Hanabi adalah nama yang indah. Ia meliuk-liuk digelapnya malam, lalu mekar untuk dikagumi banyak orang meski sesaat saja
Sayangnya Ibu tidak memberikan penjelasan segamblang itu. Ia hanya bilang bahwa namaku Hanabi karena ia ingin kehadiranku bisa dirayakan semua orang. Titik.
“Bu, aku jalan ya!” tukasku dari ambang pintu sambil menarik ujung sepatu kets agar menutup sempurna ke tumit.
“Jangan pulang lebih dari jam satu ya.” Ibu menyahut dari dapur, suaranya menggema di antara dinding rumah kontrakan yang sempit ini.
“Iya.....” balasku sambil berlari kecil dan segera meninggalkan rumah yang saling berhimpit itu.
Hari ini pesta pergantian tahun, sepatuku berkecipak di genangan air bekas hujan sore tadi. Aku bergegas karena harusnya Rama sudah menunggu untuk melihat pesta kembang api pergantian tahun ini.
“Halo, Ram. Gimana?”
Di ujung telepon Rama berkata, “Motorku masuk bengkel. Kamu bisa gak berangkat sendiri? Nanti sampai sana aku ganti ongkosnya deh! Aku minta maaf banget.”
Aku tidak mau malam spesial ini rusak dengan segampang ini, maka langsung kukatan kepadanya di telepon. “Jangan lama loh! Aku mau kita bisa jalan-jalan dulu sampai puas.”
Di ujung telepon Rama hanya menyahut, “Oke!” Lalu sambungan itu terputus.
Aku menarik napas, meyakinkan diriku bahwa semua ini akan baik-baik saja. Aku mengeluarkan cermin kecil dari tas yang kuselempangkan di bahu. Aku mulai mematut senyum, membenarkan anak rambut yang jatuh di dahi.
***
Dari dalam angkutan kota aku melihat hiruk-pikuk manusia. Seolah semuanya serempak berjalan ke suatu tempat dan seolah menikmati malam yang panjang dan tak mau cepat berlalu.
Dari dalam angkot aku melihat seseorang, “Rama kah itu?” batinku menyelidik.
Dari mulai celana kargo dan jaket bomber biru dongker dengan bordiran berlambang gagak merah di belakangnya. Langsung saja aku mengetuk atap angkot dan berlari kecil sampai pada akhirnya aku berhasil mendekat ke belakang Rama dan ia sedang mengobrol dengan tiga orang lain yang bahkan aku tak kenal itu siapa.
“Ram!” Aku menepuk bahunya sambil sedikit terengah-engah seperti pemangsa yang tak mau buruannya kabur.
“Oh hei, Bi! Kok kamu sudah sampai sini aja. Kukira kamu hubungin aku kalau sudah sampai.”
Seperti yang kuduga Rama terkejut melihatku nongol di belakangnya tanpa aba-aba.
“Kamu lama!” tukasku sambil merengut.
Aku melihat Rama tersenyum ke arahku. Padangannya terlalu terlalu teduh untuk aku yang kekanak-kanakan ini. Jika di dekat Rama rasanya aku seperti masuk ke taman bermain pribadiku.
Kulihat Rama berpamitan dengan tiga orang tadi. Tanpa bersuara dan hanya memakai gestur melambaikan tangan. Ya betul, malam ini Rama khusus punyaku saja tak boleh diusik oleh siapa pun.
“Bi…. Harusnya ngabarin coba. Kan nanti bisa kujemput. Motorku trouble dari tadi siang gak bisa kubawa, jadi ya sekalian aku nebeng temanku,” terang Rama sambil menowel cuping hidungku.
Rasanya lucu dan tak percaya ketika ini terjadi. Jadi Rama adalah lelaki cuek dengan segala diamnya. Lalu dia bisa cerita apa pun ke aku, sambil cubit-cubit manja begini. Tau apa yang lebih lucu? Semua itu hanya terjadi kurang dari sebulan, aku merasa sedikir bangga pada diri sendiri, ada juga ternyata ya orang yang mau berubah saat bersamaku.
Aduh, Tuhan! Pipiku memerah membayangkan ini. Hal lucu yang harusnya tidak mungkin dilakukan orang secuek dan sekaku Rama.
Aku menarik tangannya, menerobos kerumunan manusia, takkan lepas genggamanku dari tangannya. Kami mencoba satu per satu jajanan, wahana sederhana, sampai kita akhirnya duduk di emperan sebelah tukang kebab.
Tepat lima belas menit sebelum teng tengah malam, bulir-bulir gerimis akhirnya berjatuhan, Rama dan aku sedang makan kebab. Kulihat lagi matanya, seperti ada pikiran di dalam kepalanya yang membuat matanya seperti berat memandang ke depan. Ah, bukannya lelaki seperti, terlihat kasihan ketika makan.
“Ram….” Aku menepuk bahunya.
“Eh iya. Gak apa kok!” Rama terlihat gelagapan merespon tepukanku.
“Kamu mau ngobrolin sesuatu biar lega atau enggak? Dari tadi sepertinya kamu dihantam cukup banyak masalah ya?” Aku mengusap-usap punggungnya. Aku tau beban lelaki itu berat, maka sebisa mungkin aku tidak mau jadi beban tambahannya dia.
“Aku minta maaf ya. Kalau ternyata aku jalan-jalan ke sini itu malah mengganggu waktu menyendirimu,” sambungku.
“Enggak kok, bukan karena kamu.” Rama tersenyum.
Aku sebal sekali ketika Rama mulai mengeluarkan senyum kemaskulinannya. Jadi meleleh kan aku, sudah begitu aku masih malu kalau harus jingkrak-jingkrak atau teriak histeris.
Tanpa ada angin tiba-tiba Rama berujar, “Siapa yang terakhir abis makan kebabnya dia harus cium celemek abang tukang kebab.” Sambil dia menjulurkan lidahnya seolah mengejekku, lalu dengan brutal kebab itu mulai merangsek ke mulutnya.
“Hei curang! Tiba-tiba lomba!” Aku menampar-tampar kecil pipi dia. Tapi Rama tak menggubris.
“Khuh.... Nhang!” Rama mengangkat tangannya sambil mulutnya masih penuh kebab yang belum tertelan, ia lalu langsung menyerobot botol air mineralnya.
Ia lalu maju ke abang-abang kebab yang nampak sedang sibuk melayani pembeli.
“Ram…. Jangan is!” Aku merajuk.
“Ram!” Setengah berteriak aku memanggil Rama, namun sepertinya dia tetap menjalankan hukuman atas lomba dadakannya dia.
“Ayo, kata abangnya boleh kok!” Sekonyong-konyong Rama menarik tanganku.
Aku sedikit memberontak, saat sudah berdiri di hapadan abang-abang kebab itu.
Namun Rama bilang, “Yaudah satu boneka Teddy Bear gede untuk kamu deh!”
Aku menghela napas menjalankan hukuman mendadak dari Rama, sementara Rama cekikikan sambil merekam video. Katanya, “untuk kenang-kenangan.”
Tiga menit lagi menjelang tengah malam, sebuah boneka Teddy Bear besar sudah ada di depanku, masih terbungkus rapi di dalam plastik. Sementara itu Rama menenteng segala macam jajanan kalapku.
“Yuk ikut aku sini, katanya ini tempat paling bagus dan cozy untuk lihat rentetan kembang api.”
Rama berjalan lebih dulu, aku mengekornya ke tempat yang lumayan jauh dari kerumunan. Tempatnya agak jauh, ada di jalanan yang sedikit menanjak, di situ ada bekas-bekas bangunan yang terbengkalai yang bahkan ruang setengah ke belakang sudah rata dengan tanah.
Rama berhenti, lalu menaruh jajanannya. Ia menatap ke arahku, berdehem berat.
“Ada apa?” tanyaku sambil menyelidik kegelisahan di wajah Rama,
“Aku mau hidup lebih lama sama kamu.” Suaranya tampak berat dan seperti ada sesuatu besar yang ia pendam. “Tapi aku mohon, kamu lebih baik pulang. Nanti biar kamu diantar temenku, nih!”
Aku terbelalak, “Hah?! Kamu gila!! Coba maksudnya apa! Jelasin cepet!”
“Ini lebih rumit jika aku jelasin sekarang, jadi lebih baik kamu pulang. *please!*” Rama memelas, namun jelas aku masih tak terima. Sementara satu temannya yang tadi bertemu di di awal kerumunan sudah menunggu dengan mesin mobil yang masih menyala.
Ah tapi peduli setan! Aku mau menuntut kejelasan kepada Rama. “Aku tak akan pulang jika kamu gal jelasin ini semua apa. Ngerti!”
Rama menarik napas panjang, aku terus menatapnya dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun! Deru mesin mobil temannya yang tadi seperti menunggu untuk mengantarkanku pulang sudah dimatikan. Temannya Rama sudah keluar, dari ekor mata, aku mencuri pandang dia berjalan ke arah kami. Langkahnya tegap dan teratur, aku merasa dia bukan orang biasa.
Tanpa kuduga ada seseorang yang mengalungkan lengannya ke leherku. Tangan kasar itu langsung menutup hidung dan mulutku dengan selembar kain. Sekuat tenaga aku mencoba berontak, dengan cara memukul badannya, tapi badannya yang seperti batu membuat usahaku sia-sia.
Tak berapa lama mataku mulai berkunang-kunang, oksigenku rasanya mau habis, tubuhku pun akhirnya tumbang.
Aku masih samar-samar mendengar saat letupan kembang api pertama, juga suara Rama yang seperti berbisik, “Aku ingin hidup bersamamu lagi…. Jika bisa…. jika bisa.”
Lalu semuanya gelap, aku tau ini bukan akhir, karena ini justru ini bukan akhir yang kuinginkan(*).