DUH.. YANGTI KE-RESET LAGI OTAKNYA
Pagi itu cuaca terlihat cerah berawan. Di sebuah kompleks perumahan yang tenang, berdiri sebuah rumah sederhana berlantai dua dengan halaman kecil yang asri.
Angin sepoi-sepoi berhembus lembut menembus kulit, sesekali menjatuhkan dedaunan kering tepat di atas kursi taman yang berada di depan rumah.
Di sana, seorang perempuan lanjut usia yang akrab dipanggil Yangti, sedang duduk santai.
Beliau tampil dengan pakaian khasnya: kebaya sederhana dan rambut yang disanggul rapi. Di sebelahnya, Faqih—cucu kesayangan Yangti Sarti—sedang asyik menyantap bubur ayam langganan kompleks yang masih hangat.
"Gimana, Yangti? Buburnya enak, 'kan?" tanya Faqih sambil menyodorkan sesendok kerupuk.
Yangti menoleh pelan, menatap wajah Faqih dengan dahi berkerut heran.
"Loh... kowe sapa?" (Loh... kamu siapa?)
Faqih nyaris tersedak kerupuk. Sendoknya menggantung di udara. Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur emosi dan rasa 'greget' yang mulai naik ke ubun-ubun. Baru saja tadi subuh mereka mengobrol panjang lebar, sekarang sudah "amnesia" lagi.
"Duh... ke reset lagi nih otak Yangti," gumam Faqih pelan.
Ia lalu memasang senyum paling sabar sedunia, meski hatinya menjerit. "Aku cucumu yang paling ganteng, Yangti. Faqih. F-A-Q-I-H. Masa lupa lagi? Ini sudah perkenalan yang kelima kali sejak tadi pagi, loh!"
Yangti hanya ber-oh ria sambil manggut-manggut, sementara Faqih kembali mengaduk buburnya dengan perasaan campur aduk—antara sayang dan ingin garuk-garuk aspal.
"Nduk, siapa tadi? Faqih?" Yangti Sarti menyipitkan mata, memperhatikan gerak bibir Faqih yang mengeja namanya sendiri dengan penuh penekanan.
"Iya, Yangti. Fa-qih," ulang Faqih sabar.
Yangti malah makin bingung. "Bojoku nang ndi? Aku lho urung duwe putu sing wis gedhe ngene. Wingi aku lagi wae mantu, mosok saiki wis duwe putu semono?" (Suamiku di mana? Aku lho belum punya cucu yang sudah besar begini. Kemarin aku baru saja menikahkan anak, masa sekarang sudah punya cucu segitu?)
Faqih nyaris tersedak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun. Di ingatan Yangti, ibunya Faqih mungkin baru saja naik pelaminan kemarin sore. Padahal, kejadian itu sudah lewat dua puluh lima tahun yang lalu.
"Yangti... Mbahkung itu sudah expired dari zaman kapan tahu," gumam Faqih gemas sambil menggigit sendok buburnya kuat-kuat. "Dan acara mantu itu sudah seperempat abad yang lalu! Aku ini hasil dari acara mantu itu, Yangti!”
"Loh, bojoku wis ndhisiki? Kok nggak ngejak aku?" wajah Yangti Sarti tiba-tiba murung. Matanya menerawang jauh, seolah mencari sosok suaminya di antara dahan pohon mangga.
Namun, sedetik kemudian raut wajahnya berubah galak yang lucu. "Awas, ya! Mene lek pethuk, bakal tak jiwit si Parno iku!" (Awas ya! Besok kalau ketemu, bakal aku cubit si Parno itu!)
Faqih tersentak. Jantungnya hampir copot mendengar Yangti protes kenapa tidak diajak "pergi" duluan oleh Mbah Parno.
"Huss! Jangan ngomong aneh-aneh, Yangti. Belum waktunya," sahut Faqih cepat-cepat sambil mengelus dada. Ia ngeri sendiri membayangkan Yangti minta "disusulkan" sekarang juga.
Tak lama kemudian, dari seberang jalan, seorang wanita berusia 50-an yang mengenakan daster batik memanggil mereka. Itu ibunya Faqih.
"Faqih! Ajak Yangti balik ke rumah. Sudah mulai panas ini, nanti kulit Yangti malah makin keriput!”
Faqih segera menuntun Yangti Sarti untuk berdiri dan menyeberang pulang. Namun, baru beberapa langkah, Yangti tiba-tiba mencengkeram pundak Faqih, memintanya untuk sedikit membungkuk.
"Faqih, sini..." bisik Yangti dengan nada sangat rahasia.
"Ada apa lagi, Yangti?" Faqih waswas.
Yangti melirik tajam ke arah wanita berdaster di seberang jalan tadi. "Iku mau sapa? Wong wedok dasteran iku raine koyok wong jahat.
Apa iku selingkuhane mbahkungmu, ya?" (Itu tadi siapa? Perempuan dasteran itu mukanya kayak orang jahat. Apa itu selingkuhannya kakekmu, ya?)
Faqih seketika merinding disko. Ia membayangkan bagaimana jadinya kalau ibunya—Bu Tari—sampai mendengar ucapan itu. Bukan hanya dibilang berwajah jahat, tapi dituduh jadi selingkuhan bapak kandungnya sendiri!
"Hush! Ngawur, Yangti! Itu anakmu sendiri, Ibuku!" seru Faqih dengan suara tertahan, sambil buru-buru menyeret Yangti masuk ke rumah sebelum perang dunia ketiga pecah di halaman kompleks.
Begitu sampai di depan pintu dan kunci diputar, Yangti Sarti tiba-tiba mematung. Langkahnya tertahan di ambang pintu, matanya menatap sekeliling dengan penuh kecurigaan.
"Iki omahe sapa, yo? Kok aku dijak mlebu?" (Ini rumah siapa, ya? Kok aku diajak masuk?) Yangti clingak-clinguk, lalu menepis tangan cucunya dengan kasar. "Loh, kowe sapa? Kok cekel-cekel aku?" (Loh, kamu siapa? Kok pegang-pegang aku?)
Yangti menatap Faqih seolah-olah Faqih adalah preman pasar yang mencoba menculiknya. Mendengar keributan itu, Ibu Tari langsung menghampiri.
"Ini rumah sampeyan sendiri, Buk. Aku Tari, anak sampeyan," jelas Ibu Tari dengan sabar sambil mencoba menuntun ibunya.
Yangti malah menjauh, menatap Tari dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Tari? Anakku masih kecil, baru saja mantu kemarin. Kamu ini siapa? Mukanya jahat, pasti kamu selingkuhannya suamiku, ya?!"
Tari menarik napas panjang, mengelus dada sambil mengucap istigfar. Sudah biasa dituduh begitu, tapi tetap saja rasanya "nyes".
Sementara itu, Faqih sudah melipir ke pojokan ruangan. Ia jongkok meratapi nasib. "Tadi dituduh orang asing, sekarang Ibu dituduh selingkuhan Mbahkung. Besok aku dianggap apa lagi sama Yangti? Tukang sedot WC?"
"Sudah, Qih. Jangan drama. Ajak Yangti ke depan TV sana, biar anteng," perintah Ibu Tari yang sudah kebal dituduh macam-macam.
Di depan TV, Yangti Sarti duduk tegak. Matanya terpaku pada layar yang menampilkan siaran berita kunjungan Presiden ke luar negeri. Alih-alih menonton dengan tenang, raut wajah Yangti justru tampak tersinggung berat.
"Loh, iki kebangeten!" seru Yangti tiba-tiba sambil menunjuk layar TV. "Aku iki putune Presiden, kok ora dijak mlaku-mlaku ketemu bule ganteng iku?" (Loh, ini keterlaluan! Aku ini cucunya Presiden, kok tidak diajak jalan-jalan ketemu bule ganteng itu?)
Faqih yang sedang asyik main HP di sofa sebelah langsung menoleh dengan mulut ternganga. "Sejak kapan silsilah keluarga kita nyambung ke Istana Negara, Yangti?" gumamnya tak percaya.
Yangti tidak peduli. Beliau malah makin emosi melihat iring-iringan mobil kepresidenan di layar.
"Presiden sapa iki? Tak pecat e!" (Presiden siapa ini? Tak pecat saja!)
Tiba-tiba, Ibu Tari muncul dari dapur sambil membawa piring berisi buah potong. Bukannya kaget, beliau justru menimpali dengan wajah tanpa dosa.
"Walah, kalau mau mecat Presiden ya makan dulu, Buk.
Biar tenaganya kuat buat tanda tangan surat pemecatannya," sahut Ibu Tari santai sambil menyodorkan sepotong pepaya.
Yangti menerima pepaya itu dengan angkuh, seolah-olah itu adalah persembahan dari rakyat jelata. "Nah, bener. Kamu memang selingkuhan suamiku yang paling pengertian. Habis ini panggilkan ajudan, aku mau tidur siang!"
Faqih cuma bisa mengusap wajahnya kasar.
Ibunya dibilang "selingkuhan yang pengertian", dan dia sendiri dianggap rakyat jelata yang tidak punya akses ke ajudan.
"Sudah, Qih. Turuti saja kemauan Yang Mulia Cucu Presiden ini," bisik Ibu Tari sambil menahan tawa, melihat Faqih yang sudah pasrah tingkat dewa.
Dari siang sampai malam, Tari dan Faqih benar-benar harus memiliki stok sabar seluas samudra. Hingga saat jam makan malam tiba, terdengar suara kunci diputar dari arah depan.
"Assalamu’alaikum, Ayah pulang!" seru Yuda, ayah Faqih, yang baru saja kembali dari kantor. Ia langsung melangkah menuju meja makan untuk menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan lauk.
Di salah satu kursi meja makan, Yangti Sarti duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat anggun.
Tatapannya lurus ke depan, jemarinya tertata rapi di atas pangkuan—persis seperti Ndoro Putri dari Keraton yang sedang menunggu jamuan makan malam kenegaraan. Sepertinya, setelah tadi siang jadi "Cucu Presiden", sore ini setelan memorinya berubah jadi "Bangsawan Keraton".
Faqih turun dari lantai dua dengan langkah gontai, lalu menyalami tangan ayahnya. Setelah itu, Yuda mendekati kursi mertuanya untuk melakukan hal yang sama: salim.
"Eh, Ibu... apa kabar hari ini? Sehat?" tanya Yuda sambil membungkuk sopan untuk mencium tangan Yangti.
Yangti tidak menyodorkan tangannya. Beliau justru menarik jarinya dengan cepat seolah-olah baru saja disentuh oleh rakyat jelata yang lupa mandi. Beliau menoleh ke arah Tari dengan wajah sangat kaget sekaligus jijik.
"Tari! Iki sapa?! Berani-beraninya orang asing masuk ke keraton terus pegang-pegang tangan Putri?!”
Yangti tiba-tiba membuka kipas tangan yang entah sejak kapan sudah ada di genggamannya, lalu mengibas-ngibaskannya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat.
"Apa kowe ajudanku?" tanya Yangti sambil menyipitkan mata, menatap Yuda dari atas ke bawah. "Hemm... Sang Raja lumayan pintar pilih ajudan buat Putri Keraton kembang desa ini."
Yuda sempat tertegun sejenak, melirik ke arah Tari yang hanya bisa mengangkat bahu pasrah. Sebagai menantu teladan yang sudah khatam dengan drama harian di rumah ini, Yuda segera mengambil langkah mundur. Ia membungkuk dalam-dalam dengan posisi tangan menyembah hormat.
"Mohon ampun, Ndoro Putri. Saya adalah ajudan pribadi yang baru diutus Sang Raja untuk menjaga keselamatan Anda," sahut Yuda dengan nada suara yang dibuat seformal mungkin.
Tari dan Faqih yang melihat adegan itu dari pinggir meja makan mati-matian menahan tawa sampai bahu mereka berguncang. Drama hari ini benar-benar tidak ada habisnya. Dari selingkuhan, cucu presiden, sampai putri keraton, Faqih hanya bisa berharap semoga besok pagi "setelan pabrik" Yangti kembali ke mode normal—setidaknya sampai bubur ayam langganan datang lagi.
END..