Aku kira, di zaman yang serba teknologi, instan, canggih. Dan dimana para orang tua sering memberikan nama anaknya kebarat-baratan seperti Parveen, Noah, Michael atau ke arab-araban seperti Haidar, Reyhan, Azmi. Dan agaknya, nama pun ikut sesuai zamannya. Tapi namaku, terlalu kejauhan, terlalu lampau. Perkenalkan ..., Aku Bandung Bondowoso.
Sebuah nama yang tentunya sudah didengar oleh jutaan masyarakat Indonesia. Nama yang melegenda dalam cerita rakyat dan ceritanya sudah beberapa kali diadopsi ke layar kaca.
Dulu, saat ibuku berusia 10 tahun, dia selalu berdoa agar kelak suaminya berparas seperti Bandung Bondowoso yang sering dia tonton di tv milik satu-satunya saudagar di desa kami tatkala tahun 1983. Tahun 1994 dia dijodohkan, menikah dengan lelaki yang sebenarnya jauh dari tipenya. Tak hilang semangat, doanya menjadi berkali-kali lipat terlebih saat dia hamil. Tahun 1995, lahirlah aku. Seorang bayi laki-laki yang membuat ibuku bersorak hebat tak merasakan perihnya dijahit di kemaluan. Dengan gegap gempita, dia langsung memanggilku
'Anakku Bandung Bondowoso yang tampan dan rupawan'.
Kata nenek dari jalur Bapak, dia dulu protes bukan kepalang saat ibuku menamaiku Bandung Bondowoso. Beliau sampai memaksa bapakku untuk mengganti namaku dulu. Tapi bapak, dia tak bisa berkutik sama sekali. Karena salah satu syarat ibuku mau menikah dengan bapak adalah, bahwa ibu punya peraturan mutlak dalam memilihkan nama anak-anaknya nya kelak. Tak bisa diganggu gugat.
"Kalau aku punya adik, namanya siapa?" tanyaku sembari mengasah pisau yang sudah kubuat sedari tadi pagi jam 5. Pisau pesanan penjagal sapi ternama di desa sebelah.
"Rencananya sih, Lokahita. Tapi percuma, kamu gak punya adik," jawabnya cemberut.
"Kayaknya ibu dikutuk nenekmu setelah melahirkan. Jadinya, ibu gak hamil-hamil lagi!" Tambahnya dengan muka sebal.
"Memangnya kutukan itu ada, Bu?" tanyaku masih mengasah pisau sebelum sebelum kuukir nama pemilik di bagikan gagangnya.
Ibuku cemberut, bola matanya memutar.
"Eh, pesanan siapa pisau itu?"
Sudah kuduga, ibu mengalihkan pembahasan. Ibuku pencinta drama kolosal, cerita-cerita legenda yang dimana tokoh-tokohnya beragam Hindu dan Budha. Sedangkan Ibuku Islam sejak lahir, dididik dengan panduan Islam oleh kakek dan nenekku. Karma, kutukan, reinkarnasi, Islam tak mengenal itu. Berbeda dengan Hindu yang amat kental dengan ketiga kata di atas. Jika aku sudah menyinggung 3 kata itu, ibu akan memilih mengalihkan ke yang lain. Setelah itu, dia akan memegang dadanya. Ada sesuatu yang sedang berkecamuk, bertengkar hebat dalam dirinya. Antara keinginan dan aturan yang tak sejalan. Aku cukup mengerti, karena aku, Bandung Bondowoso. Orang masa kini, yang terjebak di kehidupan lampau.
"Jujur saja ya. Anggap saja aku ini orang lain yang baru bertemu kau. Kau ini tampan, Ndung. Tampan yang langka, unik, khas putra mahkota kerajaan. Tampan yang gagah, matamu tajam, dan hanya mengeluarkan suara di saat-saat penting. Bukan hal susah bagimu mendapatkan istri. Usiamu sudah 30 tahun, pekerjaanmu juga sudah mapan. Sebenarnya, wanita seperti apa yang sedang kau cari?"
Paklek, adik ibuku. Berkali-kali dia kemari, merayuku dengan bermacam-macam kalimat yang intinya itu-itu saja. Pastilah sebelum kesini dia sudah bermusyawarah dengan ibuku, tak kurang dah tak lebih khidmat dari pada pengibaran bendera.
"Belum ada wanita yang membuatku tertarik, Lek," jawabku sama, template, persis.
"Ngomong-ngomong, Paklek sudah siapkan banyak perempuan di desa ini. Kamu tinggal milih," rayunya sembari mendekatkan kursinya ke arahku.
"Aku tidak suka semua gadis di desa ini," jawabku yang membuat pamanku langsung mati kutu.
"Sari? Nia? Irma? " Paklek menyebutkan nama-nama perempuan yang lahir di era 90 an. Aku menghembuskan napas panjang, nama-nama yang disebut paklekku semua sudah menikah.
"Bagaimana kalau yang Ayu? Nadin? Raisa?" Nama-nama era 2000 an yang sekarang kira-kira berusia 20 tahunan.
Aku menggeleng tak berselera. Sudah kubilang dari awal. Tak ada wanita di desa ini yang kucinta.
"Apa jangan-jangan Alea? Felicia? Mirea?"
Itu sudah kelewatan. Mereka masih anak-anak dan aku bukan pedofil.
"Cukup, Paklek! Aku mau fokus bekerja," jawabku menyetop segala kemungkinan Pak Lek untuk bicara.
"Kalau memang tak ada satu pun wanita di desa ini yang bisa membuat hatimu kepincut. Biar Pak Lek cari sampai ke ujung negeri. Satu Indonesia raya!" Pak Lek berjingkat dari tempat duduk. Aku mendesah panjang, tak menggubris apa yang dia ucapkan sampai bunyi jepretan berkali-kali membuatku langsung mendongak.
"Pak Lek, ngapain?" tanyaku curiga.
"Jangan marah-marah, Ndung. Agak senyum gitu, loh." Pak Lek bergaya bak fotografer, mengambil angle terbaik.
Mengerti apa yang terjadi, aku segera memunggungi Pak Lek dan berjingkat pergi dengan pisau yang masih di genggaman.
****
"Bandung! Bandung! Oi!"
Aku melirik jam dinding. Masih pukul 6 pagi. Ada apa si Sapri dan Anas manggil-manggil di tengah rutinitasku berolahraga.
"Ada apa? ganggu aja!" Ucapku ceplas ceplos.
"Nih lihat. Postingan Paklekmu viral!" ucap Sapri setengah berteriak.
Aku melihat gawai yang berisi gambar-gambarku sendiri. Gambar sedang mengasah pisau, gambar sedang menatap ke depan dengan tajam dan gambar diriku dari belakang. Yang bikin aku tak habis pikir adalah caption yang dibikin Paklek.
Dicari perawan atau janda yang bersedia menikah dengan ponaanku Bandung Bondowoso. Bocahe ganteng, sregep bonus dapat rumah estetik zaman majapahit. Minat? langsung komen dan dm.
Aku tak menyangka postingan seperti ini benar-benar banjir ribuan komen. Penasaran, kubuka kolom komentarnya.
"Gantengnya gak ada yang nyamain. Khas orang-orang kerajaan. Sayang banget lahirku kecepetan.
"Aduh, rambutnya klimis dicepol. Cocok dah jadi bintang iklan shampo."
"Yang bener saja sayembaranya buat perawan dan Janda. Kami ibu-ibu juga mau. Kalau cocok buang yang lama deh!"
"Cek dm ku, cepetan!"
"Minta nomor weA nya dong!"
"Cowo setampan itu gak nikah nikah? jadi curiga ah!"
"Ini beneran apa borongan?"
"Kontent nih ye? mana ada cowo setampan itu gak laku. Atau jangan-jangan kaum ....,"
Rata-rata seperti itu isinya.
"Biarin aja lah. Itu urusan Paklek," ucapku sambil mengembalikan hp ke Sapri.
"Ngomong-ngomong, kau udah ngecek hp belum?" tanya Anas membuatku berpikir sejenak. Benar juga, aku jarang melihat hp. Terakhir on kemarin sore.
"Belum," jawabku kemudian berbalik badan hendak mengambil hp yang masih tergeletak di kamar. Sapri dan Anas mengikuti dari belakang tanpa diminta.
"Mau masuk kamar nih. Tunggu di depan aja, Bro!"
Ku hentikan langkah kedua temanku yang kepo sebelum kebablasan masuk ke kamar.
"Tapi buka hp nya di luar kamar ya, Ndung. Penasaran nih!" Ucap Sapri nampak tak sabar. Kedua kakinya tak berhenti diam.
Aku tak menggubris permintaannya, segera saja masuk kamar dan kukunci pintunya.
Ketika data internet sudah on. Segera saja bunyi notifikasi tak berhenti. Aku bahkan kesulitan untuk memencet tombol kembali karena banyaknya pesan masuk membuat sistem hp ku ngadat, bingung.
"Bandung. Cepetan keluar. Mau lah satu atau dua nomor cewek cakep buat kita!" Teriak Sapri dari luar.
Ketahuilah mereka yang sering menasehatiku soal jodoh, soal mencari pasangan adalah makhluk dengan status tuna asmara tertinggi. Jika aku jomlo karena pilihan, mereka belum nembak saja sudah ditolak. Begitulah kira-kiranya.
Aku keluar kamar, tak menghiraukan keinginan mereka.
"Eh, Bandung. Mau kemana kau?" teriak Anas sembari mengejarku.
"Mau ke rumah Pak Lek,". jawabku cepat sembari terus berjalan ke arah pintu keluar.
"Jangan bikin gara-gara ya, Ndung. Ingat dia masih pak lekmu. Saudara ibumu, jangan dibutakan oleh nafsu angkara murka!"
"Diam, kau Sapri!" bentakku lalu bersiul memanggil Josen. Kuda kesayangan yang menemaniku bermain sejak kecil.
Tanpa ba bi bi, kutunggangi kuda segera dan meluncur menuju kediaman Paklek. Aku mau dia bertanggungjawab penuh atas apa yang dia lakukan.
Kupecut Josen agar berlari semakin cepat. Banyak orang yang menatapku.
Motor-motor dan mobil-mobil yang lewat serasa ikut melaju kencang namun berlawanan arah. Selintas aku bisa menangkap beberapa kepala yang menyembul dari kaca mobil, dari jendela rumah dan dari tirai toko.
"Lebih cepat Josen! Di sana banyak rumput segar sebagai imbalan atas kebaikanmu!"
Josen melesat lebih cepat. Rumah Pak Lek ada di dekat bukit, sehingga pemandangan kini mulai berganti. Dari puluhan motor dan mobil menjadi area persawahan, kumpulan kambing dan kerbau. Jalan memang lebih sempit namun lengang karena tak banyak orang yang lewat.
"30 meter lagi Josen!" pekikku diikuti ringkikan keras Josen, seolah tak sabar menunggu rumput hijau nan segar sedang menunggunya.
Mataku memicing. Nampak Pak Lek sedang berbicara dengan perempuan dan mereka sama-sama menoleh tatkala suara Josen memecah keheningan di pagi hari yang syahdu di desa ini.
Sepuluh meter, tujuh meter, 3 meter dan ...
"Ibu!" Aku menatap ibu dengan tanda tanya.
"Kamu viral loh, Bandung. Ini loh, ibu lagi milih-milih perempuan yang cocok sama kamu."
Ibu nampak semringah, berbanding terbalik dengan Pak Lek yang sepertinya bisa membaca raut kemarahanku.
"Bandung bukan barang yang leluasa bisa dilelang, Pak Lek!" Suaraku naik 2 oktaf dari biasanya. Ibu yang tadinya menatap layar gawai sampai tersentak dan menyadari ada yang tak beres. Josen juga menjauh dari kami bertiga. Mencari rumput di tempat yang jauh meski yang terdekat juga melimpah.
"Bandung. Jangan keras-keras sama Lek mu. Dia ini berusaha cari calon buat kamu. Lihat dulu deh perempuan cuantik, cuantik ini. Kamu pasti kesemsem!" sergah ibu membelakangi Pak Lek. Aku bisa melihat tangan ibu satunya membuat isyarat agar Pak Lek menjauh. Seolah bilang 'Serahkan padaku. Beres!"
"Coba lihat yang ini, Ndung. Cocok sekali sama kamu," rayu ibu menyodorkan layar gawai dengan foto wanita cukup cantik untuk dipandang.
"Bagaimana? cantik kan?" sergah ibu seolah meminta persetejuan.
"Cantik, Bu. Tapi bukan selera Bandung. Sudahlah, Bu. Bandung tak suka dengan cara Pak Lek yang seolah-olah menjual Bandung ke khalayak ramai. Bayangkan berapa mata yang melihat keviralan yang super aneh."
"Zaman dulu raja-raja juga mengadakan sayembara kok Ndung buat cari calon mantunya," bela Pak Lek dari belakang tubuh ibu.
"Gak ada presiden yang sayembara buat cari mantu, Pak Lek!" ucapku geram.
"Zaman sudah berubah. Pak Lek yang norak. Sok bantu Bandung dengan cara yang salah!" Aku melihat wajah pias dari Ibu dan Pak Lek. Barangkali omonganku yang pedas menurutnya. Tapi, biar saja. Itu belum setimpal dari apa yang dilakukan Pak Lek padaku.
"Bandung. Turunkan suaramu," pinta ibu sembari menatap Pak Lek dengan rikuh.
"Pokoknya hapus postingan itu, Pak Lek. Kalau tidak, Bandung gak mau mengakui Pak Lek lagi!" ancamku lalu segera memanggil Josen.
"Ibu mau ikut Bandung?"
Nampak ibu menatapku dengan sedikit rasa takut terlebih saat Josen mendekat.
"Gak, Ndung. Ibu mau menyelesaikan urusan dulu," jawab ibu dengan eskpresi aneh.
"Cepat Josen. Kita cari rumput segar di tempat lain!"
*****
Setelah postingan Pak Lek yang viral, aku mengambil langkah ekstrim. Mogok ngobrol dengan ibu, mogoknya sebentar-sebentar karena takut kualat. Mengganti ke nomor baru, tentu saja tak menghapus yang lama. Nomor itu sudah menemani dari zaman gawai jadul sampai sekarang. Nomornya juga sudah membantu mengisi persyaratan-persyaratan formulir bank, market place dan dokumen penting yang lain.
Bukan hanya kedua temanku yang jadi heboh karena postingan Pak Lek, warga desa juga. Postingan itu kecepatannya melebihi dari mulut ke mulut. Membuatku malu 7 turunan meski belum menikah.
Diuntungkan dengan zaman modern yang apa-apa serba viral. Setiap berita bisa cepat viral dan terkubur cepat dengan viralnya yang lain. Tak menunggu lama, dua minggu sesudah itu berita tentangku lama-lama terkubur dengan sendirinya. Apalagi sama sekali tak digubris apa pun pesan yang masuk. Beberapa malah dari koran setempat dan media infotainment. Ampun deh.
Pagi ini, aku merayakan kemerdekaanku dengan bersiul sembari membersihkan tempatku berperang alias toko pisau custome. Ada sekitar 10 pesanan masuk. Masing-masing dengan detail yang berbeda.
Tak masalah, meski itu artinya aku harus lembur ekstra. Tak masalah karena membuat pisau adalah pekerjaan sekaligus healing bagiku.
Saat kubuka rolling dor toko, rintik hujan mulai menetes. Sedikit hanya sedikit karena mentari dari timur nampak gagah dan memancarkan sinar-sinar warnanya ke penjuru arah. Kalau istilah di desaku namnya hujan wewe. Hujan saat panas melanda.
Aku suka hujan..Biarlah dibilang melankolis, anak hujan, kenyataannya aku suka hujan dan benci kebalikannya. Kemarau.
Tapi sekarang, rasa-rasanya kemarau itu tak mengenal ada di bulan apa. Bahkan dia menyusup terang-terangan pada saat musim hujan.
Jadi, apalah arti musim hujan jika terangnya sama dengan kemarau?
Alih-alih mendung, angin sepoi, eh malah kemarau yang ikut nangkring. Aku menggerutu sebal. Berharap hari ini hujan deras saja.
Rolling dor sudah terbuka. Aku mulai menata kembali barang jualan. Pisau dapur, pisau untuk menyembelih, pisau untuk buah, aneka macam pisau lengkap di sini.
Ibu sering protes karena daganganku cukup menyeramkan. Dia memberikan saran agar sekalian jualan es dan chiki juga garam, telur, mi, sandal, salep, karbit, kabel ...
"Yakin deh. Pasti bakal laris, Ndung!"
"Ibu mau buka toko sembako?"
"Gak papa dong. Tempatnya masih cukup kan?"
"Ya sudah ibu yang melayani. Bandung kan harus fokus menyelesaikan pekerjaan Bandung.
"Jangan ibu lah Ndung. Istrimu toh ya!"
Aku menghela napas. Ini adalah kali pertama ibu membahas lagi soal istri setelah dua minggu berselang karena postingan yang viral. Toko sembako adalah alibi, dan istri adalah maksud utamanya.
"Doain ajalah, Bu," jawabku datar. Tanganku sedang asyik mencuci batangan besi yang hendak kutempa nanti.
"Tak doain, Ndung. Apalagi ini musim hujan," jawab Ibu mesam-mesem.
"Apa hubungannya?"
Tanganku berhenti membasuk batangan besi. Musim hujan dengan terkabulnya doa?
"Kata Pak Ustadz, berdoa waktu hujan itu mustajab!" jelas ibu.
Akhir-akhir ini ibu memang sering ikut pengajian. Berbagai pengajian dia ikuti. Sampai punya banyak seragam warna-warni. Katanya untuk nirakati, untuk menjaring link. Barangkali dapat calon mantu dari pengajian.
"Ceramah dari pak ustad yang mana nih?" candaku pada ibu.
"Huss ... jangan ngeledek lah!" Tepat setelah ibu menjawab bunyi guntir terdengar menggelegar lalu diikuti hujan deras mengguyur tanah.
"MasyaAllah, Ndung. Jodohmu sebentar lagi. Jadi semangat aku ikut pengajian!" terang ibu lalu berjalan dengan senyum merek odol ternama menuju ke rumah.
"Aneh!" Aku menggeleng.
Suara langkah ibu kian menjauh, sekarang aku bisa merasakan dengan hidmat indahnya suara hujan deras yang mengguyur, ditambah bunyi kucuran dari talang air yang menambah suasana jadi ramai. Juga gemericik hujan yang menyentuh tanah bak jarum-jarum yang menyerbu. Ah, ini indah sekali. Biar pun toko akan jadi sepi pembeli, tak masalah. Sesekali begini. Toh, ada alternatif lain yaitu toko online di marketplace.
Rasanya hampir 3 menit aku terpejam menikmati hujan hingga akhirnya otakku mengingatkanku akan pesanan yang harus terselesaikan. Segera saja kuberjingkat menuju tempat pola pisau. Mengambil pola pisau sesuai pesanan dan mengeluarkannya di batang besi lalu mengambil alat pemotong agar bentuknya mengikuti pola. Menuju tungku, menyalakan api di tumpukan kayu. Potongan besi ini akan kubakar untuk kemudian kubentuk.
Setelah pisau terpotong sesuai pola, mulailah kuhaluskan dengan alat ....., kanan, kiri, serong, selicin dan semulus yang kumau. Bunyi mesin dan hujan berpadu, rasanya dunia ini menjadi milikku sendiri. Lambat laun, pisau nampak mulus dan sayangnya mesin penghalusnya mengeluarkan bunyi agak aneh. Kucoba berkali-kali, nampaknya masih oke. Hanya saja kenapa suaranya jadi begini? Suara mesin yang aneh, kenapa malah jadi seperti suara manusia? apa aku sedang berhalusinasi?
"Boleh saya berteduh di sini?"
Suara itu cukup keras hingga membuatku menoleh. Jadi, memang bukan suara mesin. Tapi suara seorang wanita dengan jas hujan yang sobek bagian lengan dan motor yang dia pegang di sebelahnya.
"Eh, boleh." Beberapa menit aku seperti di bawa ke dunia lain. Dunia yang belum pernah aku jelajahi sebelumnya.
Wanita itu tersenyum lalu memarkirkan motornya di depan. Wajahnya penuh dengan bulir-bulir air hujan. Beberapa kali menggosok-gosok tangannya, nampak kedinginan.
Bukankah dia memakai jas hujan. Mengapa tak melanjutkan saja perjalanan?
"Kursi, Mbak," Aku menyerahkan kursi yang biasa dipakai pembeli saat menunggu pisau pesanannya. Baru kusadari ban motornya meletus, pantas saja dia tak melanjutkan perjalanan.
Dan soal umur wanita itu, tentu saja aku tak tahu. Nampaknya dia lebih muda. Namun memanggilnya Mbak, sekadar memberikan rasa aman dan sungkan.
Ngomong-ngomong, kenapa aku malah jadi sungkan? Segera saja kuberbalik arah, melanjutkan pekerjaan sembari merutuk dan memaki diri sendiri. Apa-apaan ini? Sejak kapan kamu begitu peduli pada perempuan? selain ibumu?
Pisau yang tadinya sudah halus kutempa di api yang menyala supaya kuat dan ...
Sialnya, mataku tak henti-hentinya menatap perempuan itu. Dia nampaknya asyik menatap jalanan sepi yang diguyur hujan meski sesekali menggosok tangannya.
Hendak kemanakah dia?
Kenapa dia nampak begitu kedinginan? Apa dia mau kalau kuberikan teh hangat?
"Ndung. Gantiin lpg dong. Lagi enak-enak masak malah mati, loh," pinta ibu dengan setengah berteriak. Suara ibu cukup membuatku gelagapan, membuyarkanku dari pertanyaan-pertanyaan aneh yang datang entah dari mana.
Aku menoleh pada gadis yang masih khusuk menatap jalanan. Siapa dia? yang jelas dia bukan warga desa ini. Gadis seperti dia, tak aku temukan di tempat mana pun yang aku kunjungi.
"Bandung!" Sekarang bukan hanya setengah berteriak. Ibu sudah mengeluarkan jurus Auman singanya tepat di belakangku.
"Apa sih, Bu?" Aku cemberut sebal.
"Kamu yang apa sih. Tuh, ganttiin lpg!" perintah ibu mengeluarkan jurus merayunya yang lebih terlihat sadis dibanding kemarahannya sekali pun.
"Ya ....," jawabku malas.
"Eh, Ndung. Itu siapa?" Ibu menunjuk perempuan tadi yNg beteduh
"Orang berteduh," jawabku singkat.
Lalu mengambil langkah seribu ke dapur. Ibu paling tidak suka ritual memasak, lebih tepatnya uji resep ini itu terganggu. Entah apa yang sedang dibuat hari ini, yang jelas rasanya biasa-biasa saja menurutku.
Saat pintu dapur terbuka, aroma bau menyengat membuatku berkali-kali bersin. Ada sebaskom penuh bumbu dan ayam utuh di dalam periuk di atas kompor.
Tangan kiri kugunakan menjepit hidung dan yang kanan mengendurkan regulator.
Alamak. Baunya bikin muntah saja.
Selesai memindahkan gas kosong dan menggantinya dengan yang baru aku berbalik badan dan langsung tancap menuju toko. Jika ibu sudah masak macam-macam itu artinya aku harus siap melaparkan perutku, menjadi uji coba masakan ibu artinya mempersiapkan perut sebesar gentong.
Beberapa langkah menuju toko, rasanya ada yang aneh. Aku berhenti, menatap sekeliling, depan, samping lalu belakang. Terasa ada yang aneh. Dan keanehan itu baru kusadari tatkala di depan tokoku nampak asyik dua seorang perempuan sedang mengobrol. Jadi? inilah keanehannya. Bagaimana bisa seorang perempuan muda menarik perhatian ibuku dari uji coba masaknya?
"Bandung!"
Jantungku mencelos tatkala suara ibu yang menggelegar menyasar ke telinga kanan dan kiri. Untung saja hujan begitu deras, hingga suaranya teredam oleh derasnya.
"Ada apa, Bu?" tanyaku kebingungan. Lebih bingung lagi dengan wajah ibu yang merah padam. Seolah-olah aku ini sudah melakukan sebuah kesalahan besar.
"Tega kamu, Ndung!"
Ekspresi serta nada bicaranya persis seperti lakon di sinetron-sinetron remaja zaman dulu.
"Tega kamu gak bantu gadis ini, ban motornya juga bocor," tambah ibu, matanya melotot. Perempuan di samping ibu nampak kikuk, dia menggigit bibir.
"Bandung kan gak bisa benerin ban motor, Bu," belaku tak terima. Lagian, kenapa sih ibu begitu peduli? Yang kulakukan bukan kriminal, sudah baik membiarkan dia berteduh di depan toko.
"Antar dia sekarang, Ndung. Keretanya sudah akan berangkat!" titah ibu tegas masih sambil melotot.
Kuhela napas panjang. Jika ekspresi ibu seperti itu, lebih baik aku manut saja. Tapi jika aku mengantar gadis itu, artinya?
"Harus Bandung, Bu? Sapri aja deh!" Aku tak pernah memberikan boncengan pada wanita selain ibu. Aneh sekali rasanya jika kulakukan itu.
"Astaghfirullah. Ini darurat, Bandung. Kelewatan kamu!" Tangan ibu hampir terangkat dan terang saja segera kuambil kunci motor di meja toko
"Stasiun Mawapati?" tanyaku memastikan di depan gadis itu.
Dia mengangguk.
"Naik!" ucapku sedikit dongkol namun juga grogi. Aneh sekali
"Maaf!" ucapnya sembari naik dan duduk di atas motor.
"Hati-hati ya, Nak!" pesan ibu pada gadis di belakangku.
Apa-apa an? baru saja bertemu sudah dipanggil, Nak!
Halus pula nadanya!
Setelah gadis itu mencium tangan ibu, segera kumelaju menuju stasiun Mawapati tujuannya. Lima menit, sepuluh menit, tak ada obrolan di antara kami. Hanya suara deras hujan dan desau angin.
Dan aku, mengalami sensasi yang cukup membuatku merasa berdebar. Ada gadis di belakangku sekarang. Tangannya memang tak merangkul, tapi jari jemarinya berapakali memegang tipis kaos bulukku. Hanya itu, tapi cukup membuat jantungku mengalami detakan yang berbeda.
Semakin lama semakin kencang. Tak hanya itu, organ lain pun ikut menegang. Tidak baik jika kujelaskan.
"Eh, stop! Stasiunnya di sini!" pekik gadis di belakangku.
Sial. Tadi aku melamun.
"Maaf!" Segera kuputar balik dan masuk ke pagar dan memarkirkan motor di tempatnya.
"Terima kasih!" ucapnya menunduk. Dia membuka jas hujan lalu melipatnya cepat.
"Sama-sama." Dan entah bagaimana, aku pun alpa untuk mengkajinya. Bibirku tersenyum, terkesima saat melihat gerakannya yang cekatan.
Cepat-cepat kutarik garis senyum ke tempatnya usai menyadari beberapa saat.
"Saya titip motor ya. Kemungkinan seminggu lagi akan saya ambil!"
Aku terdiam. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, seperti sampai jumpa. Atau hati-hati. Namun lidahku tercekat.
gadis itu nampak menunggu meski masih menunduk, lalu balik badan menuju tempat pengambilan karcis.
Rasanya kakiku hampir mematung, mataku tak henti-hentinya menatap gadis itu hingga akhirnya dia hilang dari pandangan.
"Kenapa jantungku jadi begini?"
****
"Namanya Kalingga. Bagus ya!" ucap Ibu sembari mengambilkan dua centong nasi ke piringku.
"Bandung bisa ambil sendiri, Bu." Aku menahan tangan ibu yang akan memberikan nasi di centong ke piringku.
"Huss! Jangan ngelawan kamu, Ndung!" mata ibu melotot.
"Ya sudah!" Aku menyerah.
"Kalingga, Bandung kayak pernah dengar!" ucapku sembari mengambil krupuk di stoples antik yang ibu rawat sejak dia kecil. Benda keramat karena pernah menyelamatkannya dari kena timpuk bapaknya dulu yang galak, alias kakek.
"Kalingga itu nama ratu dari Jepara, Ndung! Kebangetan kalau gak tahu!" semprot Ibu melirik sinis, lalu menyalakan televisi.
"Andai saja di sini ada cucu. Pasti ibu gak kesepian begini!"
"Kan ada Bandung!"
"Kamu gak asik diajak ngobrol. Asikan si Kalingga!"
Aku menggelengkan kepala. Dan tak mau ambil pusing dengan semua ucapan Ibu.
"Sudah kamu tambal ban motornya?"
"Sudah. Memangnya mau kemana sih dia?"
"Katanya dia mau interview kerjaan. Zaman sekarang cari kerja susah, Ndung
"Oh."
"Jangan oh saja dong."
"Terus Bandung harus gimana? Ngasih kerjaan ke dia?"
"Boleh. Suruh jagain toko ini gak papa. Biar ibu punya teman ngobrol."
"Eh."
****