 

Mobil itu tidak menabrakku, tapi karena kaget, kakiku pun menjadi lemas dan langsung terduduk di tanah. Pengemudi mobil itu pun segera turun dan menanyakan keadaanku yang hanya mengenakan pakaian dalam itu. 

”To...long... bawa aku ke kantor polisi... Tolong aku...” kataku dengan sangat pelan.

Aku merasa seluruh tenagaku sudah terkuras habis. Aku pun pingsan dan tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.

Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Mama dan papa serta kedua adikku sudah ada di sampingku. Mama mengatakan kalau aku sudah pingsan selama 3 hari lamanya. Rupanya, malam itu, aku telah berhasil diselamatkan.

”Se...an... Dimana dia?” Dia tetap menjadi orang pertama yang kuingat saat aku membuka mata.

”Dia sudah ditangani oleh polisi,” jawab mama.

Mama memelukku dengan sangat erat. Terlihat jelas dia begitu khawatir dengan musibah yang menimpaku itu. Papa yang baik dan tak pernah menunjukkan muka marah pun duduk di kursi dekat ranjangku sambil menurunkan sedikit bahunya. Papa yang sulit membuka hatinya pada orang lain ternyata juga sangat mencemaskanku. Aku lupa menanyakan pada mereka bagaimana bisa mereka sampai datang ke Jakarta dan mengetahui apa yang telah menimpaku itu. Yang aku tahu, aku sangat senang ketika melihat mereka. Dalam hatiku ada perasaan yang sangat lega, aku lega akhirnya aku tidak sendirian menanggung semua ini.

Beberapa hari kemudian, pengadilan pun dimulai. Sean didakwa melakukan tindakan penganiayaan. Sejak malam itu, aku tak pernah lagi melihatnya. Aku hanya bertemu dengan ibunya yang datang mencariku, menangis dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan anaknya.

Saat itu aku baru tahu kalau dulunya ayah Sean sering melakukan kekerasan pada Sean dan ibunya, dan hal itu terus berlanjut hingga ayahnya meninggal. Ibunya lalu menikah lagi, tapi Sean tidak akrab dengan ayah barunya. Di saat Sean masuk universitas, dia pun keluar rumah dan sekarang hubungan mereka hanya sekedar pengiriman uang.

Sekarang aku baru mengerti bagaimana perasaan Sean yang tumbuh besar dengan melihat ibunya yang selalu dipukuli ayahnya dan selalu mendapat penyiksaan dari ayahnya, yang bahkan di kehidupan barunya pun, dia juga tak merasakan kehangatan.

Waktu aku bertemu dengannya, aku hanya terpesona dengannya tanpa tahu apa yang telah terjadi padanya. Apa yang telah dilakukannya padaku selama ini boleh dibilang karena masalah psikologi. Dia benci pada ayahnya yang selalu memukul ibunya, namun kebencian itu malah membuatnya melakukan hal yang sama dengan yang ayahnya lakukan.

Setelah divonis bersalah, Sean dikeluarkan dari Universitas dan berdasarkan informasi yang aku dengar, dia sekarang mengikuti program perubahan perilaku untuk para kriminal.

Setahun pun berlalu dengan cepat. Aku sudah tidak bekerja di kafe itu, dan sudah balik ke Medan. Aku juga sudah tidak terlalu memikirkannya lagi, tapi sampai sekarang aku masih sulit tidur di malam hari. Begitu melihat sosok yang mirip Sean di jalan, kakiku akan gemetar. Luka ini pun entah sampai kapan baru bisa sembuh, tapi suatu saat nanti kalau aku menjalin cinta lagi, aku ingin saling mengenal terlebih dahulu dan hidup masing-masing namun tetap saling mendukung satu sama lain.

Cinta bukanlah perasaan ingin menguasai. Cinta juga bukanlah kecemberuan yang berlebihan. Cinta adalah bagaimana kita saling menghargai dan menghormati privasi masing-masing, bagaimana kita membuat dirinya tersenyum, dan mendukung tiap hal yang dilakukannya, selama semua itu masih di jalan yang benar.

Aku pernah jatuh cinta padamu, pernah mencintaimu dengan tulus, pernah terluka karena dirimu, pernah berpikir bahwa kau adalah satu-satunya dalam hidup ini, namun pada akhirnya aku harus melepaskan cinta ini ~ cinta yang begitu menyesakkan dan menyayat hati..

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)