Disukai
0
Dilihat
253
Cinta Abadi
Romantis

Nia menolak Yudi pada hari Jumat.

Tidak ada pertengkaran hebat atau kata-kata kasar yang melayang di udara. Nia hanya duduk di bangku taman kampus sambil memegang gelas kopi kertasnya yang mulai dingin, lalu berkata pelan, “Maaf, Yud. Aku menganggapmu teman.”

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk menghancurkan seorang manusia.

Yudi berusaha tersenyum, meski dadanya terasa terhantam beban amat berat. “Tidak apa-apa,” jawabnya seraya mengangguk lambat.

Padahal ada ribuan patah kata yang ingin ia lontarkan. Bahwa ia sudah menyukai Nia sejak hari pertama kuliah. Bahwa setiap pagi ia sengaja datang lebih awal hanya demi melihat Nia berjalan melewati gerbang. Bahwa ia hafal di luar kepala pesanan kopi favorit Nia, bahkan hafal jam-jam ketika perempuan itu merasa lelah. Namun, tak ada satu pun ucapan yang lolos dari tenggorokannya. Yudi hanya berbalik lalu berjalan pulang dalam keheningan yang mencekam.

Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Yudi membuka kembali seluruh riwayat percakapan mereka di telepon genggam. Ia membaca ulang deretan tawa, candaan, dan janji-janji manis yang ternyata hanya tumbuh subur di kepalanya sendiri.

Menjelang tengah malam, Yudi berdiri di tengah ruangan. Sebuah tali nilon telah tergantung kencang di langit-langit. Tangannya gemetar hebat. Air mata menetes tanpa suara, membasahi lantai semen yang dingin.

“Aku capek,” bisiknya pada kegelapan. Ia melangkah naik ke atas kursi, mengalungkan tali itu, lalu melompat.

Namun, sebelum napasnya benar-benar habis, pintu kamarnya mendadak didobrak keras. Seorang perempuan berlari masuk dengan wajah panik. Angel. Teman sekelas yang selama ini jarang sekali ia perhatikan.

Angel dengan sigap menahan tubuh Yudi, memotong tali itu, lalu memeluknya erat-erat di lantai. “Jangan!” jerit Angel sambil menangis histeris. “Jangan lakukan ini hanya karena seseorang tidak memilihmu!”

Yudi tidak sanggup menjawab. Ia hanya bisa terisak di bahu Angel. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menyuruhnya untuk berpura-pura kuat. Angel hanya tinggal di sana, menggenggam tangannya sepanjang malam.

Sejak saat itu, Angel menjadi penopang hidup Yudi. Perempuan itu mengirim pesan setiap pagi, menanyakan apakah ia sudah sarapan. Angel menunggu di depan kelas saat jam kuliah usai, mengajak minum kopi, dan mendengarkan seluruh penderitaan yang selama ini dipendam Yudi.

Perlahan tapi pasti, nama Nia tidak lagi terasa seperti sembilu. Yudi mulai tertawa kembali. Ia mulai menikmati semilir angin sore dan percaya bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Tuhan mungkin menjauhkan satu orang hanya untuk mendekatkan seseorang yang jauh lebih bernilai.

Suatu malam, ketika mereka duduk di tepi dermaga kota, Angel menyandarkan kepalanya di bahu Yudi. “Sekarang, kamu masih ingat Nia?” tanyanya lembut.

Yudi tersenyum tipis. “Sedikit.”

“Masih sakit?”

“Sudah tidak.”

Angel menggenggam erat jemari Yudi. “Kalau begitu, jangan pernah kembali ke masa lalu.”

Yudi menatap mata perempuan itu. “Kalau kamu? Apakah kamu akan tetap di sini?”

“Aku akan selalu di sini.”

Malam itu, Yudi merasa benar-benar sembuh dan bahagia.

Namun, kebahagiaan itu ternyata memiliki batas kadaluarsa yang amat singkat. Suatu sore, Yudi menerima pesan singkat dari temannya. Sebuah foto dikirimkan tanpa penjelasan. Di dalam foto itu, Angel terlihat sedang duduk berdua di kafe remang-remang bersama Raka, sahabat terdekat Yudi. Jemari Angel tertaut rapat di atas tangan Raka.

Dunia Yudi mendadak runtuh untuk kedua kalinya. Malamnya, dengan dada yang bergemuruh hebat, ia mendatangi Raka dan Angel.

“Apa maksud semua ini?” tanya Yudi dengan suara bergetar.

Raka terdiam seribu bahasa, sementara Angel berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca. “Yudi... maafkan aku,” bisik Angel pelan.

Satu kata itu membakar seluruh kewarasan Yudi. Ia tertawa melengking, tawa asing yang terdengar lebih menyedihkan daripada ratapan kematian.

“Nia tidak memilihku,” kata Yudi sambil menunjuk Angel. “Lalu kamu datang berpura-pura menyelamatkanku, hanya untuk menghancurkanku bersama sahabatku sendiri!”

Tanpa menunggu jawaban, Yudi berbalik dan berlari menembus kegelapan malam. Ia kembali ke kamarnya. Tali yang dulu pernah menggantung masih tergeletak di sudut ruangan. Dengan gerakan tenang tanpa ragu, Yudi merakit kembali simpul matinya. Tangannya tidak lagi gemetar.

“Mungkin aku memang tidak pernah pantas untuk dicintai siapa pun,” gumamnya dingin.

Ia naik ke atas kursi, memasukkan lehernya ke dalam simpul, dan mendorong kursi itu hingga terlempar.

Anehnya, ketika Yudi mencoba bergerak menyesali keputusannya, tubuhnya mendadak kaku. Tangannya tidak bisa diangkat. Lehernya mengunci rapat. Kakinya seberat beton. Rasa panik yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya.

“Kenapa aku tidak bisa bergerak?” batinnya berteriak.

Tiba-tiba, suara benturan logam dan derit roda terdengar nyaring. Cahaya putih yang sangat menyengat menghantam kelopak matanya. Langit-langit kamarnya sirna, digantikan oleh ruangan asing berdinding keramik pucat yang sangat dingin.

“Sudah kaku,” ucap sebuah suara pria asing di dekatnya.

“Wajar, sudah beberapa jam yang lalu,” balas suara lain.

Yudi berusaha mendongak, tetapi seluruh ototnya telah mengeras. Melalui pantulan kaca perak di atasnya, ia melihat kenyataan yang mengerikan. Tubuhnya terbujur kaku di atas ranjang besi. Wajahnya pucat pasi, lehernya memar kebiruan dengan bekas jeratan tali yang jelas.

Seketika itu juga, ingatan Yudi mulai terpecah dan retak.

Angel tidak pernah mendobrak pintunya. Angel tidak pernah memeluknya malam itu. Tidak ada kencan di dermaga, tidak ada cangkir kopi hangat, dan tidak ada pengkhianatan Raka. Semua rentetan kisah manis dan pahit itu hanyalah halusinasi, sebuah ilusi yang diciptakan oleh sel-sel otaknya yang sekarat dalam detik-detik terakhir sebelum kematian menghentikan aliran darahnya.

Yudi tidak pernah diselamatkan siapa pun. Ia telah tewas pada malam Jumat itu, tepat setelah Nia menolaknya.

Sekarang, ia berada di dalam kamar jenazah. Kaku, dingin, dan tak berdaya. Tubuhnya telah memasuki fase rigor mortis.

Dua orang Petugas berseragam hijau menarik pembaratannya. “Kasihan,” ujar salah satu petugas. “Masih sangat muda.”

Yudi ingin menjerit. Ia ingin menangis dan meminta kesempatan kedua. Ia ingin berteriak bahwa penolakan Nia sebenarnya bukanlah alasan yang sepadan untuk mengakhiri hidup. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yudi benar-benar ingin bernapas dan melanjutkan hidup.

Namun, orang mati tidak bisa bersuara.

Petugas mendorong tubuh kaku itu ke dalam lemari pendingin besi nomor tujuh. Pintu tebal itu perlahan bergerak menutup, mengikis cahaya putih hingga akhirnya menyisakan kegelapan total.

Di dalam sisa-sisa kesadarannya yang meredup menuju ketiadaan, bayangan Angel hadir untuk terakhir kali. Perempuan ilusi itu tersenyum sedih.

“Jadi... kamu tidak pernah ada?” bisik jiwa Yudi.

Bayangan Angel menggeleng pelan. “Aku hanya manifestasi harapanmu untuk tetap hidup.”

“Lalu kenapa kamu membiarkanku mati?”

“Karena pada akhirnya, kamu sendiri yang memilih untuk berhenti bertarung.”

Pintu besi terkunci rapat dengan bunyi dentang yang berat. Dalam kegelapan yang abadi, rigor mortis telah membekukan tubuhnya, sementara penyesalan yang tak terlunaskan mengunci jiwanya selamanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi