Disukai
3
Dilihat
4
Gadis Sembunai
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Marini Jo, gadis itu datang dan pergi dengan tumpukan kain kotor dan kain bersih seperti pelanggan laundry lainnya, tidak ada yang salah. Bahkan tidak juga wajah sembunainya yang cantik dan indah dengan mata seperti gadis Korea, juga bukan salahnya.

Aku saja yang salah.

Ia mungkin bahkan tidak pernah peduli apakah ketika aku tersenyum, atau ramah dengannya dianggap menggodanya. Aku saja yang merasa baper karena suara lembutnya ketika di dekatku, saat ia mengantar laundrynya.

Tapi sejak aku menanyakan mengapa ia lama tidak ke laundry dan katanya ia kecelakaan, aku ber-empati karena semata merasa kasihan kepadanya, dan sejak saat itu ia berubah sikap.

Apalagi ketika aku menanyakan kabarnya setiap kali ia datang lagi, dan menawarinya menjemput paket laundrynya daripada ia datang sendiri.

“Biarlah kamu istirahat, aku yang akan datang ke kost-mu menjemput paket itu.” Begitu kataku kepadanya suatu hari.

Aku hanya ingin ramah kepadanya. Sebaliknya justru gadis sembunai itu yang tiba-tiba menunjukkan gelagat jatuh cinta. Aku bingung dan serba salah menanggapinya.

Jika dulu pernah begitu mengagumi cantiknya, tapi sekarang aku bingung harus bagaimana.

Sejak aku mengantar paket laundrynya ke kost-nya ia tidak sungkan menemuiku diantara teman-teman kost yang menggodanya. Entah kenapa ia terlihat begitu cantik dengan senyum apa adanya yang tulus di wajahnya, dan sumpah ketika itu aku seperti merasa seperti tersihir rasa cinta seperti pertama kali aku pernah jatuh cinta.

Ia semakin sering datang ke laundry, dan malamnya ia tidak pernah absen mengirimiku pesan sekedar megingatkanku jika besok ia akan ke laundry lagi, dan menanyakan jam berapa aku ada disana. Apalagi di malam minggu.

***

Malam Minggu itu, gadis itu datang tepat ketika aku baru saja membuka rolling door pintu toko. Seperti sudah dipaskan waktu kedatangannya dengan jam buka tokoku. Aku terkesiap karena merasa tidak siap menerima kedatangannya yang tiba-tiba.

Ia berdiri di belakangku dengan menenteng tas plastik berisi paket, memandangi punggungku, menunggu, sementara aku membuka gembok toko dengan canggung dan grogi.

Ia menyodorkan paket laundrynya. Ia berusaha mendekatkan tubuhnya dengan bertumpu di kedua siku tangannya di dekatku ketika aku menuliskan data paket di nota laundry. Aku bisa mendengar bunyi nafasnya yang lembut. Aku bisa mencium aroma snappy menguar harum, aku tahu itu aroma parfum kesukaannya, dan aku khusus mencarikannya demi dia agar di laundry tersedia aroma parfum itu. Itupun hanya karena alasan ia pelanggan, tidak lebih dari itu.

Dadaku bergemuruh, karena melihat ia tengah memandangiku karena bisa aku lihat dari sudut mataku.

“Pakai Snappy ya, jangan lupa.” Ujarnya kemudian.

“Iya, kamu sekarang juga pakai snappy kan?”

Dia tersenyum masih memandangiku. Aku melipat nota itu dan menyerahkan padanya.

“Kalau aku lama disini boleh kan?” tanyanya, sambil duduk tanpa menunggu persetujuanku atau jawaban anggukanku.

Dia terus menggulir gawainya, sesekali mengetikkan sesuatu dan sesekali juga memandangiku yang duduk terpaku didepannya dengan grogi.

“Kamu enggak malam mingguan?” aku mencoba berbasa-basi.

Gadis itu menggeleng.

“Enggak ada yang ngapelin?”

Sekali lagi ia hanya menjawabnya dengan menggeleng, tapi matanya kini menatapku dan menurunkan gawai dari tangannya ke meja, menopang dagunya seolah berkata sekarang aku bersedia ngobrol denganmu. Aku menggaruk kepala, mencoba berpaling tapi gagal menyembunyikan senyumku sendiri. Gadis itu, maksudku Marini Jo justru tersenyum.

“Malam minggu enggak kemana-mana?” tanyanya dengan senyum di wajah sembunainya yang indah, sambil menopang tangan di pipi memandangiku.

“Enggak!”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Jadi boleh aku disini menemani?” yang aku jawab dengan anggukan ragu-ragu.

Aku semakin bertambah kikuk. Ia akhinya hanya duduk memandangiku yang pura-pura sibuk menata paket-paket ke lemari atau mengecek paket dry clean. Ia kini bahkan menggeser posisi duduknya menghadapku, seolah menikmati sesuatu yang tidak bisa membuatnya berpaling dan berkedip.

Sedangkan aku, jangan ditanya lagi rasanya. Perasaanku bercampur antara sukacita dan gamang. Bagaimana bisa seorang gadis secantik itu malam ini duduk disini bersamaku berdua, sementara kemarin aku hanya halu membayangkannya. Aku seorang laki-laki menikah, dan ia tahu jika istriku kadang-kadang ke laundry dan duduk di kursi ruang tunggu di tempatnya ia duduk sekarang. Gadis itu pernah bertemu dengan istriku suatu kali. Tapi dengan fakta itu pun gadis itu seolah merasa tidak sungkan.

Bisa jadi itu semua salahku juga. Ketika berusaha ramah dan perhatian dengan pelanggan demi urusan customer service, tapi kali ini mungkin itu disalahpahami menjadi alasannya bermain api.

Tapi kali ini aku bukan baper, ia lama duduk di kursi tunggu itu. Sesekali mengajakku mengobrol, hingga sejam kemudian ia memutuskan untuk pergi, katanya hanya sebentar. Aku mengantarnya ke luar. Ia duduk di sepeda motornya, tak langsung beranjak pergi, memakai jaketnya, memakai helmnya dan selama semua itu dilakukannya ia terus memandangiku, dan tersenyum. Apalagi ketika memasang tali helmnya seperti mencari-cari alasan agar aku membantunya.

“Hati-hati.” Pesanku seperti kepada pelanggan lainnya. Sekali lagi ia berhenti, memandangiku sejenak, tersenyum sendu, membuat kami berdua saling tertawa.

“Pergilah.” Ujarku sambil melambai.

***

Notifikasi itu masuk ke gawaiku. Dibuka istriku, dan langsung menyodorkan kepadaku.

“Marini Jo, minta paketnya di jemput di kostnya. Apa perlu aku temani?” tawar istriku.

Dadaku bergemuruh, seolah seperti ketahuan berselingkuh dan istriku bisa merasakan gelagat itu. Aku berpura-pura tidak mendengarnya karena sedang membaca pesan itu, sebelum akhirnya aku katakan tidak perlu, masih sore tidak masalah karena kostnya juga ramai.

Kost barunya itu tiga lantai, lumayan mewah. Kamarnya katanya ada di lantai dua, sewaktu aku bilang sedang menunggunya di bawah.

Tak lama ia datang. Entah mengapa aku berharap-harap bisa ngobrol lama dengannya. Ia turun, dan sungguh ia terlihat begitu cantik malam itu dengan gaun putih.

“Sendiri?” tanyanya sambil matanya mengawasi ke arah mobilku yang diparkir didepan halaman kostnya.

“Iya.”

“Nanti ada ke laundry?”

“Iya.”

“Kenapa tadi nggak jawab?” aku tidak mungkin bilang jika gawaiku tadi berada di tangan istriku dan istriku yang menjawab chatnya.

“Padahal aku mau kesana, kalau kamu jaga malam ini.” Lanjutnya.

“Aku nggak lama, karena besok ada tugas kantor ke Jakarta, mungkin minggu depan baru kembali.” Aku mengatakannya seolah pamit.

“Jakarta?, Seminggu, lama sekali?”

“Kamu tetap bisa antar paket laundrymu ada karyawanku disana yang jaga.”

Ia mengangguk. Wajahnyanya tiba-tiba berubah mood, seperti ungkapan kesal dan sedih.

“Lama ya?” ujarnya lagi dengan nada lirih dan wajah sendu, matanya menatapku dalam-dalam.

***

Aku turun dari pesawat, menuju ruang bagasi melintasi koridor berjalan yang cukup panjang ketika sebuah notifikasi masuk begitu mode pesawat aku matikan. Bukan dari istriku meski ia yang selalu berpesan akan lebih sering menghubungiku selama aku di Jakarta, tapi dari gadis pelanggan laundry itu.

(“Kamu sudah sampai?. Semua baik-baik sajakah.”) begitu bunyi pesan darinya seolah ia sangat kuatir dan sudah lama menunggu.

(“Sudah bisa menelepon?”) tanyanya lagi, tapi belum aku jawab. Pikiranku bimbang, antara menuruti rasa karena debaran yang sulit aku bisa pahami terjadi lagi tanpa kuduga akan sejauh ini.

Akhirnya ketika duduk di lounge sebuah kafe di dekat bandara, aku menelepon istriku. Aku berbicara singkat jika aku sudah sampai dan seperti sarannya, aku nanti akan langsung ke hotel dan nanti akan meneleponnya lagi.

Tiba-tiba dering gawai berbunyi begitu aku tutup sambungan telepon dari istriku, dari gadis itu.

“Rasanya sudah lama sekali nggak ketemu.” Begitu katanya begitu sambungan pembicaraan itu aku buka. Tentu saja aku tertawa mendengarnya, dengan gemuruh dada membuncah gembira karena merasa dirindukan seseorang.

“Berarti enam hari lagi baru pulang?”

“Aku baru saja sampai, pastinya aku baru akan kembali mungkin lima hari mendatang.”

“Aku tidak akan ke laundry dulu,” lanjutnya.

“Kenapa,? Bagaimana dengan baju-bajumu nanti.?”

“Biar saja, aku akan lebih hemat pakai bajunya, biar minggu depan saja cucinya.”

“Kenapa?, kamu malas ke laundry, butuh jemputan dari karyawanku?”

“Bukaaan!” suaranya manja bercampur kesal .

“Jadi?”

“Aku tunggu kamu pulang aja. Kangen” Ujarnya lalu menutup teleponnya tiba-tiba.

“Kangen? Mungkin dia bercanda.” Batinku, jawaban yang membuatku tersedak dan terbatuk.

Pikiranku terbang kemana-mana, mencoba mencerna kata-kata terakhirnya barusan. Aku merasa aneh karena seperti merasa sedang jatuh cinta dan sedang pacaran dengan seseorang dan sekarang dia sedang ngambek karena sesuatu yang sebenarnya aku pahami maksudnya tapi aku masih berusaha menjaga jarak.

Tiba-tiba gawai berdering lagi, kali ini dari istriku.

“Barusan abang nelpon siapa? Teleponnya sibuk terus?” Tentu saja aku berbasa-basi sekedarnya, urusan kantor.

Aneh, sepanjang duduk di taxi, menunggu check in di lobby, aku terus mengingat gadis itu, bukan mengingat istriku. Tiba-tiba aku didera rasa seperti rindu, mengingat gadis itu di kost malam kemarin ketika tanpa sengaja aku pamit ke Jakarta dan dia merasa terlihat begitu sedih.

Aku begitu merasa bersalah, bukan kepadanya, tapi kepada istriku karena hatiku terbelah sekarang ini.

***

Sepanjang Minggu itu aku merasa waktu seperti terasa singkat. Aku merasa Marini Jo selalu ada dimanapun aku berada. Di kantor, di ruang rapat, di meja makan hotel, apalagi di ruang tidur. Pagi, siang, apalagi malam. Gadis itu bersedia bercerita apapun hampir sepanjang malam, anehnya aku tidak pernah merasa bosan atau mengantuk. Dia selalu meminta video call, bahkan ketika ia tertidur ia meminta agar VC itu tetap hidup, agar dia bisa memandangiku katanya. Ini benar-benar gila, dan membuatku jatuh cinta setengah mati padanya.

Aku sarapan setiap pagi dengannya, karena aku juga berangkat sendirian untuk urusan kantor.

“Besok aku pulang.” Kataku sewaktu sarapan.

“Akhirnya.” Ujarnya riang.

“Kenapa?”

“Baju kotornya sudah numpuk ya?”

“Bukan itu..., ya karena kamu pulang.”

“Tukang jemput laundrynya kan.”

“Ia, petugas spesial antar jemput laundrykuuuu.”

“Apa aku boleh menjemputmu di bandara?” Pintanya kemudian.

Aku menggeleng, “jangan!”

Wajahnya langsung berubah murung di layar ponsel. Ia yang tadi tersenyum sambil mengaduk mie instan di mangkuknya kini hanya diam memandangku.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Karena itu bandara, Jo.”

“Aku tahu.”

“Banyak orang.”

“Aku juga tahu.”

Aku menghela napas panjang. Gadis itu memang selalu tahu, tapi pura-pura tidak mengerti hanya agar aku mengatakannya langsung. Dan justru itu yang membuatku lemah. Ia tidak pernah memaksa, tapi selalu berhasil membuatku merasa bersalah.

“Aku enggak mau ada yang lihat.”

“Takut?”

Aku tidak menjawab.

Ia tertawa kecil, pahit. “Kalau aku bilang aku kangen banget gimana?”

“Jo...”

 “Kalau aku bilang tiap malam aku tidur sambil nungguin VC kamu mati sendiri gimana?”

Dadaku sesak.

“Kalau aku bilang aku udah enggak bisa biasa aja lagi sama kamu gimana?”

Aku memejamkan mata sebentar. Di luar jendela hotel, Jakarta masih hidup dengan lampu-lampunya. Tapi entah kenapa aku merasa sedang berdiri di tepi sesuatu yang berbahaya dan indah sekaligus.

“Jangan begini.”

“Kenapa?”

“Karena ini salah.”

Ia diam lama sekali.

“Aku tahu.”

Jawabannya justru membuatku makin hancur.

***

Aku pulang dua hari kemudian.

Aku sengaja tidak memberi tahu jam penerbanganku. Aku pikir dengan begitu semuanya akan kembali normal. Aku akan pulang ke rumah, memeluk istriku, kembali menjaga jarak, lalu perlahan melupakan semua kegilaan ini.

Tapi begitu aku keluar dari pintu kedatangan, aku langsung melihatnya.

Marini Jo berdiri di dekat tiang penjemputan.

Gaun hitam sederhana, dengan rambut panjang tergerai. Wajah sembunainya tertutup masker putih, tapi matanya, aku mengenali matanya bahkan dari kejauhan.

Ia melambaikan tangan kecil.

Dadaku langsung jatuh.

Aku berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk.

“Kamu, kan aku bilang jangan kesini.”

“Aku enggak jemput.”

“Terus?”

“Aku cuma mau lihat kamu pulang.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Ia tersenyum di balik masker, matanya menyipit manis.

“Boleh kaaan?”

 Aku tidak mampu marah.

Sejak hari itu semuanya berubah terlalu cepat.

Ia mulai sering menungguku tutup laundry.

Kadang hanya duduk diam sambil menggulir gawainya. Kadang membantu melipat pakaian pelanggan. Membawakanku kopi, atau hanya memandangiku terlalu lama sampai aku salah tingkah sendiri.

Saat yang paling berbahaya adalah ketika kami mulai terbiasa satu sama lain.

Aku mulai hafal aroma parfumnya, dia tahu jam-jam aku terlihat lelah, dan Aku tahu kapan ia sedang sedih hanya dari cara ia memainkan gawainya.

Ia tahu kapan aku berbohong hanya dari jeda napasku.

Kami seperti dua orang yang diam-diam membangun rumah di tempat yang tidak seharusnya.

***

“Ulang tahunku minggu depan.” katanya suatu malam.

Kami sedang duduk di depan laundry yang hampir tutup. Jalanan sudah sepi.

“Oh ya?”

“Iya.”

“Traktir teman-teman kost?”

Ia menggeleng.

“Mau sama kamu.”

Aku tertawa gugup.

“Jo...”

“Sekali ajaaa.”

Matanya memandangiku lurus.

“Sekali aja aku pengen ulang tahun sama orang yang aku suka.”

Aku tidak langsung menjawab.

Mungkin sejak aku tidak langsung menolak, aku sebenarnya sudah kalah.

Malam itu Aku bilang akan menemui teman lamaku kepada istriku.

Malam ulang tahunnya hujan deras.

Ia mengingatkanku, dan bilang teman-temannya sedang keluar. Aku datang terlambat hampir satu jam karena berkali-kali ragu dan memutuskan untuk putar balik di jalan.

Tapi tetap saja aku sampai di sana.

Ia membuka pintu kamar perlahan, dan untuk beberapa detik aku hanya mampu diam memandanginya.

Marini Jo memakai sweater krem longgar. Rambutnya tergerai, wajahnya tanpa make up berlebihan. Tapi justru itu yang membuatnya terlihat begitu cantik sampai rasanya menyakitkan karena aku sangat menyukainya.

Di meja kecil dekat jendela ada kue tart mini dengan satu lilin menyala.

“Kamu datang,” katanya lembut.

Aku mengangguk pelan.

“Kupikir enggak jadi.”

“Aku juga.”

Ia tertawa manja.

Kamar itu harum aroma vanilla dan Snappy. Entah kenapa bahkan aroma laundry sekarang terasa seperti bagian dari dirinya.

“Ayo.” katanya sambil menarik tanganku, dan duduk dikursi.

Kami makan kue tart mungil itu berdua.

Ia memaksaku menyuapinya.

Ia tertawa ketika krim kue menempel di hidungku.

Lalu setelah tengah malam lewat, suasana berubah pelan-pelan menjadi sunyi.

Hanya suara hujan, suara nafas kami, dan hanya jarak yang semakin tipis.

“Aku boleh jujur?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut nanti kamu sadar ini salah, terus ninggalin aku.”

Aku menatapnya lama.

Lalu entah siapa yang lebih dulu mendekat, yang aku ingat hanya wajahnya yang sangat dekat. Napasnya gemetar, dan matanya yang perlahan terpejam ketika bibir kami bertemu.

Setelah itu semuanya seperti kehilangan logika.

Ia memelukku seolah aku tempat pulang, dan aku, lelaki bodoh itu membalas pelukannya seperti benar-benar memilikinya.

Malam itu kami tidur bersama.

Di kamarnya yang hangat dengan hujan yang tidak berhenti sejak tadi.

Ia tertidur di dadaku sambil memegang ujung bajuku seperti takut aku menghilang.

Sedangkan aku tidak tidur sama sekali.

Aku hanya memandang langit-langit kamar sambil merasa bahagia dan hancur dalam waktu bersamaan.

Menjelang subuh aku bangun perlahan.

Hujan sudah reda.

Lampu kamar masih temaram.

Marini Jo masih tertidur memelukku, rambutnya menutupi sebagian wajahnya.

Cantik sekali, dan justru karena itulah aku merasa sangat bersalah.

Aku duduk di tepi ranjang cukup lama.

Memandangi ponselku yang dipenuhi pesan dari istriku.

(Abang sudah tidur?)

(Tadi lupa bilang besok ibu mau datang ke rumah.)

(Hati-hati pulangnya jangan begadang.)

Dadaku terasa remuk, Aku menutup wajah dengan kedua tangan, bingung tidak tahu kapan semuanya berubah sejauh ini.

Aku hanya ingin ramah pada seorang pelanggan, hanya itu. Tapi sekarang aku duduk di kamar seorang gadis yang mencintaiku sementara istriku masih memanggilku dengan penuh percaya. Aku merasa seperti manusia paling jahat di dunia.

Saat aku berdiri hendak memakai sepatu, Marini Jo terbangun.

Matanya masih setengah sadar.

“Kamu mau pulang?” suaranya serak lembut.

Aku mengangguk.

Ia bangun perlahan lalu memeluk pinggangku dari belakang.

“Jangan dulu.”

Aku memejamkan mata.

“Jo...”

“Aku enggak minta apa-apa.”

Pelukannya makin erat.

“Aku cuma pengen malam ini jangan cepat selesai.”

Aku menahan napas lama sekali, lalu perlahan melepaskan tangannya. Ia langsung diam.

Aku berbalik menatapnya, sejak mengenalnya, wajah gadis itu kini terlihat benar-benar rapuh.

“Aku harus pulang.” kataku lirih.

“Karena istrimu?”

Aku tidak mampu menjawab, dan jawaban diamku ternyata lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.

Marini Jo menunduk, lalu tersenyum lembut tapi senyum paling sedih yang pernah aku lihat.

“Hati-hati di jalan ya.” katanya pelan.

Aku keluar dari kamar itu dengan dada berantakan.

Tapi anehnya, saat pintu kamarnya tertutup, aku merasa bukan sedang pulang, melainkan meninggalkan rumah.

*** 

Tiga minggu setelah malam ulang tahunnya, Marini Jo mendadak berubah.

Ia tidak lagi sering mengirim pesan panjang, tak lagi meminta video call sampai tertidur, kini ia tak lagi datang ke laundry sambil duduk berjam-jam hanya untuk memandangiku bekerja.

Ia jadi lebih diam, dan aku tahu penyebabnya.

Malam itu.

Malam yang terus menghantuiku bahkan ketika aku sedang bersama istriku sendiri. Aku takut sesuatu terjadi padanya, apalagi kalau ia sakit, atau kalau hidupnya rusak karena kebodohanku.

Rasa takut itu membuatku beberapa kali bersikap dingin, sampai suatu sore ia mengirim pesan aneh.

(“Laundrynya mau dijemput di tempat biasa?”)

Aku sedang di rumah sakit saat itu.

Istriku duduk lemah di kursi roda setelah kemoterapi. Rambutnya mulai rontok banyak. Putriku yang masih kecil tertidur di pangkuannya sambil memeluk boneka.

Aku membalas singkat.

(“Dimana?”)

Tak lama balasan masuk.

(“Bandara.”)

Dadaku langsung berdegup keras.

Aku membaca pesan berikutnya dengan tangan gemetar.

(“Aku pulang.”)

Aku tidak langsung datang, duduk lama di koridor rumah sakit sambil memandangi layar ponsel.

Istriku sakit, kankernya semakin parah, dan aku lelaki paling kacau di dunia malah sedang memikirkan perempuan lain yang akan pergi meninggalkan kota ini.

Saat akhirnya aku tiba di bandara, boarding sudah dibuka, Marini Jo duduk sendiri dekat kaca besar ruang tunggu keberangkatan. Ia memakai hoodie abu-abu dan masker hitam, tapi matanya langsung menemukanku. Mata itu masih sama, masih membuat dadaku berantakan.

“Kamu jadi datang.” katanya lirih.

Aku berdiri di depannya tanpa tahu harus bilang apa.

“Aku cuma sebentar.”

Ia mengangguk kecil.

“Aku juga.”

Sunyi, meski ramai orang berlalu lalang di sekitar kami, tapi rasanya dunia mendadak mengecil hanya jadi kami berdua.

“Aku pulang karena kuliahku selesai.” katanya kemudian.

“Iya.”

“Mungkin enggak balik lagi.”

Kalimat itu tiba-tiba membuatku nyaris jatuh, sama sekali tak kukira bakal aku dengar secepat itu.

Aku menunduk.

“Jo...”

“Aku baik-baik aja.” katanya cepat, seolah tahu apa yang kupikirkan.

Aku mengangkat kepala.

Ia tersenyum.

“Kamu takut aku kenapa-kenapa habis malam itu ya?”

Aku tercekat.

“Aku enggak hamil.” lanjutnya lirih sambil tertawa kecil hambar.

“Aku juga enggak sakit.”

Aku memejamkan mata sebentar karena rasa lega yang justru membuatku makin merasa bersalah.

“Aku minta maaf.” kataku akhirnya.

Ia diam.

“Aku enggak pernah mau nyakitin kamu.”

“Kamu lucu,” katanya lembut.

Mataku kembali menatapnya.

“Aku bahkan enggak merasa disakitin.”

Dadaku sesak.

Ia menatapku lama sekali.

“Aku cuma sedih karena kita ketemu di waktu yang salah.”

Panggilan boarding terdengar. Marini Jo berdiri perlahan, dan sejak pertama kali mengenalnya, ia tidak memelukku. Ia hanya berdiri sambil menggenggam tali tasnya kuat-kuat.

“Jaga istrimu.” katanya lirih.

Aku membeku.

“Aku tahu dia sakit.”

Aku tidak pernah cerita padanya. Tapi perempuan memang kadang tahu banyak hal tanpa perlu diberi tahu.

“Dan,” ia tersenyum tipis sambil menahan air mata, “tolong jangan kasih nama anakmu nanti pakai namaku. Bahaya, bisa bikin kamu enggak bisa lupa.”

Lalu ia pergi, begitu saja, dan aku bahkan tidak sempat mengatakan kalau aku memang tidak akan pernah bisa melupakannya.

***

Kanker istriku semakin ganas, rumah sakit menjadi rumah kedua kami. Kemoterapi, rawat inap, obat-obatan.

Di sela semua itu, aku mencoba menjadi suami yang baik sambil memendam dosa yang tidak pernah benar-benar hilang dari pikiranku. Kadang saat istriku tertidur lemah, aku memandangi wajahnya dan merasa ingin menangis karena rasa bersalah.

Apalagi putriku mulai tumbuh besar dan Aku menamainya Joana. Nama yang dipilih istriku sendiri karena katanya terdengar cantik. Tapi hanya aku yang tahu kenapa dadaku runtuh waktu mendengarnya nama putriku disebut dengan sepenuh sayangnya, karena diam-diam nama itu mengingatkanku pada seseorang.

Istriku meninggal pada musim hujan.

Malam itu putriku tertidur di kursi rumah sakit sambil menggenggam jariku, sedangkan aku duduk di sisi ranjang istriku yang napasnya semakin pelan.

Ia menatapku lama sekali.

“Abang capek ya?” tanyanya lirih.

Aku menggeleng sambil menangis.

Ia tersenyum lembut, senyum perempuan yang terlalu tulus untuk dikhianati.

“Terima kasih untuk semuanya sayang ya,” katanya lembut.

Aku menangis tak sanggup menahan sesak yang menggumpal didada, dan beberapa menit setelah itu monitor jantung hanya menyisakan bunyi panjang yang tidak akan pernah aku lupa.

***

Setahun berlalu.

Laundryku masih berdiri di tempat yang sama, tapi aku berubah jadi lelaki yang lebih pendiam.

Kadang malam-malam aku duduk sendiri di meja tempat aku dulu mengobrol dengan gadis itu setiap malam, setelah toko tutup sambil memikirkan hidupku yang terasa kosong.

Sampai suatu sore pesan masuk dari nomor lama yang sudah bertahun-tahun tidak muncul.

(“Aku tadi lewat depan laundry.”)

Tanganku langsung dingin.

(“Masih pakai parfum Snappy?”)

Aku menatap layar lama sekali. Jantungku berdegup seperti orang bodoh.

Aku meneleponnya, tapi tidak diangkat.

Pesan lain masuk.

(“Aku sering lihat kamu dari mobil.”)

(“Kamu kelihatan lebih kurus.”)

(“Kadang pengen turun terus masuk kayak dulu.”)

Dadaku terasa diremas.

(“Kenapa enggak masuk?”)

Lama sekali ia membalas.

(“Karena aku takut enggak bisa pergi lagi.”)

***

Hampir setahun lebih setelah kematian istriku, akhirnya aku memutuskan sesuatu yang sudah lama kutahan. Aku membawa Joana pergi ke kota tempat Marini Jo tinggal.

Perjalanan itu membuat tanganku dingin sepanjang jalan, Aku bahkan hampir putar balik beberapa kali. Tapi akhirnya aku berdiri juga di depan rumahnya.

Rumah yang asri dengan pagar putih dan pot bunga kecil di teras.

Aku mengetuk pintu.

Joana duduk di koper kecil sambil memeluk bonekanya.

Pintu terbuka perlahan, dan dunia seperti berhenti.

Marini Jo berdiri di sana.

Rambutnya lebih pendek sekarang.

Wajahnya masih sama, wajah yang pernah membuat hidupku jungkir balik, tapi kali ini matanya membelalak tak percaya. Ia menutup mulutnya yang sedikit terbuka, apalagi ketika melihat gadis kecil di sampingku.

Joana memandanginya polos.

Sedangkan Marini Jo seperti kehilangan napas.

Ia menunduk perlahan di depan putriku.

“S-siapa namanya?” tanyanya dengan suara gemetar.

Aku menelan ludah.

“Joana.”

Matanya langsung penuh air. Ia mengangkat wajah menatapku dengan tatapan yang hancur.

“Kamu...” suaranya patah.

“Itu nama pilihan ibunya.” kataku cepat, meski kami sama-sama tahu itu bukan kebetulan sepenuhnya.

Joana tiba-tiba tersenyum.

Lalu menarik ujung baju Marini Jo.

“Mama?”

Aku membeku.

Marini Jo langsung menutup mulutnya menahan tangis.

“Joana,” kataku pelan.

Tapi gadis kecil itu malah mengusap air mata di pipi Marini dengan tangan mungilnya.

“Jangan nangis.” katanya polos.

Setelah bertahun-tahun mengenalnya, aku melihat Marini Jo benar-benar runtuh.

Ia menangis sambil memeluk putriku erat-erat.

Sedangkan aku berdiri di depan pintu rumahnya, merasa seperti lelaki yang terlambat masuk dalam hidup seseorang, namun tetap datang juga.

***

Rahasia itu tetap kami simpan rapat.

Marini Jo hanya mengatakan kepada ibunya kalau aku adalah sahabat lamanya semasa kuliah di kota dulu, tidak lebih, dan anehnya, ibunya langsung percaya begitu saja.

Atau mungkin seorang ibu sebenarnya tahu lebih banyak daripada yang terlihat, hanya memilih diam demi kebahagiaan anaknya, karena sejak Joana masuk ke rumah itu, perhatian ibunya langsung berpindah total kepada putriku.

“Aduh cantiknya,” ujarnya berkali-kali sambil menggendong Joana seperti cucunya sendiri.

Joana yang memang mudah akrab langsung tertawa-tawa manja sambil memainkan ujung jilbab perempuan tua itu. Sedangkan aku dan Marini Jo justru jadi seperti dua orang asing yang kikuk duduk berhadapan di ruang tamu.

Aku mencuri pandang kepadanya, Ia juga melakukannya, lalu sama-sama cepat-cepat berpaling. Semua itu justru membuat jantungku berdebar seperti laki-laki muda yang baru pertama jatuh cinta.

Malam itu hujan turun. Aroma masakan memenuhi ruang makan. Ibunya memasak banyak seolah menyambut menantu yang lama hilang, bukan tamu biasa.

“Ayo makan dulu.” katanya riang.

Joana langsung duduk di samping Marini Jo tanpa disuruh.

Pemandangan yang membuatku nyaris kehilangan napas, putriku bersandar manja di lengan gadis itu seolah memang sudah mengenalnya sejak lama.

Marini Jo terlihat membeku beberapa detik, lalu perlahan mengusap rambut Joana dengan tatapan yang sulit aku jelaskan, seperti seseorang yang diam-diam sudah lama membayangkan hal itu.

Ibunya memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.

“Ya ampun, ” katanya pelan.

Kami semua menoleh.

“Dia benar-benar mirip kamu, Jo.”

Marini Jo langsung salah tingkah.

“Bu.”

“Serius.” ibunya tertawa. “Cara senyumnya, matanya, bahkan kalau lagi manja mukanya sama persis.”

Aku refleks menunduk mengambil gelas hanya untuk menyembunyikan gugup, sedangkan Joana malah tertawa lucu sambil memeluk lengan Marini Jo makin erat.

“Tuhan memang penuh kejutan ya,” lanjut ibunya lagi sambil memandangi Joana penuh sayang. “Kadang seseorang dikirim bukan karena dilahirkan dari rahim kita, tapi karena memang ditakdirkan hadir buat kita.”

Kalimat itu membuat meja makan tiba-tiba terasa sunyi. Aku bisa melihat mata Marini Jo mulai berkaca-kaca. Ia buru-buru pura-pura sibuk mengambilkan Joana ayam goreng.

“Makan yang banyak.” ibunya menyodorkan semangkuk sop kepadaku.

Ibu baru saja hendak menuang nasi itu ke atas sop ketika tiba-tiba Marini Jo spontan menahan tangan ibunya.

“Eh jangan.” katanya cepat.

Kami semua menoleh padanya.

Jo terlihat salah tingkah.

“Dia,” ia berdeham kecil, “enggak suka sop dicampur nasi.”

Aku membeku.

Ibunya berkedip.

“Loh?”

Marini Jo langsung sadar dirinya keceplosan.

“Eh maksudku, dulu dia pernah cerita.”

“Tapi kok bisa tau detail banget ya.” adik perempuannya langsung menyahut sambil tertawa jail. “Kayak udah hafal kebiasaan suami sendiri.”

Aku nyaris tersedak air minum, sedangkan Marini Jo langsung menunduk merah padam.

Ibunya malah tertawa paling keras.

“Jangan-jangan kalian ini dulu benar-benar pernah bersama?”

Kali ini aku dan Jo benar-benar tersedak bersamaan. Joana sampai ikut memandang kami bingung.

Bukannya curiga, ibunya justru tertawa sambil menepuk meja.

“Nah kan! Kompak banget lagi.”

“Buu,” Jo merintih malu.

“Ya ampun, ibu cuma bercanda.”

“Tapi kalau iya juga enggak apa-apa.” tambah adiknya sambil cekikikan.

Aku bisa merasakan Marini Jo tidak berani menatapku sama sekali sekarang. Lehernya merah sampai ke telinga, dan entah kenapa melihatnya begitu justru membuat dadaku hangat.

Sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana rumah seperti ini, suara tawa. Gangguan kecil di meja makan, dan seseorang yang diam-diam memperhatikan hal-hal kecil tentangku.

Setelah makan malam, listrik mendadak padam.

“Yah,” adik Jo mengeluh dari dapur.

Rumah langsung gelap kecuali cahaya langit dan suara hujan dari luar jendela.

“Ibu ambil lilin dulu.”

Joana langsung mendekat takut-takut lalu duduk di pangkuanku. Sedangkan Marini Jo berdiri dekat jendela sambil memandang hujan.

Siluet wajahnya terkena cahaya samar dari luar, cantik sekali.

Aku berjalan mendekat pelan.

“Masih suka hujan?” tanyaku lirih.

Ia tersenyum tanpa menoleh.

“Kamu masih ingat?”

“Iyaa.”

Dulu ia selalu sengaja datang ke laundry saat hujan deras hanya karena katanya aroma pakaian hangat lebih nyaman ketika hujan.

Beberapa detik kami hanya diam mendengar suara air.

Lalu ia bicara lembut.

“Aku sering bayangin ini.”

“Apa?”

“Kamu datang.”

Dadaku mengencang.

“Tapi setiap ngebayangin,” ia tertawa kecil getir, “aku enggak pernah berani bayangin kamu bawa anak kecil yang manggil aku mama.”

Aku menunduk sebentar.

“Jo.”

“Aku sayang banget sama dia.” katanya cepat.

Aku menatapnya. Matanya berkaca-kaca lagi.

“Dan itu bikin aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut makin susah ngelupain kamu.”

Aku menghela napas panjang.

“Hidup kita kacau ya?” kataku lirih.

Ia tertawa kecil sambil menyeka matanya.

“Kacau banget.”

“Tapi kalau bisa ngulang,” aku menatapnya lama, “aku tetap bakal jatuh cinta sama kamu.”

Marini Jo langsung menunduk, bahu kecilnya bergetar pelan. Lalu dalam gelap itu ia berkata lirih, nyaris seperti bisikan.

“Aku juga.”

 “Mama Jo!” Suara Joana tiba-tiba terdengar riang memanggil. Marini Jo langsung menutup wajahnya sambil tertawa dan menangis bersamaan. Sedangkan aku berdiri memandang perempuan itu dan putriku dengan air mata yang menyesak keluar. Melihat sesuatu yang sejak lama tidak lagi berani aku sebut sebagai harapan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi