“Siapa bilang surga adalah tempat yang sempurna?”
Suara langkah kaki mengisi lorong yang sunyi. Seorang petugas berjalan sendiri menuju tempat kerjanya. Basement. Satu-satunya tempat di mana tidak ada kebahagiaan.
Basement merupakan tempat berkumpulnya para petugas yang membersihkan kesedihan. Sering kali jiwa-jiwa dari bumi membawa kesedihan. Kesedihan itu harus mereka lepaskan di gerbang, dan di sinilah akhir dari kesedihan-kesedihan itu.
Meskipun Rama sudah bertugas selama seribu lima ratus dua tahun, ia tak pernah benar-benar tahu ke mana pergi kesedihan yang dikumpulkannya. Yang ia tahu, kesedihan itu selalu hilang ketika ia mulai bekerja.
Di sisi lain basement ini, ada sebuah tempat yang menampung barang-barang yang tidak sengaja terbawa oleh jiwa-jiwa dari bumi. Barang yang mereka sayangi selama hidup atau barang yang bersama mereka ketika mereka mati.
Rama berhenti di depan sebuah rak panjang yang tertutup debu tipis—satu-satunya debu yang diizinkan ada di seluruh penjuru langit. Di atasnya, barang-barang itu tampak malang: sebuah kunci rumah yang sudah berkarat, sikat gigi anak-anak berwarna merah muda, hingga secarik tiket bioskop yang tulisannya sudah nyaris hilang.
Ia menyentuh sebuah arloji tua yang kacanya retak. Jarumnya berhenti di angka yang sama selama seribu lima ratus dua tahun.
"Kau juga tidak bisa melepaskannya, ya?" bisik Rama pelan.
Suaranya memantul di dinding beton, terdengar asing di telinganya sendiri. Di lantai atas, suara-suara selalu terdengar harmonis, seperti paduan suara yang terencana. Namun di basement, suara Rama terdengar pecah dan tidak sempurna.
Rama tahu, tugasnya adalah menghancurkan barang-barang ini. Memastikan tidak ada sisa-sisa "dunia" yang mengganggu keabadian. Namun, setiap kali ia memegang benda yang pernah dicintai seseorang, Rama merasa seolah ia sedang menggenggam detak jantung yang masih hangat.
Dahi Rama mengernyit, jarum jam yang ia pegang masih bergerak.
Tik. Tik.
Detiknya masih berjalan.
Rama menahan napas. Ia mendekatkan arloji itu ke telinganya. Detak mekanis itu terasa nyata, bergetar halus di ujung jarinya. Ini mustahil. Di surga, waktu adalah garis lurus yang tidak memiliki ujung, sehingga tidak perlu dihitung. Namun, arloji di tangannya bersikeras menghitung sesuatu yang telah hilang.
Ia membalikkan arloji itu. Di bagian belakang yang tergores, ada ukiran nama yang nyaris terhapus oleh gesekan bertahun-tahun.
"Untuk ia yang selalu menunggu pulang."
Rama merasakan sebuah tarikan aneh di dadanya—sesuatu yang seharusnya sudah bersih seribu lima ratus tahun yang lalu. Selama ini, ia percaya bahwa kesedihan yang ia kumpulkan menguap begitu saja ke udara basement yang lembap. Namun, melihat jarum jam yang masih berputar itu, Rama menyadari satu hal yang mengerikan.
Kesedihan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wujud.
Tangan Rama gemetar. Jika arloji ini masih berdetak, artinya pemiliknya—jiwa yang membawa benda ini ke gerbang—masih menyimpan sesuatu yang belum tuntas. Sesuatu yang bahkan kemegahan lantai atas tidak bisa sembuhkan.
Ia melihat ke arah lorong gelap di ujung basement. Tempat yang selama ini ia hindari. Mungkinkah di sanalah semua kesedihan itu bermuara? Dan apakah Rama, sang petugas yang merasa paling aman di basement, sebenarnya adalah tawanan paling setia dari memori-memori yang menolak untuk dilupakan?
Rama berjalan menuju lift sembari membawa jam tua itu. Ia menekan tombol ‘1’ menuju lobby. Ia tahu membawa ‘sampah’ ke atas adalah hal yang dilarang.
Pintu lift terbuka dengan denting halus yang sopan. Kontrasnya langsung menyergap: aroma bunga yang tak pernah layu dan cahaya keemasan yang tidak menyisakan bayangan. Orang-orang di lobby berjalan dengan langkah ringan, wajah-wajah mereka jernih tanpa gurat kecemasan. Mereka adalah gambaran kesempurnaan.
Rama mengeratkan genggamannya. Di dalam sakunya, arloji itu masih berdetak.
Tik. Tik. Tik.
Suara itu terasa sangat berisik di telinga Rama. Ia merasa seperti membawa sebuah bom waktu di tengah pesta yang tenang. Setiap detak itu adalah pengingat akan luka, penantian, dan hal-hal yang tidak sempat selesai—hal-hal yang seharusnya tidak punya tempat di sini.
Seorang petugas keamanan lobby, dengan jubah putih yang menyilaukan, menoleh ke arah Rama. Matanya yang tenang menatap Rama dengan keheranan yang halus. "Rama? Mengapa kau naik ke atas di jam tugasmu? Dan... bau apa ini?"
Rama terhenti. Ia baru menyadari bahwa ia membawa bau basement—bau debu, logam, dan kelembapan—ke dalam ruangan yang steril ini. Namun, yang lebih mengejutkan adalah getaran di sakunya. Arloji itu berdetak semakin cepat, seolah-olah ia sedang bereaksi terhadap kehadiran seseorang di ruangan ini.
Rama tidak menjawab pertanyaan rekannya. Matanya menyisir kerumunan jiwa yang lalu lalang, mencari seseorang yang mungkin merasa ada sesuatu yang hilang dari pergelangan tangannya, seseorang yang kebahagiaannya di surga hanyalah sebuah kepura-puraan karena separuh jiwanya masih tertinggal dalam detak jam tua itu.
Rama menarik napas panjang, menghirup udara yang terlalu bersih hingga terasa hambar di paru-parunya. Ia merogoh sakunya, memastikan permukaan arloji itu masih hangat dalam genggamannya. Dengan jempolnya, ia mengusap sekali lagi ukiran nama di bagian belakang yang selama ini ia abaikan.
"Sita," bisiknya.
Suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh desau angin surga yang terdengar seperti musik harpa. Namun, di tempat di mana setiap kata adalah doa, nama itu memiliki beratnya sendiri.
Ia memanggilnya lagi, kali ini sedikit lebih tegas. "Sita."
Seorang wanita yang sedang berdiri membelakanginya di dekat air mancur emas mendadak kaku. Bahunya sedikit turun, seolah-olah beban seribu tahun baru saja mendarat di sana. Di surga, tidak ada yang menoleh karena terkejut; mereka menoleh karena damai. Namun, wanita ini menoleh dengan gerakan yang patah dan ragu—sebuah gerakan yang sangat manusiawi.
Wajah wanita itu cantik dan tenang, namun matanya kosong, seperti sebuah buku yang bab terakhirnya hilang.
Rama mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti mengotori lantai marmer yang mengilap dengan debu dari basement. Petugas lain mulai memperhatikannya, kerutan aneh mulai muncul di dahi-dahi mereka yang biasanya licin tanpa beban.
"Kau membawa sesuatu," suara wanita itu bergetar. Ia tidak menatap Rama, melainkan menatap saku seragam Rama yang kusam.
"Ini milikmu," jawab Rama singkat. Ia mengeluarkan arloji itu.
Saat arloji itu berpindah tangan, suara Tik... Tik... Tik... yang tadinya hanya terdengar oleh Rama, tiba-tiba bergema di seluruh lobby. Orang-orang di sekitar mereka berhenti berjalan. Musik harpa yang mengalun di udara mendadak sumbang.
Sita menyentuh kaca arloji yang retak itu dengan ujung jarinya. Detik itu juga, setetes cairan bening jatuh dari matanya—sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi di sini. Air mata itu jatuh tepat di atas angka dua belas.
"Mereka bilang aku harus melupakannya agar bisa masuk ke gerbang," isak Sita pelan. "Mereka bilang surga adalah tempat di mana kita tidak lagi membutuhkan waktu, karena kita punya selamanya."
Rama terdiam. Ia melihat arloji di tangan Sita berhenti berdetak tepat saat air mata itu menyentuhnya. Seolah-olah, arloji itu memang hanya menunggu untuk dikembalikan agar tugasnya menghitung penantian bisa selesai.
"Tapi," lanjut Sita, menatap Rama dengan mata yang kini kembali bernyawa, "apa gunanya selamanya, jika aku tidak ingat siapa yang aku tunggu?"
Lobby yang megah itu tiba-tiba terasa sempit. Rama menyadari bahwa dengan mengembalikan 'sampah' ini, ia tidak hanya memberikan sebuah benda, tapi ia baru saja merusak kebahagiaan palsu di surga dengan sebuah kebenaran yang pahit.
"Rama!" suara teguran dari petugas keamanan terdengar lebih keras sekarang. "Apa yang kau lakukan? Kau merusak ketenangan tempat ini!"
Rama menoleh ke arah rekan-rekannya, lalu kembali menatap Sita yang kini memeluk arloji mati itu di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam seribu lima ratus dua tahun, Rama tidak merasa ingin kembali ke basement untuk bersembunyi.
"Siapa bilang surga adalah tempat yang sempurna?" gumam Rama, kali ini dengan senyum tipis yang getir. "Tempat ini hanya sempurna karena kita dipaksa lupa."